
Zongxian yang berhasil menyudahi perlawanan Pengawal Duan Cangtian itu, kini ia merasa kelelahan. Belum lagi luka lumayan banyak di sekujur tubuhnya.
Zongxian menancapkan pedangnya ke tanah sembari bertumpu di situ dan memperhatikan pertarungan rekan-rekannya yang lain.
Qin Sin yang memiliki Roh Pedang Hiu, harus menghadapi Pendekar Pedang berunsur Api.
Pelayan Duan Cangtian yang menjadi lawannya itu melayang di udara, karena ia memiliki Roh Pedang Phoenix.
Sebenarnya secara statistik unsur air lebih unggul dari unsur api, namun itu tergantung penggunaannya juga.
Qin Tan memanggil Roh Pedangnya dan sebuah pedang transparan muncul ditangannya. Orang awam mungkin mengira ia tak memegang apapun, padahal sebuah pedang Roh Hiu ada di tangannya.
"Putaran Gelombang Air!"
Pusaran air mengelilingi tubuh Qin Sin, sehingga gelombang panas dari Roh Phoenix tak terasa padanya.
Pengawal Duan Cangtian yang melayang di udara dengan sepasang sayap Phoenix dipunggungnya itu mulai menebaskan pedangnya ke arah Qin Sin.
Hujan Api berjatuhan dari langit, Qin Sin menghindar dengan berlari zig-zag. Ia melesat ke sana kemari menghindari hujan api itu.
Pada saat yang tepat, "Loncatan Hiu!" seru Qin Sin seraya bergabung dengan Roh Pedangnya dan menerkam ke atas.
Loncatannya cukup tinggi hingga sepuluh langkah ke udara. Pedangnya siap menebas Pengawal itu.
"Tebasan Pembelah Ombak!"
Qin Sin menebas, sebuah bayangan Hiu raksasa siap melahap Pelayan itu yang juga membalas dengan Tebasan Badai Api Phoenix.
"Boommmmm!"
Keduanya terpental, gumpalan asap muncul akibat benturan kedua jurus.
Qin Sin tak melewatkan kesempatan ini, saat Pelayan Duan Cangtian berada di tanah. Dengan cepat ia melesat seperti berenang di darat, karena melakukan penggabungan dengan Roh Pedang Hiu.
Pelayan itu kaget, sebuah bayangan Hiu raksasa datang dengan cepat. Ia menancapkan pedangnya ke tanah.
"Tebasan gelombang Api Phoenix!"
__ADS_1
Api besar muncul dari pedang itu dengan bayangan Phoenix mengelilingi tubuhnya.
"Tebasan gelombang air!" seru Qin Sin menebas pertahanan api Pengawal Duan Cangtian.
"Boommmmm!"
Tak sampai di situ, Qin Sin lansung melompat kesamping dan melayangkan tebasan pada Pengawal itu, namun kepakan sayap Phoenixnya memblok tebasan pedang Qin Sin.
Pelayan itu membalas tebasan Qin Sin dengan terbang rendah.
"Trang-trang-trang!" Pedang mereka saling beradu.
"Putaran Gelombang Air!" seru Qin Sin menyerang dengan cara melompat tinggi dan berputar di udara menebas punggung Pelayan Duan Cangtian itu tepat di salah satu sayapnya. Sehingga Pelayan itu jatu ke tanah.
Tak jauh dari pertarungan Qin Sin, Jiu Yuan tak terlalu kerepotan melawan Pelayanan Duan Cangtian yang menjadi lawannya. Namun, ia hanya kesulitan membunuhnya segera, karena terus melakukan gerakan zig-zag dengan cepat, membuat Jiu Yuan kesulitan mengikuti pergerakannya.
"Berhenti berlari-lari bodohhhhhh! Kau mau duel atau petak umpet!" gerutu Jiu Yuan pada Pengawal Duan Cangtian itu.
"Emang aku anak kecil, mau melawan Pendekar Pedang yang lebih tinggi levelnya secara langsung!" Balas Pengawal Duan Cangtian itu.
Jiu Yuan kemudian menancapkan pedangnya ke tanah. "Benteng Beruang Es!" seru Jiu Yuan dan bongkahan es raksasa muncul dari dalam tanah secara acak menutup pergerakan Pengawal Duan Cangtian itu.
"Sial," guman Pengawal Duan Cangtian itu menghindari bongkahan-bongkahan es yang ujungnya runcing, muncul dari permukaan tanah.
"Hehehe ... tampan sini aku peluk dengan Pedang ini!" seru Jiu Yuan melompat dengan jurus Langkah Beruang Kutub.
Jiu Yuan kemudian menebas Pengawal Duan Cangtian itu dengan Tebasan Cakar Beruang Kutub. Membuat Pengawal itu terlempar jauh saat menangkis tebasannya.
"Ahhhhhh, sial!" gumannya. Darah segar mengalir dari mulutnya. Walaupun ia berhasil memblok tebasan Jiu Yuan, namun perbedaan level membuatnya tetap terpental. Mengingat Jiu Yuan adalah Pendekar Pedang tahap 82, sedangkan ia cuma Pendekar Pedang tahap 80 saja.
"Hei, bencong! Cepat sudahi! Jangan main-main terus!" seru Mei Yin yang memperhatikan pertarungan mereka.
"Hei, Aku ini Perjaka tangguh loh, walaupun kelihatan cantik dari belakang!" sahut Jiu Yuan dongkol di ejek Mei Yin.
Jiu Yuan memang memiliki rambut putih panjang yang dibiarkan terurai, sehingga orang akan mengira ia wanita. Jika dilihat dari belakang. Belum lagi perkataannya sering ngelantur, sehingga dikira bencong juga. Padahal aslinya dia itu tetap Pria normal, yang menyukai lawan jenis.
Jiu Yuan yang dongkol akhirnya bertarung dengan serius. Tak tanggung-tanggung, ia menggunakan 50% qi dari kapasitas Rongqinya.
__ADS_1
"Sana pergi ke neraka! Tebasan Cakar Beruang Kutub!"
Jiu Yuan melompat ke hadapan Pengawal Duan Cangtian itu, sebuah bayangan Beruang Raksasa disertai puluhan bongkahan es yang runcing mengiringi tebasan Pedang Jiu Yuan.
"Tebasan Cakar Harimau!"
Pengawal Duan Cangtian mencoba memblok tebasan Jiu Yuan. Namun perbedaan level mereka cukup jauh. Ia dapat memblok tebasan pedang Jiu Yuan, namun tak sanggup menahan puluhan bongkahan es yang ujungnya runcing itu.
Pengawal Duan Cangtian itu tewas seketika dengan posisi berdiri, karena bongkahan es itu menjadi tumpuannya tetap tegak.
"Ara ... ara! Apa kau tak terlalu berlebihan!" Sindir Mei Yin lagi, melihat Jiu Yuan menggunakan banyak qi saat serangan terakhirnya.
"Bawel!" sahutnya sambil berjalan ke arah pertarungan Qin Sin dengan Pengawal Duan Cangtian lainnya.
Qin Sin kini bersiap menyerang Pengawal Duan Cangtian itu, yang sebelah sayapnya dipotong olehnya tadi.
Qin Sin kembali maju kedepan, ia lansung disambut oleh Pengawal Duan Cangtian itu.
"Trang-trang-trang!" Berbagai jurus dan tebasan pedang mereka beradu.
"Boommmmm!"
Sebuah bongkahan es raksasa menancap di punggung Pengawal Duan Cangtian, hingga tembus ke perut dan menancap ke tanah.
"Woiiiii! Kau mengambil saat-saat menegangkannya!" Qin Sin mengumpati Jiu Yuan yang tiba-tiba menyerang dari belakang.
"Hah? Tak dengar!" Jiu Yuan lansung pergi meninggalkan Qin Sin.
"Cih, padahal tadi tinggal jentik pakai jari saja. Pengawal ini pasti mati kubuat!" seru Qin Sin kecus.
"Hahaha! Masa kakak harus dibantu dulu baru menang!" Ejek saudari kembarnya, Qin Tan.
"Diam saja kau! Aku lagi dongkol nih," jawabnya sambil berjalan menuju Zongxian yang tak sanggup lagi berjalan. Ia memapah pria gemuk itu ke tempat aman, supaya tak kena imbas pertarungan Duan Cangtian dengan Duan Mu yang juga dibantu oleh Wang Pan.
Bersambung 🗡️🗡️🗡️
**Terimakasih untuk yang memberikan Like dan Votenya ... sehat selalu 😁😁😁***
__ADS_1