Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Keluarga Kecil Qianran


__ADS_3

Qianran membawa Xiuhuan ke sebuah rumah kecil di pinggiran kota Guangxi. Tampak seorang anak laki-laki berusia Enam tahun sedang bermain ayunan dengan anak perempuan berusia tiga tahun.


“Su Lian ... Su Duan ... ibu pulang!” ucap Qianran.


Keduanya lansung menoleh ke arah sumber suara itu. Keduanya bingung saat melihat ibunya mengenakan Hanfu putih bagus, sehingga tampak sangat cantik sekali.


“Ibuuuuuu ... kau cantik sekali!” teriak Su Lian lansung minta digendong pada Qianran.


“Ibu, kenapa kau cepat pulang. Apa ibu tak takut dimarahi oleh nyonya Liu atau suaminya?” Su Duan lansung khawatir. Karena dulu pernah ibunya sedang sakit malah didatangi oleh pasangan suami-isteri itu dan memarahi Qianran habis-habisan.


Qianran membelai rambut Su Duan. Dengan senyum hangat menatap anaknya itu. “Mulai sekarang kita akan hidup bahagia. Kau bisa belajar berkultivasi dan suatu hari nanti akan menjadi hebat seperti tuan Xiuhuan ini,” kata Qianran sambil menunjuk Xiuhuan.


“Betulkah?” Su Duan menatap Xiuhuan. “Apa paman sangat hebat? Tapi kenapa kau terluka begini?” Su Duan bingung, karena ia mengira Pendekar Pedang kuat itu tak akan terluka.


“Paman ini tak kuat, juga tak lemah. Lagi pula, sekuat apapun Pendekar Pedang itu, suatu saat pasti ada generasi baru yang akan melampauinya. Itu sudah siklus kehidupan, tak ada yang abadi. Jurus terkuat saja, pasti ada kelemahannya. Jurus terlemahpun pasti ada manfaatnya,” jawab Xiuhuan memotivasi Su Duan.


“Apa paman adalah Ayahku. Kata ibu, Ayahku sangat tampan dan sedang pergi sangat jauh,” kata Su Lian yang tak mengenali lagi ayah kandungnya yang sudah meninggal itu.


Xiuhuan tak tahu harus menjawab apa. Ia melirik Qianran. Ibu dua anak itu mengedipkan matanya, pertanda untuk mengiyakan ucapan Su Lian.


“Iya, aku adalah ayahmu. Sini Nak, ayah gendong,” kata Xiuhuan.


“Baiklah ayah, kita masuk ke dalam, ya,” ajak Qianran agar tak mendapat cibiran dari tetangga, karena telah membawa laki-laki asing ke kontrakannya.


“Cie, dapat kekasih murid Sekte Pedang Taiyang, ya?” Seorang tetangga lansung mencibir Qianran.


“Anu—” Qianran bingung menjawab apa.


“Kalian itu terlalu mencampuri urusan orang lain,” sela nenek yang merawat anak-anaknya saat ia sedang bekerja di restoran Kaefci.


Emak-emak rempong itu lansung masuk ke dalam kontrakannya, karena nenek pembela Qianran sudah datang membelanya. Kalau sang nenek itu datang pasti semua akan kabur. Karena ia akan menguliti juga kesalahan mereka selama ini.


“Eh, nenek ... terimakasih sudah menjaga Su Lian dan Su Duan selam ini," kata Qianran sambil mencium tangannya.


“Eh, kenapa kau berterimakasihlah begitu. Apa kau akan menikah lagi dengan pria ini?” tanya nenek itu penasaran.


“Bukan, dia ini adalah murid tetua Dong Shuliang dari Sekte Pedang Taiyang. Dia telah membayar hutang-hutangku di restoran Kaefci dan mau membeli kami rumah baru,” jawab Qianran.

__ADS_1


“Wah, baik sekali. Kenapa tak nikahi saja dia. Toh dia tampan dan kelihatan baik juga,” kata nenek itu.


“Dia hanya sementara di kota ini dan akan pergi lagi. Tak mungkin aku ikut dengannya, malah akan membebaninya saja,” bisik Qianran agar tak terdengar oleh Su Lian yang sangat senang akhirnya memiliki ayah seperti anak-anak lainnya.


“Ah, sayang sekali. Padahal An‘er tampak bahagia itu. Bagaimana nanti jika mereka berpisah, ya?” kata nenek itu sambil meneteskan air mata. Membayangkan Su Lian akan kehilangan sosok ayah yang baru ia lihat itu, walaupun hanya ayah bohongan saja.


Qianran mengusap air mata nenek itu. Padahal ia sebenarnya ingin menangis juga, namun ditahannya.


***


Xiuhuan asyik bermain dengan Su Lian, sedangkan Qianran dan Su Duan kemudian pergi berbelanja kebutuhan dapur ke kedai yang tak jauh dari kontrakan mereka itu.


“Kenapa ibu tak menikah saja dengan laki-laki itu, toh dia juga sangat tampan,” kata Su Duan membuyarkan lamunan Qianran.


“Hahaha ....” Qianran tertawa mendengar ucapan anaknya itu. “Asal kau tahu nak, tuan Xiuhuan itu adalah Pendekar Pedang tahap Melawan Kehendak Langit. Katanya juga dia hanya setahun saja di daratan utama ini,” jawab Qianran.


“Apaaaa?” Su Duan terkejut mendengarnya. “Terus kemana dia pergi bu?” tanyanya lagi penasan.


“Ibu juga tak tahu. Yang jelas dia itu sangat kuat, walaupun dia—” Qianran tak melanjutkan ucapannya.


“Kenapa ibu?” tanya Su Duan penasaran, karena ibunya malah menggantung ucapannya.


Dengan wajah ceria, Su Duan lansung mengambil banyak jajanan enak.


Pemilik kedai menatap tajam Su Duan. “Apa kau sanggup membayarnya Qianran! Hutang-hutangmu saja sudah menumpuk di sini," katanya dengan jengkel.


“Tenang saja nyonya Xia. Aku kemari untuk melunasi semua hutangku, sekalian membeli kebutuhan dapur,” kata Qianran sembari mengeluarkan Plakat khusus Paviliun Shilin.


Nyonya Xia ragu-ragu mengeluarkan Plakat khusus Paviliun Shilin miliknya. Ia masih tak percaya, Qianran akan memiliki Poin banyak.


“Kau sudah gajian, ya?” Nyonya Xia pura-pura ramah karena Qianran telah membayar semua hutangnya.


“Paman dari Sekte Pedang Taiyang yang baik hati membantu kami," sahut Su Duan.


“Oo, pantaslah," jawabnya sedikit mencibir.


Qianran tak begitu menanggapinya dan kembali lagi ke kontrakannya. Saat Qianran membuka pintu, terlihat Xiuhuan sedang terbaring di lantai.

__ADS_1


“Sepertinya Paman itu kelelahan, tapi kok Su Lian ikut-ikutan tidur hahaha ....” Su Duan tertawa melihat adiknya itu tidur berbantalkan tangan kanan Xiuhuan, sedangkan tangan kirinya sebagai bantalnya sendiri.


“Hus, jangan berisik. Mendingan bantu ibu memasak," kata Qianran.


***


Xiuhuan terbangun, karena ia merasa ada yang menyentuhnya. Saat membuka mata, ternyata Qianran sedang membersihkan luka Xiuhuan dengan kain yang sudah dibasahi air hangat.


“Eh, Ran‘er! Aku malah ketiduran. Kita kan, akan mencari rumah baru untukmu,“ kata Xiuhuan ingin duduk, namun ditahan Qianran.


“Sudah tidur saja lagi, sekarang sudah malam. Besok saja kita cari, atau tuan Xiuhuan lapar. Aku sudah memasak tadi,” kata Qianran.


“Ya, aku makan saja,” jawab Xiuhuan.


Xiuhuan melihat, tubuhnya telah dibersihkan oleh Qianran. Padahal dibiarkan sajapun, luka-lukanya akan sembuh dengan cepat, palingan besok sudah tak ada lagi bekas luka itu. Namun Qianran yang ingin membalas jasa Xiuhuan itu dengan sukarela membersihkannya.


“Wah, mereka sudah tidur juga, ya!” seru Xiuhuan melihat Su Lian dan Su Duan tidur di kasur lusuh di sudut ruangan 3x2 meter itu.


Tak ada kamar atau dapur. Semua jadi satu, sedangkan untuk kamar mandi ada diluar. Untuk buang air besar harus ke sungai dekat situ.


Kalau Qianran telah kebelet, akan banyak pria-pria mengintipnya, makanya ia sebisa mungkin akan buang air besar di restoran tempatnya bekerja.


Xiuhuan langsung melahap makanan buatan Qianran yang sangat enak. Chef Juna, lewatlah kalau dibandingkan dengan masakannya.


***


Setelah selesai makan, Xiuhuan melangkah keluar kontrakan Qianran. Namun Qianran menarik tangannya.


“Mau kemana lagi? ke rumah bordil Xiangshou, ya?” ejek Qianran dengan senyum manisnya itu.


“Hahaha ....” Xiuhuan tertawa. “Tidaklah, aku akan cari penginapan dekat sini saja. Kan, kalian mau istirahat,” jawab Xiuhuan.


“Tuan Xiuhuan tak melihat ini?” tanya Qianran menunjuk bantal di atas tikar lusuh sebelah kiri Qianran itu. Sedangkan sebelah kanannya kasur lusuh yang ditiduri oleh Su Lian dan Su Duan.


Dengan perasaan tak enak Xiuhuan berbaring di sebelah Qianran. Aroma khas tubuh Qianran tercium jelas oleh Xiuhuan. Untuk menghindari kebangkitan Xiuhuan kecil, ia membalikkan badannya menghadap dinding rumah.


Qianran tersenyum melihat tingkah Xiuhuan itu. Ia kemudian memeluk Xiuhuan dari belakang. “Spesial untukmu malam ini aku akan berikan kehangatan,” kata Qianran mencium aroma punggung Xiuhuan.

__ADS_1


Apa yang terjadi selanjutnya? Entahlah, author sedang ngantuk. Jadi, disuruh mencari penginapan saja, karena rumah Qianran terlalu sempit.


__ADS_2