
Qianran lansung menghampiri murid Sekte Pedang Taiyang yang berjaga di pintu gerbang dan menanyakan di mana Aula tetua ke-77. Tak lupa Qianran juga mengatakan telah terjadi pertarungan antara tetua Xiao Yan dengan Xiuhuan.
Murid tersebut lansung bergegas ke aula tetua ke-77. Ia sudah melihat tadi pagi betapa mengerikannya pertarungan antara Su Rong dengan Xiuhuan. Kini malah bertarung lagi dengan tetua pertama, Xiao Yan.
“Apakah ini ....” Liu Ruyan yang sedang minum es cincau dengan bungkus plastik dan menyeduhnya dengan pipet itu dibuat kaget. Tiba-tiba es cincaunya melayang ke udara. Dan yang paling membuatnya kaget adalah langit kota Guangxi telah ditutupi gumpalan air.
“Awas beri jalan! Keadaan darurat, saya harus bertemu tetua Dong Shuliang!” teriak murid yang menjaga gerbang tadi datang dengan kecepatan penuh. Ia melakukan teknik penggabungan dengan Roh Pedang Serigala, sehingga kecepatan larinya itu adalah 125 Km/jam.
Liu Ruyan penasaran siapa dalang dibalik semua itu, memutuskan mengikuti murid tersebut. Liu Ruyan melakukan tehnik Penggabungan dengan Roh Pedang kupu-kupu, terbang mengejarnya.
Dong Shuliang keluar dari ruangannya, ia ingin pergi ke aula utama, menemui Ketua Sekte. Untuk menanyakan penomena aneh ini, apakah ulah musuh yang menyerang kota Guangxi atau murid yang mendapatkan jurus baru dan sedang ujicoba sejauh mana kekuatan jurus itu.
“Tetuaaaaa! Darurat!” teriak murid yang menjaga gerbang tadi menghampiri Dong Shuliang, sambil melakukan pengereman mendadak.
“Darurat apa?” tanya Dong Shuliang sambil menepis puing-puing lantai yang hancur oleh tindakan murid itu. “Sebelum kau jawab! Kau didenda 100 Poin, karena menghancurkan lantai. 50 Poin, karena puing-puingnya hampir mengenai wajahku. Terakhir 25 Poin, karena melanggar ambang batas kecepatan yang ditentukan oleh Sekte. Bayar dulu, baru katakan darurat apa?” Dong Shuliang lansung mengeluarkan Plakat khusus Sekte Pedang Taiyang, menagih denda pada murid tersebut.
“Yah, habis sudah jatah biaya makanku seminggu,” umpat murid tersebut dalam hati. Ia kemudian mengeluarkan Plakat khusus Sekte Pedang Taiyang miliknya dan mentransfer denda tersebut.
“Sekarang katakan, darurat apa?” tanya Dong Shuliang.
Murid tersebut ingin bicara, namun tiba-tiba Liu Ruyan datang juga dengan kecepatan tinggi. Sehingga murid tersebut terpental, karena kepakan sayapnya saat mendarat di hadapan Dong Shuliang.
“Tetua! Apa yang terjadi, sepertinya ini kekuatan senior Xiuhuan. Sangat mirip dengan tsunami saat ia melawan Su Rong tadi pagi,” cecar Liu Ruyan tanpa memperdulikan murid yang terpental ia buat itu.
“Aku juga tidak tahu,” sahut Dong Shuliang, kemudian melirik murid tadi. “Darurat apa tadi, kau lamban sekali,” umpat Dong Shuliang.
“Cih, dasar tetua yang diskriminasi. Aku didenda karena melanggar ambang batas kecepatan, sedangkan murid cantik, ia diamkan saja,” umpat murid tersebut dalam hati. Kemudian ia mengambil nafas dalam-dalam dan berkata, “Nona Qianran Pelayan restoran Kaefci meminta bantuan ke sini, karena telah terjadi bentrokan antara tetua pertama dengan Xiuhuan.”
__ADS_1
“Apaaaaaa?” Dong Shuliang terkejut. “Kenapa tidak dari tadi bodoh kau katakan. Bisa hancur kota Guangxi mereka buat,” kata Dong Shuliang lansung bergegas menuju restoran Kaefci.
“Aduh, kena pasal satu lagi. Pion selalu salah dimata bos sialan itu!” gerutu murid tersebut.
***
“Nona Qianran! Apa yang terjadi?” tanya Liu Ruyan menghampirinya di gerbang Sekte. Sedangkan Dong Shuliang lansung melesat ke restoran Kaefci.
“Ceritanya panjang, dimana tetua ke-77, dia harus menghentikan pertarungan tetua pertama dengan Xiuhuan,” sahut Qianran.
“Tenanglah, tetua Dong Shuliang telah bergegas ke sana,” kata Liu Ruyan lagi.
Keduanya kemudian menuju restoran Kaefci. Liu Ruyan memperhatikan penampilan Qianran yang mengenakan Hanfu putih yang membuatnya terlihat sangat cantik.
Liu Ruyan jadi berpikir aneh-aneh, karena tadi pagi ia dan Xiuhuan masih melihat Qianran melayani mereka di restoran Kaefci. Namun kini penampilannya berubah.
***
Pedang Roh Sidat Listrik mengeluarkan air dalam jumlah besar, seperti tsunami yang tiba-tiba datang saja, yang lansung melayang di udara. Kemudian menyebar menutupi kota Guangxi.
“Ternyata dia masih mempunyai kartu As lainnya,” gerutu Xiao Yan. “Aku harus menyerangnya sekarang. Sebelum jurus itu sempurna," katanya lagi.
Xiao Yan yang melayang di udara itu, mengarahkan pedangnya ke bawah. Kemudian siluet Phoenix raksasa yang menyelimuti kota Guangxi itu menukik tajam ke arah restoran Kaefci, tempat Xiuhuan berada.
Xiuhuan mencabut kembali Pedangnya dan mengarahkannya ke udara. Saat itu juga gumpalan air itu menutup rapat kota Guangxi.
Kota Guangxi bergetar hebat, akibat benturan Siluet Phoenix raksasa yang menghantam Kubah Tsunami.
__ADS_1
Xiao Yan cemberut melihatnya, Kubah Tsunami itu tak bisa ditembus oleh Siluet Phoenix raksasa, padahal ia telah mengalirkan seluruh qi dalam Rongqinya.
“Hahaha ... sebuah mahakarya yang luar biasa. Sungguh beruntung aku pergi ke daratan utama ini. Apa jangan-jangan pencinta Kitab Seribu Dongeng itu adalah kakek buyutku,” gumam Xiuhuan tertawa lebar melihat Xiao Yan tak mampu menembus Kubah Tsunami.
Setelah tak ada lagi Siluet Phoenix raksasa yang menabrak Kubah Tsunami. Xiuhuan menarik kembali gumpalan air yang menutupi kota Guangxi itu.
Air itu dengan beberapa tarikan nafas saja masuk kembali ke Pedang Roh Sidat Listrik. Akan tetapi air murni atau air yang bukan dari Roh Pedang Sidat Listrik lansung berjatuhan seperti hujan.
Dong Shuliang yang akan mencapai restoran Kaefci tiba-tiba basah oleh air yang baunya sangat anyir. Sedangkan Qianran dan Liu Ruyan hanya ditimpa air bersih saja. Mungkin berasal dari sungai atau sumur.
“Si-siapa yang berani melemparkan air kencing padaku!” teriak Dong Shuliang melihat kiri-kanan, namun tak ada orang yang bisa ia curigai pelakunya. “Jangan-jangan ini berasal dari Xiuhuan kampret itu,” gerutu Dong Shuliang melesat ke restoran Kaefci.
***
“Hahaha ... sekarang terimalah kematianmu tetua pertama. Dikehidupan selanjutnya, jadilah orang bersikap adil dan tak asal menyimpulkan sesuatu dengan sepihak saja. Kau harus menjunjung asas praduga tak bersalah juga,” ejek Xiuhuan.
Xiuhuan menekan kakinya ke tanah sembari dua kloning manusia air juga muncul, bersiap melemparkan Xiuhuan ke udara untuk mengeksekusi Xiao Yan yang sudah tak punya tenaga dalam lagi itu. Diibaratkan, ia kini sama saja dengan Pendekar Pedang tahap satu.
Xiuhuan bahkan tak menggunakan jurus apapun lagi, ia hanya perlu menebas leher Xiao Yan saja.
“Ah, gawat! Dia benar-benar berniat membunuhku!” gerutu Xiao Yan ingin kabur, namun tak bisa. Karena ia sudah tak memiliki qi didalam Rongqinya.
Xiao Yan merentangkan kedua tangannya. Kini ia hanya bisa pasrah saja menerima nasibnya. Dia kemudian teringat akan anaknya Xiao Chen yang tak lama lagi akan menikah dengan Sha Xi, putri pemilik restoran Kaefci.
“Maafkan ayah Nak, kuharap kau tidak dendam pada murid tetua Dong Shuliang ini. Karena itu akan membuatmu menyusulku saja,” gumam Xiao Yan yang sudah pasrah saja itu.
Dengan kecepatan penuh, Xiuhuan dilemparkan ke udara oleh kloning manusia air. Xiuhuan yang sudah kesal pada Xiao Yan tersenyum lebar saat Pedangnya mendekati leher Xiao Yan.
__ADS_1
...⚔️Bersambung⚔️...