Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Salah Gertak


__ADS_3

Qianran tampak cemas, ia yakin Xie Xi akan mengusir pelanggannya. Padahal Xiuhuan telah membayar pesanan mereka.


“Semuanya penuh saudari Xi. Kau usir lah, salah satu dari mereka!” Perintah Su Mao yang merupakan anak Walikota Guangxi.


“Tenang tuan Mao, tunggulah sebentar!” sahut Xie Xi sambil berjalan dengan senyum lebar mendekati meja Xiuhuan.


“Kakak Xi, tuan Xiuhuan sudah membayar pesanannya. Mintalah pengunjung lain yang keluar. Karena mereka baru saja mulai makan,” sela Qianran mencegat Xie Xi.


“Hei, kau mau kuadukan pada bos?” cibir Xie Xi yang membuat ciut nyali Qianran. Ia lansung membiarkan Xie Xi mendekati Xiuhuan.


“Aku tahu kalian butuh waktu lama untuk menabung agar bisa mencicipi makanan enak di sini. Tapi kami memiliki pelanggan tetap yang harus diprioritaskan. Jadi, kuharap kau mengerti,” kata Xie Xi pada Xiuhuan.


Liu Ruyan ingin memarahinya, namun Xiuhuan mencegahnya.


“Gampang saja. Panggil ke sini pemilik restoran ini. Aku ingin mendengar lansung darinya, apakah ada diskriminasi pelanggan di sini.” Xiuhuan menjawab tanpa menoleh pada Xie Xi, ia telah menghabiskan siomay pesanannya. Kemudian melanjutkan memakan sate kambing.


“Putttttttttt!” Xiuhuan kentut pas didepan Xie Xi.


Xie Xi tampak geram, namun tak berani memarahi Xiuhuan. Ia kemudian berjalan menghampiri Su Mao.


“Tunggu sebentar tuan Mao. Sepertinya dua murid tetua ke-77 itu tak mengerti ucapanku. Aku akan memanggil tuan Shanyang dulu,” kata Xie Xi yang bermaksud memanggil pemilik restoran Kaefci ini.


“Tak perlu saudari Xi,“ sela Su Mao. Ia kemudian mendekati Xiuhuan dan berkata, “Apakah kau tahu aku murid sampah?” ledek Su Mao.


Xiuhuan tak menoleh pada pria gemuk, namun sebenarnya berwajah tampan itu. Mungkin ia terlalu senang makan yang enak-enak atau berlemak sehingga jadi seperti itu.


Xiuhuan tetap asik dan menghabiskan sate kambing pesanannya. Ia kemudian meminum Es teh manis-nya dan bersendawa tepat ke wajah Su Mao, karena Xiuhuan lansung berdiri.


“Ah, aku tak tahu ternyata ada manusia di sini hahaha ....” Xiuhuan tertawa cekikikan.


Qianran ingin tertawa juga, namun ditahannya dengan cara menutup mulutnya dengan tangan. Kalau sempat Su Mao tahu ia menertawai dirinya, sudah dipastikan nasibnya akan berakhir tragis.

__ADS_1


Su Mao sangat geram, ia melirik ke belakang dan Tang San, anak buahnya lansung datang menghampirinya.


Xiuhuan tetap tenang membuat Tang San merasa ada yang tak beres pada Xiuhuan. Kalau bukan Pendekar Pedang kuat, berarti Xiuhuan adalah tuan muda juga. Itulah yang ada dibenak Tang San.


Itu sama saja, berbahaya baginya. Jika ia membuat bonyok Xiuhuan yang ternyata tuan muda di Clan lain. Maka ia akan menjadi buruan Clan tersebut. Tang San yakin Clan Su tak akan membelanya nanti, atau malah dikorbankan sebagai dalangnya.


Tang San berdiri di samping Su Mao. “Iya tuan muda Mao,” kata Tang San melirik Xiuhuan yang memakan lansung sumberdaya tingkat tinggi di depan mereka.


“Sepertinya dia Pendekar Pedang kuat,” bisik Tang San.


“Mana mungkin. Lihat baik-baik jubah yang ia kenakan,” kata Su Mao lagi.


Tang San melihat jubah Xiuhuan yang ternyata adalah murid tetua ke-77. Namun, ia tetap ragu-ragu untuk membentak Xiuhuan.


Tiba-tiba saja meja lain seorang Pendekar Pedang wanita yang merupakan murid khusus tetua kedua Sekte Pedang Taiyang berdiri dari tempat duduknya, diikuti oleh tiga murid wanita lainnya.


“Silahkan tuan muda Mao duduk di sini saja. Kami akan kembali ke Sekte,” kata wanita tersebut.


Xiuhuan tertawa menyeringai. Kemudian berkata, “Hei bodoh! Jelas-jelas aku lebih dulu memesan tempat ini. Apa hak kalian mengusirku, kalau tak terima panggil pemilik restoran ini,” kata Xiuhuan.


Qianran makin takut dengan keadaan ini, sedangkan Xie Xi senyum-senyum, ia yakin nanti Xiuhuan akan dihajar habis-habisan oleh Su Mao. Kemudian Qianran akan disalahkan oleh pemilik restoran.


“Aku tak ada urusan dengan kalian. Kami akan pergi," sahut Yinghua meninggalkan ruangan VVIP itu.


Tang San tak juga bertindak, padahal Su Mao telah meliriknya dari tadi. Ia masih ragu-ragu.


“Sekarang ngapain kalian di sini. Pergi sana!” Xiuhuan menunjuk meja yang ditinggalkan oleh Yinghua. “Kalai mau gelut ayo! Tak ladeni,” kata Xiuhuan lagi sambil mengepal tangannya.


“Bocah ini sangat arogan! Beri dia pelajaran!” Perintah Su Mao.


Tang San tetap berdiri di tempatnya dan tiba-tiba saja, Su Wei murid tetua pertama datang. Karena Su Mao mengajak Su Rong makan bersama, namun akibat Xiuhuan mengalahkannya, kini Su Rong mengurung diri di Sekte, ia malu menampakkan batang hidungnya saat ini.

__ADS_1


Su Wei melihat Tang San mengeluarkan Pedang Rohnya di hadapan Xiuhuan. Sontak saja ia kaget bercampur takut. Buru-buru ia berlari menghampiri mereka.


“Hei-hei! Tunggu dulu!” teriak Su Wei.


“Saudara Wei!” seru Su Rong senang.


“Ada apa ini?” tanya Su Wei.


“Ini ada parasit mengganggu makan siangku,” cibir Su Mao, seolah menatap jijik Xiuhuan.


“Astaga mereka ini,” gumam Su Wei menarik tangan Su Mao dan Tang San menjauh dari Xiuhuan. Kemudian berbisik, “Kalian telah mengusik Harimau tahu, kita ini cuma kucing Oren saja dimatanya. Su Rong saja dibuat hampir mati olehnya, untung saja Kepala Sekte datang melerai.”


“Apaaaaa?” Su Mao dan Tang kaget bercampur ketakutan.


“Saudara Wei, tolong wakilkan kami untuk meminta maaf," bisik Su Mao ketakutan, kakinya sudah gemetaran.


“Ah, kalian yang berbuat, masa aku ikutan meminta maaf. Ah, ogah,” sahut Su Wei.


“Ehemmmm!” Xiuhuan berdehem, ia sudah lelah berdiri, menunggu mereka untuk menyerangnya. Sedangkan Liu Ruyan asyik makan sendiri, ia yakin mereka cuma semut dimata Xiuhuan.


“Ah, tiba-tiba selera makanku hilang. Tang San ayo pergi!” seru Su Mao berjalan buru-buru keluar ruangan itu.


Xiuhuan bingung melihatnya, ia kemudian teringat dengan Su Wei adalah teman Su Rong yang ia jadikan sebagai wadah latihan jurus barunya tadi.


“Tu-tuan muda!” Panggil Xie Xi kebingungan melihat perubahan sikap Su Mao. Ia mengejar anak walikota Guangxi itu, namun Su Mao yang ketakutan telah meninggalkan restoran itu. Ia takut Xiuhuan berubah pikiran nanti dan membunuhnya.


“Kau kembalilah bekerja nona!” seru Xiuhuan membuyarkan lamunan Qianran.


“Ba-baik tuan,” sahut Qianran buru-buru meninggalkan ruangan itu. Tadi ia melamun memikirkan apakah Xiuhuan akan tetap memberikannya bonus, karena Qianran tak bisa membela pelanggannya itu dari gangguan Xie Xi dan Su Mao.


...⚔️Bersambung⚔️...

__ADS_1


__ADS_2