
Kini hanya Duan Cangtian lagi yang tinggal, semua Pengawalnya telah tewas di tangan anggota Kelompok Judgment.
"Sial Aku sudah kalah," guman Duan Cangtian, mau kabur tak bisa. Karena ia telah terkepung. Kini Duan Cangtian berpikir untuk membawa salah satu dari Duan Mu atau Wang Pan mati bersamanya.
"Tebasan Tornado!" seru Duan Cangtian, badai angin raksasa muncul, setengah badannya juga berbentuk Naga.
Duan Cangtian kemudian melesat ke arah Wang Pan yang lebih lemah, karena ia cuma Pendekar Pedang tahap 87 saja. Sedangkan Duan Cangtian sendiri, Pendekar Pedang tahap 90 sama dengan Duan Mu.
Melihat Duan Cangtian melesat ke arahnya, Wang Pan juga melakukan penggabungan dengan Roh Pedang Naga Api. Setengah badannya kini berbentuk Naga.
"Tebasan Nafas Naga Api!" seru Wang Pan.
Bola-bola Api meluncur ke arah Duan Cangtian, namun Badai Angin memadamkan api itu.
Duan Mu tak ketinggalan, ia juga melakukan penggabungan dengan Roh Pedang Serigala.
"Auman Serigala!" seru Duan Mu.
Sebuah tembok muncul dari permukaan tanah. Ia kemudian melompat ke atas tembok tanah itu untuk dijadikan pijakan.
Duan Cangtian sudah di hadapan Wang Pan, bersiap menebasnya.
"Putaran Naga Api!"
Wang Pan mencoba memblok tebasan Tornado Duan Cangtian, sebuah Api Raksasa muncul dengan bayangan Naga mengiringi tebasan Pedang Wang Pan.
"Boommmmm!"
Wang Pan terlempar berguling-guling setelah menahan tebasan pedang Duan Cangtian. Tak sampai di situ Duan Cangtian kembali melesat mengejarnya.
Untung saja Duan Mu melompat ke atas setelah membuat tembok tanah. Ini adalah kelebihan unsur tanah. Mereka bisa membuat tembok tanah semau mereka untuk di jadikan pijakan saat melompat.
__ADS_1
"Tebasan Cakar Serigala!"
Duan Mu menebas Duan Cangtian dari arah bawah. Ia kaget dan menghindar ke kanan dengan cepat dengan langkah Angin.
"Auman Serigala!" seru Duan Mu kembali, meninggikan tembok tanah yang telah dibuatnya tadi. Ia kemudian melompat dari tembok tanah itu bersiap menebas Duan Cangtian kembali.
"Trang-trang-trang!" Pedang mereka beradu di udara.
Saat akan jatuh, Duan Mu kembali memunculkan tembok tanah sebagai pijakan untuk melompat kembali.
"Kampret merepotkan sekali!" gerutu Duan Cangtian, padahal ia nyaris membunuh Wang Pan tadi, kalau tidak digagalkan oleh Duan Mu.
Wang Pan menancapkan pedangnya ke tanah, untuk dijadikan tumpuan berdiri kembali.
"Cih, Dia lansung mengincarku!" Wang Pan menggerutu juga, karena baru juga pertarungan dimulai, ia sudah merasakan sakit yang luar biasa. Darah segar juga mengalir dari mulutnya.
Wang Pan kembali berdiri bersiap bergabung dengan Duan Mu. "Harga diriku sebagai Jagal Neraka telah jatuh oleh Naga kentut itu!" gerutu Wang Pan, yang memiliki julukan Jagal Neraka.
"Kau diam saja ular betina, mulutmu itu berbisa kali kutengok!" seru Wang Pan sambil melesat ke udara kembali.
"Dasar Naga korek api!" sahutnya, namun Wang Pan tak mendengar ocehan Mei Yin itu.
"Tebasan Badai Angin!"
Duan Cangtian kembali bertukar tebasan dengan Duan Mu. Tentu saja Duan Mu tak akan kalah, ia memblok tebasan itu dengan tembok tanah.
"Tebasan nafas Naga api!"
Wang Pan menyerang dari jauh, ia mencoba menghancurkan konsentrasi Duan Mu.
"Merepotkan sekali," gerutunya.
__ADS_1
"Auman Serigala! Tebasan Cakar Serigala!"
Duan Mu kembali melompat dengan memanfaatkan tembok tanah dan melepaskan tebasan dengan bayangan Serigala hitam menyertai tebasannya.
Duan Cangtian yang memblok serangan bola-bola Api dari Tebasan Pedang Wang Pan, dikejutkan dengan kehadiran Duan Mu dari arah punggungnya.
"Putaran Badai Angin!"
Duan Cangtian menebas sambil berbalik badan, namun tebasan Duan Mu lebih dulu mendarat di bahu kanannya saat mencoba berbalik badan.
"Aaaaaaa!" Duan Cangtian berteriak kesakitan.
Wang Pan melihat kesempatan membunuh Duan Cangtian terbuka lebar. "Langkah Naga! Tebasan Nafas Naga Api!" Ia menebas punggung Duan Cangtian dengan api membara.
"Aaaaaa!" Duan Cangtian terbakar, "Putaran Badai Angin!" serunya memadamkan api di badannya dengan pusaran angin.
"Tebasan Cakar Serigala!" Duan Mu tak mau berhenti, ia kembali menebas Duan Cangtian. Membuat Hakim itu menjadi bulan-bulanan kedua Pendekar Pedang itu. Ia tak bisa fokus saat bertahan, akibat dikeroyok mereka.
Duan Cangtian terjatuh ke bawah menghantam permukaan tanah. Ia kemudian mencoba berdiri, dengan menancapkan pedangnya ke tanah untuk dijadikan tumpuan berdiri kembali.
"Tebasan Cakar Beruang Kutub!"
Jiu Yuan mengambil saat-saat terakhir Duan Cangtian dengan hujan bongkahan es yang ujungnya runcing. Lansung menancap tepat di tubuhnya.
"Sial kau Jiu Yuan, kau mengambil tugasku sebagai Jagal Neraka!" gerutu Wang Pan, karena Duan Cangtian tak mati di tangannya.
Lagi-lagi Jiu Yuan berbuat onar, dengan membunuh musuh yang sudah lemah dibuat oleh rekan-rekannya.
"Sudah-sudah ... ayo kita pergi dari sini, nanti bala bantuan mereka datang!" seru Duan Mu, melanjutkan perjalanan menuju Kota Yangtze.
Mereka membiarkan tubuh Duan Cangtian dan Pengawalnya tergeletak di situ, supaya terjadi kegemparan di Kerajaan Han ini. Sekaligus pertanda ancaman pada Paviliun Shadow.
__ADS_1
Bersambung 🗡️🗡️🗡️