Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Perebutan Tiket


__ADS_3

“Kenapa kamu malah mengeluarkan Tombak jelek itu?” Xiuhuan tersenyum menatap senjata Pusaka tingkat rendah miliknya, sehingga Xiao Yan langsung tersenyum masam mendengarnya.


“Kalau tidak bertarung untuk apa kita di sini?” sahut Xiao Yan sedikit kesal, tetapi ia harus tetap rendah hati dihadapan Ranah Absolute God tersebut.


“Terserah Kamu sajalah!” Xiuhuan mengeluarkan kursi dari cincin dimensinya dan menyeduh teh, sehingga para peserta lainnya keheranan melihatnya.


“Kenapa ada Immortal gila di sini?”


“Mungkin dia ingin menonton kita bertarung ha-ha-ha!”


“Kalau dia menertawaiku nanti, aku akan mematahkan kakinya.”


Bing Yun penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh peserta lainnya tersebut dan menoleh ke arah salah satu peserta yang duduk di kursi sembari menyeduh teh.


“Bukankah dia Kultivator Absolute God tampan di restoran tadi!” teriak Bing Yun sehingga semua peserta terkejut mendengarnya.


“Tidak perlu dikatakan juga tampannya dan betul yang dikatakan oleh Saudari satu Sekteku ini bahwa dia adalah Ranah Absolute God!” He Qian ikut membenarkan ucapan Bing Yun.


“Kalian salah lihat mungkin! Bagaimana mungkin dia bisa memasuki tempat ini kalau dia Ranah Absolute God,” sela yang lain. “Lihatlah dengan jelas, dia hanya Ranah Immortal Tahap Awal saja!” katanya lagi.


Bing Yun keheranan, bagaimana bisa basis kultivasi Kultivator tampan itu turun sangat jauh. Ini aneh sekali, dan Bing Yun saat itu benar-benar memeriksa basis kultivasi Xiuhuan, karena ia sangat tampan sekali.


“Sudahlah lupakan saja! Lagi pula itu bukan urusan kita!” seru He Qian tidak mau repot-repot berdebat dengan mereka. “Yang penting kita harus menghindari pertarungan dengannya!”


“Benar, kalau kalian tidak percaya. Ya, sudah!” sela Bing Yun menggembungkan pipinya—cemberut karena tak ada yang percaya dengan ucapannya.


Xiuhuan tersenyum, ternyata masih ada peserta yang memperhatikannya selama berada di restoran tadi.


“Tiketnya jatuh!”


“Mati kau bangsattt! Aku akan menuntaskan dendam sepuluh tahun yang lalu!”

__ADS_1


Beberapa peserta mulai bertarung, sedangkan yang lain fokus memperhatikan ke mana arah jatuhnya tiket-tiket untuk memasuki Pagoda Tujuh tersebut.


“Kali ini aku aku harus mendapatkan satu tiket!” kata Xiao Yan sangat bersemangat sekali dan langsung mengunci satu targetnya. Dia memperhatikan dengan seksama ke mana tiket itu akan jatuh.


“Kenapa kamu tidak terbang saja,” sela Xiuhuan sembari mengeluarkan alat musik Guqin, sehingga Xiao Yan makin geleng-geleng kepala melihat kelakuannya. Apakah ia mau berebut tiket atau sedang menghibur para Kultivator yang sedang bertarung.


“Tempat ini ada batasannya. Artefak kapal terbang atau sejenisnya tidak akan bisa digunakan, karena ada medan gravitasi yang menariknya!” sahut Xiao Yan merasa terganggu konsentrasinya oleh Xiuhuan.


Xiuhuan kemudian memetik senar Guqin dan bernyanyi, tetapi setiap petikan senar Guqin tersebut, muncul Siluet Elang berwarna emas yang langsung terbang ke arah tiket-tiket yang sedang jatuh dari langit.


“Bagaimana Artefak itu bisa melawan batasan Hukum Ruang Pangeran Yun Fei?”


“Lebih baik kita bekerjasama merebut Guqin itu?”


“Ha-ha-ha rencana yang bagus saudaraku!”


Beberapa peserta mulai memiliki niat busuk untuk merebut Guqin milik Xiuhuan. Namun, tiba-tiba mereka tercengang, karena muncul Perisai yang memblokade langkah mereka mendekati Xiuhuan yang menyeringai menatap mereka.


“Hei, bung! Apa yang kau lakukan?” Pria gemuk dengan jubah bangsawan bertanya pada Xiuhuan. “Aku adalah keponakan Pangeran Yun Fei dan bila kamu memberikan aku satu tiket—serta membiarkan diriku beristirahat denganmu, maka aku akan menjamin keselamatanmu di Kota nantinya.”


“Hah? Tuan Pahlawan ini tidak butuh perlindungan dari bangsawan rendahan sepertimu!” ejek Xiuhuan sehingga wajahnya langsung memerah dan sangat marah atas ejekan Xiuhuan tersebut. “Baiklah, jangan harap kamu bisa meninggalkan Kota ini!” ancamnya. Namun, Xiuhuan tetap mengabaikannya dan bernyanyi dengan suara melengking, sehingga peserta lain ingin menyumpal mulutnya agar diam saja.


Waktu yang diberikan oleh Pangeran Yun Fei dalam perebutan tiket ini adalah satu batang dupa, sehingga para peserta sangat panik—takut tidak mendapatkan tiket masuk Pagoda Tujuh.


Seorang wanita cantik mendekati Perisai yang dibuat oleh Xiuhuan dan langsung menangkupkan tinju. “Apakah tuan muda mau menjual tiket itu padaku dan katakan saja berapa harganya?” tanya wanita dari Sekte Bulan Sabit.


Xiuhuan memperhatikan wanita itu dengan seksama dan memiliki sebuah ide gila.


“Apakah ada diantara kalian yang mengenal wanita yang bernama Lou Xue?” Xiuhuan bertanya.


“Apa? Lou Xue?”

__ADS_1


“Aku belum pernah mendengar Clan yang bermarga Lou?”


“Aku juga!”


Xiuhuan mengerutkan keningnya, karena tidak ada informasi mengenai Lou Xue, sedangkan Bing Yun dan He Qian saling berpandangan—karena nama itu sangat mirip dengan nama Huo Xue.


“Apakah maksudnya adalah saudari Huo Xue?” Bing Yun berbisik pada He Qian.


“Itu tak mungkin, tetapi bisa saja dia salah mendengar informasi dari Clan Huo—sehingga menyangka nama Huo Xue adalah Lou Xue dan tujuannya pasti ingin menangkap saudari Xue‘er!” sahut He Qian.


Keduanya tak menyangka anggota Clan Huo ada di sini untuk mencari keberadaan Huo Xue dan untung saja mereka tidak mengajaknya berpartisipasi memasuki Pagoda Tujuh, walaupun sebenarnya memasuki Pagoda Tujuh itu adalah kesempatannya untuk menerobos ke Ranah Absolute God. Namun, atas pertimbangan keselamatannya, mereka tidak menceritakan tentang Pagoda Tujuh padanya.


“Kalau tidak ada 98 Wanita tercantik menurut tuan muda ini akan menerima tiket secara gratis dan tidak ada lagi pertumpahan darah pada acara bodoh ini!” sahut Xiuhuan yang membuatnya diumpat para peserta laki-laki, termasuk He Qian yang tidak akan bisa memasuki Pagoda Tujuh, padahal ia berencana menerobos ke Ranah Absolute God agar Huo Xue terkesan padanya dan bisa membantunya membunuh mantan suaminya yang bernama Xiuhuan tersebut.


“Hacccciiiimmmmmm!” Xiuhuan bersin. “Sialan kalian! Kenapa harus mengutukku? Salahkan diri kalian, kenapa bisa lebih lemah dari Ranah Immortal?” Xiuhuan mengacungkan jari tengah pada ribuan peserta Pagoda Tujuh Musim tersebut.


“Apakah aku masuk kriteriamu tuan muda?” Wanita cantik dari Sekte Bulan Sabit tadi bertanya dengan suara menggoda pada Xiuhuan.


“Kamu lolos! Terobos saja Perisainya!” sahut Xiuhuan dan wanita cantik itu sangat senang mendengarnya. Dia lantas melangkah ke dalam, tetapi tiba-tiba Pria kurus menarik tangannya dan berusaha masuk lebih dulu. Namun, ia terpental dan hidungnya langsung berdarah, sehingga menjadi bahan tertawaan peserta lain.


“Sial! Awas kau nanti!” Dia langsung menjauh dari Perisai itu.


Murid Wanita dari Bulan Sabit kembali melangkah dan dia langsung berada di dalam Perisai yang dibuat oleh Xiuhuan.


“Siapa lagi? Masih ada 97 tiket dan waktu akan segera habis!” seru Xiuhuan, sehingga para murid-murid wanita berlomba-lomba mendekati Perisai dan mengusir para murid laki-laki agar menjauh dari sana—karena hanya menggangu mereka saja.


“Selamat tinggal saudara He!” Bing Yun juga ikut bergabung dalam kontes kecantikan dengan hadiah tiket Pagoda Tujuh tersebut.


“Sial! Dasar tidak setia kawan! Semoga saja dia melihatmu seperti monyet!” teriak He Qian. Namun, Bing Yun malah menjulurkan lidahnya dan Xiuhuan memilihnya menjadi salah satu penerima tiket tersebut.


Xiao Yan menyesal tidak mendengar ucapan Xiuhuan tadi, sehingga ia hanya tersenyum masam menatap kerumunan murid-murid wanita yang berusaha berdandan cantik agar terpilih oleh Xiuhuan. Namun, tiba-tiba suara telepati dari Xiuhuan memintanya untuk masuk juga ke dalam Perisai, sehingga ia sangat senang sekali. “Tuan Pahlawan, aku mencintaimu!” teriak Xiao Yan langsung memasuki Perisai, sehingga para murid laki-laki lainnya mengerutkan keningnya dan berpikir Xiuhuan memiliki kelainan segsuall.

__ADS_1


“Ah, masa bodoh! Tuan Pahlawan! Aku mencintaimu!” teriak He Qian ikut-ikutan, sehingga Bing Yun terkejut melihatnya dan murid-murid laki-laki lain juga menirunya. Namun, mereka malah terpental, sehingga murid-murid wanita yang telah terpilih oleh Xiuhuan tertawa terkekeh-kekeh. “Sial! Si Tampan sialan itu sengaja mempermainkan kami!” gerutu He Qian yang akan menjadi bahan bullyan Bing Yun saat kembali ke Sekte Daun Keladi nanti.


__ADS_2