Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Mencari Harta Karun IV


__ADS_3

Wei Fang Yin dan yang lainnya dibuat kebingungan, tiba-tiba seluruh Prajurit patung besi tidak bergerak lagi. Ruangan tempat mereka berada juga bergetar hebat dan mereka kembali ke tubuh asli masing-masing.


“Kita kembali!” seru Xu Que memperhatikan tubuhnya. Luka tebasan dari Prajurit patung besi tidak ada lagi. Namun, rasa sakit akibat tebasan itu masih terasa. Xu Que kemudian mengalihkan pandangan pada peti mati Immortal Lou Yun. “Ada yang mengambil Pedang itu! Mungkin itulah yang menyebabkan kita kembali lagi,” kata Xu Que.


“Apaaaa?” Wei Fang Yin terkejut mendengarnya. Padahal misi utama mereka adalah mendapatkan cincin dimensi. Lantas ia langsung melihat jari tangan Immortal Lou Yun, tetapi cincin dimensi itu juga telah diambil. “Kurang aja! Siapa yang berani mengambil cincin dimensi itu. Ayo kita ke gerbang makam! Geledah semua murid yang keluar dari makam!” seru Wei Fang Yin marah. Dia tak tahu bagaimana cara menghadap Ketua Sekte nantinya, padahal hanya mereka murid terkuat yang memasuki makam dan malah tidak mendapatkan apa-apa.


Saat akan keluar, tiba-tiba makam Immortal Lou Yun mulai runtuh. Dinding batu menutupi lorong, membuat mereka menggunakan tenaga dalam mengucurkan batu-batu yang menghalangi jalan mereka.


“Mereka mengatakan cincin dimensi? Apakah itu barang berharga?” gumam Xu Que mengikuti langkah Wei Fang Yin. Perasaannya tak enak, dia takut dikorbankan oleh Wei Fang Yin atas kegagalannya menemukan cincin dimensi itu.


Tak butuh waktu lama mereka telah keluar dari makam Immortal Lou Yun, karena tidak ada lagi rintangan atau jebakan-jebakan yang menghalangi jalan mereka.


Hampir semua murid-murid dari berbagai Sekte berkumpul di luar makam, mereka kebingungan melihat wajah Wei Fang Yin yang biasa tampak tenang, kini kelihatan pucat dan berbicara kasar. Bahkan Xue Que hanya diam saja sejak keluar dari makam.


“Kami akan menggeladah kalian semua. Jangan ada yang meninggalkan area makam ini. Bagi siapa yang menolak, maka jangan salahkan kami bertindak kasar!” seru Wei Fang Yin dengan suara lantang. “Xu Que kamu bantu periksa murid laki-laki dan kami periksa murid wanita!” katanya lagi.


Xu Que mengangguk dan memeriksa seluruh murid laki-laki. Tak ada barang berharga yang mereka temukan di makam, selain batu berkilauan atau gelas emas saja.


Wei Fang Yin juga tidak menemukan apa-apa, dia kehabisan akal. Pasti ketua Sekte akan menghukum mereka, kemudian ia teringat dengan Xiuhuan. Pendekar Pedang tahap Melawan Kehendak Langit.

__ADS_1


“Xu Que! Apakah kamu memeriksa Xiuhuan, murid Sekte Pedang Taiyang itu?” Wei Fang Yin yakin Xiuhuanlah yang mengambil cincin dimensi itu, karena cuma dia satu-satunya Pendekar Pedang tahap Melawan Kehendak Langit.


“Aku tidak melihatnya. Bahkan di dalam makam juga tidak melihatnya,” sahut Xu Que.


Wei Fang Yin bergegas menemui Mo Yue yang sedang memeriksakan murid perempuan dari Sekte lain.


“Saudari Yue! Coba kamu lihat apakah masih ada orang di dalam makam.” Wei Fang Yin yakin Xiuhuan masih bersembunyi di dalam makam. Karena Pendekar Pedang wanita gemuk yang bersamanya juga tidak terlihat di luar makam.


Mo Yue menggunakan jurus mata dewa dan melihat jauh ke dalam makam.


“Ada perisai air dengan kilatan-kilatan listrik, sepertinya itu adalah jurus milik Xiuhuan. Dia berada dekat ruangan kitab yang akan kita ambil. Namun, kitab itu telah dihancurkan.”


“Baiklah kita kembali ke Sekte melaporkan kejadian ini. Kita tidak mungkin melawan Xiuhuan. Kita serahkan saja Ketua Sekte yang mengambil keputusan.” Wei Fang Yin telah pasrah dengan nasibnya nanti.


Murid-murid Sekte Tianshi lansung meninggalkan area makam Immortal Lou Yun itu. Para murid-murid Sekte besar maupun kecil, keheranan dengan tindakan mereka itu. Padahal selama ini, Sekte Tianshi terkenal baik dan ramah. Namun, hari ini mereka menunjukkan sisi yang berbeda dari sifat mereka selama ini.


Xu Que bernafas lega, ia tidak dikambinghitamkan atas gagalnya murid Sekte Tianshi mendapatkan cincin dimensi itu. Xu Que memutuskan kembali ke Sektenya saat itu juga. Mereka hanya membawa pulang beberapa gelas terbuat dari emas, teko emas dan batu berkilauan. Sungguh hasil yang mengecewakan, padahal kabarnya makam itu memiliki harta berlimpah.


***

__ADS_1


Mei-Mei kebingungan saat Kloning Manusia Air membawa Pedang emas, armor baju jirah emas dan sebuah cincin.


Mei-Mei ingin mengambil cincin itu sebagai cincin pernikahan mereka. Namun, Kloning Manusia Air tidak mengijinkannya. Karena Mei-Mei bukan majikannya, dan hampir saja tangannya di tebas saat ingin mengambil cincin itu.


“Aku ini istri bosmu! Walaupun gemuk begini, jangan salah. Aku ini bahenol dimata Xiuhuan gege!” Mei-Mei mengumpati Kloning Manusia Air itu, karena terkejut dengan tindakannya.


Mei-Mei duduk di belakang Xiuhuan, walaupun agak sempit. Bahkan Xiuhuan yang duduk bersila terdorong sedikit ke depan. Mei-Mei takut Kloning Manusia Air itu tiba-tiba menyerangnya lagi.


Cairan berwarna merah itu ternyata adalah ramuan untuk memperluas Rongqi. Karena Xiuhuan sudah terbiasa berkultivasi secara alami, hanya satu jam saja, Rongqinya telah bertambah luas, seluas laut Kunming.


Xiuhuan membuka matanya dan melirik kebelakang, ternyata Mei-Mei tengah tidur bersandar ke punggungnya.


Xiuhuan tersenyum melihatnya. Tak pernah terpikirkan oleh Xiuhuan akan menikahi berbagai macam wanita. Di Pulau Niao, istrinya cantik-cantik, sedangkan di daratan utama ini unik-unik. Qianran janda beranak dua, mantan Pelayan restoran Kaefci. Zhang Xue, janda beranak dua yang dijadikan pelacur oleh kakak iparnya. Qincheng, janda beranak lima yang merujuk petani miskin yang ia temui di rumah bordil dekat dari makam Immortal Lou Yun ini, wajahnya jauh dari kata cantik, bahkan hitam sebagian terkena sengatan matahari saat bekerja. Dan yang terakhir ialah Mei-Mei yang satu-satunya yang masih gadis.


“Aku akan menyerap botol-botol lainnya, agar Aku tidak terkalahkan. Bayangkan saja bila bertambah satu samudera kecil saja untuk sudah memberikan perbedaan besar saat pertarungan,” gumam Xiuhuan meminum cairan berwarna merah itu. “Kok, ramuan ini diskriminatif padaku, ya. Apa gara-gara aku tampan. Mei-Mei yang menyerap satu botol saja Rongqinya sudah meluas, seluas Samudera kecil. Sedangkan babang tampan ini cuma seluas, laut Kunming saja. Jangan-jangan botol kedua malah nambah segelas kopi pula nanti,” keluh Xiuhuan. Namun, ia tetap melanjutkan kultivasinya.


Xiuhuan tidak membutuhkan waktu lama menyerap cairan berwarna merah itu. Ternyata dugaannya benar, khasiat malah berkurang, kini Rongqinya hanya meluas, seluas danau Qinghai saja.


Percobaan ketiga, Rongqinya bertambah seluas setengah danau Qinghai, dan percobaan keempat hanya seluas telaga. Akhirnya Xiuhuan memutuskan tidak melanjutkannya lagi, karena ia berpikir lebih baik diberikan pada istrinya saja. Agar mereka cepat naik level, apalagi ia berencana membeli Pill Surga dan Pill Neraka dari Paviliun Shilin. Supaya mereka mendapat kekuatan Cheat dan menjadi keluarga terhebat di Pulau Niao yang jarang ada Pendekar Pedang tahap 100, karena cara berkultivasi di sana, masih secara alami.

__ADS_1


__ADS_2