
“Jangan takut Saudara Kraken, dia tak mungkin memasuki Dunia Siluman dan keluar lagi dari sana—karena kita yang merupakan Ras asli Dunia Siluman saja tidak bisa kembali kalau sudah meninggalkan tempat itu. Paling dia hanya mendengar cerita dari Naga Lou Feng saja, karena ia tahu Naga Lou Feng akan marah—saat aku mengintip ke Dunia yang menjadi sarangnya itu,” kata Akjal tidak mempercayai ucapan Xiuhuan yang menurutnya hanya untuk menakut-nakuti mereka saja agar tidak membunuhnya.
Kraken juga menyetujui ucapan Akjal, bagaimana mungkin seorang manusia bebas keluar masuk Dunia Siluman, apalagi sudah bertemu Putri Mahkota dari Kerajaan Artik—seharusnya pengawal tuan Putri Serea—Poseidon telah membunuh Xiuhuan.
“Kamu hebat juga dalam membual anak muda,” kata Kraken dengan seringai tipis diwajahnya dan berjalan secara perlahan mendekati Xiuhuan. “Jangan kira kamu berwajah tampan maka Putri Mahkota kami akan jatuh cinta padamu, khalayanmu terlalu tinggi anak muda!”
Xiuhuan memicingkan matanya dan berkata, “Itu bukanlah khayalan, tetapi sebuah anugerah yang tidak mungkin ditolak oleh lelaki normal sepertiku hehehe ....” Xiuhuan tertawa terkekeh-kekeh, tetapi sayang sekali Serea tidak mau tinggal lagi di dalam Rongqinya, karena anak mereka lebih memilih tinggal di Sekte Teratai Biru bersama anak-anak Xiuhuan lainnya.
Kraken dan Akjal merasa Xiuhuan sudah berpikiran tidak normal dan mengabaikan ucapannya. Kedua Siluman yang berasal dari kasta terendah itu langsung segera menyerang Xiuhuan untuk membunuhnya.
Xiuhuan mengepal tangannya, karena yakin Akjal sudah sangat lemah—setelah menerima serangan dari Naga Lou Feng, dan betul saja Akjal merasa matanya yang lain yang merupakan kekuatan utamanya itu terasa sangat perih, seperti ditetesi air asam saja.
“Aaaaaaaaaa! Apa yang terjadi padaku?” gerutu Akjal mengucek-ucek matanya yang mengeluarkan darah dan tak lama berselang cahaya keemasan bersinar dalam tubuhnya; mencabik-cabik tubuh Akjal hingga hancur berkeping-keping.
“Akjal?” Kraken keheranan dan darah Akjal menyembur menyirami wajahnya seperti disiram air saja. Dia kemudian menatap tajam pada Xiuhuan dan berkata, “Apa yang kamu lakukan pada Saudaraku brengse‘k!” kecamnya sembari menyeka darah dari wajahnya.
__ADS_1
“Apa yang kulakukan?” Xiuhuan bertanya kembali dengan seringai tipis diwajahnya. “Tentu saja menyingkirkan musuh yang akan membunuhku!” katanya lagi sembari mengeluarkan Pedang Penghancur Semesta.
Kraken tak menyangka ada manusia yang tetap bersikap tenang saat berhadapan dengan Siluman dan ia kemudian berpikir mungkin saja ucapan Xiuhuan tadi ada benarnya. Namun, walaupun Xiuhuan telah berkultivasi di Charco De Sangue, ia harus membalaskan kematian Akjal—biarpun harus bertaruh nyawa.
Kraken menebas Pedangnya dan kobaran api berbentuk lahar panas menerjang seperti air bah, padahal ia menegaskan Pedangnya dari jarak yang cukup jauh dari Xiuhuan.
“Hmm, hebat juga,” gumam Xiuhuan makin bersemangat melawannya, karena melawan Kraken bisa dijadikan tolak ukur apakah ia sudah layak melawan Naga yang ada di Dimensi Heidong yang ingin mengambil Putrinya enam tahun lagi dari sekarang.
Xiuhuan tidak mengelak dari tebasan Pedang Kraken, ia justru menebas balik dengan Pedang Penghancur Semesta yang mengeluarkan semburan air berbentuk Siluet Naga dan membelah kobaran api yang mengarah padanya—sehingga kobaran api itu dipaksa padam oleh Siluet Naga Air yang kekuatan spritualnya lebih besar.
“Perisai Air!” seru Xiuhuan. Namun, Perisai itu juga langsung retak. “Benar-benar Siluman, tetapi itu belum seberapa jika dibandingkan dengan Naga di Dimengerti Heidong yang masuk ke dalam Kubah Tsunami tanpa merusak jurus bertahan tersebut,” gumam Xiuhuan langsung menahan tebasan Pedang Kraken, sehingga keduanya mundur beberapa langkah.
Xiuhuan menggunakan Hukum Ruang dan muncul dibelakang Kraken seperti yang biasa dilakukan oleh para Iblis di Benua Dayan. Namun, Kraken ternyata bisa menebak di mana ia akan muncul dengan langsung berpindah tempat, sehingga Xiuhuan hanya menebas ruang kosong saja.
“Kage Bunshin No Jutsu!” Xiuhuan menggunakan jurus seribu bayangan, sehingga Seribu Kloning Manusia Air mengelilingi Kraken. “Aish, aku menggunakan jurus hebat ini lagi hehehe ....” Xiuhuan mengejek Kraken agar ia marah dengan provokasinya itu.
__ADS_1
Namun, Kraken tidak terpengaruh dan meninju lantai Istana Melayang-nya—yang kemudian seperti potongan puzzle, mereka dipaksa berganti tempat dan tiba-tiba Kloning Manusia Air menghilang.
“Kok, hilang? Eh, apa yang terjadi?” Xiuhuan terkejut. Kemudian ia mencoba menggunakan jurus tersebut, tetapi tidak bisa ditunda. “Apakah tempat kamu bisa menggunakan Hukum Ketiadaan?” Xiuhuan curiga ini seperti yang dilakukan oleh Kesadaran Naga Shuilong dari Paviliun makam.
Kraken yang tidak diketahui keberadaannya itu tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, “Aku adalah Administrator di Istana Melayang ini, sehingga apapun kehendakku akan terlaksana—termasuk membuatmu tersesat di Lorong panjang tak berujung tadi, sedangkan sekarang aku mem-veto jurus Seribu Bayangan-mu itu sehingga tidak berlaku dalam Istanaku ini.
Xiuhuan terkejut mendengarnya, itu adalah kekuatan yang sangat hebat—karena bisa memaksa seorang Kultivator tidak bisa menggunakan kekuatannya. Namun, yang ia herankan adalah kenapa Kraken tidak menghilangkan semua kekuatannya saja seperti yang dilakukan oleh Naga Shuilong? “Hehehe ... berarti dia hanya bisa membatasi beberapa kekuatanku saja, dan dia sudah menggunakan dua teknik aneh ini. Bagaimana kalau aku mencoba jurus lain saja,” gumam Xiuhuan dengan seringai tipis diwajahnya, sehingga Kraken merasa heran—kenapa manusia ini masih bisa menyengir, padahal keadaannya kini berada dibawah kendalinya.
Xiuhuan mengayunkan Pedang Penghancur Semesta yang mampu melukai Ras Siluman maupun Ras Iblis, sehingga istana melayang tersebut mengalami kerusakan fatal.
Kraken terkejut melihatnya dan segera mem-veto Pedang Penghancur Semesta agar tidak bisa digunakan di Istana Melayang dan lagi-lagi terjadi perubahan pada Istana melayang—di mana Xiuhuan berada di tempat putih kosong dan tak berujung.
“Hehehe ... matilah dengan keputusan asaan di sini, karena tempat ini akan menjadi kuburanmu!” Suara Kraken yang menggema ditelinga Xiuhuan berulang-ulang.
Xiuhuan mengayunkan Pedang Penghancur Semesta dan tidak ada efek apapun yang terjadi, sehingga ia mengerutkan keningnya. “Hmm, ini yang ketiga kalinya. Apakah yang keempat masih berlaku. Namun, teknik apa yang harus kugunakan untuk memaksanya menggunakan hak Veto-nya lagi,” gumam Xiuhuan.
__ADS_1
“Bagaimana manusia sombong, cara apakah yang akan kamu gunakan lagi untuk keluar dari tempat ini, atau kamu meratapi nasibmu saja—karena belum ada yang bisa keluar hidup-hidup dari Istana-ku ini, karena aku adalah Tuhan di sini hahahaha ....” Gelak tawa Kraken menggema dan itu berasal dari segala arah, sehingga tidak bisa diprediksi di manakah ia berada.