
Baojia geleng-geleng kepala melihat Pendekar Pedang sableng di hadapannya itu. Walaupun demikian, mereka tak bisa berbuat apa-apa lagi, mau tak mau mereka harus menuruti permintaannya.
“Na-naikkan lagi ce-celanamu!” seru Chen Liu gugup. Kini matanya telah ternodai melihat cacing Alaska Xiuhuan, peristiwa ini mungkin akan selalu terngiang-ngiang di pikirannya sampai beberapa hari kedepan.
Dengan senyum lebar, Xiuhuan menarik kembali celananya. “Nah, sekarang kalian harus membayar upeti. Ayo, buruan!”
“Apa kau yakin melakukan ini pada kami. Asal kau tahu, Aku adalah putri Walikota Kunming!” Chen Liu berusaha menekan Xiuhuan dengan jabatan ayahnya. “Pikirkan baik-baik tuan! Jangan sampai kau salah melangkah,” ancamnya lagi.
“Mau itu Raja atau Kepala Paviliun Shilin, aku tak peduli. Yang kuperlukan adalah Poin Pil Neraka sebanyak mungkin,” kata Xiuhuan.
Dengan wajah cemberut, Chen Liu terpaksa merelakan Poin dan Pil Neraka miliknya. Diikuti juga oleh Pengawalnya, mereka terpaksa menuruti perintah Pendekar Pedang yang merepotkan ini.
Xiuhuan tersenyum lebar saat melihat Poin milik Chen Liu yang begitu banyak. “Ternyata kau benar-benar anak Walikota Kunming. Poinmu banyak sekali,” bisik Xiuhuan di telinga Chen Liu.
Chen Liu hanya bisa mengumpatinya dalam hati. Ia tak menyangka Xiuhuan tak menyisakan satu Poin pun, untuk bekal mereka kembali ke Kota Kunming.
“Sekarang kalian boleh pergi. Sering-seringlah melawanku, jangan lupa bawakan Poin dan Pil Neraka juga. Supaya aku jadi semangat meladeni tantangan kalian,” ejek Xiuhuan.
Chen Liu dan pengawalnya meninggalkan Xiuhuan dengan wajah cemberut, apalagi Chen Yan yang terpaksa dipapah, karena menderita luka dalam.
Saat mereka sudah menjauh dari Xiuhuan. Ia memutuskan turun gunung juga, melalui sisi yang lain. Karena ia yakin, walikota Kunming pasti sangat marah atas perlakuan yang diterima oleh putrinya itu.
Xiuhuan mencari kota terdekat dari gunung Diyu. Ia berencana untuk mencari penginapan dan melakukan kultivasi tertutup nanti.
“Hei adik kecil! Kalian mau ke mana?” tanya Xiuhuan pada dua orang anak-anak berumur 10 tahun.
“Kami ke kota Caodi,“ jawabnya. “Paman mau ke sana juga?” tanyanya lagi.
__ADS_1
“Wah, kebetulan sekali, kita searah,” sahut Xiuhuan. Padahal ia tak mengenal, dimana kota Caodi yang dimaksud olehnya itu.
Xiuhuan memperhatikan pakaian mereka sangat lusuh, bahkan yang satu lagi bokong celananya dua warna, akibat tambalan kain berbeda warna.
“Hei, siapa nama kalian, Dik?” tanya Xiuhuan lagi.
“Aku Chu Yi dan ini kembaranku Chu Er. Kalau paman siapa namamu?” tanya Chu Yi yang paling antusias berbicara dengan Xiuhuan. Sedangkan Chu Er, memiliki sifat pemalu, ia senyum-senyum saja sejak tadi tanpa keluar sepatah katapun dari mulutnya.
“Nama Paman adalah Xiuhuan yang berarti rupawan, sesuailah dengan wajah Paman yang merupakan Pria paling tampan dan gagah di daratan utama ini hahahaha ....” Xiuhuan tertawa lebar, menyombongkan dirinya sendiri.
Chu Yi dan Chu Er geleng-geleng kepala melihat tingkah lakunya itu. Kemudian Chu Er menyadari sesuatu yang salah, ia memeriksa kantong celananya.
“U-uangnya tinggal di rumah!” seru Chu Er dengan ekspresi terkejut.
“Apaaaaa kita harus kembali ke rumah mengambilnya, ayo!” sahut Chu Yi langsung berlari tanpa memperdulikan Xiuhuan yang kebingungan dengan tindakan mereka. “Cepat Chu Er, nanti kita kemalaman sampai ke kota Caodi,” katanya lagi.
Chu Yi dan Chu Er berlari tanpa berhenti, walaupun nafas mereka terengah-engah, namun mereka tetap memaksakan diri.
Setelah melewati tiga gunung, akhirnya mereka memasuki sebuah desa kecil. Hanya ada sepuluh bangunan di sana. Satu bangunan terlihat tampak megah, sedangkan bangunan lain tak layak di sebut rumah. Malah mirip dengan gubuk saja.
Chu Yi dan Chu Er langsung menuju gubuk paling ujung. Gubuk itu tampak sangat mengenaskan, atapnya saja bolong setengah. Bayangkan saja kalau sedang hujan, pasti gubuk itu kebanjiran.
“Ibuuuuu!” Chu Yi menggedor pintu. “Kami meninggalkan uangnya, cepat buka Bu, biar kami cepat-cepat pergi ke kota Caodi. Takut nanti kemalaman,” kata Chu Yi lagi.
Namun tak ada jawaban dari dalam, yang ada suara jeritan dan tangisan saja. Membuat Xiuhuan kebingungan, ada apa sebenarnya dengan keluarga mereka itu.
Setelah mendengar suara itu, Chu Yi dan Chu Er akhirnya diam. Keduanya duduk di kursi kayu depan gubuk itu. Seolah-olah mereka telah terbiasa dengan keadaan itu.
__ADS_1
“Apa aku ke sana saja, mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi? Tapi kedua anak itu tak berusaha membuka pintu. Apa jangan-jangan, ibu mereka itu penderita gangguan mental,” gumam Xiuhuan yang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Walaupun demikian, Xiuhuan masih mendengar tangisan dan teriakan pilu dari gubuk itu.
Beberapa saat kemudian, pintu gubuk itu terbuka. Chu Yi dan Chu Er langsung berlari ke sana. Namun tiba-tiba Chu Er terhempas beberapa langkah ke belakang di tendang oleh seorang pria yang hanya mengenakan celana pendek dengan tubuhnya dipenuhi tato Naga.
“Cih, kenapa kalian masih di sini? mana obat kuat buat ibu kalian? Jangan sampai mainanku itu mati, nanti tak ada lagi pelampiasan hasratku!” seru Pria dengan bekas luka bacokan di wajah itu menampar wajah Chu Yi.
“Tu-tuan tolong jangan sakiti anak-anakku!” seru seorang wanita yang keluar dari gubuk itu. Ia tak mengenakan apapun, tampak jelas tubuhnya dipenuhi oleh luka.
“Cih, jangan lupa kau bersihkan lukamu itu. Nanti malam kita kedatangan pelanggan, mereka adalah geng Kapak. Kita akan mendapatkan uang banyak dari itu, makanya suruh cepat anakmu untuk membeli obat kuat. Agar kau dapat melayani 50 orang nanti malam,” kata pria itu sembari meludahi wanita itu.
Wanita itu hanya bisa pasrah, ia mengusap air ludah yang mengenai wajahnya dengan kain lusuh. Dengan senyum yang dipaksakan ia mengajak anak-anaknya masuk ke dalam.
Dengan langkah kilat, Xiuhuan bersembunyi di atas atap gubuk. Ia ingin mendengar percakapan mereka. Xiuhuan masih belum tahu, apa permasalahan mereka sebenarnya. Siapa pria tadi? ataukah dia ayah Chu Yi dan Chu Er, apa jangan-jangan ibu mereka adalah wanita penghibur. Karena Xiuhuan mendengar pria itu mengatakan akan kedatangan pelanggan dan wanita malang ini akan melayani mereka semua. Semua menjadi tanda tanya di benak Xiuhuan.
“Ibu kau di siksa lagi oleh Paman Chu Mogui. Kenapa kita tak lari saja dari sini?” kata Chu Yi membersihkan luka ibunya itu.
“Sabar ya, Nak. Kita akan kabur, setelah ibu sembuh,” jawabnya memberikan harapan palsu pada anaknya itu.
Padahal sebenarnya, ia tak bisa kabur dari tempat ini, karena Chu Mogui memiliki beberapa pengawal yang menjaga ketat tempat ini.
“Ibu, mana uangnya tadi. Kami akan ke kota Caodi sekarang. Kami takut ibu tak sanggup melayani tamu mereka dan pingsan lagi seperti tadi malam,” kata Chu Er mencari uang yang ia taruh di atas meja makan tadi. Namun uang itu tak ada di sana.
Dengan senyum tipis, ibunya itu mengusap kepala Chu Er. “Sudah, kalian tak perlu membeli obat itu ke kota. Ibu baik-baik saja kok.”
Chu Er menatap wajah ibunya itu. Ia tahu ibunya sedang berpura-pura tegar. Chu Er juga yakin Chu Mogui telah mengambil uang mereka. Ia hanya bisa menghela nafas dalam-dalam sambil mengepal tangannya. Ia berharap agar cepat dewasa dan menjaga ibunya dari cengkeraman Chu Mogui yang merupakan saudara ayahnya sendiri. Sedangkan ayahnya telah lama tewas dibunuh oleh Chu Mogui dan memperbudak ibu mereka.
__ADS_1
...⚔️Bersambung⚔️...