Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Murid Tetua Lou Zui


__ADS_3

Tibalah giliran Lou Yi yang diperiksa oleh penjaga gerbang kota Nancheng, setelah cukup lama ikut antrian panjang. Dia menyerahkan Plakat miliknya yang lansung diperiksa oleh penjaga gerbang keaslian Plakat itu.


“Alirkan sedikit qi milikmu!” perintah penjaga gerbang dengan perawakan tubuh tinggi dua tombak itu, badannya kekar, tatapannya tajam; tak ada senyum yang terpancar dari wajahnya. Dia seperti terpaksa saja melaksanakan tugas itu.


Lou Yi buru-buru mengalirkan sedikit qi pada Plakat miliknya, sehingga menampilkan identitasnya.


“Immortal Menengah!” seru penjaga gerbang itu menulis sesuatu di kertas. “Tunjukkan pesan ini pada Tetua Lou Xingzheng di aula Petir. Dia akan memberikan surat rekomendasi untuk menjadi murid luar Sekte Qingyun padamu.”


Lou Yi menerima kertas itu dan menuju aula Petir.


Clan Lou memberikan nama-nama aula mereka dengan sebelas Elemen. Seperti Aula Petir yang dituju oleh Lou Yi adalah bagian administrasi. Aula Cahaya adalah tempat pemujaan pada Dewa dan Aula Kegelapan adalah tempat hukuman bagi anggota Clan yang melanggar hukum.


“Selanjutnya!” seru penjaga gerbang itu.


Xiuhuan lansung bergegas dan mengeluarkan Plakat miliknya, tanpa diperintahkan ia lansung mengalirkan sedikit qi pada Plakat itu.


“Elemen air saja,” kata Penjaga itu sembari menulis sesuatu di kertas. “Pergi ke aula Air! Tunjukkan pada penjaga aula air, supaya dipilihkan salah satu tetua untukmu.” Dia memberikan kertas itu tanpa menoleh pada Xiuhuan dan berkata antrian berikutnya untuk maju.


Saat Xiuhuan melewati gerbang kota Nancheng, ternyata Lou Yi belum pergi ke aula Petir. Dia menunggu Xiuhuan.


“Kenapa belum pergi? Apakah kamu ingin memelukku, karena berat untuk berpisah.” Xiuhuan mencoba memeluk Lou Yi, tetapi tiba-tiba ia memeluk patung besi.


“Berhenti bergurau. Aku akan lansung pergi ke Sekte Qingyun, mungkin kita akan sulit bertemu setelah ini. Jadi, Aku berharap kamu tidak melakukan perbuatan yang melanggar aturan Clan. Lebih baik kamu giat berkultivasi agar cepat naik ke tingkat Immortal Menengah dan bisa menyusulku ke Sekte Qingyun,” kata Lou Yi.


“Tenang saja Nona Yi. Kamu terlalu perhatian padaku; jadi sulit memilih antara dirimu atau Lou Er,” gombal Xiuhuan.


Lou Yi mengeluarkan Pedang Dewi Bulan dari cincin dimensi miliknya, membuat Xiuhuan lansung berlari meninggalkannya sembari tertawa terkekeh-kekeh—sehingga semua mata tertuju padanya.


Lou Yi gelang-gelang kepala melihat kelakuannya itu. Dia khawatir meninggalkan Xiuhuan di kota Nancheng ini, takutnya ia malah berbuat onar dan identitasnya terbongkar.

__ADS_1


Xiuhuan takjub dengan arsitektur bangunan kota Nancheng itu. Dari luar tampak satu bangunan utama saja. Namun, saat tiba di dalam, ternyata ada bangunan lain yang berdiri sendiri atau dinamakan dengan Aula.


“Arsitek kota Nancheng ini sungguh jenius. Bagaimana ia bisa memikirkan hal serumit ini,” gumam Xiuhuan sambil melihat kolam air mancur dengan ikan warna-warni menjadi penghuninya.


Aula Air berada di bagian selatan kota Nancheng, atau dekat dengan gerbang Selatan, sedangkan gerbang yang Xiuhuan masuki tadi adalah gerbang Utara. Gerbang lainnya adalah gerbang Barat dan timur—ada empat pintu masuk atau keluar kota Nancheng.


Xiuhuan menunjukkan kertas pada seorang Pria berperawakan kekar lagi yang berdiri di sebuah pintu besar yang bertuliskan Aula Air.


“Kenapa selalu bertemu Penjaga yang lupa tersenyum. Harusnya mereka menempatkan Penjaga cantik, supaya mata ini fresh melihatnya,” gumam Xiuhuan menyerahkan surat dari Penjaga gerbang Utara padanya.


“Masuk ke dalam dan tunggu namamu dipanggil!” seru Penjaga itu membuka pintu aula air.


Xiuhuan lansung masuk tanpa berkata apa-apa, dan terkejut—ternyata di dalam ada halaman luas dengan puluhan Kultivator sedang berbaris lagi. Sementara ada 20 Kultivator Ranah Chaos Ancient God melayang di udara memanggil nama mereka yang ada di bawah. Setiap nama yang dipanggil akan menjadi muridnya dan memasuki pintu menuju aula milik tetua itu.


“Hadeh ... benar-benar tempat yang aneh. Jangan-jangan di dalam ada labirin atau Kastil lagi,” gumam Xiuhuan bosan di suruh pindah-pindah tempat terus. Namun, matanya bersinar melihat ada lima tetua yang ternyata sangat cantik. “Mudah-mudahan ia memilih si tampan ini, kalau belajar dengannya pasti menyenangkan,” kata Xiuhuan dengan senyum lebar.


“Jangan bermimpi terlalu tinggi anak muda. Mereka itu adalah—”


Kultivator botak itu tersenyum masam dan tiba-tiba ia dipanggil oleh salah tetua wanita cantik. Dia menatap Xiuhuan seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi berbalik badan lagi bergegas menuju pintu tetua tersebut.


“Bagus sekali nasibnya,” gumam Xiuhuan dan namanya pun dipanggil, sehingga Xiuhuan bersemangat menoleh ke atas. Namun, ia lansung menghela nafas panjang, karena yang memanggilnya ternyata pria sepuh. “Sial, ternyata aku tak semujur biasanya lagi,” gerutu Xiuhuan memasuki pintu tetua sepuh itu.


Xiuhuan disambut oleh murid yang lebih senior atau lebih dulu belajar bersama tetua sepuh itu.


“Saudara ... siapakah namamu? Aku, Lou Lian yang akan memandumu di aula tetua Lou Zui ini.” Dia tersenyum hangat menyambut Xiuhuan, tetapi Xiuhuan justru menoleh ke sebelahnya; di mana Kultivator berwajah jelek justru dipandu oleh senior cantik. Xiuhuan merasa dirinya mungkin telah dipasang guna-guna oleh Lou Yi agar keberuntungannya menjauh.


“Aku, Xiuhuan. Kultivator tampan dari kota Zhongshan,” sahut Xiuhuan cetus. “Katakan saja apa yang harus kulakukan,” katanya lagi.


Lou Lian tetap tersenyum, ia tidak tersinggung dengan ucapan Xiuhuan. Dia memakluminya, mungkin saja Xiuhuan kelelahan dari perjalanan jauh. Namun, senior cantik yang ada disebelah mereka ternyata tersinggung dengan ucapan Xiuhuan itu.

__ADS_1


Dia menempeleng kepala Xiuhuan, sehingga Xiuhuan tersungkur ke lantai dan hidungnya mengeluarkan darah.


Xiuhuan yang terkejut, lantas berdiri dan menatap tajam senior cantik itu.


“Hei, kau! Mentang-mentang cantik, jangan kau pikir aku tidak berani memukul wajah mulusmu itu, ya. Apa perlu kubuat tanda X di wajahmu.” Xiuhuan memarahinya, sedangkan Lou Lian buru-buru menarik senior cantik itu agar menjauh dari Xiuhuan.


“Kenapa kau tarik aku Saudara Lian. Dia lancang sekali, tidak ada tata krama. Sudah jelas junior harus menghormati senior. Eh, ini—”


“Hei, di mana-mana itu, yang lemah menghormati yang kuat. Bukan senior-junior!” sela Xiuhuan tak mau mengalah.


“Kau yakin?” Senior cantik itu tiba-tiba tersenyum.


Xiuhuan merinding melihatnya. “Kenapa ia malah senang saat ditantang? Apa ia sengaja memprovokasiku?” gumam Xiuhuan curiga.


“Saudari Mei ... tolong maafkan saja dia.” Lou Lian membujuk senior cantik bernama Lou Mei itu. “Bisakah lain waktu saja menantangnya, dia baru sampai dan kelelahan,” bujuk Lou Lian lagi.


Xiuhuan makin dibuat bingung, kenapa Lou Lian malah kelihatan tunduk pada iblis betina itu? Mungkinkah Lou Mei suka menindas pendatang baru? Semua masih tanda tanya di benak Xiuhuan.


“Baiklah, karena aku menaruh hormat pada Saudara Lian. Maka, aku akan tunda menantangmu di arena tarung bebas,” kata Lou Mei-Mei tersenyum sinis meninggalkan mereka.


“Apa-apaan dia itu?” Xiuhuan heran.


“Saudara Xiuhuan, dirimu dalam masalah besar.” Lou Lian menatap cemas padanya. “Saudari Mei itu suka menindas pendatang baru dan menjadikan mereka sebagai budaknya.” Lou Lian menjelaskan dan tak terbayang apa yang akan dialami oleh Xiuhuan nantinya.


“Dia sehebat itukah? Sudah berapa budaknya?—Kalau Aku mengalahkannya, berarti dia akan menjadi budakku?” Xiuhuan penasaran apa yang ia dapatkan bila mengalahkan Lou Mei.


“Sudah lima puluh Pria Tampan, tetapi sayangnya bila kau mengalahkannya; tak akan mendapat apapun. Karena dulu ada seorang yang mengalahkannya dan meminta Lou Mei menjadi budak pria itu, tetapi Tetua Zui malah campur tangan dan membatalkan taruhan mereka,” sahut Lou Lian.


Xiuhuan mengekerutkan keningnya, itu adalah pertarungan yang sia-sia, sehingga ia berpikir lebih baik menjauh dari Lou Mei saja, daripada harus meladeninya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2