
Gerombolan monster babi akhirnya berhenti muncul, kini tumpukan potongan tubuh monster babi menumpuk setinggi dua tombak saking banyaknya.
Xiuhuan mulai berpikir, mungkin ini yang menyebabkan mereka dapat melewati tembok bila tumpukan ini terus menggunung. Apalagi tak ada waktu tadi membuangnya.
Xiuhuan ingin membuang tumpukan daging monters babi itu, tetapi suara gemuruh kembali berbunyi.
“Aku mengira badai monster-nya telah berakhir, ternyata masih ada,” kata Xiuhuan keheranan.
“Biasanya serangan awal itu hanya pemanasan saja dan serangan kedua adalah puncaknya serta serangan ketiga muncul beberapa monters Level menengah, bahkan pernah ada monster Level tinggi yang kabur ke tembok, karena dikejar oleh murid-murid Sekte Qingyun.
Xiuhuan akhirnya mengerti, dia kemudian menancapkan tongkatnya ke kumpulan daging monster babi dan mengeluarkan busur panahnya. Xiuhuan berencana memanah gerombolan monster yang datang, karena jarak pandang mereka ke kawasan hutan gunung Lou Feng semakin luas, akibat pepohonan yang ada di sana dihancurkan oleh gerombolan monster babi tadi.
Xiuhuan menarik anak panah dan membidik ke depan. Suara gemuruh terdengar cukup keras, tetapi para monster belum tampak.
Xiuhuan terkejut melihat bentuk monster yang aneh-aneh pada serangan kedua badai monster itu. Ada yang berbentuk ular kepala singa, jerapah berkepala ayam, Harimau setinggi sepuluh tombak; yang kalau melompati tembok pasti akan lewat dan masih banyak lagi bentuk aneh lainnya.
Xiuhuan melepaskan anak panah yang lansung melesat ke arah gerombolan monster. Tampak samar-samar Siluet bangau putih menukik tajam menghantam gerombolan monster dan terjadi ledakan besar.
“Ternyata kamu hebat juga Xiuhuan, berhasil membuat ledakan energi cukup besar dengan hanya menggunakan senjata pusaka biasa saja.” Lou Nian tidak menyembunyikan rasa kagumnya, walaupun ia sebenarnya membenci Kultivator tampan yang merebut perhatian Ratu Mei mereka, julukan Lou Mei di Clan Lou.
Lou Nian tak mau kelihatan lemah di mata Lou Mei. Dia mengeluarkan Pedang Terbang, yang merupakan Pedang Pusaka Level rendah.
“Jurus Seratus Pedang Hujan Kematian!”
Lou Nian melempar Pedangnya ke arah gerombolan monster. Pedang itu lansung membelah diri sehingga, kini ada seratus Pedang yang melayang di udara.
__ADS_1
Pedang itu bergerak mengikuti pergerakan jari tangan Lou Nian. Karena pedang-pedang itu terhubung dengan seutas garis putih yang merupakan qi dari elemen angin milik Lou Nian.
Dia memiliki dua elemen, yang satu lagi adalah Elemen tanah. Pada saat melawan gerombolan monster babi tadi, ia memunculkan lima Golem saja, karena ia baru menguasai tahap awal dari jurus Golem yang memiliki sepuluh tingkatan. Kalau ia berhasil mencapai tahap sepuluh, maka ia bisa memunculkan seribu Golem tanah—itu merupakan jurus mematikan yang dapat membuat penggunanya memuncaki gelar Kultivator terkuat.
Xiuhuan juga kagum melihat senjata pusaka milik Lou Nian. Walaupun cara kerja senjata pusaka itu mirip dengan yang digunakan Pendekar Pedang di daratan utama.
Lou Nian menggerakkan jarinya dan seratus Pedang terbang itu menusuk gerombolan monster, hingga seratus monster bagian depan terjungkal dan monster di belakangnya ikut juga terjungkal.
Xiuhuan makin bersemangat, ia juga tak membiarkan monster yang datang ke arahnya mendekat. Dia memanah gerombolan monster dengan cepat, karena ia memadukan jurus Langkah Kilat pada gerakan tangannya. Kalau rekan-rekannya memperhatikan Xiuhuan, mereka mungkin akan mengira dia sedang diam mematung. Padahal gerakannya saja yang terlalu cepat tak bisa diikuti oleh mata mereka.
“Ah, sial!” Tak ada lagi anak panah yang keluar dari cincin dimensi miliknya. “Aku membeli anak panah terlalu sedikit, karena mengira akan jarang menggunakan busur panah,” gumam Xiuhuan memasukkan busur panah ke cincin dimensi.
Xiuhuan mencabut tongkat bambu dari tumpukan daging monters babi. Dia memasang kuda-kuda dan menunggu gerombolan monster mendekat.
“Ayo bebeb datang pada babang tampan.” Xiuhuan mengalirkan qi pada tongkat bambu dan tak lama kemudian ia mengayunkan tongkat bambu itu yang lansung memanjang dengan sendirinya.
“20.000-20.057-20.100.” Xiuhuan terus menghitung monters yang ia bunuh dengan tongkat bambu. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara, “Krek!” Pada tongkat bambu dan akhirnya patah saat menubruk monster badak yang memiliki kulit sekeras baja itu.
“Oh, tidakkkkk!” Xiuhuan hampir menangis melihat tongkat bambu miliknya malah patah.
Lou Nian tersenyum lebar, saat melihat tongkat Xiuhuan malah patah. Dia juga mulai kesulitan membendung gerombolan monster. Dia bahkan telah membuat lima Golem tanah untuk membendung monters yang mendekati tembok.
Lou Han yang berada di sisi dekat pos murid-murid Clan Dong dan Xiuhuan—merasa kesulitan menghadapi gerombolan monster yang makin banyak.
Jurus seribu tangan Dewi Senlin miliknya tak bisa mampu mencegah gerombolan monster, sehingga beberapa monters berhasil melompati tembok, sebagian lagi menabrak tembok, tetapi belum cukup untuk merubuhkannya.
__ADS_1
“Senior Mei! Tulunggggg!” teriak Lou Han terpental diseruduk Badak bercula dari moncong hingga ke ekornya. “Senior Mei, jangan membantu Kong saja, sudah ada beberapa yang melintasi tembok,” katanya lagi berharap pertolongan Lou Mei yang merupakan murid terkuat di aula tetua Lou Zui.
Lou Mei mengekerutkan keningnya, kalau monters-monters itu kabur sepuluh mil dari tembok, maka mereka akan mendapat nilai minus. Karena di sana adalah pos para guru-guru dan tetua berbagai Clan menilai kinerja mereka.
Lou Mei melesat ke arah Lou Han dan meninju gerombolan para monster dengan jurus tinju penggetar langit tahap ke tiga.
Sinar merah berdiameter Lima puluh tombak meluncur ke arah gerombolan monster.
Booommmmm!
Ledakan besar menghancurkan gerombolan monster itu dan dia langsung melesat melompati tembok.
“Han, tahan mereka. Aku akan mengejar monters yang berhasil melewati tembok!” seru Lou Mei lansung melesat tanpa menunggu jawaban dari Lou Han.
Lou Han sedikit bernafas lega, karena ia bisa mengatur strategi lagi; menghadapi gerombolan monster yang sedang mengarah padanya lagi.
“Cih, mereka berpencar ke berbagai arah!” gerutu Lou Mei mengejar monters Rusa setinggi lima tombak.
Saat monters Rusa itu melihat Lou Mei, ia lansung berlari cepat ke arah Lou Mei, bermaksud menanduknya.
“Dasar monters level rendah. Kalau satu lawan satu, sama saja aku sedang melawan seekor semut!”
Lou Mei tidak menggunakan jurus apapun, dia hanya menggunakan kekuatan fisiknya saja.
“Makan ini!”—Cukup satu tinju monters Rusa itu hancur berkeping-keping, sehingga wajah cantiknya berbedak darah. “Cih, aku terlalu marah, sehingga tidak memikirkan efek samping menggunakan kekuatan fisik malah mengotori wajah cantikku ini.” Lou Mei mengeluarkan sapu tangan untuk mengusap wajahnya dan dia menyempatkan diri sebentar untuk berbedak dan menggunakan lipstik merah, agar ia tetap cantik di segala medan.
__ADS_1
Lou Mei melanjutkan perburuannya dan berhasil menyusul monster yang kabur. Namun, ia melihat di pos perbatasan yang dijaga murid-murid lain juga banyak monster yang melewati tembok. Sehingga Lou Mei menyadari, ramalan guru Tang San benar-benar terjadi.
...~Bersambung~...