
“Bunuh mereka semua!” seru Gu He saat sampai di kediaman tetua kedua.
Pendekar Pedang Clan Gu yang berjaga di gerbang masuk, dibuat kebingungan melihat kedatangan dua ratus Pendekar Pedang yang mereka kenali sebagai Pendekar Pedang pendukung Ketua Clan lama.
Sepuluh Pendekar Pedang yang ada di gerbang masuk itu ingin kabur, namun mereka langsung diburu oleh puluhan Pendekar Pedang yang datang bersama Gu He itu.
Tak ada yang tersisa, semuanya dihabisi di tempat. Karena percuma mengasihani penghianat seperti mereka.
Gu He dan yang lainnya kemudian memasuki Kediaman tetua kedua. Lagi-lagi para Pendekar Pedang yang ada di dalam tak siap meladeni kedatangan tiba-tiba mereka.
Tetua kedua menyadari aura pembunuh yang begitu besar di lantai bawah kediaman miliknya. Itu adalah aura pembunuh yang dipancarkan oleh 200 Pendekar Pedang yang datang bersama Gu He.
Tetua kedua mengeluarkan Pedang Rohnya dan mengalirkan qi yang cukup besar. Pedang Rohnya itu mengeluarkan asap hitam dibilahnya.
“Tebasan Kegelapan!” teriak tetua kedua.
Bangunan lima lantai itu bergetar hebat, tak lama berselang satu demi satu lantainya ambruk. Siluet Ular Anaconda hitam tampak melahap lantai-lantai bangunan itu.
Gu He lansung melakukan tehnik Penggabungan dengan Roh Pedang Serigala Hitam, tubuhnya menjadi manusia serigala. Penuh bulu dengan otot yang kekar.
Gu mengeluarkan Pedang Roh ditangannya dan lansung menebas ke arah atas.
Siluet Ular Anaconda hitam milik tetua kedua lansung berbenturan dengan siluet Serigala hitam milik Gu He.
“Booommmm!”
Kediaman tetua kedua hancur berkeping-keping, untung saja Gu He bertindak cepat. Sehingga para Pendekar Pedang yang datang bersamanya tak terkena serangan tiba-tiba dari tetua kedua itu.
“Oo, ternyata anak ingusan yang dulu kabur bersama tuannya kini sudah besar. Bahkan berani merusak pekarangan rumah orang,” ejek tetua kedua yang ikut terjatuh ke lantai bawah seiring hancurnya kediamannya itu.
__ADS_1
“Cih, sarangmu yang kubakar bodoh! Dasar tua bangka tak berotak,” sahut Gu He sembari memasang kuda-kuda, tangannya menggenggam erat Pedang Rohnya, ia tak mengendurkan kewaspadaannya walaupun tetua kedua tampak berjalan santai mendekatinya.
“Dasar anak jaman sekarang, tak ada sopan santunnya pada yang tua. Kamu harus diberi sedikit arahan agar bisa bersikap baik kedepannya,” kata tetua kedua yang tiba-tiba sudah muncul di hadapan Gu He.
Pedang mereka beradu, sehingga menimbulkan efek energi besar. Hempasan angin berhembus kesegala arah membuat para Pendekar disekitar mereka terpental, begitu juga dengan Gu He ikut terhempas beberapa langkah.
Para Pendekar Pedang yang datang bersamanya berdiri kembali.
“Saudara He! kami akan membantumu!” seru mereka ingin mengepung tetua kedua. Namun Gu melambaikan tangannya.
“Kalian lawan mereka saja!” sahut Gu He melihat kedatangan bala bantuan dari anggota Clan Gu pihak Gu Lin yang datang bak air bah, setelah kembang api menyala di langit kota Yannan.
“Serang!” teriak anggota Clan Gu yang datang bersama Gu He.
Dua ratus Pendekar Pedang itu melesat cepat melewati Gu He dan tetua kedua.
“Bocah! Sekarang tinggal kita berdua! Ayo kerahkan seluruh kekuatanmu!” seru tetua kedua melakukan teknik penggabungan dengan Roh Pedang Ular Anaconda hitam.
Tetua kedua lansung masuk kedalam tanah, membuat Gu He mundur beberapa langkah ke belakang. Ia melirik kesegala arah, menunggu tetua kedua muncul kembali.
Gu He yang memiliki Roh Pedang Serigala Hitam itu, memfokuskan aliran tenaga dalam pada indra penciumannya hingga dapat mengendus keberadaan musuh sejauh ratusan langkah darinya.
Dua puluh langkah di sebelah kanannya, tiba-tiba tanah bergetar di sana dan tetua kedua lansung menyemburkan ribuan Pedang yang berputar-putar membentuk siluet ular yang langsung menerkam Gu He.
Untung saja indra penciumannya langsung mengendusnya dan ia memunculkan tembok tanah setinggi lima langkah, memblokir serangan itu. Dengan cepat ia juga mengeluarkan Siluet Serigala hitam raksasa, karena instingnya mengatakan tetua kedua pasti menyerangnya dari belakang.
Dugaannya benar, tapi bukan dari belakang. Tetua kedua muncul tepat dari bawah pijakannya. Siluet Serigala hitam lansung mendorong tubuhnya dan siluet Serigala hitam itu menerkam tetua kedua.
Ledakan besar muncul yang meninggalkan sebuah lubang menganga di sana. Namun, tetua kedua tak ada di sana lagi, membuat Gu He kembali waspada.
__ADS_1
***
Setelah beberapa waktu berjalan, bala bantuan dari Pendekar Pedang Clan Gu yang tengah di rumah atau di luar kota mulai bergabung dalam pertarungan itu.
Anggota Clan Gu pendukung Gu Yao kini mulai terdesak karena kalah jumlah. Belum lagi, warga sipil mulai ikut terdampak karena ledakan-ledakan akibat pertarungan itu menyasar pemukiman mereka.
Para warga sipil itu berhamburan meninggalkan kota Yannan, dengan resiko nyawa mereka taruhannya. Karena mereka harus melewati area pertarungan antar Pendekar Pedang yang terjadi dimana-mana di seluruh penjuru kota Yannan.
Xiuhuan merasa kasihan melihatnya, hatinya akhirnya tergerak. Ia membunuh Gu Xing yang masih pingsan, kemudian bertanya kepada pemilik restoran. Jalur mana yang paling dekat menuju luar kota.
Pemilik restoran kemudian mengatakan untuk mengambil jalur Utara, karena tetua yang tinggal di sana, sedang pergi keluar kota. Secara otomatis penjagaan di sana tidak terlalu ketat.
Dengan jurus Langkah Kilat, Xiuhuan melesat cepat. Sebuah Siluet Sidat Listrik juga menyertainya, merobohkan bangunan yang ia lalui hingga terbentuk sebuah jalan keluar kota Yannan.
Xiuhuan mencari Gu Ruyan dan memintanya mengirim pesan pada seluruh penduduk kota Yannan yang ingin kabur, disarankan memilih jalan Utara. Karena Xiuhuan telah membuat sebuah jalan yang besar di sana.
Gu Ruyan melayang ke udara, ia kemudian memfokuskan aliran tenaga dalam pada pita suaranya agar menghasilkan suara yang nyaring dan terdengar oleh seluruh penduduk kota Yannan.
Para penduduk yang mendengar pesan suara itu, kemudian berbondong-bondong ke arah Utara. Yang juga menimbulkan persoalan baru, karena semua fokus ke Utara, sehingga penduduk ini akhirnya saling berdesak-desakan.
Terpaksalah Xiuhuan ikut join dalam pertarungan di area tengah kota. Setiap ada yang bertarung di sana, maka Xiuhuan akan membunuh mereka. Ia tak peduli, mau mereka pihak musuh atau kawan. Xiuhuan membabat mereka yang bertarung di wilayah tengah itu.
Sedangkan wilayah Utara kota Yannan ia serahkan pada Gu Ruyan, Gu Yue dan Dua ratus Pendekar Pedang yang menyerang kediaman tetua yang tinggal di wilayah Utara itu.
“Hah, demi kekuasaan dan ketamakan segelintir manusia serakah, akhirnya mengorbankan nyawa tak bersalah,” gumam Xiuhuan menghela nafas dalam-dalam. “Kalau bukan karena Gu Yao membebaskan aku dari penjara, aku mungkin tak akan mau terlibat dalam hal ini,” katanya lagi yang telah membunuh puluhan Pendekar Pedang kedua belah pihak.
Semua perjuangan pasti mengatasnamakan keadilan, namun dibalik keadilan itu akan meninggalkan dendam bagi pihak yang kalah. Suatu saat nanti pihak yang kalah akan menggunakan jargon keadilan juga dan melakukan balas dendam. Rantai itu akan terus berulang, yang menjadi korban pastilah rakyat biasa yang tak mengerti apa-apa. Xiuhuan yang telah hidup sepuluh ribu tahun lebih telah melihat penomena ini berulang kali.
...⚔️Bersambung⚔️...
__ADS_1