
“Oouh ... sepertinya kemampuanmu telah meningkat. Apakah kalian mendapat guru yang hebat di Kekaisaran Wei?”
Tetua pertama bertanya, namun dengan nada mengejek. Ia juga mengalirkan lebih banyak qi menjadi tenaga dalam. Sehingga sayap emasnya tumbuh lebih besar dan panjang.
Tangan kanan tetua pertama memegang Pedang Rohnya yang berwarna emas dan lingkaran ribuan Pedang yang berputar-putar membentuk sebuah sinar emas berada di belakangnya.
Tetua pertama tampak seperti Dewa saja, namun sayangnya ia adalah pembunuh istri Gu Qian. Jadi tiada maaf untuknya.
Gu Qian melesat dengan cepat kearah tetua pertama, ia terbang meliuk-liuk menghindari tembakan sinar emas agar tak terpental ke belakang.
Semakin Gu Qian mendekati tetua pertama, jumlah sinar emas makin banyak, sehingga Gu Qian beberapa kali terpental ke belakang. Namun dengan tekadnya untuk membunuh tetua pertama sangat tinggi. Ia bangkit lagi dan melesat dengan cepat mengindari sinar emas itu.
Tetua pertama tersenyum lebar, ia sengaja tak melawan Gu Qian secara langsung. Malah membiarkan sinar emas mementalkannya kebelakang, agar tenaga dalamnya berkurang hingga akhirnya ia kehabisan energi untuk bertarung. Di saat itulah ia akan membunuh Gu Qian.
Prediksinya sudah bagus, namun tiba-tiba anggota Clan Gu yang datang bersama Gu Qian ikut melawan tetua pertama. Karena mereka melihat Gu Qian kesulitan melawannya, sehingga mereka berinisiatif untuk mengacaukan tembakan sinar emas itu.
“Cih, kurang ajar! Kenapa para semut ini malah mengerumuniku. Padahal ada banyak Pendekar Pedang yang telah bergabung dalam pertarungan ini,” gerutu tetua pertama.
Sinar emas itu tak fokus lagi pada Gu Qian, sehingga ia memanfaatkan momen ini untuk terbang dengan kecepatan tinggi.
Karena merasa buang-buang qi saja menggunakan jurus Pedang Elang Emas ; Telapak Dewa Matahari, tetua pertama menghilangkan jurus itu dan bersiap bertarung lansung dengan Gu Qian beserta sepuluh Pendekar Pedang yang mengepungnya.
“Pergilah ke neraka tetua pertama!” seru Gu Qian mengayunkan pedangnya menebas tetua pertama, sebuah Siluet Phoenix raksasa juga mengiringi tebasan itu.
“Jurus Cincin Matahari!” seru tetua pertama menangkis tebasan pedang Gu Qian.
Puluhan Pedang kuning berputar-putar mengelilingi tubuh tetua pertama, Siluet Elang emas juga muncul menghantam Siluet Phoenix raksasa.
“Boommmmm!”
Ledakan besar terjadi akibat benturan kedua jurus dari tetua pertama dan mantan tetua itu. Pendekar Pedang yang datang bersama Gu Qian juga ikut terpental saat mereka ingin menyerang tetua pertama juga.
__ADS_1
Tetua melambaikan tangan pada bala bantuan yang telah memasuki halaman kediamannya. Ia meminta mereka menghadapi Pendekar Pedang yang menganggu pertarungannya dengan Gu Qian. Sehingga sekarang keduanya akan berduel satu lawan satu lagi.
Tetua pertama tak menghilangkan jurus cincin matahari, agar puluhan Pedang kuning tetap berputar-putar mengelilingi tubuhnya untuk meringankan hawa panas yang datang dari kepakan sayap Phoenix milik Gu Qian.
Keduanya terus bertukar tebasan dan berbagai macam jurus mereka gunakan. Namun mereka tetap seimbang, sulit menebak siapa yang akan berakhir menjadi pemenang.
Akan tetapi bala bantuan yang datang ke kediaman tetua pertama malah makin banyak. Pendekar Pedang yang datang bersama Gu Qian hanya dua ratus saja.
Kini mereka telah tumbang seperti dedaunan kering yang langsung rontok dihembuskan angin. Tubuh-tubuh mereka bergelatakan di halaman kediaman tetua pertama.
Ada yang kepalanya terlepas dari raga, ada yang hangus terbakar, ada yang terbelah dua dan tertancap puluhan pedang.
Anggota terakhir yang datang bersama Gu Qian segera melepaskan kembang api berwarna hitam, pertanda mereka telah gagal merebut kediaman tetua pertama.
Ratusan Pendekar Pedang Clan Gu pendukung Gu Lin menertawakan anggota terakhir Clan Gu pendukung Gu Yao yang datang bersama Gu Qian, sebelum semua menyerangnya sehingga tubuhnya hancur berkeping-keping dikeroyok massal begitu.
Sementara itu pertarungan tetua pertama dan Gu Qian tetap seimbang.
Gu Qian memusatkan semua tenaga dalamnya dalam serangan terakhirnya ini. Ia berencana melakukan serangan bunuh diri dengan membawa tetua pertama bersamanya.
Gu Qian menjelma menjadi Phoenix raksasa dan melesat dengan kecepatan tinggi ke arah tetua pertama. Hawa panas dari tiap kepakan sayapnya membuat terbakar Pendekar Pedang Clan Gu yang mencoba mencegatnya.
“Energi yang sangat besar, apakah ini serangan pamungkasnya,” gumam tetua pertama mengalirkan seluruh qi dalam Rongqinya. Ia yakin harus menggunakan semua tenaga dalam menghadapi serangan mematikan Gu Qian itu.
Tetua pertama juga berubah menjadi Elang Emas raksasa. Keduanya kemudian bertabrakan, sehingga melepas energi besar yang membuat gempa bumi sesaat. Tak lama kemudian cahaya emas dan gelombang api menyelimuti halaman kediaman tetua pertama.
Ratusan Pendekar Pedang Clan Gu yang berada di dekat mereka ikut tersapu oleh ledakan besar itu, yang membuat mereka tewas seketika.
“Ayah!” seru Gu Xu saat melihat kembang api berwarna hitam dari arah kediaman tetua pertama. Ia sendiri berada di sisi lain menghadapi tetua lainnya.
Air mata Gu Xu membasahi pipinya, ia yakin ayahnya telah kalah. Sehingga kembang api itu muncul. Padahal awalnya ia meminta Gu Yao agar membiarkannya melawan tetua pertama. Namun ayahnya bersikukuh, agar dia saja yang menghadapinya. Karena ia ingin menuntaskan dendam lama. Akan tetapi kejadian yang ditakutkan oleh Gu Xu malah menjadi kenyataan, ayahnya tetap tak berhasil menuntaskan dendam itu.
__ADS_1
***
Para Pendekar Pedang anggota Clan Gu pendukung Gu Lin yang berada cukup jauh dari kediaman tetua pertama segera merapat ke sana. Mereka memeriksa tubuh-tubuh rekan mereka yang bergeletakan di tanah, apakah masih ada yang selamat, walaupun kondisi tubuh mereka sangat mengenaskan.
“Gu Qian kampret ini! Ternyata dia melakukan serangan bunuh diri,” umpat tetua pertama menendang mayat Gu Qian yang dipenuhi luka bakar. “Untung saja di detik terakhir, aku memusatkan tenaga dalamku pada organ vital. Tapi Rongqiku telah rusak. Cih, ini semua gara-gara kampret ini!”
Tetua pertama tak henti-hentinya menggerutu. Dengan rusaknya Rongqi miliknya, maka ia tak bisa lagi berkultivasi mengumpulkan qi. Sekarang ia menjadi manusia biasa yang kalau di daratan utama ini, melawan bayi satu tahun saja tetua pertama pasti akan kalah.
“Tetua!” seru anggota Clan Gu menghampirinya. Namun mereka terkejut melihat kondisi tetua pertama itu. “Yah, sekarang anda telah menjadi sampah!” katanya lagi.
“Apa yang akan kita lakukan padanya?” tanya anggota Clan Gu lainnya.
“Dia sudah tak berguna! Bunuh saja!” seru yang lainnya.
Tetua pertama terkejut mendengarnya, ia sangat ketakutan dan memohon kepada mereka agar membiarkannya pergi. Ia juga berjanji pada mereka untuk memberikan ratusan ribu Poin dari Plakat Paviliun Shilin miliknya.
Mereka tersenyum menyeringai mendengarnya dan setuju dengan permintaannya itu. Tetua pertama lansung mentransfer ratusan ribu Poin pada mereka dan ia langsung bergegas berlari ke arah luar kota Yannan. Namun saat akan melangkahkan kaki ke luar kediamannya itu, tiba-tiba perutnya mengeluarkan darah. Ia menoleh ke bawah, ternyata sebuah Pedang bersarang di perutnya itu.
Tetua pertama hanya bisa mengumpati anggota Clan Gu yang beberapa saat yang lalu masih menjadi bawahannya itu. Kini ia mati ditangan mereka, sungguh akhir yang cukup mengenaskan.
...⚔️Bersambung ⚔️...
***
**
*
Bagaimana menurut reader “Pendekar Pedang Sidat Listrik”, apakah pertarungan yang ditampilkan dalam chapter kota Yannan ini sudah sesuai selera kalian atau ada kekurangannya.
(Satu lagi maaf, hanya bisa update satu chapter saja sehari. Karena lagi sibuk ke sawah. Kan, saya sudah pernah katakan saya adalah petani dan tentu saja lebih mementingkan kegiatan Real Life dari pada menulis novel yang tak menghasilkan apa-apa. Walaupun demikian saya tetap senang menulis cerita ini, karena respon positif dari teman-teman 😁😁😁😁)
__ADS_1