
“Apakah itu Pedang Dewa?” Xue Hu bertanya dengan wajah terkejut.
Xiuhuan menyeringai, ia merasa Pedang Penghancur Semesta bisa melukai Xue Hu.
“Mana mungkin Dewa sebaik itu padaku. Ini cuma Pedang yang diwariskan turun-temurun dari nenek moyangku,” sahut Xiuhuan.
“Kau mengira aku mungkin ketakutan. Padahal aku hanya terkejut saja. Mana mungkin aku kalah dengan kalian, walaupun kau memiliki senjata dewa,” kata Xue Hu, yang kini tampak tenang Kembali.
“Aku kira ia tadi ketakutan, ternyata cuma terkejut saja. Seandainya Lou Xue tak ada di sini, mungkin aku lebih baik menggunakannya Pedang Roh Sidat Listrik saja melawannya,” gumam Xiuhuan yang belum tahu apa saja kelebihan Pedang Penghancur Semesta itu.
Yang paling merepotkan Xiuhuan adalah Xue Hu bisa membekukan unsur air yang ia keluarkan dari jurusnya. Dalam situasi ini, yang cocok melawannya adalah mereka yang memiliki elemen api, karena kedua elemen berlawanan.
Lou Xue masih tampak tertegun melihat Pedang Penghancur Semesta ditangan Xiuhuan.
“Saudari Xue!—Ayo kita serang bersama-sama!” seru Xiuhuan membuyarkan lamunannya.
“Baik mesum,” sahutnya keceplosan, karena sering bergumam Xiuhuan mesum. “Eh, aku serang sekarang! Kau berikan support!” katanya lagi.
Tanaman merambat kembali menjalar mengejar Xue Hu yang kini berada dalam wujud Ular putih. Tak hanya itu, ia juga membuat bongkahan es yang ujungnya runcing melesat ke arah Xue Hu.
“Sungguh usaha yang sia-sia!” Xue Hu lansung mengunakan hukum gravitasi yang membuat semua bongkahan es yang dibuat oleh Lou Xue jatuh. “Sekuat apapun kalian berjuang, tak akan mampu melukaiku,” ejeknya lagi.
Menggunakan air dibekukan oleh Xue Hu, sedangkan menggunakan serangan jarak jauh malah terkena hukum gravitasi. Satu-satunya cara mengalahkan Xue Hu adalah dengan bertarung tanpa menggunakan jurus apapun.
Xiuhuan tersenyum, setelah berhasil menemukan kelemahan Xue Hu, walaupun sebenarnya ia bisa menghilang dengan hukum ruang. Namun, Xiuhuan yakin ia tak akan berpindah jauh, karena ia meremehkan kekuatannya dan Lou Xue.
__ADS_1
Xiuhuan mengirim suara batin pada Lou Xue.
“Saudari Xue, gunakan elemen kayu milikmu secara terus-menerus untuk memecah konsentrasi ular putih ini. Aku akan gunakan serangan fisik dengan Pedang Penghancur Semesta untuk melukainya.”
Lou Xue mengedipkan matanya dan lansung melakukan serangan tanaman merambat secara terus-menerus tanpa henti. Membuat Xue Hu jengkel dan menghilang dari pandangan mereka.
“Aku tak suka gadis yang bebal sepertimu!” bisik Xue Hu muncul di punggung Xue Hu.
“Aku juga tak suka monster yang malah selingkuh di rumah suaminya,” ejek Xiuhuan menebas ujung ekornya hingga terbelah.
Xue Hu menjerit kesakitan. Dia begitu murka dan menggunakan hukum gravitasi sekuat-kuatnya, sehingga Lou Xue dan Xiuhuan harus terbaring tak sanggup berdiri melawan hukum gravitasi itu.
“Dia terpancing,” gumam Xiuhuan tersenyum tipis. Karena tujuannya adalah agar Xue Hu marah dan menggunakan seluruh kekuatannya dalam meluapkan amarahnya itu.
Xue Hu hanyalah kesadaran siluman ular putih, dan bukan wujud asli. Otomatis bila dia menggunakan kekuatannya secara terus-menerus, maka kekuatan itu akan habis dengan sendirinya. Jadi, mereka tak perlu bertarung mati-matian.
Xiuhuan tersenyum masam, tetap juga Lou Xue menyebutnya si mesum. Padahal Xiuhuan merasa, baru kali ini mereka benar-benar bekerjasama—dendam apa sebenarnya, wanita tercantik di Benua Kun Lun itu padanya.
Tanaman merambat terus melaju menuju Xue Hu, sehingga memaksa siluman ular putih itu mengeluarkan es berbentuk bulat sabit memotongnya. Belum lagi ia menggunakan tenaga dalamnya untuk segera memulihkan ekornya yang dipotong oleh Xiuhuan.
“Saudari Xue, tolong seret Aku dengan tanaman merambat itu, untuk menjangkau ular putih itu.” Xiuhuan kembali mengirim suara batin.
Lou Xue mengangguk dan menyeret Xiuhuan dengan paksa, walaupun ia merasa tubuhnya seperti ditimpa batu raksasa.
Xue Hu yang sedang memejamkan matanya untuk menutup luka di ekornya, dibuat kaget. Kenapa Xiuhuan bisa muncul dihadapannya, padahal ia telah mengeluarkan hukum gravitasi, agar mereka tak bisa ke mana-mana.
__ADS_1
Pedang Penghancur Semesta menancap di bagian bawah tubuh ular putih itu. Darahnya lansung mengalir deras dan Xiuhuan menarik Pedang itu hingga ke bagian arah ekor tubuh sang ular putih.
Xue Hu membelalakkan matanya, ia menatap Xiuhuan dengan tatapan penuh kebencian. Namun, Xiuhuan melepas senyum lebar, dan tak lama berselang, hukum gravitasi menghilang dari lantai tiga. Bukan hanya itu, hukum ruang juga menghilang dari makam itu.
Pintu ke lantai berikutnya akhirnya terbuka. Dan siapa saja bisa menuju lantai puncak. Namun, mereka tak tahu ada kekuatan besar di lantai puncak. Dia adalah suami Xue Hu yang sedang marah; karena yakin Xue Hu telah mati. Makanya hukum ruang menghilang dari Paviliun makam itu.
Wu Tianji, Lou Rong dan Cao Yao lansung melesat ke lantai empat. Tak sampai di situ, mereka menemukan kembali pintu ke lantai lima dan segera melesat ke sana. Kemudian mereka terhenti, setelah menemukan boneka humanoid yang telah ditanam energi kehidupan.
Boneka humanoid itu menenteng Pedang panjang yang ke ujungnya melengkung.
“Batu bintang tak bisa mengukur tingkatannya. Apakah kita bekerjasama saja mengalahkan makhluk aneh ini,” usul Lou Rong yang berpikir untuk menghemat qi untuk menghadapi pemilik makam yang masih berada di lantai atas.
“Cih, boneka seperti ini hanya sekali tombak saja olehku,” sela Cao Yao menyombongkan diri. Dia langsung melompat ke hadapan Boneka humanoid yang tanpa basa-basi langsung menebas Cao Yao.
***
Sementara itu di lantai tiga, tiba-tiba ruangan itu membeku, setelah kesadaran milik Xue Hu itu mati, dan sebuah inti kehidupan seukuran kepalan tangan tergeletak di lantai. Energi kehidupan itu begitu dingin dan Xiuhuan berencana mengambilnya—pasti kalau dijual harganya sangat mahal.
Tanaman merambat Lou Xue tiba-tiba mengambilnya lebih dulu, membuat Xiuhuan terkejut.
“Kenapa kau ambil itu!” teriak Xiuhuan, karena ia yang pertama bertemu Xue Hu dan dia juga yang membunuhnya secara teknis. Namun, wanita sedingin es itu pula yang mendapatkan hadiahnya. “Kembalikan saudari Xue. Kita sama-sama murid Clan Lou tak boleh saling mendahulukan; hormatilah yang menemukan lebih dulu,” kata Xiuhuan.
“Kamu boleh ambil harta lainnya, sedangkan yang ini harus milikku. Aku ingin segera naik ke tingkat Immortal Menengah, karena tugasku di Clan Lou sudah selesai,” sahut Lou Xue menelan inti kehidupan milik Xue Hu.
Dia duduk bersila melakukan Kultivasi, tubuhnya mengeluarkan energi yang sangat dingin. Bahkan Xiuhuan memilih menjauh darinya.
__ADS_1
“Apa maksud ucapan Lou Xue itu?” gumam Xiuhuan merasa ada yang janggal. Apalagi ia sudah memperlihatkan Pedang Penghancur Semesta pada Lou Xue. “Ah, aku lupa mengatakan padanya, agar tak menceritakan tentang Pedang Penghancur Semesta ini—Kalau begitu, aku mengumpulkan semua harta di lantai tiga ini dan menemui Lou Xue lagi nanti.”
...~Bersambung~...