
“Siapapun kau! Cepat keluar! Aku tahu ada Pendekar Pedang yang telah memindahkan aku ke sini!” teriak Wang Ling dengan Pedang Roh ditangannya.
Wang Ling geram sekali, kesenangan yang sudah berada di ujung tanduk itu tiba-tiba buyar seketika. Ia dipindahkan oleh Pendekar Pedang misterius.
“Hahaha ... Ular Derik sekecil itu mau mencari goa! Buat apa?” Xiuhuan muncul tiba-tiba di hadapan Wang Ling. Sontak saja, ia langsung kaget dan mundur beberapa langkah. “Mendingan kau gunakan kekuatan lima jari saja. Ah, aku mengajarkan aliran sesat pula padamu tua bangka!” ejek Xiuhuan.
Wang Ling menahan amarahnya, ia tahu Pendekar Pedang dihadapannya itu, bukanlah orang sembarangan. Karena ia tak sadar sama sekali saat dipindahkan oleh Xiuhuan dengan jurus Langkah Kilat.
Awalnya Xiuhuan ingin membunuhnya saat ia akan meniduri Zhang Xue, namun ia urungkan. Karena ia masih ingin mengetahui lebih jauh lagi mengenai sepak terjang kelompok Chu Mogui ini.
“Kenapa kau diam saja tua bangka? Apa kau tertegun melihat ketampananku ini. Tapi maaf, ya. Aku ini lelaki normal dan mencintai para wanita cantik.” Xiuhuan kembali mengejek Wang Ling.
“Kenapa kau mencampuri urusan kami?” Wang Ling penasaran tujuan Xiuhuan memindahkan dirinya tiba-tiba.
“Tentu saja untuk membebaskan wanita cantik yang telah kalian perbudak! Apa kau tak merasa bersalah selama ini, sehingga kau menjadi pikun begini?” sahut Xiuhuan mengeluarkan Siluet Sidat Listrik raksasa.
“K-kau ternyata!” Wang Ling teringat dengan informasi mengenai murid baru Sekte Pedang Taiyang yang memiliki Roh Pedang yang mirip dengan Pemuda didepannya ini. “Jubah itu ... tak salah lagi, murid dari Sekte Pedang Taiyang,” katanya lagi dengan gugup.
Wang Ling juga sudah mengetahui informasi mengenai Xiuhuan, yang mengalahkan tetua pertama di Sekte Pedang Taiyang itu. Kini tiba-tiba sosok itu telah berada di hadapannya. Tentu saja Wang Ling berkeringat dingin dibuatnya.
Wang Ling lansung bersujud di tanah, seraya memohon ampunan pada Xiuhuan. “Saya dipaksa melakukan ini oleh Chu Mogui. Ini sebenarnya masalah keluarga mereka. Dia dengan sengaja membunuh adik kandungnya sendiri dan menjadikan adik iparnya itu sebagai budak,” kata Wang Ling memberikan penjelasan tanpa ditanya lebih dulu oleh Xiuhuan.
Xiuhuan tersenyum menyeringai. “Terus apalagi?” tanyanya berjongkok di depan Wang Ling, ia kemudian menjambak rambut Wang Ling. “Katakan semua informasi mengenai Chu Mogui, aku mungkin akan membebaskanmu.”
“Di-dia menawarkan Zhang Xue pada pelaku kriminal yang sering berkunjung ke bar yang ada di bawah itu.” Wang Ling menunjuk ke arah desa kecil di lereng gunung. “Sebagai kompensasi telah membantunya, maka kami boleh tinggal di sana dan mendapatkan layanan tubuh Zhang Xue secara gratis,” katanya lagi.
Xiuhuan mengangguk, ia telah mengetahui garis besar, apa yang telah dialami oleh ibu Chu Yi dan Chu Er. Xiuhuan kemudian berdiri dan melepaskan Wang Ling.
__ADS_1
“A-apa Aku boleh pergi tuan?” tanya Wang Ling yang tak mengenakan pakaian itu.
Xiuhuan melambaikan tangannya, pertanda Wang Ling boleh pergi. Xiuhuan sendiri lansung menghilang dari pandangannya.
“Hahaha ... dasar bodoh! Baru dengan akting begitu dia sudah tertipu.” Wang Ling tertawa keras, karena lolos dari cengkeraman Xiuhuan.
Wang Ling kemudian berjalan ke arah sisi lain gunung. Ia berpikir, Xiuhuan akan menghabisi Chu Mogui. Jadi, percuma saja kembali ke bawah. Hanya akan menyetor nyawa saja, itulah yang ada di benak Wang Ling saat ini.
Saat ia baru berjalan beberapa langkah saja. Ia merasa ada yang memperhatikannya. Karena Wang Ling memiliki Roh Pedang Anjing, sehingga ia memiliki penciuman yang kuat.
Wang Ling menoleh ke atas pepohonan. Dan alangkah terkejutnya ia, saat melihat ada sepuluh Kloning Manusia Air di sana.
“Cih, Aku ditipu oleh Pendekar Pedang kampret itu,” gerutu Wang Ling berjalan mundur pelan-pelan.
Saat ia mundur selangkah. Kloning manusia air itu juga pindah ke dahan pohon lain. Namun saat Wang Ling diam saja, Kloning Manusia Air tak bergerak.
Karena merasa tak ada harapan untuk kabur. Wang Ling kemudian memutuskan maju menyerang Kloning Manusia Air itu.
Hasilnya sudah bisa ditebak. Hanya dalam satu serangan gabungan saja. Wang Ling lansung menghembuskan nafas terakhirnya.
Setelah itu, Xiuhuan kembali ke desa kecil itu dan mengawasi Zhan Xue dan anak-anaknya dari kejauhan.
Tak ada yang menyadari, bahwa Wang Ling telah tewas. Mungkin Chu Mogui terlalu ganas di ranjang tadi, sehingga ia terlelap tidur hingga menjelang malam.
***
Malamnya, Zhang Xue kembali mengenakan Hanfu Merah. Satu-satunya pakaian mahal yang ia miliki. Itupun pakaian ini ia dapatkan, karena Chu Mogui terpaksa membelinya. Agar penampilan Zhang Xue, menarik di mata pelanggan.
__ADS_1
“Nak, kalian cepat tidur. Jangan main-main terus!” seru Zhang Xue mengingatkan anak-anaknya agar cepat tidur, yang sebenarnya agar mereka tak mendengar suara jeritannya nanti.
Kadang-kadang pelanggan yang datang itu bersikap kasar padanya. Apalagi saat mereka mabuk, Zhang Xue diperlakukan seperti binatang saja.
Sebelum pergi ke bar milik Chu Mogui, Zhang Xue lebih dulu membakar sabut kelapa, agar nyamuk tak masuk dari atap gubuk yang jebol setengah itu.
“Ibu ... semoga ibu sehat-sehat saja!” seru Chu Er sedih melihat ibunya yang telah berdandan cantik itu.
Zhang Xue menghampiri anak-anaknya itu. Ia kemudian membelai rambut mereka dan mencium kening mereka juga.
“Kalian tidurlah, supaya cepat besar dan membahagiakan ibu nantinya. Sekarang ibu pasti baik-baik saja. Paman Chu Mogui hanya menyuruh ibu menemani mereka minum arak saja,” kata Chu Mogui membohongi anak-anaknya.
Kedua anaknya tersenyum, mereka hanya bisa memandangi punggung Zhang Xue saat ia melangkah keluar dari gubuk. Mereka sebenarnya tahu ia berbohong, namun mau bagaimana lagi, untuk saat ini mereka tak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya.
“Semoga saja ibu bisa melalui malam ini dengan sehat dan selamat,” kata Chu Er.
“Buat apa kau berdoa? Langit tak akan mendengar doa orang miskin seperti kita,” sela Chu Yi. Ia kemudian teringat dengan Xiuhuan, Pendekar Pedang yang mereka temui di jalan tadi. “Hei, apakah Paman Xiuhuan sudah sampai ke kota Caodi saat ini, ya?” kata Chu Yi.
“Tapi tadi aku merasa samar-samar, ia mengikuti kita,” sahut Chu Er.
“Ah, kau jangan asal-asalan bicara, deh. Mana mungkin ia mengikuti kita. Lagi pula kalau dia mengikuti kita, ia sudah dihajar habis-habisan oleh Paman Chu Mogui. Kasihan juga, padahal ia tak tahu apa-apa,” bantah Chu Yi.
“Betul juga. Mungkin aku terlalu berharap, ada yang menyelamatkan ibu dari binatang itu!” sahut Chu Er lagi.
Kemudian keduanya diam, karena mereka mengucapkan kata sakral saat ini. Zhang Xue selalu berpesan, tak boleh memanggil namanya saat malam hari. Agar anak-anaknya itu bisa tertidur lelap, tanpa harus memikirkan nasibnya.
...⚔️Bersambung ⚔️...
__ADS_1