Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Durian Runtuh


__ADS_3

Xiuhuan terkejut mendengar ucapan kakek tua itu, sebab ia harus menculik atau membebaskan putri kakek itu dari cengkeraman jenderal Qian Shing. Salah satu jenderal andalan dan terkuat Kerajaan Han, yang berada pada tahap Pendekar Pedang tahap 100.


"Bagaimana Nak, kau bisa menolongku, kan?" tanya Kakek tersebut dengan wajah memelas sedih.


"Cih, ini peluang menang cuma 50:50 saja ini ... apa aku minta bantuan hakim Jia Li saja, ya ..." guman Xiuhuan bingung.


Xiuhuan memandangi wajah kakek itu dalam-dalam, ia merasa kasihan juga dengannya. Namun, untuk melawan seorang jenderal dengan level Pendekar Pedang tahap 100 itu sangat sulit, walaupun ia mungkin unggul dalam jumlah Rongqi, yang jarang digunakannya selama ini.


"Baiklah aku akan membantumu, tapi aku tidak berjanji bahwa aku berhasil membawanya ... kalau misi ini membahayakan nyawaku aku akan membatalkannya sepihak."


Xiuhuan tak berani menjamin kesuksesan dalam misi ini, apalagi seorang jenderal biasanya dikelilingi oleh Pendekar Pedang berlevel tinggi.


"Berhasil atau tidak yang penting kau sudah mencoba, karena selama ini tak ada Pendekar Pedang yang mau menerima tawaranku ... ini ambil semua! Aku tak butuh ini. Jika kau berhasil membawanya, suruhlah putriku kembali ke desa ibunya, sebab pasukan jenderal Qian Shing pasti akan mengejarku."


Kakek itu menyerahkan satu kantong besar yang berisi 500.000 keping emas pada Xiuhuan.


"Hmm, bagaimana aku membawa ini," guman Xiuhuan menerima satu Kantong besar berisi kepingan emas itu.

__ADS_1


"Aku sarankan kau menaruhnya dalam karung berisi beras untuk menyamarkannya supaya tak mengundang perampok, walaupun mereka cuma cari mati saja sih, hahaha." Kakek itu tertawa melihat Xiuhuan yang kebingungan membawa sekantung besar keping emas itu.


"Idemu bagus juga kakek tua hahaha," jawab Xiuhuan tertawa lebar.


Mereka kemudian berpisah di taman itu. Kakek itu pergi meninggalkan Paviliun Weifeng, sedangkan Xiuhuan pergi ke pasar untuk membeli satu karung beras. Untuk menyimpan emas-emasnya itu.


***


Jia Li bersama beberapa jenderal yang datang bersama Pangeran pertama dan kedua, kini sibuk mencari Pendekar Pedang Belut Tampan itu, karena setelah pertandingan usai, ia tak terlihat lagi. Bak ditelan bumi saja.


Beberapa pihak lainnya juga mencari keberadaan Belut Tampan itu, mereka ingin menariknya ke pihak mereka. Namun, semua gagal, karena si Belut Tampan alias Xiuhuan sedang sibuk mengurus emas-emasnya.


***


"Untuk apa beras itu Abang?" tanya Zhang Yan dengan nada menggoda.


"Buat bekal murid-muridku nanti," jawabnya tanpa menoleh ke arah Zhang Yan.

__ADS_1


Zhang Yan bingung melihat tindakan yang dilakukan Xiuhuan akhir-akhir ini. Dia nampak sangat sibuk dan sering meninggalkan Xiao Liu sendirian di kamar. Apalagi Xiuhuan memakai jubah Sekte dari luar kota Tianwu, tentu itu sangat mencurigakan. Namun, Zhang Yan kembali mengingat malam penuh bintang mereka berdua, maka ia akan menghilangkan kembali kecurigaannya itu.


Xiuhuan membuka pintu kamar, nampak Xiao Liu bingung melihat Xiuhuan yang sedang memikul sekarung beras.


"Buat apa itu?" tanya Xiao penasaran.


"Tentu saja buat bekal murid-muridku nanti, sebentar lagi giliran Sekte kita yang akan menerima murid baru," jawab Xiuhuan dengan sumringah.


"Aneh, padahal 'kan, bisa beli di Paviliun sumberdaya," guman Xiao Liu merasa aneh dengan tindakan Xiuhuan akhir-akhir ini yang tampak sibuk dan antusias untuk menerima murid baru, seperti bukan dia saja, tetua yang terkenal pemalas selama ini.


"Ah, aku taruh disini saja!" seru Xiuhuan sambil menaruh karung itu di dekat pintu kamar mandi, sedangkan Xiao Liu diam saja di ranjangnya memperhatikan tingkah Xiuhuan yang meletakkan karung beras itu dengan sangat hati-hati, setelah itu ia kemudian mandi karena badannya lumayan kotor setelah menerima beberapa serangan dari Duan Mu.


"Senangnya dalam hati ... bila beristri dua--"


"Ributtttt!" Xiao Liu berteriak menyela nyanyian dari Xiuhuan yang kayak suara ember pecah itu.


Beberapa saat kemudian, Xiuhuan keluar dari kamar mandi. "Ah, kau mengganggu kesenangan orang saja!" seru Xiuhuan sambil merebahkan tubuhnya di kasur. "Ah, empuknya ...." Xiuhuan lansung terlelap tidur.

__ADS_1


Xiao Liu geleng-geleng kepala melihat tingkah Xiuhuan yang aneh sekali akhir-akhir ini. Dia kemudian turun kebawah membeli beberapa makanan ringan, meninggalkan Xiuhuan yang terlelap tidur.


Bersambung ...


__ADS_2