Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Kekejaman Geng Macan


__ADS_3

Paginya cahaya matahari masuk dari lubang bekas pertarungan tadi malam Xiuhuan, cahaya itu cukup menyilaukan mata. Sehingga Xiuhuan yang tertidur pulas di atas meja kedai arak itu terpaksa bangun.


“Uahhhhhhh!” Xiuhuan menguap. Ia kemudian melakukan peregangan otot dan melangkah keluar dari kedai itu.


“Mayat-mayat geng macan itu sudah tak ada, ya?” guman Xiuhuan keheranan, karena tadi malam sebelum ia tidur. Mayat-mayat itu masih tergeletak di sana.


“Per-permisi tu-tuan Pendekar!” sapa seorang pria sepuh dengan gugup. Xiuhuan lansung menoleh kearah sumber suara itu. “A-aku, Shilin kepala desa di sini, sangat berterimakasih atas tindakan tuan Pendekar melenyapkan geng macan tadi malam,” katanya lagi sambil menundukkan kepalanya berterimakasihlah pada Xiuhuan.


“Ah, itu sudah tugas kita sebagai manusia itu harus tolong menolong dalam kebaikan,” jawab Xiuhuan merendah. “Kalau boleh tahu, kejahatan apa yang mereka lakukan pada desa ini?” tanya Xiuhuan penasaran.


Shilin lansung tampak sedih, ia menatap kosong kedepan. “Sebulan yang lalu mereka mendatangi desa ini dan membangun markas mereka di sini, lalu tiap malam mereka mulai mengambil gadis-gadis di desa ini untuk melayani nafsu bejad mereka. Itu terus berlanjut setiap malam, kami mencoba mencari bantuan, namun setiap orang yang diutus keluar desa tak pernah kembali. Menurut rumor, mereka telah dibunuh diluar desa."


Shilin kembali menghela nafas panjang dan berkata lagi, “Beberapa gadis diperlakukan dengan tidak manusiawi, sehingga memutuskan bunuh diri dan akhirnya tuan datang tadi malam, walaupun terlambat tapi itu sudah cukup untuk menghentikan penderitaan gadis-gadis yang tersisa di desa ini.”

__ADS_1


Xiuhuan sedih mendengarkan perkataan Shilin. “Hah, aku turut berdukacita ... memang tak mungkin ada kata seandainya. Mulai besok, aku akan meminta Sekte Gunung Pedang atau Clan dari kota Yangtze untuk mengirim Pendekar Pedang mereka ke tiap desa untuk menjamin keamanan dari orang-orang seperti geng macan ini,” sahut Xiuhuan.


“Terimakasih tuan, kami telah merepotkanmu. Padahal sudah menolong kami, sekarang Anda malah meminta dikirimkan Pendekar Pedang untuk menjaga desa ini,” kata Shilin terharu atas kebaikan Xiuhuan.


Padahal awalnya mereka mengira Xiuhuan sama saja dengan geng macan, karena cara membunuhnya cukup brutal dengan membelah dua pemimpin geng macan itu.


“Hahaha ... kan, sudah kubilang, kita itu sesama manusia harus tolong menolong dalam kebaikan,” sahut Xiuhuan lagi.


Keduanya kemudian diam dan suasana menjadi hening. Xiuhuan tak tahu harus berkata apa lagi.


“Oh, masalah itu. Kalian bagi saja, berikan bagian lebih banyak pada korban dari geng macan itu. Kau yang mengatur masalah pembagiannya. Ingat kau harus adil! Kau tahu diriku, kan?” sahut Xiuhuan sambil memberi sedikit tekanan padanya.


“Tentu saja aku tahu tuan. Anda adalah Assasin yang dirumorkan selama ini!” kata Shilin lagi sedikit ketakutan mendengar perkataan Xiuhuan tadi.

__ADS_1


Walaupun ia tersenyum mengatakannya, namun ada sedikit tekanan d dalamnya. Tentu saja, Shilin takkan berani macam-macam. Apalagi Xiuhuan juga bisa menggerakkan Sekte Gunung Pedang dan Clan dari kota Yangtze.


Sudah pasti, Shilin menganggap Xiuhuan bukanlah orang yang dapat dipermainkan. Sekali ia tersinggung pasti kematian akibatnya. Itulah yang terbesit di pikiran Shilin saat ini.


“Baiklah, senior Shilin. Aku akan melanjutkan perjalanan. Masalah di sini, Aku serahkan padamu!” seru Xiuhuan sambil melesat dengan Langkah Kilat menuju luar desa.


“Te-terima kasih tuan Xiuhuan!” sahutnya membungkukkan badan.


Setelah itu Shilin bersama penduduk desa segera menuju markas yang ditinggal geng macan. Mereka kemudian membagi-bagikan harta rampasan dari geng macan itu sesuai dengan instruksi dari Xiuhuan.


“Ternyata kepala desa itu amanah juga,” guman Xiuhuan yang memperhatikan mereka dari jauh.


Xiuhuan tak sepenuhnya yakin dengan Shilin, karena bisa saja macannya mati, kemudian serigala menggantikan tempatnya. Namanya manusia itu, penuh dengan keserakahan. Seperti para pejabat Kerajaan yang menggarong harta para rakyat dengan hidup berfoya-foya, korupsi merajalela dan hukum dapat dibeli. Ujung-ujungnya rakyat kecil jugalah yang menjadi korbannya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2