
Melihat kondisi yang dialami keluarga ini, tak terasa air mata Xiuhuan membasahi pipinya dan tetesan air mata itu mengenai wajah Chu Er yang sedang mengambil nasi dari periuk.
Chu Er mengusap air yang mengenai wajahnya itu dan melihat ke atas. Ia bingung, saat ini kondisi cuaca sangat cerah, kenapa bisa ada air yang mengenai wajahnya.
“Ada apa Chu Er?” tanya ibunya yang bernama Zhang Xue itu.
“Tak ada apa-apa kok, ibu istirahat saja. Kan, nanti malam harus bekerja lagi,” sahut Chu Er menuangkan nasi satu sendok tempurung kelapa ke piringnya.
Dengan lahap ia menghabiskan nasi itu, walaupun tak ada lauk pauk yang terlihat menghiasi piringnya.
“Ya, sudah. Kau Chu Yi makan juga, biar kalian sehat dan cepat besar,” kata Zhan Xue berbaring di atas ranjang beralaskan tikar lusuh penuh tambalan.
Zhang Xue langsung terlelap tidur, tanpa mengenakan apapun untuk menutupi tubuhnya. Chu Yi langsung pergi keluar dan mengambil selimut lusuh yang ia cuci tadi pagi dan menyelimuti ibunya itu.
“Chu Er, bagaimana ini. Kau dengar tadi, ibu harus melayani 50 orang nanti malam.” Chu Yi tampak cemas.
“Sialan Paman Chu Mogui itu. Dia memperlakukan ibu seperti sapi perahnya saja. Padahal tadi malam ibu sudah melayani 20 orang hingga ibu sampai pingsan, akibat perlakuan kasar mereka!” gerutu Chu Yi.
Kedua anak berusia sepuluh tahun itu, tampak berpikir lebih dewasa, akibat keadaan yang menyertai mereka.
Setelah kematian ayahnya dua tahun yang lalu, Zhang Xue hampir tiap hari disiksa oleh Chu Mogui, karena ia masih sakit hati. Zhang Xue dulu lebih memilih menikahi adiknya daripada Chu Mogui.
Dengan menyusun rencana yang matang. Chu Mogui bersama dengan beberapa anakbuahnya melakukan penyerangan ke desa kecil ini. Ia membunuh adiknya sendiri dan mulai sejak itu rutin menyiksa Zhang Xue dan menjajakan tubuhnya ke kelompok kriminal yang sering mampir ke bar kecil yang ia bangun di desa ini.
Chu Yi dan Chu Er pergi meninggalkan gubuk itu sambil membawa kapak. Mereka berniat untuk mengumpulkan kayu bakar di hutan samping gubuk mereka itu.
__ADS_1
Saat baru melangkah keluar, seorang pria berpawakan kurus, rambutnya keriting tak ditata dan giginya ompong, berjalan ke arah Chu Yi dan Chu Er. Ia adalah anak buah Chu Mogui.
“Hei, bocah adakah yang sedang bergulat dengan ibumu?” tanya Wang Ling dengan senyum lebar. “Si Joni sudah tegang ini, tadi malam dia tak mendapat jatah. Karena ibu kalian menerima banyak pelanggan akhir-akhir ini.”
Chu Er mengepal tangannya, wajahnya menatap tajam Wang Ling. Ingin sekali rasanya ia menonjok wajah pria menyebalkan di depannya itu.
Karena tak mendapat jawaban dari mereka, Wang Ling meludahi wajah Chu Er. “Kalau ditanya jawab. Apa kalian tuli? Dasar anak haram tak berguna ini!” bentak Wang Ling.
Ia kemudian meninggalkan Chu Yi dan Chu Er. Dengan senyum lebar ia membuka pintu gubuk itu setelah tak mendengar suara apapun dari dalam. Itu berarti tak ada yang sedang menikmati tubuh Zhang Xue.
Chu Er menggenggam erat kapak ditangannya, amarahnya sudah memuncak.
“Kau tak boleh gegabah. Nanti ibu malah disiksa lagi oleh mereka,” kata Chu Yi menggenggam tangan Chu Er.
Chu Er menarik nafas dalam-dalam, tanpa mengatakan sepatah katapun. Ia langsung menuju hutan dekat gubuk mereka itu.
Kadang-kadang Chu Yi berpikir ingin bunuh diri saja, karena tak tahan melihat penderitaan ibunya itu. Namun ibunya selalu memotivasinya agar tetap tegar menjalani kehidupan ini. Ibunya juga berpesan, akan tiba masa mereka akan hidup bahagia bersama.
Zhang Xue selalu mengatakan pada anak-anaknya agar banyak berdoa, karena dewa akan melihat penderitaan mereka dan mengirim penyelamat membebaskan penderitaan mereka itu.
Sebenarnya ada seorang pelanggan Zhang Xue yang bertanya, kenapa ia tak bunuh diri saja. Karena penderitaan yang Zhang Xue alami ini sangat mengenaskan. Jika posisi itu dibalik padanya, mungkin saat hari pertama saja ia sudah bunuh diri.
Dengan senyum dipaksakan, Zhang Xue berkata, “Kalau aku rapuh menghadapi cobaan ini, bagaimana nanti nasib anak-anakku. Aku tak ingin mereka dijadikan anjing peliharaan Chu Mogui, cukup aku saja yang melaluinya. Aku ingin mereka menjalani kehidupan seperti anak-anak diluar sana.”
Pelanggan itu tertegun mendengarnya. Kemudian keesokan harinya ia menantang Chu Mogui untuk berduel. Jika ia menang, maka Chu Mogui harus melepaskan Zhang Xue dan anak-anaknya.
__ADS_1
Chu Mogui tertawa terkekeh-kekeh mendengarnya, ia memerintahkan anakbuahnya membunuh Pendekar Pedang itu dan menyiksa Zhang Xue karena telah mempengaruhi pelanggannya.
Zhang Xue dicambuk ratusan kali, tak sampai disitu, ia juga direndam di sungai kecil dekat desa itu. Zhang Xue melewati malam penuh derita itu dengan menahan perih dan hawa dingin yang mencekam. Untung ia memiliki keinginan kuat untuk bertahan hidup demi anak-anaknya, sehingga berhasil melewati penderitaan itu.
***
Wang Ling melihat, Zhang Xue sedang tertidur di ranjang. Dengan senyum menyeringai ia melepaskan pakaiannya. Ular Derik miliknya sudah dalam posisi siap tempur.
“Hehehe ... walaupun sudah tak terhitung jumlahnya orang yang menidurinya, tapi wajahnya tetap memancarkan kecantikan yang membuat Ular Derik ini tegang,” gumam Wang Ling menarik selimut yang menutupi tubu Zhang Xue.
Wang Ling terkejut melihat tubuh Zhang Xue telah ditempeli banyak ramuan tradisional untuk mengobati luka-lukanya.
“Cih, Mogui kampret itu. Kenapa sih, ia selalu merusak barang bagus ini. Kalau begini, harganya bisa turun dan pelanggan ogah datang kemari." Wang Ling mengumpati bosnya itu.
Wang Ling merenggangkan kedua kaki Zhang Xue, ia bersiap melakukan serangan dadakan. Karena Zhang Xue belum menyadari kedatangannya. Ia masih terlelap tidur, karena kelelahan dengan aktivitas yang ia lakukan tadi malam dan pagi ini juga disiksa oleh Chu Mogui.
“Rasakan jurus ular melahap kenikmatan!” seru Wang Ling menggerakkan pinggulnya.
Sontak saja, Zhang Xue terbangun mendengar suara Wang Ling. Namun saat ia melihat sekelilingnya tak ada orang sama sekali.
“Bukannya tadi itu suara Wang Ling?” Zhang Xue kebingungan. “Mungkin aku mengigau,” gumamnya lagi menghela nafas panjang. Ia bersyukur sekali tak ada anak buah Chu Mogui yang datang hari ini.
Biasanya mereka akan bergantian datang untuk melampiaskan hasrat mereka. Karena saat malam hari, Zhang Xue akan melayani pelanggan, sehingga mereka tak bisa menikmati tubuhnya.
***
__ADS_1
Wang Ling kebingungan tiba-tiba ia sudah berada di puncak gunung. Ia melihat sekelilingnya, tak ada orang sama sekali.
...⚔️Bersambung⚔️...