Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Meninggalkan Kota Guangxi


__ADS_3

“Ayah ... bangun-bangun, sudah pagi! Ayo jalan-jalan, kata ibu kita akan keliling kota Guangxi.” Su Lian lansung melompat ke perut Xiuhuan, sehingga ia sangat terkejut dan langsung terbangun. Namun Rohnya masih ketinggalan, sehingga Xiuhuan perlu menariknya kembali agar tak menjadi gentayangan.


“Wah ... Putri ayah, cantik sekali,” kata Xiuhuan lansung memeluk Su Lian. “Hmm, kamu wangi sekali, apa kamu pakai sampo Lipeboy atau Klir. Ayah cium, ya. Ummmaahh." Xiuhuan mencium pipi Su Lian.


Qianran yang melihat kedekatan putrinya dengan Xiuhuan, senyum-senyum sendiri melihatnya. Dia juga sudah keramas dan memakai Hanfu merah yang merupakan satu-satunya pakaian bagus miliknya yang ia simpan di lemari. Pakaian ini ia kenakan jika ada acara resmi atau ke kondangan saja.


“Kalian sudah bersiap-siap ternyata.” Xiuhuan melirik Qianran dan Su Duan yang sudah mengenakan pakaian bagus. Xiuhuan berdiri sambil menggendong Su Lian. “Di mana kamar mandinya? Aku mau mandi juga,” tanya Xiuhuan.


“Itu Paman!” Su Duan menunjuk sumur yang ada di halaman rumah kontrakan mereka.


Xiuhuan mengerutkan keningnya, ia tak menyangka sumur yang terletak di halaman itu sebagai tempat mandi mereka.


“Ini pakai kain ini saja untuk menutupi bagian bawahmu," kata Qianran menyerahkan sebuah kain pada Xiuhuan.


Xiuhuan melepaskan pakaiannya dan mengenakan kain itu, sedangkan Qianran dan anak-anaknya pergi ke rumah nenek, tetangga mereka untuk berpamitan. Karena hari ini adalah hari terakhir mereka di kontrakan kecil itu.


Xiuhuan menimba air dari sumur itu dan menyiramnya ke tubuhnya. Seperti yang ada di iklan-iklan di Planet Bumi yang berjarak miliaran galaxy dari daratan utama itu. Dengan slow motion air itu secara perlahan membasahi tubuh Xiuhuan yang Sixpack itu, membuat para emak-emak tetangga Qianran menelan ludah melihatnya.


Saat selesai mandi, Xiuhuan tercengang sat melihat telah banyak emak-emak yang memperhatikannya.


“Brondong tampan! Kau kesepian tidak?” goda seorang wanita berusia kepala lima.


Xiuhuan hanya geleng-geleng kepala mendengar godaan wanita tua itu. Xiuhuan kemudian menebar senyum pada mereka sambil melepaskan pakaiannya sekilas dan menutupnya kembali.


Sontak saja, seluruh emak-emak tetangga Qianran itu lansung mimisan melihatnya. Xiuhuan tersenyum lebar dan masuk ke dalam kontrakan Qianran, mengenakan pakaiannya kembali.


“Ada apa dengan mereka, Nek? Kenapa bergairah begitu?” Qianran kebingungan melihat tetangganya saat ia keluar dari kontrakan sang Nenek.


“Mungkin mereka bergairah melihat temanmu itu mandi di hadapan mereka,” sahut sang, Nenek.


Setelah mengenakan pakaian, Xiuhuan lansung menghampiri Qianran dan menggendong Su Lian. Xiuhuan pura-pura tak ingat dengan kehebohan yang ia buat tadi. Dengan santai meninggalkan rumah kontrakan itu tanpa memperdulikan emak-emak yang terus-terusan menggodanya, sampai-sampai membuat risih Qianran.


Mereka menuju pusat kota Guangxi. Namun sebelum ke sana, Qianran menyuruh Xiuhuan pakai penutup wajah dan topi kerucut, seperti yang sering digunakan petani ke sawah itu, sebagai penyamaran. Agar Xiuhuan terhindar dari pantauan murid-murid tetua Xiao Yan.


“Ayah kau keren sekali dengan penampilan begini.” Su Lian memuji Xiuhuan yang disangkanya ayahnya itu.


“Tentu dong, sudah kayak Assasin inimah, tinggal kita cari pejabat korup saja, supaya kita lenyap kan,” sahut Xiuhuan bercanda.


“Nikmatilah Nak, dengan sosok yang kau anggap ayahmu ini, mulai nanti kita tak akan bisa bertemu dengannya lagi,” gumam Qianran senang melihat putrinya bahagia.


Xiuhuan dan Qianran memasuki agen properti kota Guangxi. Letaknya hanya beberapa langkah saja dari Paviliun Shilin.


“Ran‘er kalian duluan masuk ke dalam, ya. Tanyakan saja rumah yang bagus dan berada dekat Sekte Pedang Taiyang,” kata Xiuhuan.


“Iya tuan, kami akan melihat-lihat ke dalam,” jawab Qianran masuk bersama Su Duan. Sedangkan Xiuhuan dan Su Lian masuk ke Paviliun Shilin.


“Selamat datang tuan dan adik imut di Paviliun Shilin,” sambut SPG cantik sambil mencubit pipi Su Lian.

__ADS_1


“Kalau Aku dicium sajalah,” goda Xiuhuan.


SPG cantik itu tersenyum masam, dalam hatinya ia ingin sekali menonjok muka dibalik penutup wajah itu.


“Ada yang bisa saya bantu tuan!” kata SPG itu dengan ramah.


“Apakah sudah ada yang menjual informasi mengenai pertarungan kemarin yang membuat kota Guangxi ini mencekam?” tanya Xiuhuan.


“Seberapa rinci informasi yang kau dapatkan. Kami kemarin sudah mendapatkan informasi mengenai pertarungan itu, namun hanya garis besarnya saja,” kata SPG cantik itu.


“Sangat rinci. Kira-kira berapa yang aku dapatkan?” tanya Xiuhuan.


Ia berencana menjual informasi dirinya sendiri, agar mendapat Poin yang akan ia berikan pada Qianran. Sehingga saat ia meninggalkan mereka, Qianran sudah mandiri dan sanggup membayar beberapa Pelayan untuk membantunya menjalankan restoran.


“Masalah itu kita diskusikan di lantai bawah saja,” kata SPG itu.


Xiuhuan mengikutinya dari belakang, SPG itu membuka pintu khusus dan mereka menuruni tangga ke lantai bawah tanah.


“Nona Mei, aku membawakan informan,” kata SPG itu.


“Silahkan duduk tuan. Kau boleh kembali saudari Rin!” seru Xiao Mei, yang merupakan Kepala Cabang Paviliun Shilin kota Guangxi.


SPG itu meninggalkan mereka di dalam ruang bawah tanah, yang ternyata kantor Kepala Cabang Paviliun Shilin.


“Informasi apa yang akan kau jual?” tanya Xiao Mei lansung tanpa ada basa-basi lebih dulu.


“Kejadian yang menimpa kota Guangxi kemarin itu dilakukan oleh pertarungan antara Tetua Xiao Yan melawan Xiuhuan,” sahut Xiuhuan.


“Awal mula kejadian itu adalah Perselisihan di restoran Kaefci. Kemudian Xiuhuan membunuh pemilik restoran itu dan Tetua Xiao Yan datang. Kemudian Tetua Xiao Yan sangat marah pada Xiuhuan, namun ternyata Xiuhuan lebih kuat darinya dan hampir membunuh Xiao Yan. Untung saja tetua Dong Shuliang datang tepat waktu dan melerai mereka. Nah, sekarang Xiuhuan diminta oleh tetua Dong Shuliang meninggalkan kota Guangxi agar tak dihukum. Sekarang Xiuhuan menuju ibukota lebih dulu dan akan bergabung dengan Sekte Pedang Taiyang saat kompetisi antar Sekte nanti.” Xiuhuan menjelaskan informasi yang ia jual.


“Informasi yang menarik. Sepertinya Xiuhuan ini akan menjadi kuda hitam dalam kompetisi antar Sekte nanti,” sahut Xiao Mei. Kemudian ia mengeluarkan Plakat khusus Paviliun Shilin miliknya. “Aku puas dengan informasi darimu, sekarang berikan Plakatmu!” seru Xiao Mei.


Xiuhuan lansung memberikan Plakatnya dan ia menerima 50.000 Poin. Xiuhuan sangat tercengang melihatnya, ia tak menyangka informasi dirinya sendiri sangat mahal harganya.


Setelah mendapatkan hadiah dari menjual informasi, Xiuhuan kembali ke agen properti. Menjumpai Qianran yang lebih dulu masuk duluan ke sana.


“Bagaiman Ran‘er ... sudah dapat rumah yang kau inginkan?” tanya Xiuhuan.


“Belum, harganya mahal-mahal,” sahut Qianran kebingungan, karena poinnya tak cukup membelinya.


“Yang dekat Sekte Pedang Taiyang, berapa harganya?” tanya Xiuhuan pada agen properti.


“Paling dekat dengan Sekte Pedang Taiyang adalah rumah dua lantai dengan harga 30.000 Poin tuan,“ jawab agen properti itu acuh tak acuh, karena mendengar Qianran ternyata tak memiliki Poin yang banyak.


“Kami beli sekarang juga. Siapkan segera surat jual belinya,” kata Xiuhuan.


Agen properti dan Qianran terkejut mendengarnya. Qianran ingin protes, namun tak jadi. Ia takut Xiuhuan kecewa nanti.

__ADS_1


“Yey, kita dibeli rumah baru oleh ayah!” teriak Su Lian bersorak-sorai, senang.


“Sekarang An‘er akan hidup nyaman dan memiliki rumah besar hehehe ....” Xiuhuan tersenyum lebar. Kemudian melirik agen properti yang sedang mempersiapkan berkas jual belinya. “Apa saja isi rumahnya?” tanya Xiuhuan lagi.


“Isinya sudah lengkap tuan. Kalian hanya perlu membeli perabotan kecil saja. Kalau lemari, ranjang, meja dan bangku untuk jualan sudah ada semua,” jawab agen properti.


Kemudian mereka pergi menuju rumah yang akan Qianran tempati itu. Dan ternyata, saat tiba di sana. Jaraknya cuma seratus langkah saja dari Sekte Pedang Taiyang.


Xiuhuan cukup puas saat melihat rumah tersebut.


“Ran‘er! Mana Plakatmu!" seru Xiuhuan.


“Buat apa lagi tuan,” sahut Qianran, ia yakin Xiuhuan akan memberinya Poin lagi.


“Sudah sini saja,” kata Xiuhuan.


Dengan terpaksa, Qianran memberikan Plakatnya. Nah, benar dugaannya. Xiuhuan lansung mentransfer 50.000 Poin untuknya.


“Gunakan ini buat modal usaha dan gaji Pelayanmu nanti hehehehe ....” Xiuhuan tertawa sambil memberikan kembali Plakatnya.


“Terima kasih banyak tuan Xiuhuan ....” Qianran menangis memeluk Xiuhuan. Ia tahu, Xiuhuan akan pergi setelah ini.


“Kalau ada apa-apa, temui lah, Liu Ruyan atau Qingyi. Mereka itu sahabatku di Sekte,” kata Xiuhuan sambil mengusap air matanya.


“Ayah mau pergi lagi, ya?” Su Lian mendengar percakapan mereka.


“Iya, Ayah ada kerjaan di luar sana. Nanti saat ayah datang lagi. Ayah akan membawakanmu hadiah spesial,” jawab Xiuhuan.


Su Lian memeluk Xiuhuan. Ia menangis tersedu-sedu di pelukan Xiuhuan. Tak terasa air mata Xiuhuan juga menetes, ia juga sudah menganggap Su Lian anaknya juga.


Setelah perpisahan mengharukan itu. Xiuhuan lansung pergi meninggalkan kota Guangxi. Sedangkan Qianran dan anaknya merapikan meja-meja dan kursi di lantai satu rumahnya itu yang akan dijadikan sebagai restoran.


“Ibu ... apa nama restoran kita ini?” tanya Su Duan.


“Bagaimana kalau Setarbak saja. Sekalian kita akan menjual teh hijau dan Kopi Gayo,” jawab Qianran.


“Nama yang bagus!” sahut Liu Ruyan dan Qingyi.


Keduanya ingin mencari Xiuhuan, karena Qingyi ingin ikut dengannya berpetualang. Ia sudah selesai berkultivasi tadi pagi.


“Eh, saudari Yan ... kalian terlambat datang, tuan Xiuhuan telah pergi!” seru Qianran, ia yakin mereka sedang mencari Xiuhuan.


“Iya, ayah pergi. Lalu cusssssss! Seperti kilat menghilang,” sahut Su Lian.


“Wah, imutnya ... eh, kenapa ia bilang Xiuhuan ayahnya?” Liu Ruyan kebingungan.


Qianran kemudian menarik Liu Ruyan dan Qingyi. Ia membisikkan kalau anaknya mengira Xiuhuan adalah ayahnya. Keduanya tertawa terkekeh-kekeh mendengarnya, saat Qianran mengatakan Xiuhuan menangis saat perpisahannya dengan Su Lian.

__ADS_1


Karena Qianran adalah janda. Liu Ruyan dan Qingyi memutuskan menjadi Pelayan di restoran Setarbak Qianran itu, untuk membantunya, hitung-hitung mencari uang tambahan juga.


...⚔️Bersambung⚔️...


__ADS_2