Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Kemenangan Murid-murid Xiuhuan


__ADS_3

Liu Ya sedikit panik, selain wanita itu lebih kuat dari mereka, Liu Ya juga harus melindungi kedua temannya.


"Aku akan menyerang dia lebih dulu, nanti kau susul menyerang. Aku yakin serangan gabungan kita akan berdampak!"


"Baik! Dou Yi jaga Aku, ya!" seru Shuyan padanya. Kini nyalinya sedikit menciut, akibat serangan apinya malah tak berefek pada wanita itu.


"Dasar anak-anak merepotkan! Terutama yang satu itu!" guman wanita cantik itu melirik Dou Yi. Ia sangat jengkel dengan jurus Pembelah dimensi milik Dou Yi yang menggagalkan serangannya tadi.


"Langkah Angin!"


Wanita itu melesat cepat ke arah Liu Ya, karena ia yang terkuat di antara mereka. "Tebasan Badai Angin!" Ia menebas Pedangnya dan badai angin besar mengiringi tebasan pedang itu.


"Tebasan Badai Angin!"


Liu Ya tak ketinggalan, ia juga menebas Pedangnya kedepan, "Shuyan!" seru Liu Ya memberi tanda.


"Tebasan Api Salamander!" Shuyan menebas Pedangnya ke atas, dimana posisi wanita itu melayang.


"Langkah Angin!" Ia lansung melesat ke arah Dou Yi. Ternyata ia cuma memancing keduanya menyerang, supaya mereka lengah. Target dia sebenarnya adalah Dou Yi. "Tebasan Badai Angin!" Lanjutnya menebas Dou Yi.


"Awasss!" teriak Shuyan dan Liu Ya yang terkejut melihatnya.


"Pembelah Dimensi!"


Dou Yi memindahkan serangan wanita itu ke tempat lain dan muncul pas di hadapan Xiuhuan yang datang ke lokasi pertarungan mereka.


"Putaran Gelombang Air!"


Xiuhuan memblok badai angin yang mengarah padanya itu.


"Ah, Dou Yi ini ... tak lihat-lihat kemana ia memindahkan serangan itu. Kalau aku tak sigap, bisa jadi bubur aku!" Xiuhuan mengumpati Dou Yi.


***

__ADS_1


"Merepotkan sekali!" guman Wanita itu. Dou Yi lagi-lagi penghalang utama baginya untuk memenangkan pertarungan ini. Padahal lawannya cuma anak-anak dan gadis remaja saja.


"Langkah Angin!" Kali ini ia menargetkan Shuyan yang paling lemah. "Tebasan Badai Angin!" serunya lagi menebas Pedangnya ke depan.


"Aaaaaaaaa tulung Dou Yiiiiiii!"


Shuyan melesat kabur ke arah Dou Yi. Ia meliuk-liuk dengan zik-zak untuk menghindari tebasan badai angin wanita itu.


"Pembelah Dimensi!" seru Dou Yi dan lubang hitam muncul pas di depan wanita itu dan ia terhisap ke dalam.


"Tebasan Badai Angin!" teriak Liu Ya, bersiap menunggu di mana munculnya kembali wanita itu.


Sebuah cahaya hitam muncul tepat di hadapan Liu Ya dan wanita itu terlempar keluar.


"Matiiiiii!" teriak Liu Ya sembari menebas dengan badai angin mengiringi tebasan pedangnya.


"Tebasan Badai Angin!" Ia mencoba menahan semampunya, walaupun posisinya masih belum stabil.


"Langkah Angin!" Liu Ya terbang dengan cepat dan mendaratkan sabetan di punggung wanita itu.


"Tebasan Api Salamander!"


Shuyan tak melepaskan kesempatan ini dengan menyerang juga. Ia melihat wanita itu telah kewalahan, karena telah menerima luka cukup fatal di punggungnya.


Sebuah api besar menghantam benteng pusaran angin yang mengelilingi wanita itu. Namun, tak berhasil menembusnya.


"Sekali lagi Shuyan kita serang bersama!" seru Liu Ya. "Tebasan Bulan Sabit!"


"Tebasan Api Salamander!"


Api besar dan tebasan angin berbentuk bulan sabit menghantam pertahanan wanita itu.


"Boommmmm duarrrrrrrrrrr!"

__ADS_1


Wanita itu terpental berguling-guling di lahan Ginseng kuning. Itu karena tebasan bulan sabit dari Liu Ya mampu memotong pertahanan pusaran angin wanita itu. Kemudian api besar dari tebasan Shuyan memasuki celah tersebut. Sehingga wanita terkena sabetan api itu.


"Akh-akhh!" Dia menahan rasa sakit di tubuhnya. Kini pakaiannya sudah bolong-bolong terkena sabetan Liu Ya dan Shuyan.


"Sekali lagi, ayo kita akhiri!" seru Liu Ya melesat ke arah wanita itu.


Ia mencoba menopang Pedangnya, namun lagi-lagi Dou Yi memindahkan wanita itu kedekat Liu Ya.


"Tebasan Badai Angin!" seru Liu Ya menebas punggung wanita itu kembali, sesaat ia keluar dari lubang hitam itu.


"Tebasan Api Salamander!"


Shuyan tak mau ketinggalan, ia menebas bagian depan tubuh wanita itu hingga ia terkapar jatuh ke tanah.


"Waduh ... kejam juga anak-anak ini!" seru Xiuhuan yang baru sampai. Ia memeriksa urat nadinya, sudah tak berdenyut lagi.


"Ah, sayang sekali ... tubuh semulus ini harus mati muda!" seru Xiuhuan pelan.


"Dasar guru mesummmm!" teriak Shuyan membakar habis wanita itu.


"Astaga ... tega sekali kau Shuyan!" seru Xiuhuan, untung saja tadi ia memeriksa jubah wanita itu dan ia menemukan sebuah Plakat Clan Yin dari kota Yan Huo.


"Habis guru mesum sekali! Wanita yang sudah mati saja, kau raba-raba!" sahut Shuyan kecus.


"Hei, hei ... aku memeriksa ini!" seru Xiuhuan memperlihatkan Plakat milik wanita itu.


"Ah, hehehe!" Shuyan tertawa cengengesan, karena telah berburuk sangka.


"Cih, makanya jangan melihat masa lalu seseorang. Mana tahu masa depannya makin parah!" seru Xiuhuan bercanda.


"Dasa guru bodohhhhhh!" teriak Shuyan.


Ia adalah murid paling belia, namun juga paling cerewet diantara mereka. Makanya, Xiuhuan sering bercanda dengannya. Xiuhuan juga sudah menganggap Shuyan sebagai putrinya sendiri, karena Shuyan adalah yatim-piatu.

__ADS_1


"Ternyata dalang dibalik semua ini adalah Kota Yan Luo. Apa Hakim Jia Li tak bisa mencegah penyerangan yang akan dilakukan Sekte Pedang Naga Surgawi ke kota Hua, ya?" guman Xiuhuan setelah mendapatkan Plakat milik wanita tadi, yang berasal dari Clan Yin, yang merupakan salah satu Clan terkuat di kota itu.


Bersambung 🗡️🗡️🗡️


__ADS_2