
“Yah, mengecewakan sekali, kita tak bisa berduel sekarang,” kata Xiao Lian yang telah membuat kegemparan di Sekte Teratai Biru itu, akibat pengakuannya telah melakukan sesuatu dengan Xiuhuan. “Bibi tunggu kau di babak selanjutnya Ya‘er!” katanya lagi pada Liu Ya.
Liu Ya tak menyahut perkataannya, ia langsung turun setelah mendengar pengakuannya itu. Sedangkan Xiao Liu masih dengan berwajah senyum menghanyutkan itu segera turun dari arena. Namun ia tak berani menatap ke arah penonton tempat para tetua duduk. Karena ada sorot mata yang begitu tajam mengarah padanya.
“Cih, dasar murid genit ini,” kata Xiao Liu kecus menatap tajam pada Xiao Lian.
Xiuhuan sekarang dalam mode diam , ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Karena dia sudah dipermalukan habis-habisan oleh Xiao Lian. Padahal dulu gadis itu berjanji akan merahasiakannya.
“Aku sungguh iri padamu tetua keenam, kau kumbang terbaik, selalu dikelilingi oleh bunga-bunga terindah.” Tetua ketiga kembali mencoba mengejek Xiuhuan.
Namun, ia tak menanggapi ejekan tetua ketiga itu. Xiuhuan tetap kukuh dengan mode diamnya.
Kompetisi berjalan kembali, walaupun gosipan tak enak didengar oleh Xiuhuan itu menyebar bak virus Corona saja, lansung menyebar ke seantero kota Hua.
Sistem babak gugur berlanjut kembali. Lagi-lagi juaranya didominasi oleh murid tetua pertama dan tetua kedua. Sedangkan murid Xiuhuan, Shuyan dan Huanran menjadi juara baru dilevel mereka.
Hingga kini kompetisi memasuki babak level Pendekar Pedang tahap 11. Itu artinya, Xinran akan maju dibabak ini.
“Xinran murid tetua keenam dan Lei Shen murid tetua pertama! Maju ke arena!” seru wasit pertandingan.
“Aku Xinran memberi hormat pada senior Shen!” seru Xinran.
“Aku juga Lei Shen memberi hormat untuk adik Xinran!” sahutnya.
Keduanya kemudian mengeluarkan Pedang Roh masing-masing.
Xinran melakukan penggabungan dengan Roh Pedang Hiu, ia melayang beberapa langkah kaki diudara, seolah-olah sedang berenang saja.
Lei Shen tak mau ketinggalan, murid terbaik tetua pertama untuk level Pendekar Pedang tahap 11 itu juga melakukan tehnik Penggabungan dengan Roh Pedang Serigala Hitam.
Seketika itu tubuhnya mengeluarkan asap hitam dan ada tujuh kloningannya menyebar mengelilingi Xinran.
“Wau, jurus yang hebat!” Xiuhuan memuji tehnik yang digunakan oleh Lei Shen itu, walaupun ia tetap mendukung muridnya untuk memenangkan pertandingan ini.
“Xinran terlalu sial, ia malah lansung ketemu Lei Shen. Murid nomor satu di level Pendekar Pedang tahap 11 tetua pertama,” sahut Xiao Liu.
Keduanya mulai berbicara kembali, setelah mode diam, yang sudah melewati beberapa pertandingan.
“Tak apa, yang penting dia merasakan pertarungan sesungguhnya. Lagi pula target yang kuberikan cuma sampai 10 besar, dan itu sudah terpenuhi,” kata Xiuhuan lagi.
__ADS_1
Xiuhuan juga belum mengenali kemampuan Xinran, karena ia baru bergabung dengan Sekte Teratai Biru. Sebelumnya ia dijual oleh ayahnya yang kalah berjudi.
Untung saja Xiuhuan datang ke kota Yangtze dan membelinya dari mucikari yang sedang menjajakan Xinran.
Setelah Xiuhuan menyelamatkan Xinran, ia kemudian menyuruh gadis itu pergi ke kota Hua ini dan ia bergabung bersama Liu Ya dan kawan-kawan. Dengan merekalah ia berlatih, sedangkan Xiuhuan belum mengajari apa-apa padanya.
***
“Dimanakah yang dirinya yang asli?” guman Xinran memperhatikan delapan Lei Shen yang mengelilingi dirinya.
“Lompatan Hiu, Tebasan Pembelah Ombak!”
Xinran lansung menerjang salah satu kloning Lei Shen yang disangka tubuh aslinya oleh Xinran. Namun saat ia menebasnya kloning itu langsung berubah seperti asap dan berwujud kembali.
“Bukan yang asli!” guman Xinran ingin menyerang kembali, namun tiba-tiba saja mereka berlari-lari mengelilingi Xinran.
“Bagaimana adik Xinran! Apa kau masih melawan atau menyerah saja. Supaya aku tak perlu menyakiti wanita cantik sepertimu!” goda Lei Shen yang terdengar seperti delapan orang yang berbicara sekaligus.
“Wah mantap juga memiliki Roh Pedang seperti Lei Shen ini, apalagi saat sedang menyamar menjadi Assasin. Mantap Lah!” guman Xiuhuan memuji kehebatan Roh Pedang Serigala Hitam itu.
Roh Sidat Listrik yang berada dalam Rongqinya lansung bergejolak, ia cemburu dengan perkataan Xiuhuan.
***
“Jangan anggap remeh aku senior!” seru Xinran sambil menancapkan pedangnya, seraya merapalkan jurus, “ Tsunami!” teriak Xinran.
Gelombang air besar lansung merembes dari Pedang Roh Xinran itu. Gelombang air itu kemudian berputar-putar mengelilingi tubuhnya.
Lei Shen lansung melompat mundur menghindari gelombang air tersebut. Beberapa kloningannya lansung menghilang terkena gelombang air tersebut.
“Jadi kloningan itu lemah melawan unsur air, ya!” seru Xiuhuan.
“Betul juga, tapi kurasa Lei Shen masih memiliki kemampuan lain!” sahut tetua ketiga.
“Bisa jadi, padahal Xinran telah mengeluarkan banyak qi saat menggunakan jurus pertahanan itu. Sepertinya Lei Shen memang bukan lawan sepadan untuknya.” Xiuhuan mengakui kalau muridnya lebih lemah dari murid tetua pertama.
Tetua ketiga lansung melirik Xiuhuan, tak biasanya ia mengakui kemampuan murid tetua lain. Xiuhuan selalu membanggakan kehebatan muridnya, namun entah bagaimana tiba-tiba saja ia berubah, membuat heran tetua ketiga.
“Apa kau lihat-lihat begitu!” gerutu Xiuhuan, risih dengan tatapan Zhang Fei.
__ADS_1
“Aku heran saja, kau memujinya!” sahut Zhang Fei dengan senyum sinis.
“Suka-sukaku lah!” seru Xiuhuan lagi.
Kedua tetua ini ibarat Tom and Jerry sedari tadi. Tak pernah akur dan saling sindir.
Sementara itu di arena pertandingan, Lei Shen yang mundur menghindari jurus Tsunami milik Xinran itu kemudian menghilangkan kloningannya.
Lei Shen tersenyum tipis, ia tak mengira Xinran lansung menggunakan jurus kuat untuk menghadapinya. Karena tak mau berlama-lama juga. Lei Shen menancapkan pedangnya.
“Kurungan Serigala Hitam!” seru Lei Shen merapalkan jurus terkuatnya juga.
Tembok tanah lansung muncul dan mengelilingi Xinran, tujuh bayangan Serigala Raksasa tampak muncul seperti sedang mengerumuni mangsanya saja.
Tembok tanah itu makin merapat dan menekan gelombang air besar milik Xinran.
“Ah, gawat!” gerutu Xinran karena menggunakan banyak qi untuk mempertahankan jurus Tsunami itu lebih lama lagi. Apalagi jurus Kurungan Serigala Hitam milik Lei Shen terus memojokkan Xinran dalam kurungan tembok tanah itu.
“Aaaaaaaa!” Xinran mulai kesakitan, ketika jurus Tsunami miliknya terus ditekan oleh kursi Kurungan Serigala Hitam milik Lei Shen.
Hidung dan bibir Xinran mulai mengeluarkan darah. Entah berapa lama lagi ia sanggup bertahan dari tekanan Lei Shen.
“Wasit!” seru Xiuhuan memberikan kode untuk mengakhiri pertandingan. Ia tak ingin muridnya itu cedera serius. Toh, target 10 besar sudah tercapai. Itulah yang ada dibenak Xiuhuan sekarang.
Melihat kode dari Xiuhuan, sang wasit lansung menghentikan pertandingan.
“Eh, kenapa berhenti?” tanya Xinran kebingungan, sebab ia belum menyerah tadi.
“Maaf Nak, Lei Shen terlalu kuat untuk kau hadapi. Untuk keselamatan peserta, aku terpaksa menghentikan pertandingan,” jawab wasit tersebut.
Dengan perasaan lesu, Xinran turun dari arena.
“Kau sudah hebat saudari Xinran!” seru Liu Ya, Huanran dan Dou Yi bersamaan.
“Betul kakak Xinran! Tahun depan tenggelamkan dia!” kata Shuyan dengan nada sombong sambil berkacak pinggang.
Lei Shen yang melihat tingkah Shuyan, ingin sekali menempeleng gadis kecil tersebut. Namun itu hanya bisa diharapkan saja tanpa bisa dilaksanakan, karena larangan keras oleh Sekte untuk murid saling bertarung di luar latih tanding.
Bersambung ...
__ADS_1