
“Sekali lagi! Perisainya telah melemah!” seru Wei Fang Yin.
“Baik!” sahut yang lainnya serempak.
Berbagai serangan jurus tingkat tinggi meluncur ke arah makam Immortal Lou Yun. Ledakan besar terjadi di depan makam dan tak lama kemudian, tanah kembali bergetar. Pintu masuk makam mulai terbuka secara perlahan-lahan, seperti ada orang yang membukanya.
Xiuhuan langsung melesat menggunakan jurus Langkah Kilat, tak kala pintu terbuka selebar dua tombak. Xiuhuan sudah tidak sabar, karena ia berpikir yang pertama masuk pasti akan mendapatkan menemukan harta lebih besar.
“Ada yang masuk duluan!” keluh murid Sekte besar, karena mereka ingin mempersilahkan rombongan Wei Fang Yin masuk lebih dulu. “Kurang ajar, siapa itu kita harus memberinya pelajaran!” cibir yang lain.
“Sudah biarkan saja. Kalian masuklah lebih dulu, kami akan masuk terakhir saja. Karena kami diperintahkan untuk mengawasi agar tidak terjadi perkelahian,” sahut Wei Fang Yin.
Mendengar ucapan Wei Fang Yin, satu persatu murid Sekte besar segera melesat masuk ke dalam makam Immortal Lou Yun.
***
“Apa-apaan ini!” keluh Xiuhuan saat melangkahkan kaki ke dalam makam. “Hanya ada puluhan Patung besi memegang tombak dan pedang saja. Apa mungkin di bagian terdalam tempat harta itu tersimpan,” kata Xiuhuan seolah bertanya pada Mei-Mei yang menutup matanya karena terkejut dengan kecepatan berlari Xiuhuan itu.
Xiuhuan tak mau berlama-lama berdiri di pintu masuk, karena melihat murid-murid Sekte besar telah mendekati makam. Ia melesat kembali masuk lebih dalam, tetapi Patung besi manusia berkostum ala Prajurit Kerajaan lansung menombak Xiuhuan.
Mei-Mei menjerit tak kala tombak setinggi lima langkah itu melesat cepat dan hampir mengenai mereka. Untung saja Xiuhuan berhasil mengelak.
“Sepertinya ini yang dimaksud oleh Wei Fang Yin itu, Immortal Lou Yun memiliki jurus yang sama dengan saudara Xiuhuan,” kata Mei-Mei memeluk erat Xiuhuan. Bahkan ia mendengar jelas suara detakan jantung Xiuhuan yang berdegup kencang, karena ia sedang panik, ada banyak Patung besi yang mulai menyerang mereka.
__ADS_1
Dengan jurus Langkah Kilat, Xiuhuan berhasil mengelak serangan patung-patung besi itu. Kini mereka bertemu tiga lorong jalan yang harus mereka pilih.
“Kita pilih yang mana, nih?” Xiuhuan kebingungan di mana kira-kira jalan menuju ruang harta makam Immortal Lou Yun itu.
“Tengah biasanya pasti menuju ruang utama, tetapi akan banyak yang memilih ini. Jadi kita hindari saja, pasti jebakan di sana lebih berbahaya,” kata Mei-Mei memperhatikan lorong yang kanan atau kiri. “Pilihan kedua orang pasti ke kanan, karena kanan identik dengan kebaikan dan kiri kesialan. Maka kita pilih kiri saja,” katanya lagi membuat keputusan.
“Kamu yakin, nih? Nanti di sana tak ada harta,” sahut Xiuhuan ragu dengan keputusan yang diambil oleh Mei-Mei. “Kita dapat capeknya saja,” lanjut Xiuhuan lagi.
“Immortal ini pasti sengaja membuat makamnya penuh teka-teki, jadi kita tidak bisa menebak di mana ia menyimpan hartanya. Jangan-jangan tidak ada di ketiga lorong ini dan malah berada di jalur rahasia, bagi yang beruntung saja yang menemukannya,” kata Mei-Mei.
“Kalau begitu aku ikuti pilihanmu saja. Ayo kita jalan, ikuti setiap langkahku. Karena tempat ini dipenuhi jebakan,” kata Xiuhuan.
Ia mengeluarkan Kloning Manusia Air untuk memimpin jalan, supaya mereka mengetahui dari mana arah jebakannya muncul.
Baru lima langkah Kloning Manusia Air masuk ke lorong sebelah kiri. Tiba-tiba ribuan anak panah melesat menembaki mereka, kemudian Kloning Manusia Air kedua lewat, tetapi tidak ada serangan apapun kepadanya. Saat Kloning Manusia Air ketiga masuk, tiba-tiba serangan tombak melesat ke arahnya. Namun, Kloning Manusia Air keempat tidak mendapat serangan apapun setelahnya.
Dengan bantuan Kloning Manusia Air, mereka memasuki lorong kiri dan sudah jauh ke dalam. Namun, tak ada harta apapun yang mereka temukan.
“Saudara Xiuhuan coba lihat ini,” kata Mei-Mei takjub melihat batu berkilauan di dinding batu lorong itu.
Xiuhuan memperhatikan batu berkilauan itu dengan teliti.
“Ah ini tak ada harganya. Paling-palingan buat bahan batu akik saja,” kata Xiuhuan. “Sudah tinggalkan saja, kita harus buru-buru. Nanti hartanya ditemukan oleh yang lain,” ajak Xiuhuan.
__ADS_1
Namun, Mei-Mei terlanjur menyukai batu itu. Ia mencongkel dua batu berkilauan yang berwarna hijau dan menyimpannya.
***
“Ternyata banyak Jebakan-jebakan. Pantaslah murid Sekte Tianshi tidak mau masuk lebih dulu. Mereka sudah tahu ini dan menjadikan kita sebagai tumbal, sehingga mereka sudah tahu dari arah mana datangnya jebakan, serta kekuatannya,” keluh Li Liang.
“Jangan menyalahkan mereka Saudara Liang. Apakah kamu tidak sanggup mengalahkan patung-patung ini? Kalau iya, buang saja peringkat ke24-mu itu,” ejek Xu Que yang telah menghancurkan satu Patung besi berbentuk Pendekar Pedang berhanfu dan rambut terurai hingga menyentuh tanah.
Murid-murid Sekte kecil dan menengah yang melihat bagian luar makam saja sudah dihadang oleh Patung besi yang bisa bertarung akhirnya beberapa diantara mereka ciut nyalinya. Mereka memutuskan tidak memasuki makam. Sedangkan sebagian lainnya tetap masuk dan hasilnya beberapa lansung tewas karena tidak bisa mengalahkan Patung yang menghadangnya.
“Xiuhuan telah masuk sangat dalam dan mereka belum membawa apapun,” kata Mo Yue murid Sekte Tianshi, yang merupakan peringkat 20 kompetisi antar Sekte musim lalu. Ia menggunakan jurus mata dewa yang dapat melihat jauh ke depan, walaupun dihalangi oleh benda padat atau gunung, ia tetap bisa melihat mereka. Namun, ia harus menggunakan banyak qi jika terlalu banyak penghalang yang harus ia tembus.
Mo Yue menghentikan menggunakan jurus mata dewanya, karena terlalu deras qi yang terpakai untuk melacak keberadaan Xiuhuan.
“Baiklah sudah saatnya kita bergerak. Saudari Jingmi kamu telah menganalisa pola serangan patung-patung itu, kan?” Wei Fang Yin menoleh padanya.
“Tenang saja Saudari Yin, kita akan memasuki makam itu tanpa perlu mengotori pakaian kita,” sahut Chu Jingmi memiliki kecerdasan tinggi, dengan senyum manisnya ia memimpin rombongan Murid Sekte Tianshi memasuki makam.
Saat murid-murid Sekte lain sibuk bertarung melawan Patung besi, mereka dengan mulus melangkah masuk tanpa bertarung, membuat mereka yang masuk lebih dulu terkejut melihatnya. Termasuk Xu Que yang masih bertarung dengan Patung besi berbentuk Kera dengan Tongkat kuning sebagai senjatanya.
Patung kera itu sangat lincah, sehingga berkali-kali serangannya gagal mengenai kera itu. Bahkan rekan satu sektenya telah datang membantu Xu Que, tetapi Patung kera itu tetap sulit ditaklukkan.
“Kamu terlihat seperti peringkat ke-100 saja saudara Que,” ejek Chu Jingmi menjulurkan lidah padanya. Mereka tidak membantunya, bahkan Wei Fang Yin tidak menoleh sama sekali.
__ADS_1
Xu Que merasa mereka hanya dimanfaatkan untuk membuka gerbang makam saja. Setelah terbuka Wei Fang Yin tidak peduli lagi dengan nasib mereka. Bahkan murid-murid Sekte kecil yang nekad masuk dibiarkan saja tewas di hadapannya. Yang penting mereka melenggang masuk tanpa perlu bertarung melawan Patung besi itu. Xu Que sangat geram dan mengumpati mereka dan berharap mereka celaka di dalam sana.
...⚔️Bersambung ⚔️...