
Saat mentari pagi akan beranjak naik, saat itu juga bongkahan es raksasa itu mulai meleleh. Tampak Xiuhuan dan Xiao Liu keluar dari sana.
“Kalau kau ingin lagi, jangan sungkan mencariku Liu‘er!” Xiuhuan bercanda padanya.
Xiao Liu tak menjawab perkataan Xiuhuan dan malah melesat pergi menuju aulanya. Mukanya memerah, pikirannya masih terngiang-ngiang dengan apa yang mereka lakukan semalaman suntuk. Bukan hanya sekali seperti yang disepakatkan, namun berkali-kali.
Entah apa yang terjadi, jika orang-orang di kota Hua mengetahui, Xiao Liu yang tak dapat ditaklukkan oleh pejantan tangguh di seantero kota kecil itu, kini malah luluh dengan tetua mesum, julukan yang melekat pada Xiuhuan selama ini.
“Ah, sayang sekali. Lagi-lagi Aku memutuskan generasi penerus beberapa wanita,” guman Xiuhuan. Karena kebanyakan wanita yang telah tidur bersamanya tak akan menikah lagi. Xiuhuan juga bingung kenapa bisa begitu, sudah banyak contohnya. Salah satunya adalah Su Bimbing, janda Xiao Xia, Jia Li, Zhang Yan dan banyak lagi. “Apa aku mencoba terapi saja, ya? Mana tahu masih bisa punya anak nantinya,” guman Xiuhuan lagi.
“Guru ... kau sudah pulang, ya!” Shuyan menyapa Xiuhuan yang lagi melamun sambil berjalan.
“Eh, Shuyan ... kenapa cuma kau saja yang keluar?” tanya Xiuhuan yang melihat Shuyan membawa belanjaan kebutuhan dapur.
“Emm, yang lain sedang naik level, kata mereka terjadi badai petir menyambar didalam Rongqi mereka,” sahut Shuyan dengan muka memelas, karena cuma dia yang tak naik level saat berkultivasi.
“Sabar ... ada masanya kau juga akan naik level!” Xiuhuan menghiburnya, ia juga mengacak-acak rambut Shuyan yang sudah dianggapnya putrinya itu.
“Wah, kenapa dulu Aku tak memilih tetua keenam saja sebagai guruku, ya.” Bisik-bisik murid perempuan lainnya yang sedang memperhatikan kedekatan antara guru dan murid itu. Tak seperti mereka yang malah seperti pelatihan militer dari guru mereka.
“Iya, tetua keenam ternyata baik juga. Padahal selama ini, orang tahunya dia itu tetua mesum. Makanya orang tuaku melarang untuk memilih dia saat penerimaan murid baru Sekte.” Bisik yang lainnya juga.
Setelah sampai di aula timur, Xiuhuan lansung melihat proses kultivasi Murid-muridnya. Sedangkan Shuyan pergi ke dapur untuk membuat sarapan pagi.
Xiuhuan kemudian membuka pintu kamar Liu Ya dan terlihat ia sedang duduk bersila di atas kasurnya. Dia juga memejamkan matanya.
__ADS_1
“Sepertinya dia akan berhasil sebentar lagi,” guman Xiuhuan memperhatikan Liu Ya yang berkultivasi. “Gadis yang berbakat, baru berusia 16 tahun akan memasuki level Pendekar Pedang tahap 16, sesuatu yang sangat jarang terjadi di Pulau Niao ini.”
Xiuhuan kemudian melanjutkan memeriksa kamar beranjak ke kamar Dou Yi.
“Wah, anak ini juga tak ada kendala, kultivasinya berjalan lancar. Mungkin sejak di sini, ia menjadi lebih rileks tak ada tekanan seperti yang dialaminya saat bersama jenderal Qian Shing,” guman Xiuhuan memperhatikan Dou Yi.
Xiuhuan kemudian merasakan, seseorang berada dalam kamar depan kamar Dou Yi. Namun, terlihat jelas tak ada nama terpampang di depan pintunya, seperti yang lainnya.
“Siapa yang tinggal di sana?” guman Xiuhuan penasaran, ia kemudian membuka pintu kamar itu dan melihat seorang gadis yang berusia 16 tahun sedang berkultivasi. “Woalah, ternyata Xinran ... Aku hampir lupa dengan gadis ini. Padahal, kan Aku yang menyelamatkannya dari rumah bordil Gerbang Surga dulu, saat di kota Yangtze,” guman Xiuhuan baru menyadarinya.
Xiuhuan kemudian memperhatikan caranya berkualitas. “Tak ada kendala, ia jenius juga. Tak lama lagi akan segera naik level,” guman Xiuhuan tak menyangka Xinran cepat juga dalam berkultivasi.
Xinran, Liu Ya dan Dou Yi sudah diperiksa oleh Xiuhuan, ketiga tak memiliki kendala dalam kenaikan level mereka. Sejauh ini masih berjalan lancar. Kini tibalah saatnya, Xiuhuan memasuki kamar muridnya yang kurang berbakat, putri Raja Qian Xun dari salah seorang Selirnya.
Xiuhuan membuka kamar Huanran yang cuma Pendekar Pedang tahap 5 itu, bahkan Xiuhuan belum mengetahui jenis Roh Pedang milik Huanran, karena cahaya yang dikeluarkan oleh Roh Pedangnya sangat redup. Yang jelas Huanran itu memiliki unsur Es, itu saja yang baru diketahui oleh Xiuhuan.
Disudut kelopak matanya juga, telah mengalir air matanya karena menahan rasa sakit yang amat sangat. Huanran memaksakan diri untuk naik level.
Xiuhuan lansung duduk dibelakang Huanran dan mengalirkan tenaga dalamnya pada Huanran untuk membantunya berhenti melangkah ke tahap selanjutnya. Itu terlalu berbahaya baginya, bisa-bisa nyawa taruhannya nanti.
Xiuhuan dengan paksa memasuki Rongqi milik Huanran dan melihat gadis itu sedang dihantam rentetan petir.
“Huanran hentikan!” Xiuhuan berbisik ditelinga Huanran. Namun gadis itu tetap dia ditempatnya menerima rentetan petir itu. “Huanran kau jangan bodohhhhhh! Kau bisa mati nanti, jangan dipaksakan!” teriak Xiuhuan.
Xiuhuan tak bisa lama-lama di dalam Rongqi milik Huanran, karena itu sebenarnya telah melanggar hukum dewa.
__ADS_1
Bisa saja Xiuhuan ikut terbunuh di dalam, karena saat Xiuhuan masuk ke dalam Rongqi milik Huanran, levelnya ikut menjadi Pendekar Pedang tahap 5 juga.
Secara otomatis Xiuhuan merasakan kesakitan juga dihantam petir-petir itu.
“Cih, gadis ini! Terobsesi sekali untuk menjadi kuat!” guman Xiuhuan.
Xiuhuan berlari-lari di telaga Rongqi milik Huanran, supaya konsentrasi petir-petir itu terbagi.
Di luar alam bawah sadar Huanran, darah segar juga mengalir dari sudut bibir Xiuhuan. Karena ikut membantu Huanran mengatasi kenaikan level Pendekar Pedangnya yang naik secara paksa.
Setelah melewati waktu yang cukup lama, akhirnya badai petir itu berhenti menyambar. Rongqi milik Huanran tiba-tiba bertambah luas, tak sampai disitu kini ia Pendekar Pedang tahap 6.
Xiuhuan cukup lega, ia kemudian meninggalkan Rongqi milik Huanran, namun ia sekilas melihat seekor naga berukuran kecil berwarna Putih berenang-renang di telaga Rongqi itu.
Setelah kembali ke luar dari alam bawah sadar Huanran, Xiuhuan lansung muntah darah, karena terlalu memaksakan diri masuk ke sana. Untung saja, Xiuhuan Pendekar Pedang tahap 100, bahkan ia hampir kehilangan qi seluas kota Hua, hanya untuk membantu Huanran naik satu level saja. Kerugian yang sangat besar, kalau diperhitungkan secara materi. Namun secara moral, ia telah membahagiakan muridnya itu.
“Guru aku naik level!” seru Huanran lansung memeluk Xiuhuan, ia bahkan tak peduli, jika mulutnya penuh dengan darah. “Dan juga, aku memiliki Roh Pedang Naga Putih, berunsur Es hehehehe ....” Dengan bangganya ia mengatakan itu.
Xiuhuan mengacak-acak rambut Huanran. “Syukurlah, tapi jangan kau lakukan hal seperti ini lagi. Kau membuat guru khawatir!” seru Xiuhuan.
Huanran lansung terharu, ia tak menyangka gurunya itu sangat baik padanya. Bahkan tak memperdulikan keselamatannya hanya untuk membantu dirinya untuk naik level.
“Guru maafkan aku huhuhuhu!” Huanran menangis memeluk Xiuhuan. “A-aku berjanji tak akan melakukan hal seperti tadi,” katanya terbata-bata.
“Baiklah, mandi sana! Bersihkan dirimu. Kita akan sarapan dulu, Shuyan sudah memasak tadi,” kata Xiuhuan lagi sambil meninggalkan kamar Huanran.
__ADS_1
Xiuhuan turun kelantai bawah, aula timur itu. Karena kamar Xiuhuan terletak di dekat pintu masuk aula.
Bersambung ...