
Kapal terbang Lou Mei mendarat di titik yang telah ditentukan. Kapal Xiuhuan juga ikut mendarat di sebelahnya. Dia heran apa yang mau di jaga di sini; toh, sudah ada benteng tinggi seperti tembok besar China.
“Senior Mei, kenapa kita berjaga di sini. Kan, sudah ada tembok besar ini yang menghalangi laju para monster itu?” Xiuhuan bertanya, karena penasaran.
Lou Mei dan ketiga budaknya tertawa terpingkal-pingkal mendengar pertanyaan tak berbobot itu.
“Apa kamu bolos pelajaran umum saat di Sekte Bei Guan? Sudah jelas, badai monster itu pasti tak terhitung jumlah monster yang akan menyeruduk tembok. Sehingga akan banyak tembok yang hancur karena tak sanggup menahan kekuatan monters itu. Bahkan beberapa monters Level menengah mampu menggunakan sihir, sehingga akan menyerang kita. Makanya dibutuhkan kerjasama tim untuk mengatasi mereka.” Lou Nian menjawab pertanyaan Xiuhuan, walaupun wajahnya tampak seperti mengejek.
“Oo, begitu ... aku paham sekarang. Karena aku adalah murid teladan, sehingga jarang masuk kelas, makanya tak tahu. Bahkan saking baiknya, aku pergi keluar saat guru sedang menerangkan pelajaran; aku kasihan padanya bicara terus. Kalau aku keluar—kan, ia bisa istirahat jadinya,” sahut Xiuhuan melangkah ke atas tembok.
Lou Nian mengumpati Xiuhuan, karena merasa Xiuhuan malah mengolok-olok dirinya. Namun, Xiuhuan masa bodoh saja, sedangkan Lou Mei tersenyum tipis. Dia merasa Xiuhuan sifat cukup menarik, tak seperti para pria lainnya yang lansung seperti kucing rumahan saat berhadapan dengannya. Namun, Xiuhuan malah seperti Harimau liar, yang tak sabar ingin ia jinakkan.
Xiuhuan menatap hutan lebat di hadapannya dan jauh di sudut matanya memandang, ada gunung yang menjulang menghujam langit; bahkan puncaknya tidak kelihatan saking tingginya.
“Di sana kah naga sebesar Pulau Niao itu bersarang,” gumam Xiuhuan.
“Istirahat saja lebih dulu, atau berkenalan dengan kelompok lain. Karena badai monster itu akan dimulai tengah malam nanti,” kata Lou Mei ikut menatap ke hutan lebat di depan mereka. Sedangkan tiga murid lainnya sedang membangun kemah untuk Lou Mei.
“Oo, ide bagus. Supaya kita bisa meminta bantuan bila dalam kondisi bahaya,” sahut Xiuhuan kebingungan tiba-tiba Lou Mei menjadi baik, walaupun senyumannya tetap membuat Xiuhuan was-was.
“Mei cantik! Tak kusangka kita akan bersebelahan sayang ....”
__ADS_1
Kultivator tampan, berjubah Clan Tang—menghampiri mereka. Dia juga memeluk Kultivator wanita cantik di kanan kirinya. Mungkin Kultivator dari Clan Tang itu seperti Lou Mei, terkuat di Clan-nya atau anak petinggi Clan, sehingga mudah baginya untuk menggaet wanita cantik.
“Hei ... jangan begitu dong! Kenapa kamu tampak tertekan begitu? Apakah aku kelihatan seperti predator?” Kultivator tampan itu menyeringai menatap Lou Mei. Dia menatap Xiuhuan yang tak kalah tampan darinya, “Apakah kamu sudah membuka hatimu untuk pria?—Setelah kamu hampir menyerahkan kesucianmu padaku, demi membayar hutang-hutang ayahmu; si pemabuk itu—”
“Tang San!” bentak Lou Mei memotong ucapannya. Dia menatap tajam dan dia mengepal kedua tangannya yang tampak mengeluarkan lingkaran merah—dia bersiap menggunakan tinju Simpanse; jurus tinju tingkat tinggi.
Tang San mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Aku datang dengan damai ... tak seharusnya kamu begitu Mei‘er! Kita harus bekerjasama dalam menghadapi badai monster ini. Menurut ramalan masa depan guruku; kita telah memasuki masa kekacauan. Itu disebabkan oleh murka langit, karena makhluk terkurung yang memasuki Benua Kun Lun. Dia tak datang sendiri, tetapi dibawa oleh Kultivator dari Benua Kun Lun juga.”
Tang San menatap Xiuhuan. Ada perasaan aneh—dia tidak bisa membaca ramalan masa depan Pemuda tampan itu. Jangan-jangan dialah orang yang dimaksud gurunya. Namun ia tepis kembali prasangka-nya itu, karena ia juga baru tingkat awal dalam mempelajari ilmu ramalan.
Xiuhuan bingung dengan ucapan sok misterius darinya itu. Namun, satu penggalan kalimat darinya juga membuat Xiuhuan was-was.
Kalimat itu adalah tentang makhluk terkurung. Bukannya Pulau Niao dan daratan utama adalah makhluk yang terisolasi dari dunia luar. Kalau Lou Yi tak datang ke sana, mungkin saja Xiuhuan mengira tak ada lagi dunia di luar sana.
“Jangan dengarkan ucapannya. Dia itu pembual—cih, aku ingin menonjok wajahnya tadi. Namun, aku tak ingin hubungan kedua Clan rusak nantinya,” gerutu Lou Mei lansung masuk ke dalam tenda yang telah selesai dibuat oleh tiga murid lainnya.
Xiuhuan tak menyahut, dia hanya tersenyum saja. Dan berpikir, apakah begini sifat yang katanya aliran putih itu? Bagaimana dengan aliran hitam?—apakah mereka akan membunuh orang hanya gara-gara ia tak suka dengan orang itu.
Aliran putih, katanya menegakkan keadilan, membela yang lemah. Namun, sesama mereka malah saling iri dan menyelesaikan masalah dengan otot. Sungguh keadilan itu samar-samar, tergantung sudut pandang masing-masing.
__ADS_1
Xiuhuan kemudian berjalan ke arah Utara, menjumpai murid dari Clan lain yang berjaga di pos itu.
“Cuaca yang cerah!” sapa Xiuhuan pada lima wanita cantik yang tengah berbincang-bincang. Mereka tidak menyadari kedatangan Xiuhuan.
“Clan Lou!” sahut salah satu gadis cantik itu. “Kenapa kau mendekati kami. Apakah kamu terpikat dengan salah satu diantara kami?” Gadis itu bertanya lagi, sedangkan teman-temannya tertawa terkekeh-kekeh.
Xiuhuan tersenyum, ia senang dengan respon mereka.
“Sayang sekali, aku sudah memiliki dua puluh istri. Kalian mau menjadi nomor dua puluh satu hingga dua puluh empat, sih, tak masalah.”
“Menjijikkan.” Gadis lain menyahut. “Jauh-jauh sana, wanita dari Clan Dong tak akan mau dimadu dua.” Dia mengibaskan tangannya.
“Aku sudah yakin akan mendapatkan respon begitu ... tetapi aku datang kemari bukan membahas itu. Kalau calon kedua puluh satu sudah ada. Namun, kakak si wanita itu belum merestui hubungan kami.” Xiuhuan tertawa pelan. “Aku mendapat informasi, kalau badai monster tahun ini dua puluh kali lipat dari biasanya. Kalau kalian kesulitan menghadapi mereka, datanglah ke tempat kami,” lanjut Xiuhuan lagi.
Mereka kembali tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Xiuhuan, yang menurut mereka khas gombalan hidung belang. Jelas-jelas mereka sama-sama Kultivator tingkat Immortal Awal—sok jadi pahlawan kesiangan pula di depan gadis-gadis.
“Aku hargai tawaranmu babang tampan; mungkin kau pakai susuk, makanya mata kami terpesona melihatmu. Namun, kami tak akan meleleh, karena hati kami tidaklah polos—melainkan keras seperti batu. Butuh pahatan indah untuk membuat kami luluh.” Ketua kelompok murid Clan Dong tertawa mengejek Xiuhuan lagi.
Xiuhuan menghela nafas dalam-dalam, ternyata kesialannya belum hilang. Kini ia malah dibully oleh gadis-gadis cantik. Kalau saja mereka pria, mungkin sudah ia tempeleng satu-satu.
...~Bersambung~...
__ADS_1