
“Alamak! Bosan sekali di sini. Kenapa satu sel tidak ramai-ramai saja. Kan, jadi ada teman berbicara, kalau ini sama saja membuat orang ingin bunuh diri,” gerutu Xiuhuan yang sudah bosan tidur terus.
Mau berkultivasi, ia tak memiliki sumberdaya atau Pil Neraka. Mau latihan, tempatnya terlalu sempit. Alhasil Xiuhuan hanya melakukan peregangan otot saja, seperti push up dan gerakan lainnya.
Xiuhuan tak tahu, sekarang masih siang atau malam hari di atas sana. Ia kini asyik melamun membayangkan wajah istri pertama hingga istri ke 999-nya, mengingat kenangan manis bersama mereka, hingga tiba-tiba lonceng jam makan kembali berbunyi.
Xiuhuan tersenyum. “Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga,” gumamnya melangkah keluar setelah pintu sel terbuka secara otomatis yang dikontrol oleh sipir dengan pengguna unsur angin.
Tak ada yang mau berbicara dengan Xiuhuan, setiap tahahan yang ia jumpai pasti akan menjauh darinya. Membuat Xiuhuan merasa dongkol saja.
Xiuhuan menerima makanan untuknya, ia kemudian berjalan ke dalam ruang makan penjara bawah tanah itu. Ia berjalan seakan hanya dia sendiri saja di ruangan itu.
“Hmm ... kenapa Aku dikucilkan begini?” gumam Xiuhuan melirik kesegala arah. Kemudian ia memutuskan duduk di kursi Ketua Geng Elang Bayangan. “Aku buat keributan saja, kalau begini terus, akan membosankan bila tak ada yang mau berbicara denganku,” gumam Xiuhuan dengan senyum lebar.
Ketua Geng Elang Bayangan dan anak buahnya memasuki ruang makan. Mereka melihat Xiuhuan senyum-senyum, seolah menantang mereka. Namun, mereka malah menjauh pergi ke tempat yang telah ditinggalkan oleh Geng Ular.
“Apa-apaan ini? Apa ini aksi mogok bicara. Kenapa semua diam, bahkan tua bangka Wang Pan juga,” gerutu Xiuhuan dalam hati.
Xiuhuan segera menghabiskan roti kering miliknya dan melempar bubur yang bentuknya seperti makanan babi saja ke wajah salah satu anak buah Wang Pan. Namun, lagi-lagi tak ada reaksi apapun dari mereka.
“Cih!” Xiuhuan mendesah kesal, ia langsung meninggalkan ruang makan penjara bawah tanah itu.
Xiuhuan baru melangkah lima puluh langkah dari ruang makan penjara bawah tanah, tiba-tiba suara di sana kembali seperti pasar. Membuat Xiuhuan tersenyum kecut, karena tak dianggap ada oleh para tahanan lain.
Ia kembali ke dalam sel-nya, melanjutkan melamun membayangkan jika suatu hari nanti ia memiliki anak yang sebenarnya tak mungkin terjadi, mengingat ular deriknya itu tak berbisa.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Gu Yao dan yang lainnya sarapan pagi di lantai bawah Penginapan. Gu Yao mengatakan ia akan segera ke Penjara bawah tanah untuk menemui Xiuhuan. Karena menunggu sepuluh hari itu sangat lama menurutnya. Seperti menunggu tahun baru kalender Kekaisaran Wei saja.
“Apa kau yakin tuan muda Yao? Ini belum sepuluh hari seperti yang diusulkan oleh nona Chen Liu,” kata Gu Qian terkejut mendengarnya.
Mendengar nama Chen Liu, membuat hati Gu Ruyan mendidih saja. Itu adalah nama yang tak ingin ia dengar selamanya, entah mengapa, ia sangat membenci wanita itu. Padahal mereka tak pernah berbicara empat mata.
“Betul!” sahut Gu He. “Apakah tuan muda memiliki rencana cadangan?” tanyanya lagi.
“Tidak ada, Aku cuma ingin berjumpa saja!” sahut Gu Yao sembari memakan tempe bacem di piringnya. Ia melihat reaksi terkejut dari mereka. “Kalian mau ikut?” katanya lagi.
“Mau bagaimana lagi, kami harus ikut. Takutnya nanti tuan muda tak pandai bernegosiasi dengannya,” sahut Gu Qian.
Gu He dan Gu Xu juga menyatakan akan ikut. Kini Gu Ruyan saja yang belum mengemukakan pendapat. Ia diam saja sambil mengaduk-aduk bubur ayam dengan sendok tanpa memakannya sama sekali.
Gu He ingin menghiburnya, namun ia tak tahu harus mengatakan apa. Karena ia belum pernah berurusan dengan wanita, sehingga tak mengerti caranya meluluhkan hatinya.
“Ehemm ....” Gu Xu berdehem, ia mengerti apa yang dipikirkan oleh Gu He saat ini. “Bagiamana kalau Yan‘er dan saudara He jalan-jalan keliling Kunming saja. Coba dulu berbelanja Hanfu terbaru atau kosmetik kecantikan, mungkin itu bisa mengubah suasana hati Yan‘er. Mengingat kita terlalu sibuk dengan pertarungan melawan Gu Lin, sehingga melupakan waktu untuk menghibur diri sesekali,” usul Gu Xu.
Gu He sangat senang mendengarnya, ia tak menyangka rekannya itu akan menemukan ide brilian begini. Kini Gu He menatap Gu Ruyan dengan penuh harap, agar wanita yang ia cintai itu setuju dengan usulan Gu Xu.
“Aku rasa itu ide yang bagus,” sahut Gu Yao. Dengan senyum ramah, ia menatap Gu Ruyan. “Bagaimana Yan‘er! Tenangkan dulu dirimu dengan refreshing dengan saudara He,“ kata Gu Yao pada Gu Ruyan.
Gu Ruyan menatap Gu Yao. “Apa yang tuan muda pikirkan. Dalam situasi seperti ini, kita harus mencari cara agar tujuan utama kita mengalahkan Gu Lin segera terlaksana—”
__ADS_1
“Bukan begitu maksud kami Yan‘er!” sela Gu Yao. “Kami hanya—”
“Sudahlah, hal tak penting itu tak perlu dibahas lagi,” sela Gu Ruyan. Ia kemudian menghela nafas dalam-dalam, kemudian berkata, “Aku sudah memutuskan akan bersedia menawarkan tubuhku pada Xiuhuan. Ini sebagai baktiku sebagai anak angkat, untuk membalaskan dendam ayah dan ibu.”
Mereka lansung terkejut mendengarnya, tiba-tiba Gu Ruyan bersedia menjadi alat tawar untuk merekrut Xiuhuan ke pihak mereka.
“Yan‘er! Jangan bodoh!” teriak Gu He tak terima ia menyerahkan tubuhnya pada Xiuhuan. “Pikirkan baik-baik, Masih banyak cara untuk merekrutnya.”
“Betul Yan‘er, kalau dia tak mau bergabung dengan kita. Toh, masih banyak Sekte yang belum kita datangi. Aku yakin, akan ada diantara Sekte-Sekte besar itu yang mau bekerjasama dengan kita.”
Gu Yao membujuknya, agar menarik kembali ucapannya. Ia yakin Gu Ruyan cuma emosi sesaat saja, sehingga tak sengaja melontarkan kata-kata itu.
“Yan gege, aku tahu kamu khawatir padaku. Namun, perjuangan kita sudah sangat lama! Apakah kamu tak khawatir dengan nasib ibu di sana?”
Gu Ruyan membuat pernyataan yang sulit dibantah oleh Gu Yao.
Gu Xu tak bisa berkata apa-apa, karena ia yang awalnya mengajukan Gu Ruyan sebagai alat tawar itu. Namun entah mengapa, setelah Gu Ruyan setuju menjadi alat tawar ia justru merasa bersalah.
Gu He yang mendengar alasan Gu Ruyan mau dijadikan alat tawar, langsung meninggalkan mereka sembari memukul meja makan di hadapannya hingga hancur berkeping-keping.
Gu Yao diam saja, ia tahu sahabatnya itu marah dan kecewa dengan keputusan Gu Ruyan itu. Ia kemudian menghela nafas dalam-dalam dan menatap wajah Gu Ruyan.
“Kita akan tunda dulu pergi ke penjara bawah tanah. Aku ingin Yan‘er memikirkan matang-matang keputusannya. Kalau Yan‘er tak berubah pikiran, maka besok Aku dan Yan‘er akan pergi menemui Xiuhuan.”
Gu Yao lansung bergegas pergi meninggalkan Gu Ruyan, Gu Xu dan Gu Qian setelah mengatakan itu.
__ADS_1
Gu Ruyan ikut berdiri juga, namun ia tak pergi ke kamarnya. Ia justru pergi ke luar Penginapan. Gu Qian langsung menyuruh anaknya untuk mengikuti Gu Ruyan, untuk memastikan keamanannya. Karena Pendekar Pedang suruhan Gu Lin juga terus memburu mereka.