
Lonceng peringatan berbunyi bertalu-talu di seantero Kota Nancheng. Semua murid Clan Lou berbaris di aula tetua masing-masing, menunggu instruksi dari guru mereka dan pembagian kelompok dalam menghadapi badai monster yang sering terjadi setiap lima tahun sekali tersebut.
Badai monster ini sebenarnya tidak terlalu berbahaya, karena yang keluar adalah monster Level rendah dan sedang saja. Namun, mereka harus dicegah agar tidak memasuki Benua Kun Lun Selatan yang dihuni oleh Kultivator pemula dan penduduk biasa; makanya seluruh Clan mengirim murid-muridnya masing-masing berpartisipasi dalam perburuan monster ini.
Penomena Badai monster terjadi karena, monster Level tinggi ingin mencari pasangan, membuat monster Level rendah dan menengah ini ketakutan.
Murid-murid Clan yang berada di tingkat Immortal Awal itu disiapkan berjaga di sepanjang perbatasan Benua Kun Lun dengan kawasan gunung Lou Feng. Seperti garis merah peta dibawah ini.
Para murid Sekte Qingyun akan memasuki kawasan gunung Lou Feng berburu monster. Murid-murid dalam akan memasuki bagian lereng gunung Kun Lun, sedangkan murid luar di daratan rendah hingga ke perbatasan Benua Kun Lun dan gunung Lou Feng.
Perburuan murid dalam akan dipimpin oleh murid spesial, sedangkan murid luar tak ada yang mendampingi.
Tak jarang banyak murid yang tewas dalam perburuan ini, karena kelompok mereka tak sanggup melawan monster Level tinggi yang berusia jutaan tahun. Beberapa murid memilih menghindar bila bertemu monters berusia jutaan tahun itu. Namun, tak jarang juga ingin melawannya; selain ingin uji nyali—harga Kristal-nya juga sangat mahal. Tentu banyak Kultivator yang tergiur, apalagi menjadi kuat itu butuh biaya tinggi juga. Motivasi saja itu belum cukup, apalagi cuma rebahan; itu cuma angan-angan menghibur diri.
***
Di halaman tetua Lou Zui, murid-murid sudah berbaris, menunggu guru mereka membagi kelompok berburu.
Apakah Xiuhuan ada diantara murid-murid itu?
Tentu saja tidak. Dia sedang mandi santai di kamar mandi. Xiuhuan mengira lonceng itu adalah pertanda bahwa sudah pagi, makanya ia santai saja.
“Sudah wangi dan tampan; mudah-mudahan hari tidak sesial kemarin,” gumam Xiuhuan melangkah keluar kamarnya. Dia berniat sarapan pagi ke restoran terdekat, karena tidak ada kantin di kawasan aula tetua Lou Zui.
__ADS_1
“Lou Mei, Lou Ni, Lou Kong, Lou Han, Lou Xiuhuan. Kalian dipimpin oleh Lou Mei dan mengisi titik K.L 013.”
Guru itu memanggil nama-nama yang masuk dalam satu kelompok yang terdiri dari lima murid. Mereka nanti akan bertanggung jawab atas satu pos perbatasan sepanjang dua ratus tombak.
“Guru! Lou Xiuhuan tidak ada?” Lou Mei mengadu—dia tersenyum lebar, karena lansung bertemu dengan pemuda tampan yang mencari masalah dengannya kemarin. “Hehehe ... lihat saja Lou Xiuhuan, aku akan menjadikanmu budakku,” gumam Lou Mei tersenyum jahat khas sinetron ikan terbang.
“Xiuhuan!”
“Xiuhuan!”
Guru itu memanggil dengan suara keras, tetapi tak ada murid yang keluar dari barisan. Sehingga ia berpikir, mungkin murid baru itu sedang tidur, karena tidak tahu ada serangan badai monster. Namun, itu adalah alasan konyol, karena semuanya orang di benua Kun Lun pasti tahu terjadi badai monster setiap Lima tahun sekali.
Xiuhuan melihat semua murid berkumpul di halaman aula tetua Lou Zui. Dia langsung panik dan menggunakan jurus Langkah Kilat untuk menyusup ke barisan. Namun, seorang guru wanita yang memiliki penglihatan mata dewa; mampu melihat Xiuhuan dalam gerakan lambat.
Dia berdiri di belakangnya Xiuhuan yang sedang menghela nafas panjang, karena mengira berhasil menyusup ke barisan.
“Astaga, ketahuan juga,” gumam Xiuhuan berbalik badan dengan senyum masam. “Benar guru; saya sakit perut gara-gara makan bakso pakai sambel cabe rawit lima mangkuk.” Xiuhuan berkilah.
Guru wanita geleng-geleng kepala mendengar alasan konyol itu.
“Cepat bergabung dengan Lou Mei. Kau satu kelompok dengannya. Guru Bro sudah memanggil-manggil namamu sejak tadi; jangan sampai ia mematahkan kakimu, karena ia mudah tersulut emosi,” kata Guru wanita itu.
Xiuhuan lansung melapor pada guru Bro dan benar saja, ia mendapatkan kata-kata mutiara. Bahkan wajah Xiuhuan dimandikan cairan berbau jengkol, yang merembes dari mulut Guru Bro yang mengoceh.
“Hihihi ... senang satu kelompok denganmu saudara Xiuhuan,” kata Lou Mei menyambutnya.
__ADS_1
“Mohon bimbingan dari senior. Kita sedang melakukan apa, ya?” Xiuhuan bertanya, karena belum tahu untuk apa kelompok kecil itu dibentuk.
Lou Mei hampir mengumpati Xiuhuan, tetapi ia tahan. Dia harus menjaga wibawanya sebagai Ratu Cantik dari aula tetua Lou Zui, yang memiliki Lima puluh budak pria tampan.
“Kita akan ke perbatasan, apa kamu tak ingat; sekarang adalah musim badai monster?” tanya Lou Mei.
“Ah, aku lupa. Baiklah mari kita berangkat senior Mei,” sahut Xiuhuan berpura-pura paham. Dalam hatinya ia cukup mengikuti apa yang mereka kerjakan saja nantinya.
Lou Mei membawa kelompoknya itu keluar melalui gerbang selatan. Sebelum pergi, ia memerintahkan ketiga murid pria yang juga budaknya itu membeli makanan dan minuman untuk bekal mereka di pos perbatasan. Begitu juga dengan Xiuhuan ia membeli sendiri makanannya, ia juga menyempatkan diri menuju Aula Besi kembali, untuk membeli Kapal terbang, karena kemarin ia lupa membelinya.
“Hei Xiuhuan! Kami sudah lelah menunggumu. Apa kamu ingin membuat timku ini mendapat nilai minus, ya?” Lou Mei marah-marah, karena Xiuhuan terlambat lagi berkumpul di luar gerbang selatan kota Nancheng.
“Hei Mei cantik! Apa susahnya menunggu sesaat; tak usahlah kau marah-marah. Nanti wajah cantikmu tak enak dipandang,” goda Xiuhuan.
Lou Mei terkejut, ia tak menyangka Xiuhuan seberani itu menggodanya. Padahal tak ada laki-laki yang berani macam-macam padanya di aula tetua Lou Zui. Kecuali murid peringkat dua Clan Lou yang tergila-gila padanya, tetapi Lou Mei menolak cintanya. Karena berpikir laki-laki hanya perlu diperbudak dan diperintah seperti kerbau.
Lou Mei sendiri berada di peringkat 30 dalam daftar peringkat murid terkuat Clan Lou dan peringkat pertama murid tetua Lou Zui.
Ketiga budak Lou Mei lansung bersiap menghajar Xiuhuan, karena berani berbuat kurang ajar pada Ratu Mei mereka.
Xiuhuan terkejut dengan reaksi mereka; tak mengira ketiga rekannya yang lain, ternyata budak Lou Mei.
“Kalian tak perlu menghajarnya untuk saat ini. Karena tenaganya diperlukan untuk menghadapi monster. Namun, saat pulang dari perbatasan, kalian boleh membuatnya babak belur agar dia tahu; Ratu Mei adalah penguasa di aula tetua Lou Zui.”
Lou Mei mencegah ketiga budaknya bertindak dan langsung memerintahkan mereka mengeluarkan Kapal terbang untuk bergegas ke perbatasan.
__ADS_1
Xiuhuan juga mengeluarkan Kapal terbang miliknya dan mengikuti Kapal terbang mereka. Karena ia tidak tahu di mana tempat mereka mendarat nanti.
...~Bersambung~...