Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Mampir ke Desa Mei-Mei


__ADS_3

“Mei‘er ayo bangun! Kita akan keluar dari makam ini.” Xiuhuan memukul lembut kedua pipi tembem Mei-Mei.


Mei-Mei bangun dan tersenyum menatap Xiuhuan. Hingga akhir ini ia masih merasa seperti bermimpi telah menikahi Xiuhuan.


“Kita mau ke mana Xiuhuan gege?” tanya Mei-Mei sembari berdiri dengan bantuan Xiuhuan yang menarik tangannya.


“Kita akan ke Kerajaan Sin di Utara. Aku dengar di sana banyak salju, kita harus segera ke sana,” sahut Xiuhuan.


“Sekarang sedang musim semi. Tidak ada salju di sana sayang,” kata Mei-Mei mengikuti Xiuhuan yang menghancurkan reruntuhan batu yang menghalangi jalan mereka.


Xiuhuan sedikit kecewa mendengarnya, karena ia ingin buru-buru ke Utara agar bisa melihat salju juga. Tak berselang lama mereka sudah keluar dari makam Immortal Lou Yun.


Tak ada murid-murid berbagai Sekte yang berkumpul di halaman makam. Karena mereka semua telah kembali ke Sekte masing-masing.


Keduanya lansung melesat memasuki wilayah Kekaisaran Wei. Saat sedang melamun, Xiuhuan teringat kalau Mei-Mei berasal dari Sekte kecil di dekat perbatasan itu.


“Di manakah kampung halamanmu Mei‘er? Bukannya kamu berasal dari wilayah sekitar sini?” Xiuhuan menatap Mei-Mei yang tengah asyik melamun dengan senyum-senyum sendiri.


“Apakah Xiuhuan gege ingin mengunjungi desaku? tetapi Aku ini yatim-piatu, sewaktu kecil aku cuma di asuh oleh bibiku saja. Tapi aku yakin ia akan senang mengetahui aku telah menikah. Karena sebelum aku memasuki Sekte, ia telah mencarikan aku beberapa pria, tetapi semuanya menolak meminangku setelah mengetahui ternyata aku memiliki kelebihan berat badan.” Mei-Mei tampak sedih mengingat masa-masa itu.


“Berarti itu bagus dong mereka menolakmu. Jadi, kamu akhirnya bertemu denganku. Coba kalau kamu diterima menjadi istri salah satu pria itu, maka sekarang kamu sedang sibuk mengurus anakmu yang super nakal. Dengan wajah mirip kamu, tubuh mirip ayahnya, nakalnya level seratus,” ejek Xiuhuan.


“Apakah aku seperti itu dimata Xiuhuan gege?” Mei-Mei lansung memeluk Xiuhuan dengan keras, sehingga terdengar bunyi tulang-tulang yang patah dari tubuhnya. “Rasakan itu pelukan cinta,” katanya lagi. Untung saja Xiuhuan adalah Pendekar Pedang, sehingga ia bisa meregenerasi tulang-tulangnya yang patah tadi, tetapi tetap juga meninggalkan rasa sakit yang lumayan bikin ngilu.


Keduanya berjalan saat memasuki gerbang desa yang dijaga oleh dua Pendekar Pedang. Satu Pendekar Pedang dengan dua giginya sangat panjang, sehingga mirip kelinci dan juga memiliki panggilan Kelinci hitam, karena kulitnya agak gelap. Dia juga penggemar rahasia Mei-Mei.

__ADS_1


Kelinci gelap ini sangat kecewa dulu pada Bibi Mei-Mei, karena ia hanya berusaha menjodohkan Mei-Mei dengan pria tampan saja. Makanya Mei-Mei selalu ditolak, hingga akhirnya memutuskan memasuki sebuah Sekte yang tak jauh dari desa mereka itu.


Kelinci gelap setiap hari tebar pesona di restoran Mie ramen milik bibi Mei-Mei itu. Namun yang dilirik oleh Bibi Mei-Mei adalah sahabatnya yang berwajah tampan dan berusaha menjodohkannya dengan Mei-Mei.


Sahabat Kelinci hitam yang bernama Haoren itu juga menolak tawaran bibi Mei-Mei agar ia menikahi Mei-Mei. Bukan karena tak mau, tetapi karena tak ingin menyakiti perasaan Kelinci hitam yang kadung cinta mati pada Mei-Mei.


“Halo ... Aku Mei-Mei akan memasuki desa dengan suamiku,” kata Mei-Mei pada Haoren, Pendekar Pedang tampan yang pernah dijodohkan dengannya itu. Namun, berakhir gagal.


“Su-suami?”


Kelinci gelap dan Haoren terkejut mendengarnya, baru juga beberapa bulan yang lalu ia memasuki Sekte kecil, tiba-tiba saja pulang sudah membawa suami.


“Di mana suamimu Mei‘er?” tanya keduanya serentak, karena penasaran seperti apa suami Mei-Mei yang memiliki selera tinggi itu. Ia hanya mau dijodohkan dengan pria tampan saja, padahal wajahnya tak mendukung untuk melakukan itu.


“Ah, aku tidak kelihatan, ya?” sahut Xiuhuan yang berdiri di sebelah Mei-Mei dengan senyum lebar menatap keduanya.


“Hei kata-katamu itu sungguh menyakitkan kisanak!” sahut Mei-Mei lansung merangkul tangan Xiuhuan. “Babang tampanku ini jatuh cinta karena aku memiliki tubuh imut di matanya. Buktinya kalau dia berbicara denganku ia pasti mencubit pelan pipi menggemaskan ini,” katanya lagi.


Xiuhuan tersenyum lebar, ia baru sadar memang sering mencubit pelan pipi bakpao Mei-Mei. Mungkin itulah daya tarik tersendiri darinya.


Kelinci gelap lansung terkulai lemas, membuat Haoren lansung menyandarkan tubuhnya ke tembok gerbang desa. Dia meminta Mei-Mei untuk menyadarkan Kelinci hitam, karena ia cinta mati padanya. Namun Mei-Mei menolak dan lebih memilih lansung menuju restoran milik bibinya.


Sebelum Mei-Mei dan Xiuhuan sampai di restoran ramen. Kabar Mei-Mei menikahi pria tampan telah menyebar seperti air bah. Bahkan bibinya sudah mendengar kabar itu.


Dia sangat senang dan memutuskan menutup restoran untuk hari ini. Ia sudah tak sabar ingin melihat, setampan apa suami Mei-Mei itu.

__ADS_1


“Akhirnya Mei-Meiku telah menggapai impiannya,” gumam bibi Mei-Mei itu dengan berlinang air mata.


Dari kejauhan Mei-Mei melambaikan tangan padanya, di sebelahnya tampak pria sangat tampan senyum-senyum padanya juga.


“Kenapa bibi menangis? Apakah ada bandit yang merusak restoran bibi atau ada yang memalak bibi. Biar Mei-Mei menghajar mereka,” kata Mei-Mei mengeluarkan Siluet Kingkong Raksasa dengan aura intimidasi yang cukup besar.


Para penduduk desa sangat kagum melihatnya, tak menyangka Mei-Mei akan sekuat itu, padahal baru beberapa bulan meninggalkan desa.


“Ka-kamu kuat sekali Mei‘er! Apakah Sektemu sangat hebat mengajarimu,” tanya Haoren datang menyusulnya dengan kelinci gelap yang diam saja memasang wajah cemberut.


“Bukanlah. Mana bisa Sekte kecil itu mengubah seseorang menjadi kuat dalam sekejap. Tentu saja itu berkat bantuan suamiku yang merupakan Pendekar Pedang tahap Melawan Kehendak Langit.” Mei-Mei pamer kehebatan Xiuhuan pada penduduk desa.


“Ya, dewa. Mimpi apakah Mei-Mei sehingga seberuntung itu. Mendapat suami tampan dan kuat lagi,” bisik-bisik gadis desa yang iri pada Mei-Mei.


Xiuhuan tak dapat berkata apa-apa, ia hanya senyum-senyum saja.


“Menantuku!” Bibi Mei-Mei merangkul tangan Xiuhuan, sehingga boing-boing miliknya menempel pada tangan Xiuhuan yang membuat sesuatu miliknya lansung tegang. “Hei, kalian semua bubar-bubar. Kerja sana, jangan bermimpi terlalu tinggi, ya? Nanti akan berujung kecewa,” katanya lagi.


Bibi Mei-Mei yang berusia 49 tahun itu lantas menggiring Xiuhuan ke dalam restoran ramen. Mei-Mei tampak cemberut melihat tindakan bibinya itu. Karena bibinya masihlah seorang gadis suci yang belum pernah menikah. Sejak kematian ibunya, bibinya itu memutuskan merawat Mei-Mei seorang diri.


“Bibi jangan lengket-lengket begitu?” Mei-Mei berusaha melepaskan rangkulan bibinya. “Xiuhuan gege juga, jangan menikmatinya. Tampak seperti pria mesum saja!” keluh Mei-Mei.


Bibinya tersenyum melihat kecemburuan Mei-Mei. “Bukannya bagus bibi menjadi selirnya Mei-Mei. Jadi, kita bisa bersama selamanya,” godanya lagi.


“Bibibiiiii!” teriak Mei-Mei, takut Xiuhuan tergoda dengan rayuan bibinya. Karena bibinya itu masih tampak cantik seperti gadis umur tiga puluhan, cukup awet muda dari usia aslinya.

__ADS_1


...⚔️Bersambung⚔️...


__ADS_2