
“Senangnya dalam hati ... bila beristri dua ....” Xiuhuan bernyanyi sambil mandi untuk membersihkan dirinya, karena sudah melewati malam yang dimimpi-mimpikan oleh para jomblo sepulau Niao.
“Guru ayo cepat berkumpul, makanannya nanti keburu dingin!” teriak Shuyan menggedor-gedor pintu kamar Xiuhuan.
Perlu diketahui, kamar di aula timur itu memiliki kamar mandi masing-masing. Cukup canggihlah, di jaman itu.
“Iya ... iya, kau panggil saja dulu Huanran. Dia sudah selesai tadi berkultivasi!” sahut Xiuhuan dari dalam.
“Wah, hebat juga kakak Huanran,” guman Shuyan sambil berlari ke lantai tiga menemuinya.
Sementara itu Huanran telah selesai mandi, ia kemudian memeriksa lemari pakaiannya dan memilah-milah puluhan pakaian pemberian ibunya.
Sebenarnya ibu Huanran sangat menyayanginya, namun ia tak menunjukkannya. Karena seisi istana, termasuk Sang Raja tak menyukainya. Ibunya takut nanti ia didepak dari selir dan menjadi rakyat biasa lagi. Karena awalnya ia hanya rakyat biasa, namun Raja Qian Xun jatuh cinta akan kecantikannya dan akhirnya mengangkatnya menjadi selir.
Saat membolak-balik pakaian itu, akhirnya mata Huanran tertuju pada Hanfu putih dengan motif Naga yang disulam dengan benang berwarna emas.
“Wah, ini sangat cocok buatku, persis melambangkan Roh Pedang Naga Putih,” guman Huanran kegirangan. Ia langsung mengenakannya. “Apakah guru akan memujiku, ya?” Pikirnya lagi, setelah ia bercermin di kaca. Ia melihat sosok yang begitu cantik di kaca itu. Seperti kalian yang merasa tampan saat berkaca di cermin.😁
“Kakak Huanran!”
Shuyan menggedor-gedor pintu kamar Huanran. Karena penasaran dengan Roh Pedang apa yang dimilikinya.
Huanran membuka pintu kamar dengan senyum lebar, membuat Shuyan terbelalak melihatnya.
“Kakak kau mau kemana? Kenapa berdandan cantik?” tanya Shuyan, “Eh, apa Roh Pedangmu?” katanya lagi.
“Coba tebak?” sahut Huanran sambil berputar, motif Naga berwarna emas tampak dipunggungnya.
“Jangan-jangan Naga?” Shuyan menebak.
Huanran tersenyum dan menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
“Wah, akhirnya kau mendapatkan Roh Pedang yang sangat kuat!” Shuyan memujinya. Huanran tetap senyum-senyum senang dipuji oleh Shuyan.
Keduanya kemudian turun kelantai bawah, ternyata Xiuhuan telah maka lebih dulu tanpa menunggu mereka lebih dulu.
“Guruuuuu! Kau tidak boleh begitu!” teriak Shuyan memarahi gurunya.
Di Sekte Teratai Biru, cuma Xiuhuan mungkin yang sering dimarahin oleh muridnya sendiri atas kelakuannya yang tak mencerminkan seorang guru yang baik.
“Wah kau cantik sekali Huanran! Cocoklah menjadi Ratu masa depan!”
Xiuhuan mengalihkan pembicaraan dengan memuji Huanran, yang tampak senang mendapat pujian dari gurunya itu.
Shuyan lansung cemberut tak mendapatkan respon dari Xiuhuan.
“Hahaha ... sini, dudu disebelah guru. Biar guru suapin!” Xiuhuan menggoda Shuyan yang cemberut.
Gadis 10 tahun itu kemudian mendekatinya dengan kedua pipinya dikembungkan. Huanran juga ikut duduk disebelah Xiuhuan kemudian mereka makan bersama.
Xiuhuan mengingat, setiap setahun sekali akan ada kompetisi dalam Sekte Teratai Biru. Tiap murid dilevel yang sama akan diadu untuk memilih yang terhebat di antara seluruh murid. Nanti tiap-tiap terkuat dilevelnya akan mendapatkan hadiah sumberdaya terbaik dari Sekte dan 1000 keping emas.
“Tentu ikut dong, aku mau membakar lawan-lawanku,” sahut Shuyan berapi-api.
“Baiklah kita lansung ke sana saja. Sambil jalan-jalan ke Kota Hua.”
Xiuhuan membawa kedua muridnya itu ke aula utama untuk mendaftarkan mereka ikut kompetisi Sekte Teratai Biru. Sedangkan murid yang lainnya masih belum selesai berkultivasi.
***
Beberapa tetua telah sampai duluan di aula utama mengisi formulir pendaftaran untuk murid mereka yang akan ikut kompetisi itu.
Ada satu yang membuat janggal para tetua. Yaitu, saat Xiuhuan memasuki aula utama, Xiao Liu yang tadi banyak bicara, tiba-tiba saja menjadi pendiam.
__ADS_1
Xiao Liu tak mau melihat ke arah Xiuhuan, ia selalu berpura-pura sibuk. Xiuhuan yang menyadarinya senyum-senyum sendiri, ia tahu tetua caktik itu malu melihatnya.
“Tumben kau kemari tetua keenam!” sapa Xiao Lang padanya, karena sejak 20 tahun menjadi tetua, baru kali ini Xiuhuan ikut mendaftarkan muridnya ikut kompetisi Sekte.
“Tentu saja aku ikut kali ini, tetua pertama. Aku ingin menunjukkan pada kalian, bagaimana seorang guru yang berkualitas itu sebenarnya!” sahutnya dengan sombong.
“Jangan terlalu sombong tetua keenam, aku tahu kau menemukan beberapa murid jenius diluaran sana. Tapi kau hanya membiarkan mereka seperti anak ayam yang kehilangan induknya!” sindir tetua keempat yang mendaftarkan lumayan banyak muridnya.
“Ada pepatah, saat anak ayam itu sendirian, ia akan menjadi monster agar tak dimakan oleh predator!” Xiuhuan tak mau kalah.
“Mana ada pepatah kayak begitu! Palingan karanganmu saja!” seru tetua ketiga lagi.
Xiuhuan hanya tertawa dan meninggalkan ruangan itu karena akan mengajak Shuyan dan Huanran jalan-jalan ke Kota Hua.
“Tetua kedua kau mau ikut jalan-jalan?” ajak Xiuhuan basa-basi, karena Xiao Liu masih diam saja, ia tak ikut dengan perdebatan konyol mereka tadi.
“A-aku ikut Suamiku!” sahut Xiao Liu pelan dan menghampiri Xiuhuan.
“Apaaaaaaaa!” semua tetua kaget mendengarnya.
“Ka-kapan kau menikah Liu‘er?” tanya Xiao Lang kakaknya itu.
“Kan, aku bilang kemarin akan melakukan ritual bersama tetua keenam,” jawabnya dengan polos. “Jadi, kami sekarang sudah resmi menjadi suami istri dan masalah dengan Clan Yin akan beres,” katanya lagi.
Xiao Lang dan lainnya geleng-geleng kepala mendengarnya. Mereka tak menyangka Xiao Liu malah memilih Xiuhuan sebagai suami palsunya. Padahal tetua yang lain tak kalah tampan dan berbudi luhur lagi.
Xiuhuan yang menyadari pikiran mereka hanya tersenyum masam saja dan buru-buru meninggalkan tempat itu, agar tak menjadi bahan ceritaan yang membuat panas kupingnya.
Xiao Liu juga mengikutinya. Kini, mereka mencoba menebar kemesraan di muka umum, agar semua pihak yakin mereka adalah pasangan suami istri.
Bersambung ...
__ADS_1