
“Ketua Lin! Sepertinya bocah itu telah kembali. Ada banyak pengunjung baru di kota ini beberapa hari belakangan. Belum lagi ada yang melakukan penyanderaan di restoran Kao Ji,” kata tetua pertama pada Gu Lin di kediaman utama Clan Gu.
“Kamu terlalu khawatir tetua pertama!” sahut Gu Lin dengan senyum tipis, ia tak mengira tetua pertama datang ke sini hanya melaporkan kejadian kecil itu saja. “Apa karena sudah sepuh begini, Anda menjadi lemah, sehingga takut pada ancaman bocah ingusan itu?” ejek Gu Lin lagi.
Tetua pertama hanya menghela nafas panjang, karena Gu Lin tetap seperti biasanya yang selalu menyepelekan ancaman yang muncul di kota Yannan.
Gu Lin tak yakin ada Pendekar Pedang level tinggi yang mau membantu Gu Yao. Kalaupun ada mereka akan mundur kembali, setelah mengetahui ia didukung oleh salah satu tetua dari Sekte Bambu Kuning, yang merupakan Pendekar Pedang tahap Melawan Kehendak Langit.
Gu Lin menatap sesaat wajah sepuh tetua pertama. “Baiklah perintahkan saja lebih banyak anggota Clan ke sana untuk menerobos masuk. Lagi pula aku juga sedikit penasaran, apa motif Pendekar Pedang itu melakukan penyanderaan di restoran Kao Ji itu,” katanya akhirnya menuruti permintaan tetua pertama.
Tetua pertama lansung undur diri dan memerintahkan seratus Pendekar Pedang Clan Gu mengepung dan mencoba menerobos perisai air yang melapisi restoran Kao Ji.
Tetua pertama merasa peristiwa di restoran Kao Ji itu bukanlah kriminal biasa, ia takut justru ini baru permulaan peristiwa besar yang akan menyertainya.
Karena Ketua Clan acuh tak acuh dengan kejanggalan yang muncul di kota Yannan ini. Dengan terpaksa, tetua pertama menggerakkan anggota Clan Gu bawahannya.
Tindakan tetua pertama ini mendapat sindiran dari tetua lain. Mereka menyindir tetua pertama mencari muka saja di hadapan ketua Clan. Mereka mengatakan penomena membludaknya pengunjung ke kota Yannan dan peristiwa penyanderaan di restoran Kao Ji adalah hal yang perlu ditanggapi dengan serius, karena itu cuma peristiwa kecil saja.
***
“Ah, kenyangnya!” seru Xiuhuan sambil mengelus-elus perutnya setelah dibuatkan makanan yang banyak oleh Pelayan restoran Kao Ji.
Xiuhuan tersenyum melihat para Pendekar Pedang Clan Gu mencoba menerobos perisai air yang ia buat. Namun hal itu hanya sia-sia saja, karena mereka tak akan sanggup melakukannya. Kecuali mereka lebih kuat dari Xiuhuan.
Malamnya Gu Yao bergerak menuju kota Yannan bersama ribuan Pendekar Pedang Clan Gu pendukungnya.
__ADS_1
Mereka melesat dengan cepat dalam kegelapan malam itu. Para Pendekar Pedang yang telah lama menyusup ke barisan pendukung Gu Lin atau tetua lainnya. Diperintahkan untuk mengenakan pita putih dilengan mereka besok pagi, agar mereka tak menjadi sasaran target dalam penyerbuan itu.
***
“Tuan Xiuhuan! Kita ngapain di sini? Aku sudah bosan melamun terus, apakah di luar sana sudah mulai pertarungannya atau masih belum,” gerutu Gu Ruyan.
“Saat ini masih malam, tapi kita telah menarik perhatian banyak Pendekar Pedang. Aku yakin kediaman Ketua Clan Gu dan para tetua saat ini tak dijaga ketat. Dengan demikian, kita telah membantu tuan mudamu itu,” sahut Xiuhuan memberi alasan, kenapa ia tak keluar dari restoran Kao Ji itu.
Gu Ruyan mengangguk tanda mengerti, sedangkan Gu Yue menyadari, ternyata Xiuhuan dan Gu Ruyan bukanlah Pendekar Pedang yang akan melawan Gu Lin, namun mereka hanya penarik perhatian saja.
Xiuhuan tersenyum menatap Gu Ruyan, membuatnya menjauh dari Xiuhuan, ia merasa senyuman Xiuhuan itu pasti ada maunya.
“Yan‘er ... bukannya kamu bilang bosan di sini. Aku rasa lantai tiga restoran ini tak ada orang. Bagaimana kalau kita sparring sebentar menghangatkan tubuh.” Xiuhuan menggoda Gu Ruyan untuk memecahkan keheningan di ruangan itu.
Walaupun ada banyak Pelayan dan Pemilik restoran di sana, namun tak ada yang berani bersuara kalau tak ditanya Xiuhuan. Itupun jawaban mereka singkat dan padat, sehingga Xiuhuan kesulitan mengajak mereka berkomunikasi.
Xiuhuan tersenyum kecus, Gu Ruyan tak menanggapi candaannya.
Setelah melewati banyak waktu bersama Xiuhuan, Gu Ruyan mulai berani membantah beberapa permintaannya yang Gu Ruyan anggap tak masuk akal. Ia berani melawan, karena telah menyadari Xiuhuan bukanlah Pendekar Pedang yang mudah marah, walaupun ia memiliki sifat yang mesum.
Beberapa kali Xiuhuan terdiam karena Gu Ruyan tak mau menuruti keinginannya. Awalnya Gu Ruyan sempat ketakutan akan mendapat hukuman, namun ternyata Xiuhuan tak melakukan apa-apa.
“Kalau kamu tak mau yasudah, Aku mengajak Gu Yue saja.” Xiuhuan menatap Gu Yue dengan senyum menyeringai, seperti kucing yang siap menerkam mangsanya saja.
Gu Yue panik, ia mundur beberapa langkah ke belakang dan menatap Gu Ruyan agar menolongnya.
__ADS_1
Gu Ruyan yang menyadari ketakutan Gu Yue menarik jubah Xiuhuan.
“Tuan Xiuhuan tak boleh begitu, dia tetaplah anggota Clan Gu. Sehingga masalah ia telah menyerahkan tubuhnya pada tuan Xiuhuan. Bisa tuan bicarakan dengan tuan muda Yao lebih dulu. Untuk saat ini, tolong tuan tahan dulu.” Lagi-lagi Gu Ruyan mencegah Xiuhuan melahap Gu Yue. “Kenapa tak pakai kekuatan sabun colek lima jari saja!” ejek Gu Ruyan dengan tawa cekikikan.
“Ide brilian,” sahut Xiuhuan lansung bergegas ke kamar mandi, karena perutnya mules akibat terlalu banyak makan.
Gu Ruyan dan Gu Yue saling berpandangan. Pikiran mereka saat ini sedang traveling membayangkan apa yang dilakukan oleh Xiuhuan di kamar mandi.
Setelah berpikir sejenak, kedua tersenyum. Gu Ruyan tak menyangka Xiuhuan akan melakukan masukan yang terlintas begitu saja dipikirannya itu. Padahal sebenarnya mereka sedang salah sangka, Xiuhuan hanya membuang nutrisi yang tak diperlukan saja.
***
Hawa dingin pagi hari di kota Yannan membuat Pendekar Pedang Clan Gu yang berjaga di gerbang masuk kota ketiduran, mereka tak melaksanakan tugas mereka dengan baik, karena mengira tak akan ada yang menyerang kota Yannan pagi-pagi begini.
Gu He mendekati pos pemeriksaan, ia melihat sepuluh Pendekar Pedang tengah tertidur pulas.
“Cih, dasar Pendekar Pedang makan gaji buta,” umpat Gu He dalam hati sembari mengeluarkan Pedang Rohnya.
Tanpa ada suara apapun, di dalam pos gerbang masuk kota Yannan itu telah tergeletak Pendekar Pedang dengan kepala terlepas dari raga mereka.
Tak berhenti sampai di situ, ia langsung bergegas ke kediaman tetua kedua bersama dua ratus Pendekar Pedang bersamanya.
Gu Qian juga membawa dua ratus Pendekar Pedang menuju kediaman tetua pertama. Ia ingin menuntaskan dendam lamanya, karena dulu ia dikalahkan oleh tetua pertama saat mencoba membela Ketua Clan yang lama.
Gu Qian masih mengingat dengan jelas peristiwa itu, di mana istrinya ikut tewas agar Gu Qian dan Gu Xu bisa kabur setelah ia terluka parah dibuat oleh tetua pertama.
__ADS_1
“Tetua pertama! Dendam diantara kita akan dituntaskan hari ini,” gumam Gu Qian mengepal tangannya.
...⚔️Bersambung⚔️...