
Jiang Meng mencium kaki Xiuhuan sambil berkata, “terimakasih senior! terimakasih senior!”
Xiuhuan terkejut melihat tindakannya. Ya, hal yang wajar pihak yang lemah melakukan itu pada pihak yang kuat. Xiuhuan bahkan pernah melakukan itu saat ia masih kecil, ketika diusir dari Clan Wei.
“Hei, kau gadis berambut merah, jangan senang dulu. Ujian berikutnya akan lebih sulit kau pilih.” Xiuhuan mundur selangkah dari Jiang Meng.
“A-apa itu senior!” sahut Jiang Meng menatap Xiuhuan dengan tatapan iba.
“Bantu Aku menyingkirkan rekan-rekanmu itu!” seru Xiuhuan dengan senyum lebar, ia tahu Jiang Meng akan sulit membuat keputusan—antara persahabatan atau keselamatan dirinya.
Wu He dan yang lainnya menatap tajam pada Jiang Meng, mereka mengeluarkan aura pembunuh yang sangat kuat. Namun, Jiang Meng telah membulatkan tekadnya, demi keselamatan dirinya dia rela bersekutu dengan musuh mereka.
“Aku akan bersama senior membunuh mereka!” sahut Jiang Meng mengambil Pedang mirip Katana miliknya.
“Oo, kau lansung jinak, aku suka! aku suka!” canda Xiuhuan lansung melesat ke arah Wu He yang sebenarnya mampu mengalahkan Kloning Manusia Air. Namun, Kloning Manusia Air itu muncul kembali setelah ia hancurkan. Begitu juga dengan rekan-rekannya yang lain.
Palu Raksasa milik Xiuhuan menimpuk Wu He, tetapi lansung ditangkis dengan Trisula Mahadewa miliknya, yang merupakan senjata pusaka tingkat rendah.
Wu He terdorong beberapa langkah kebelakang, sedangkan Palu Tur Penghancur Semesta milik Xiuhuan malah retak dan hancur berkeping-keping.
“Ah, sayang sekali. Itulah kalau barang murah, gampang rusak,” sesal Xiuhuan melihat kepingan Palunya.
Di sisi lain, Jiang Meng yang memiliki Elemen Besi dan Angin segara melakukan teknik unik, mirip dengan teknik penggabungan dengan Roh Pedang di daratan utama. Namun bedanya, Jiang Meng melapisi tubuhnya dengan qi Elemen Besi.
Jiang Meng lansung menghilang dari posisi berdirinya, dia lansung muncul di hadapan Xiao Yan yang sedang meng-kapak Kloning Manusia Air.
Xiao Yan merasakan, niat membunuh yang kuat muncul di punggungnya, sehingga ia lansung mengayunkan Kapaknya ke belakang.
Booommmm!
Kapak raksasa yang merupakan senjata pusaka tingkat rendah miliknya bertemu dengan Katana milik Jiang Meng, yang juga senjata pusaka tingkat rendah.
__ADS_1
“Saudari Meng, dasar kau lacur pengkhianat!—Walaupun kami kalah di sini, tetapi jangan harap bisa keluar dari sini hidup-hidup, Nona Ketua pasti akan memburumu hingga ke lubang jarum sekalipun.” Xiao Yan mengancamnya.
“Aku sudah memiliki tuan yang sangat kuat yang memiliki Pedang Penghancur Semesta. Nona Ketua, hanyalah semut ditangannya,” sahut Jiang Meng melayang di udara dan menukik menusuk Xiao Yan yang harus melawan Kloning Manusia Air juga.
Xiao Yan yang sudah sering melakukan pembunuhan diam-diam di Clan Xiao, apalagi saat musim badai monster berlangsung. Dia akan membunuh rekan satu kelompoknya dan kelompok di sekitarnya—Xiao Yan tahu dari arah mana datangnya serangan Jiang Meng.
Xiao Yan bergeser beberapa langkah, sembari menghindari tebasan pedang kloning manusia air.
Booommmm!
Katana milik Jiang Meng menghujam lantai hingga hancur berkeping-keping. Dia lansung menghilang dari pandangan Xiao Yan yang lansung mengayunkan Kapaknya.
“Sial! lacur ini cepat sekali gerakannya,” keluh Xiao Yan.
“Hebat juga iron girls itu,” gumam Xiuhuan mengganti senjata ke tongkat bambu berusia satu juta tahun miliknya yang patah saat melawan badai monster dahulu. Kini tongkat bambu itu telah disambung kembali oleh pandai besi ternama di Clan Lou, sehingga bisa digunakan lagi. Namun, upah menempanya lebih mahal daripada harga aslinya, tetapi tetap ia tempa, karena ia sangat menyukai tongkat bambu itu.
Tongkat bambu itu telah setara dengan senjata pusaka tingkat rendah, karena proses penempaannya menggunakan kristal monster Harimau Shenmi, yang ia bunuh saat badai monster.
Jiang Meng mempercepat langkahnya dan melakukan tebasan bertubi-tubi, yang semuanya lansung ditangkis oleh Xiao Yan dengan kapak besarnya.
“Bagaimana dengan ini? Apakah kau masih bisa menghindar Xiao Yan!” cibir Jiang Meng memunculkan Siluet sepuluh Pedang yang melayang di atasnya.
“Mainan seperti itu, tak akan mampu menggores kulitku,” sahut Xiao Yan, yang tangan kirinya berubah menjadi batu besar, karena ia berelemen tanah.
“Sombong!—dua lawan satu, tak mungkin kau akan menang!” seru Jiang Meng menggerakkan Pedang terbang itu dengan benang qi, dan ia juga lansung melesat menebas Xiao Yan yang meninju serta meng-kapak Jiang Meng.
Ledakan-ledakan beruntun terjadi, beberapa luka sabetan muncul di punggung Xiao Yan. Itu dilakukan oleh Kloning Manusia Air, karena ia tak bisa membalikkan badannya—Jiang Meng terus melakukan tebasan bertubi-tubi dari depan.
“Ah, sial! Kenapa mereka tak membantuku,” gerutu Xiao Yan menoleh ke arah rekannya yang lain. “Sialan, hanya tinggal Lin Dong dan Wu He saja lagi.” Xiao Yan terkejut.
Saat ini Lin Dong sedang menghadapi lima Kloning Manusia Air, sedangkan Wu He menghadapi Xiuhuan.
__ADS_1
Empat Kloning Manusia Air segera melesat menuju Xiao Yan, membantu Jiang Meng.
“Maaf saudara Yan, matilah demi Aku. Kita ini hanyalah pion yang digerakkan oleh mereka yang terkuat. Kenapa kita tak seperti air saja, mengikuti arus, daripada ingin mencapai langit yang akhirnya jatuh juga.” Jiang Meng membujuknya.
Xiao Yan berhenti menyerang Jiang Meng.
“Tak mungkin Aku berkhianat dan bergabung dengan pembunuh Xiao Yue yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Kalau saudari Meng yakin Pemuda itu akan memberikan perlindungan padamu, aku akan menyerahkan kepalaku padamu,” kata Xiao Yan bertekuk lutut di hadapan Jiang Meng, ia juga melepas Kapak raksasa dari genggamannya.
Jiang Meng kembali ke bentuk semula, mengenakan hanfu putih. Dia meneteskan air matanya dan berkata, “Maafkan aku Saudara Yan. Aku ingin hidup normal!”
“Ya, lakukanlah. Pergilah sejauh mungkin dari Benua Kun Lun dan temukan pria yang mencintaimu,” sahut Xiao Yan menutup matanya.
Katana milik Jiang Meng segera melesat dan memotong leher Xiao Yan. Kepalanya lansung menggelinding di lantai.
“Saudara Yan!” teriak Lin Dong, lansung membabi buta menombak Kloning Manusia Air, ia menatap Jiang Meng dengan tatapan penuh kebencian.
Jiang Meng bertekuk lutut sembari menjadikan katana-nya sebagai tumpuan.
“Maafkan Aku saudara Yan.”
“Maaf ....”
“Aku hanya ingin hidup!” teriak Jiang Meng menangis sekencang-kencangnya.
Xiuhuan yang menghampiri Wu He yang sengaja ia buat sebagia lawan terakhir itu, tersenyum mengejek padanya.
“Aku hampir menangis melihat drama keluarga itu. Apakah kita harus rehat sejenak,” canda Xiuhuan.
Wu He menatap tajam Xiuhuan, ia memang merasa tak akan memenangkan pertarungan itu dan mengeluarkan artefak khusus yang berfungsi melaporkan bahwa mereka tak sanggup menghadapi lawan mereka.
Jiang Meng membelalakkan mata melihatnya, membuat Xiuhuan terkejut. Apa sebenarnya fungsi artefak ditangan Wu He itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...