
“Kenapa Lou Rou ingin membunuh kita?” Lou Mei bertanya pada Xiuhuan yang geleng-geleng kepala, karena ia juga tak mengenali wanita itu, tetapi ia menduga Lou Rou adalah komplotan aliran hitam yang menyusup menjadi murid di Clan Lou.
“Lebih baik kita melanjutkan perjalanan ke kota Bianjie, takutnya nanti bandit gunung makin meresahkan penduduk di sana,” sahut Xiuhuan mengambil cincin dimensi milik Lou Rou.
Lou Mei terkejut melihat tindakan Xiuhuan, tetapi ia tak melerainya. Karena menjadi Kultivator itu membutuhkan biaya yang sangat tinggi.
“Lalu ... kita apakan tubuh Lou Rou ini?” Lou Mei merasa kasihan juga melihat tubuh rekan satu sektenya itu akan di makan oleh burung pemakan bangkai yang telah meliuk-liuk di atas mereka.
“Bakar saja dengan apimu itu?” sahut Xiuhuan berbalik badan, dan mengeluarkan Kapal terbang miliknya.
Xiuhuan lebih dulu naik ke atas Kapal terbang, sedangkan Lou Mei mengkremasi Lou Rou dan memasukkan abunya ke sebuah guci kecil. Dia berencana memberitahu tetua Lou Zui peristiwa ini.
“Jangan bersedih begitu, Mei‘er! Memang sulit saat pertama kali membunuh seseorang, walaupun secara teknis bukan kau yang membunuhnya. Aku saja dulu tak bisa makan, karena memang lagi miskin-miskinnya juga, sih.” Xiuhuan menghibur Lou Mei yang tampak murung setelah menaiki Kapal terbang.
“Aku tak apa Xiuhuan. Bisakah tinggalkan aku sendirian,” sahut Lou Mei memandangi guci kecil ditangannya.
Xiuhuan menghela nafas panjang dan menepuk pundaknya. Dia membiarkan Lou menenangkan pikirannya dulu.
***
“Ayah! Ibu!”
Tangisan anak kecil yang tertinggal dari ribuan penduduk desa Shanjiao yang melarikan diri dari amukan bandit gunung Lugu (tengkorak).
Beberapa hari yang lalu kepala desa Shanjiao yang merupakan Kultivator tingkat Immortal Awal—membunuh lima anggota bandit gunung Lugu yang mencoba mengambil beberapa gadis muda dari desa Shanjiao.
Ada satu kesalahan fatal yang dilakukan oleh kepala desa, sehingga kejadian mengerikan ini terjadi. Yaitu, membiarkan beberapa bandit gunung Lugu melarikan diri. Dia terlalu percaya diri dengan tingkat kultivasi yang ia miliki, karena bandit-bandit yang muncul kemarin itu hanya penempaan tubuh tingkat Xuan saja, tentu hanya dengan kibasan tangannya saja, para bandit gunung Lugu itu lansung terkapar.
“Yo ... Kepala desa, tangan mana yang kau gunakan untuk melenyapkan pion-pionku yang tidak berharga itu yeahahaha ....”
__ADS_1
Bos bandit gunung Lugu tertawa terkekeh-kekeh, gigi emasnya terlihat begitu menyilaukan dan perutnya buncit, dengan wajah hitam pekat serta ia memegang senjata pusaka Level rendah; Rantai Diyu (Neraka)—berupa rantai yang dapat memanjang dan memendek yang ujungnya terdapat celurit.
Kepala desa mendengus dingin, tangannya gemetar, ia tak berdaya melihat para penduduk desa Shanjiao dibunuh secara membabi buta oleh anak buah bos bandit gunung Lugu itu.
“Kenapa kau diam saja? Nanti wargamu habis lho, yeahahaha ....” Bos bandit gunung Lugu mengejeknya lagi.
“Tolong jangan libatkan mereka. Aku bersedia mati dan akan meminta mereka untuk tidak melapor pada Ketua cabang Clan Lin.” Kepala desa Shanjiao berusaha bernegosiasi dengan bos bandit gunung Lugu.
“Yeahahaha ....” Dia tertawa terkekeh-kekeh lagi, mungkin ia merasa lucu melihat orang yang ketakutan. Dan berkata lagi, “Kan, sudah jelas kemarin itu kami datang dengan damai. Pion-pionku cuma mengambil beberapa gadis muda untuk melayani mereka, tetapi kau lansung menandatangani kontrak permusuhan. Kalau begini, kalian sudah sah, berbuat makar pada bandit gunung Lugu yeahahaha ....”
Kepala desa lansung mengeluarkan Pedang pusaka tingkat rendah dari cincin dimensi miliknya. Walaupun ia tahu akan kalah dengan mudah, tetapi tak ada pilihan lain lagi.
“Yeahahaha ....” Bos bandit gunung Lugu yang merupakan Ranah Chaos Ancient God itu langsung mengayunkan Rantai Diyu. “Bersenang-senanglah di neraka, yeahahaha ....”
Kepala desa yang belum melakukan gerakan apapun, lansung tersungkur ke tanah, jantungnya telah berada di genggaman Bos bandit gunung Lugu.
Sembari tertawa terkekeh-kekeh, ia meremas jantung Kepala desa Shanjiao yang masih berdetak pelan itu hingga hancur.
“Yeahahaha ... bunuh semua dan sisakan para wanita muda. Kita akan kaya saat menjual mereka ke Benua Resifel Yeahahaha ....”
***
“Paman! Apa kau melihat ibuku?” tanya gadis kecil yang menangis, karena terpisah dengan orang tuanya.
Pria besar dengan Pedang berukuran besar di tangannya tersenyum lebar melihat gadis kecil itu.
“Apakah kau ingin bertemu mereka gadis kecil?” godanya sambil mengangkat Pedangnya menghadap langit.
Gadis kecil itu mengangguk dengan seutas senyum terpancar dari wajahnya. Dia mengira pria besar itu benar-benar mengetahui di mana keberadaan orangtuanya.
__ADS_1
“Kalau begitu, kirim salam pada mereka di neraka,” ejeknya sembari menunjukkan senyum tulus—Dia lansung mengayunkan Pedang besarnya ke arah kepala gadis kecil itu.
Gadis kecil itu kebingungan saat melihat Pedang besar itu malah datang kearahnya, dia menyadari—ternyata pria besar itu bukanlah orang baik dan dia lansung berbalik badan dengan wajah cemas ingin berlari.
“Terlambat gadis kecil!” ejek pria besar dan .... “Booommmm!” Ledakan besar menghancurkan gadis kecil itu dan tanah pijakannya.
“Kau kejam sekali, bro!” canda temannya yang menggendong seorang gadis muda.
“Kampret kau, sudah mengambil bagian lebih dulu. Masih adakah yang cantik seperti itu,” sahut Pria besar itu menatap gadis muda yang digendong rekannya dengan tatapan buas; ingin menerkamnya.
“Apakah aku cantik, tuan Pendekar!”
Tiba-tiba suara wanita memotong pembicaraan mereka dan wanita itu menggendong gadis kecil seharusnya dibunuh oleh pria besar itu.
“Kau!” Keduanya terkejut melihat Lou Mei.
“Gadis ini murid Clan Lou! dan ia Immortal Awal. Kita bukan lawannya, sebaiknya kita melapor pada bos,” kata Pria besar dengan menggunakan telepati pada rekannya.
“Baik, dalam hitungan ketiga kita kabur. 1 ... 3!” balas pria yang menggendong wanita cantik kabur lebih dulu.
“Sial kau kampret!” gerutu pria besar dibohongi oleh rekannya, ia juga berbalik badan. Namun matanya terbelalak melihat dada rekannya sudah bolong—seperti dihantam bola api hingga tembus.
Ratusan bandit gunung Lugu yang berada di dekat Lou Mei lansung berhamburan, mereka melepaskan gadis-gadis muda yang mereka culik. Untuk saat ini keselamatan diri masing-masing lah yang paling utama. Karena beberapa diantara mereka melihat bagaimana bola api tiba-tiba muncul di tangan Lou Mei dan lansung menembus dada rekan mereka.
“Ah, apakah aku terlalu kejam dan padahal tadi aku mual-mual karena mengkremasi tubuh Lou Rou. Kini aku sepertinya menikmati pembunuhan pertamaku ini. Aku harus membunuh lebih banyak bandit gunung lagi.” Lou Mei berkata pada dirinya sendiri.
“Kakak!” seru gadis kecil di pangkuannya; membuyarkan gumaman Lou Mei. “Wajahmu seperti nenek gayung—menyeramkan sekali,” imbuhnya lagi.
“Eh!” Lou Mei terkejut mendengarnya. “Ah, apakah aku sudah menjadi Xiuhuan versi lite,” gumam Lou Mei menurunkan gadis kecil itu. “Kamu diam di sini, ya, adik kecil. Lihatlah Dewi tercantik ke seratus dua di Benua Kun Lun ini menghukum pelaku kejahatan!”
__ADS_1
Lou Mei lansung menggunakan jurus tinju penggetar langit tahap pertama mengahadapi bandit gunung Lubu yang hanya Kultivator penempaan tubuh tingkat Xuan saja.
...~Bersambung~...