Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Senja di Kota Tianwu


__ADS_3

Xiuhuan dan Xiao Liu berjalan menuju tengah kota Tianwu, di sini pemukimannya lumayan bagus. Mungkin di sini adalah tempat para orang-orang kaya tinggal. Jalanannya tertata rapi tak seperti pinggiran kota.


"Wah aku beli ini!" Xiao Liu berhenti di lapak penjual bakso bakar. Harganya lumayan murah bagi Xiao Liu dan tentu saja itu sangat mahal bagi si tetua miskin kita Xiuhuan. Padahal satu keping Perak saja sudah mendapat 10 tusuk bakso bakar.


"Ah, nikmatnya ..." Xiao Liu memakan bakso bakar itu tanpa memperdulikan Xiuhuan yang berada disampingnya.


"Satu dong ...." Xiuhuan tergiur melihat Xiao Liu yang tampak menikmati bakso bakar itu.


"Beli saja sendiri! Cuma satu perakpun," jawab Xiao Liu enggan membagi makanannya.


Xiuhuan mengintip sisa uangnya di kantung penyimpannya. "Ah, terlalu silau untuk dibelanjakan." Xiuhuan kembali menutup kantung itu dan menyimpannya.


Xiao Liu senyum-senyum, ia yakin keuangan Xiuhuan telah menipis, setipis kertas sehingga beli bakso bakar saja ia ragu-ragu.


"Nih, aku takut kakek-kakek mesum sepertimu menangis disini!"


Xiao Liu memberikan tiga tusuk bakso bakar padanya. Walaupun sindiran Xiao Liu menusuk hati, namun Xiuhuan tetap menerimanya dan menikmati bakso bakar itu.


"Enak sekali ... sudah lama aku tak jajan begini." Xiuhuan melahapnya dengan cepat, namun ia tak berani lagi meminta tambah pada Xiao Liu.


"Itu kayaknya enak ...." Xiao Liu menghampiri lapak penjual Pempek Palembang. "Bang ... pesan harga satu perak ya!" seru Xiao Liu pada pedagang itu.


Xiuhuan hanya senyum-senyum saja, ia juga tergiur melihatnya, namun apalah daya, kantong tak mendukung. Xiuhuan jadi menyesal mengajak Xiao Liu jalan-jalan sore ke kawasan tengah kota Tianwu ini. Ternyata disini sangat ramai pedagang jika sore hari.


Xiao Liu melirik Xiuhuan yang melamun, "Nih ... jangan dilahap semuanya!"


Xiao Liu menyerahkan pempek Palembang kepunyaannya pada Xiuhuan setelah ia memakan beberapa biji. Xiao Liu kemudian menghampiri lapak penjual Sate kambing Madura.


"Pakde, satu Perak ya ..." seru Xiao Liu pada penjual Sate kambing Madura itu.


Aroma menggairahkan perut terpancar dari asap sate itu ketika sedang dikipasi oleh penjual itu. Xiuhuan yang sedang menikmati Pempek Palembang ditangannya mendekati Xiao Liu.


"Masih lama tidak, Pakde?" Xiao Liu sudah tak sabar ingin menyantap sate kambing Madura itu.

__ADS_1


"Sebentar lagi Nak," jawabnya terus mengipasi sate itu.


Beberapa saat kemudian, Sate kambing Madura yang ditunggu-tunggu telah selesai dan siap untuk dihidangkan. Ternyata satu keping perak lumayan banyak. Pakde itu memberikan lima tusuk untuk satu keping Perak.


"Enakkkkkkk!" Xiao Liu mengigit sate itu tepat dihadapan muka Xiuhuan. Tentu saja itu membuat Xiuhuan menelan air ludahnya karena tergiur.


Xiao Liu tersenyum bisa mengerjai Xiuhuan dan sate tusuk terkahir diberikannya pada Xiuhuan, supaya ia nanti tak kebawa mimpi yang membuat misi di kota Tianwu ini tersendat dan mereka membutuhkan waktu yang lama untuk kembali ke Sekte Teratai Biru.


"Aduh, rasanya menggantung disela-sela gigi saja, bikin penasaran saja. Namun, uang tak ada. Nasib-nasib ..." guman Xiuhuan mengikuti Xiao Liu yang masih belum kenyang juga. Kini ia kembali menghampiri lapak lain.


"Ayo cepat ... lambat sekali!" seru Xiao Liu yang sudah tak sabar ingin membeli Bakpao. "Beli satu keping Perak dapat berapa Pak?" tanya Xiao Liu pada penjual Bakpao.


"Dapat dua Nak," jawab penjual Bakpao itu.


"Hmm, aku beli isi kacang hijau ya!" seru Xiao Liu sambil menyerahkan satu keping Perak pada penjual itu. Kemudian ia memberikan satu pada Xiuhuan, karena ia yakin takkan sanggup menghabiskan keduanya.


Xiuhuan dan Xiao Liu duduk di bangku taman kota, memandangi pengunjung yang lalu lalang sambil menikmati Bakpao yang Xiao Liu beli. Pempek Palembang yang ia titipkan juga telah dihabiskan oleh Xiuhuan, namun Xiao Liu tak bertanya lagi, sebab ia sudah kenyang.


Mentari di ufuk barat kota Tianwu mulai tenggelam. Beberapa pasukan kerajaan mulai menghidupkan lampu taman satu persatu untuk menerangi kota terbesar di Pulau Niao itu.


Sebuah suara terdengar dari sebelah Xiuhuan yang sedang melamun. Xiuhuan kemudian menoleh ke arah sumber suara itu, ternyata dia adalah Jia Li, Hakim wanita yang paling ditakutin di Kerajaan Han. Jia Li menawarkan tahu goreng pada mereka.


Xiao Liu menolak karena sudah kenyang, sedangkan Xiuhuan mengambil satu. Karena ia ingin menjalin hubungan padanya, untuk memulai misinya menyogok Jia Li.


"Te-te-rima kasih ..." Xiuhuan mengambil tahu itu dua biji dengan gugup, karena wanita dihadapannya itu tak boleh disinggung, jika tak ingin kepala terlepas dari raga.


"Kalian dari wilayah Selatan ya?" tanya Jia Li duduk berdempetan dengan Xiuhuan di kursi taman kota itu.


"I-i-ya ... senior," jawab Xiuhuan gugup.


"Dari kota mana kalian?" tanyanya lagi sambil melahap tahu ditangannya.


"Kota Hua senior ..." jawab Xiuhuan kembali.

__ADS_1


"Seperti pernah dengar ... tapi kapan ya?" Jia Li ternyata tak mengenal kota kecil yang terletak di ujung selatan Pulau Niao itu.


"Mungkin senior tak kenal, sebab kami kami jauh di selatan dan juga Kota Hua adalah kota kecil," sahut Xiuhuan menjelaskannya pada Jia Li.


"Oo, kota paling ujung itu ya ...." Jia Li teringat ia akan kesana beberapa hari lagi.


"Kapan kalian kembali? Bagaimana kalau kita ke sana bersama saja?"


Jia Li merasa mereka berdua adalah orang baik, jadi tak ada salahnya mengajak mereka ke sana bersama.


"Sehabis menghadiri penerimaan murid baru Sekte Pedang Surgawi senior," jawab Xiuhuan.


"Berarti itu besok, bagaimana kalau kita pergi lusa saja?" Jia Li menatap wajah Xiuhuan yang gugup terhadapnya, ia tersenyum tipis. Jia Li sudah sering merasakan respon begitu.


"Baiklah senior ..." jawab Xiuhuan dengan senyum hangat. Ia mencoba tebar pesona pada Jia Li yang perkasa itu. Karena menurut rumor tak ada pria yang berani berkencan dengannya.


"Okelah, kukira kalian akan menolak ... sampai jumpa lusa besok!" Jia Li pergi meninggalkan mereka. Beberapa pengawal juga terlihat ikut bersamanya, mereka tampak begitu kuat juga, levelnya tak begitu jauh dari Jia Li sendiri.


"Ke-ke-napa kau iyakan!"


Xiao Liu ketakutan jika mereka bersama Jia Li nanti kembali ke kota Hua.


"Bukannya itu bagus bagimu, kau tak perlu repot-repot lagi jika dihadang oleh tunangan tampanmu itu, hehehe."


Xiuhuan menertawakan Xiao Liu yang ketakutan, karena Xiao Liu diincar oleh orang-orang aneh selama perjalanan mereka.


"Cih ...." Xiao Liu merajuk dengan menggembungkan pipinya.


Xiuhuan kemudian mengajak Xiao Liu pulang ke penginapan, karena besok mereka akan menghadiri acara penerimaan murid baru Sekte Pedang Surgawi. Mereka adalah tamu undangan disana.


Bersambung ...


Catatan:

__ADS_1


Kenapa ada masakan Nusantara?


Karena sebelum abad kekosongan, para perantau Nusantara mengunjungi Pulau Niao dan menetap disana, hingga sampai sekarang keturunan mereka tetap berjualan makanan khas asal mereka 😁😁😁


__ADS_2