Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Aula Kitab


__ADS_3

Feng Xiao dan Hei Xing kebetulan berpas-pasan dengan Xiuhuan. Mereka lansung kaget tak kala melihat Liu Ruyan, wanita yang tak bisa disentuh laki-laki itu, malah berduaan dengan Xiuhuan.


“Sepertinya gadis-gadis di Sekte kita ini akan habis dibabat oleh pria itu,” kata Hei Xing kembali memanas-manasi Feng Xiao.


“Lihat saja nanti, saat di kompetisi Sekte, aku akan membalaskan kekalahanku kemarin. Kudengar dia telah menjadi murid khusus tetua,” sahut Feng Xiao menatap tajam Xiuhuan dengan memancarkan aura permusuhan.


“Astaga, anak-anak di sini, gampang sekali darah mereka mendidih,” gumam Xiuhuan.


“Ada apa senior?” tanya Liu Ruyan melihat Xiuhuan seperti sedang melamun.


“Hahaha tak ada yang apa-apa Yan‘er,“ jawab Xiuhuan.


Setelah keluar dari Aula tetua ke-77 dan melewati beberapa Aula lainnya. Akhirnya Xiuhuan dan Liu Ruyan sampai di Aula kitab.


“Permisi Tetua ...” sapa Xiuhuan pada pria sepuh yang sedang memejamkan matanya sambil duduk di sebuah kursi di pintu masuk aula itu.


“Satu orang bayar biaya masuk sebesar 1000 Poin,” sahut tetua itu tanpa membuka matanya.


Xiuhuan lansung mentransfer 2000 Poin untuk ia dan Liu Ruyan. Setelah membayarnya, tetua itu lantas membuka perisai angin yang menghalangi siapapun yang menerobos masuk tanpa membayar biaya masuk.


“Menarik,” gumam Xiuhuan setelah melihat pemandangan di dalam aula kitab itu. Ribuan kitab berjejer di sana.


Xiuhuan lansung menuju deretan kitab untuk unsur air. Sesuai Roh Pedang miliknya.


“Kau memiliki Roh Pedang apa Yan‘er?” tanya Xiuhuan.


“Kupu-kupu senior,“ jawab Liu Ruyan.


“Wah, sama dengan Qin Tan berarti,” sahut Xiuhuan sembari membaca satu persatu kitab ada di deretan rak buku itu.


“Ternyata betul ia sudah memiliki banyak wanita,” gumam Liu Ruyan setelah mendengar Xiuhuan mengucapkan nama itu.


“Ini?” gumam Xiuhuan takjub melihat sebuah kitab berjudul Mengolah Unsur Air menjadi partikel-partikel kecil dan mengubahnya menjadi ribuan pisau air. “Aku ambil ini lah,” kata Xiuhuan.


“Hmm, itukan kitab standar,” sahut Liu Ruyan.


“Ini kitab standar, ya. Pantaslah Feng Xiao dapat mengendalikan kloning Pedang kemarin,” kata Xiuhuan. Ternyata teknik mengolah jurus di daratan utama ini jauh lebih hebat dibandingkan di Pulau Niao yang masih standar. “Tapi kenapa kemarin saat aku bertemu seniornya Qingyi, mereka tampak menggunakan jurus sederhana saja?” tanya Xiuhuan penasaran.


“Itu karena mereka malas menggunakan Poin mereka untuk membeli Kitab Jurus. Karena harganya yang lumayan mahal. Lagi pula rata-rata yang ingin membeli banyak kitab, hanyalah para murid jenius yang terobsesi untuk ikut kompetisi Sekte,” jawab Liu Ruyan.

__ADS_1


“Begitu toh, berarti target mereka cuma sebatas menjadi anggota Sekte saja agar hidup nyaman,” kata Xiuhuan menarik kesimpulan.


Keduanya kembali berjalan melihat-lihat jejeran kitab itu. Hingga mata Xiuhuan tertuju pada kitab yang sudah lusuh berjudul: Kitab seribu dongeng.


“Hahaha ada-ada saja kitab ini,” kata Xiuhuan sambil tertawa terkekeh-kekeh. Membuat para murid yang sedang melihat-lihat kitab lansung menoleh ke arahnya. “Ah, maaf-maaf aku membuat keributan,” kata Xiuhuan lagi.


“Kitab ini susah untuk dipahami. Makanya tak ada yang mengambilnya,” sela Liu Ruyan. Karena masih banyak kitab serupa di Aula misi ini.


“Oh, begitu ya. Pantaslah, kitab ini lusuh,” sahut Xiuhuan membuka lembaran pertama kitab itu.


Tiba-tiba saja seberkas cahaya putih lansung keluar dari kitab itu dan masuk ke dalam pikiran Xiuhuan. Ia langsung mengalami pencerahan, berbagai macam jurus untuk unsur air dan petir muncul dibenaknya.


Setelah beberapa saat memejamkan mata. Xiuhuan akhirnya memahami, ternyata kitab ini dikhususkan pada Roh Pedang unik sepertinya.


“Kau tak apa senior?” tanya Liu Ruyan panik saat seberkas cahaya melesat ke arah kening Xiuhuan.


“Tak apa, justru aku telah memahami isi kitab Seribu Seribu Dongeng ini. Walaupun nama kitabnya lucu, namun kitab ini sangatlah hebat.” Xiuhuan memujinya dan meletakkan kembali kita itu.


“Selamat senior!” seru Liu Ruyan takjub dengan Xiuhuan yang lansung memahami isi kitab itu seketika.


“Kita kembali saja. Mungkin jalan-jalan ke Kota adalah pilihan yang bagus,” ajak Xiuhuan.


“Kalau ke ranjang kamu mau dong hahaha,” canda Xiuhuan membuat wajah Liu Ruyan memerah.


“Senior kau mesum sekali,” balas Liu Ruyan.


“Upss itu adalah kata-kata yang ingin kuhindari selama ini,” gumam Xiuhuan menghampiri tetua Aula kitab untuk membayar biaya kitab yang dibawanya itu.


“10.000 Poin!” seru tetua itu yang membuat Xiuhuan tercengang.


Xiuhuan lansung membayarnya dan meninggalkan aula kita.


“Pantaslah banyak dari kalian yang memiliki jurus sederhana saja. Padahal ada ribuan macam jurus hebat di sana. Itu karena harga kitabnya mahal sekali,” kata Xiuhuan.


“Entahlah ... aku juga tak mengerti, mengapa mereka membuatnya demikian,” sahut Liu Ruyan.


Saat melewati aula tetua ke-10, tiba-tiba saja sebuah meteor melesat ke arah Xiuhuan.


Xiuhuan menarik tangan Liu Ruyan. “Langkah Kilat!” seru Xiuhuan berpindah tempat seketika itu juga.

__ADS_1


“Bookmmmmm!”


Sebuah kawah lansung terbentuk saat meteor itu menghantam lantai yang ditempati Xiuhuan tadi.


“Hebatttttt!” Bukannya marah, Xiuhuan justru memuji serangan itu.


“D-dia adalah murid terkuat di Sekte Pedang Taiyang ini. Tapi kenapa dia ada di aula tetua ke-10. Padahal ia adalah murid tetua pertama,” kata Liu Ruyan.


“Oo, jadi ini adalah murid peringkat 99 di Kompetisi antar Sekte itu. Hebat sekali, apakah ia murid Laksamana Fujitora. Bisa mengendalikan meteor itu sungguh hebat, aku yakin Roh Pedangnya adalah Salamander,” kata Xiuhuan.


“Ba-bagaimana ini senior?” tanya Liu Ruyan ketakutan. Soalnya lawan mereka bukan kaleng-kaleng, ia adalah preman terkuat di Sekte Pedang Taiyang.


“Kau menjauhlah Yan‘er. Biarkan aku sparring dulu dengannya. Jatah tetua pertama akan diambil segera oleh tetua Shuliang sekarang ini hahahaha ....” Xiuhuan jadi bersemangat, akhirnya ia bertemu lawan kuat pertama di daratan utama ini. Walaupun ia cuma peringkat 99 pada kompetisi antar Sekte lima tahun yang lalu.


Seorang Pemuda tampan berjalan mendekati Xiuhuan. Ia tampak arogan dengan lima Pendekar Pedang kuat juga dibelakangnya, yang tampak seperti anakbuahnya.


“Jadi kau adalah pria yang bersama Qingyi itu?” tanyanya pada Xiuhuan.


“Benar anda siapa? Kenapa kau menyerangku tiba-tiba. Bukankah itu tindakan seorang pengecut, banci, tak bermoral dan lemah!” Xiuhuan memprovokasinya.


“Kurang ajar! Berani sekali kau menghina tuan muda Su Rong! Kau ingin mati, ya?” bentak anak buahnya itu.


Su Rong melambaikan tangannya. “Kau diam saja Su Wei, biarkan aku yang mengurusnya. Karena ia telah berani membunuh anak buahku. Pasti kau telah mengganggu kesenangan mereka. Asal kau tahu saja, yang kuat itu boleh bertindak sesuka hatinya pada yang lemah. Harusnya Qingyi menyadari itu, jadi salahkan Qingyi jika aku membunuhmu di sini.” Ancam Su Rong.


Xiuhuan kebingungan, ia belum mengerti apa yang mereka katakan.


“Yan‘er! Kau kesini dulu, jangan pergi. Ada yang ingin kutanyakan?” Panggil Xiuhuan.


Liu Ruyan yang terbang menggunakan tehnik Penggabungan, kembali lagi ke arah Xiuhuan.


“Ada apa senior?” tanya Liu Ruyan.


“Apa boleh saling membunuh di Sekte ini?” tanya Xiuhuan.


“Boleh. Asalkan di lakukan di Arena Sekte,” jawab Liu Ruyan.


“Menarik,” gumam Xiuhuan. “Bagaimana kalau kita selesaikan ini di Arena Sekte saja. Hitung-hitung Sparring sebelum acara kompetisi Sekte dimulai,” ajak Xiuhuan.


“Kau cukup berani juga,“ sahut Su Rong tersenyum lebar. “Tunggu apalagi, ayo kita selesaikan ini dengan cepat. Aku jadi tertarik dengan wanita cantik disebelahmu itu. Aku akan menidurinya setelah membunuhmu hahahaha ....” Su Rong tertawa keras dan melesat menuju Arena Sekte.

__ADS_1


...⚔️⚔️Bersambung ⚔️⚔️...


__ADS_2