
Lou Mei mengikuti Xiuhuan hingga memasuki asrama laki-laki aula tetua Lou Zui. Gadis cantik itu senyum-senyum sendiri sejak dari aula Kegelapan, membuat Xiuhuan kebingungan, apakah Lou Mei menyadari mereka telah memasuki asrama laki-laki itu atau tidak.
“Apakah kamu ingin melayaniku Mei‘er? Kebetulan sekali sudah enam bulan aku tak melakukan olahraga ekstrim.” Xiuhuan membuyarkan lamunannya.
Lou Mei melihat sekelilingnya, dia terkejut dan bercampur malu.
“Kenapa tak kau katakan kita sudah memasuki aula tetua Lou Zui?” Dia malah marah pada Xiuhuan. “Dasar mesum!” pekiknya lagi sembari kabur dari asrama laki-laki.
“Hahahaha ... tak kusangka Lou Mei akan jatuh cinta padamu bro!”
“Selamat bro, kamu telah menaklukkan hatinya, jadi kami tak perlu takut lagi dijadikan budak olehnya.”
Beberapa murid pria mengucapkan selamat pada Xiuhuan, karena mengira mereka menjadi sepasang kekasih. Padahal ia hanya menggodanya saja, karena gadis itu tsundere; sehingga Xiuhuan sangat senang melihat perubahan sikapnya itu.
“Sebenarnya ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku dan Mei‘er hanya berteman saja.” Xiuhuan mengelak sangkaan mereka.
“Tidak perlu malu-malu begitu bro, kita ini sama-sama pria—Kami pasti mendukung hubungan kalian, karena dia cukup cantik juga,” kata salah satu murid.
Xiuhuan hanya tersenyum menanggapinya, percuma juga mengelak. Toh, mereka tak akan percaya.
“Baiklah, kalian lanjutkan saja aktivitas kalian. Aku mau berkultivasi dulu di kamar,” kata Xiuhuan berpamitan.
“Sepertinya kamu harus menunda dulu Kultivasimu, karena ada yang cemburu melihatmu dekat dengan Lou Mei. Sehingga ia meninju pintu kamarmu hingga hancur berkeping-keping.”
“Hahaha ... untung kau tidak melihatnya. Kalau sempat bro, Xiuhuan di sana—habis sudah pria itu.”
“Kalian terlalu memuji kekuatanku, walaupun sebenarnya aku memang tak terkalahkan,” sahut Xiuhuan merendahkan diri.
Xiuhuan memutuskan mencari tukang kayu dan tidak menanyakan siapa yang merusak pintu kamarnya. Karena ia tak ingin berurusan dengan masalah sepele seperti itu dan berpikir hanya pria pengecut yang takut bersaing mendapatkan wanita. Apalagi wanita itu cukup cantik, ya wajarlah saingannya akan banyak. Kalau mau bersaing sehat; jadilah tampan dan kaya. Cuma itu jurus yang paling hebat.
__ADS_1
***
Setelah pintu kamarnya diperbaiki, Xiuhuan lansung menyerap cairan dalam botol kecil yang dibelinya di Paviliun Qingyun.
Konon katanya cairan itu dapat merangsang untuk menaikkan tingkat Kultivasi sepuluh kali lebih cepat dari pada menggunakan Pill. Barangnya jarang beredar karena harganya sangat mahal.
Xiuhuan lansung memulai Kultivasi, agar cepat mencapai tingkat Immortal Menengah dan menjadi murid luar Sekte Qingyun. Tujuan utamanya menjadi murid luar Sekte Qingyun adalah supaya cepat bertemu Lou Yi dan dia bisa mendapatkan Pill gratis darinya. Karena meningkatkan kultivasi itu butuh biaya besar, kecuali Kultivator tersebut tak ingin buru-buru naik ke level atas.
***
Seperti biasanya, malam ini kota Nancheng sangat sunyi. Karena saat malam hari biasanya dimanfaatkan oleh murid-murid untuk berkultivasi, sedangkan siang hari untuk latihan atau bersenang-senang.
Lou Nian sangat gelisah sepanjang hari ini. Dia sudah tak punya uang lagi, karena kalah taruhan tadi. Belum lagi ia merusak pintu kamar Xiuhuan, tetapi Xiuhuan belum juga datang meminta pertanggungjawaban darinya. Sehingga Lou Nian gelisah terus, takut diserang oleh Xiuhuan secara tiba-tiba.
Saat dini harinya, ada yang mengetuk pintu kamarnya.
“Siapa itu?” sahut Lou Nian yang tidur-tiduran di ranjang. Namun, tak ada yang menyahut, tetapi suara ketukan terus berlanjut. “Hei, Xiuhuan!—kau mengganggu istirahat orang!” keluh Lou Nian tak berani membuka pintu, karena takut dihajar Xiuhuan.
Setelah beberapa saat, ternyata orang yang mengetuk pintunya itu tak muncul lagi. Dia mulai berpikir, jangan-jangan dia dikerjai oleh Lou Kong, karena kamar Lou Kong ada disebelahnya.
“Dasar Kong kampret, ini pasti ulah dia. Besok harus diberi pelajaran tuh anak!” gumam Lou Nian memejamkan mata.
Pintu kamar Lou Nian terbuka dan orang yang sangat ia kenal sekali muncul dengan senyum tipis. Dia sangat terkejut, alasan apa orang ini muncul di kamarnya.
“Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya Lou Nian sembari berjalan ke arahnya. Namun, tiba-tiba ia merasa kamarnya berputar-putar. “Ada apa ini, kok rasanya sakit dan pusing,” gumam Lou Nian—kepalanya menggelinding di lantai. Di tewas seketika dan tak ada yang mengetahuinya hingga keesokan paginya.
***
Xiuhuan berjalan menuju restoran dan bertemu dengan Lou Mei.
__ADS_1
“Apakah kamu sudah mengetahui berita menggemparkan pagi ini?” tanya Lou Mei dengan senyum manisnya.
“Lou Nian tewas di kamarnya dan tak ada yang mengetahui siapa pelaku,” sahut Xiuhuan.
“Benar sedikit. Namun, yang paling benar adalah terjadi pembunuh berencana tadi malam, yang total murid terbunuh adalah 50 orang, semuanya laki-laki. Dan ada jejak Elemen Air di tempat kejadian perkara” Lou Mei menjelaskan.
“Elemen air?” Xiuhuan terkejut, ia takut akan disalahkan dalam kasus ini. Karena baru dua hari ia keluar dari penjara, tiba-tiba ada kasus besar begini. “Kenapa dia meninggalkan jejak di tempat kejadian perkara, ya?” Xiuhuan bertanya-tanya.
“Yang lebih rumitnya adalah dia tak mengambil barang apapun dari TKP, bahkan cincin dimensi milik korban masih melekat di jari tangannya. Apakah mungkin kerjaan aliran hitam?” tebak Lou Mei sembari menatap Xiuhuan.
“Hei, jangan lihat aku begitu!—Aku tahu isi pikiranmu; kamu pasti menebak aku pelakunya, karena kemarin menggunakan aura pembunuh, kan?” sahut Xiuhuan dengan senyum masam.
“Tak ada yang menuduhmu bodoh!” seru Lou Mei berlari kecil memasuki restoran sturbak lebih dulu, tetapi Xiuhuan dicegat oleh beberapa guru aula tetua Lou Zui. Mereka mengatakan Xiuhuan menjadi tertuduh dalang kejadian tadi malam dan dia harus memberikan keterangan di depan para tetua.
Xiuhuan sudah merasa, ia akan menjadi terduga dalam kasus pembunuhan tadi malam. Tanpa berpamitan dengan Lou Mei, ia ikut ke aula tetua Lou Zui. Namun, saat berada di sana, ternyata bukan hanya dia saja yang diperiksa—beberapa yang diduga berhubungan atau pernah ada masalah dengan korban juga diperiksa.
***
“Eh, di mana Xiuhuan?” Lou Mei kebingungan saat menoleh kebelakang, batang hidungnya tak ada.
“Dia dijemput oleh beberapa guru, sebelum memasuki restoran,” sahut salah satu pengunjung restoran sturbak.
“Berarti bukan hanya Aku yang menebak Xiuhuan pelakunya, walaupun tak yakin juga sih, dia pelakunya,” gumam Lou Mei—akhirnya sarapan sendirian jadinya.
Xiuhuan duduk di sebuah ruangan menunggu giliran untuk diperiksa. Karena bosan menunggu, ia mengunyah beberapa sumberdaya seperti cemilan saja, membuat beberapa murid yang juga akan diinterogasi tercengang melihat kelakuan Xiuhuan.
“Murid Lou Xiuhuan, silahkan masuk!” seru salah satu guru memanggil dari balik pintu.
Xiuhuan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan-nya pelan-pelan untuk menghilangkan rasa gugupnya. Dia berharap nanti tidak ditanyai macam-macam, karena memang tak ada hubungannya dengan kejadian itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...