
Lei Yu bernafas lega, ia hampir kehilangan nyawa ditangan Chu Mogui. Untung Xiuhuan menepati kata-katanya.
Supaya Xiuhuan tak berubah pikiran, ia lansung membungkuk. “Tuan Xiuhuan ... semuanya telah dibereskan. Apa yang harus aku lakukan sekarang!” seru Lei Yu mencoba mencari muka dihadapan Xiuhuan.
Xiuhuan tersenyum, hal seperti ini sangatlah lumrah. Di mana yang lemah akan tunduk pada yang kuat. Kini Xiuhuan berpikir hal pertama apa yang harus Lei Yu lakukan.
“Hitam!” panggil Xiuhuan dan dengan antusias Lei Yu siap menunggu perintah Xiuhuan. “Pertama kau kubur semua mayat-mayat ini dan yang ada di lembah. Karena itu dapat menimbulkan penyakit kalau dibiarkan terlalu lama dan juga untuk menghindari penyelidikan dari Sekte sekitar sini atau dari pihak Kerajaan,” kata Xiuhuan.
Lei Yu kaget mendengarnya, ia tak menyangka akan langsung disuguhkan pekerjaan berat. Padahal ia telah mengira akan dibawa ke kamar dan disiksa di sana. Seperti yang diterima oleh Zhang Xue yang dilakukan oleh suaminya dulu bersama anakbuahnya.
“Apalagi yang kau pikirkan? Apa kau kurang puas dengan pekerjaan ini? Biar saya tambahkan pekerjaan yang lebih menyiksa?” kata Xiuhuan dengan senyum menyeringai, karena Lei Yu belum beranjak dari tempatnya.
Lei Yu lansung ketakutan melihat senyum penuh tanda tanya dari Pendekar Pedang tampan di hadapannya itu.
“Aku akan menguburkan mereka, tapi anu ....” Lei Yu memainkan kedua jempol tangannya.
“Hei kau jangan sok imut begitu. Walaupun aku ini tidak suka mendiskriminasi wanita, tapi kau harus sadar diri. Sekarang ini kau masih jadi pelaku kriminal?” kata Xiuhuan yang kaget melihat ekspresi wajah istri Chu Mogui itu.
“Ah, tuan Xiuhuan salah paham. Aku tak bermaksud menggodamu. Namun, bisakah jangan panggil aku Hitam. Walaupun aku memang hitam sejak lahir, namun itu kesannya tuan Xiuhuan mengejekku,” kata Lei Yu.
“Baiklah kau akan kupanggil Yu‘er saja. Tapi kau jangan salah paham, panggilan itu bukan berarti aku memaafkan dirimu atas perlakuan buruk kalian pada keluarga Zhang Xue. Mulai saat ini kau akan menjalani hukuman dariku. Sekarang kerja sana!” sahut Xiuhuan sambil mengibas tangannya.
“Baik tuan!” sahut Lei Yu mulai menarik semua tubuh mereka dengan menggunakan jurus seribu tangan. Dia seperti Niko Robin saat masih belum time skip saja, sekarang sih, ia sudah glowing di buff oleh Oda sensei. Dimana ia lansung membawa semua mayat itu, membuat Xiuhuan kagum.
“Ini sih, bukan hukuman namanya. Apa yang harus kubuat untuk menghukumnya, ya?” gumam Xiuhuan, hingga ia menemukan metode paling efektif. Namun itu harus dilakukan saat menjelang tidur saja.
Dengan senyum-senyum sendiri Xiuhuan bergegas ke dapur mencari makanan. Ia memutuskan mulai besok saja untuk berkultivasi, karena kekacauan ini harus dibereskan lebih dulu.
***
Chu Yi dan Chu Er bingung melihat Lei Yu yang merupakan bibi mereka itu bolak-balik membawa banyak mayat ke arah hutan. Keduanya terus memperhatikannya, apakah ada tubuh ibu mereka dalam tumpukan mayat itu.
“Chu Er? Kenapa bibi Yu membunuh Paman Chu Mogui, ya?” Ia bingung melihat tindakan bibinya itu.
“Mungkin bibi Yu juga disiksa oleh Paman. Bahkan ia juga membunuh semua Pelanggan ibu,” kata Chu Er dengan senyum lebar.
Keduanya mengintip dari sela-sela dinding gubuk peyot itu, memperhatikan Lei Yu yang menggerutu sedang menggali tanah.
__ADS_1
Udara lereng gunung itu semakin menusuk tulang saat dini hari, namun Lei Yu harus mengubur puluhan mayat itu. Ia memasukkan mereka dalam satu liang yang dalam.
“Chu Er, bagaimana kita menyelinap ke bar mencari ibu dan mengajaknya kabur dari sini. Kan, bibi Yu juga jahat pada ibu. Ia sering juga menyiksa ibu tanpa alasan yang jelas. Takutnya ibu tetap menjalani kehidupan yang sama di tangan bibi Yu nanti,” bisik Chu Yi.
Chu Er mengangguk setuju, kemudian keduanya berjalan pelan-pelan agar tak terdengar oleh Lei Yu yang sedang memasukkan mayat-mayat Kelompok Kelelawar dan kelompok suaminya ke dalam liang yang ia buat.
Mereka kemudian masuk ke dalam bar milik Chu Mogui itu dan tak melihat siapapun di sana.
“Sepertinya ibu di lantai dua, ayo kita ke sana!” bisik Chu Yi pelan.
“Berarti kita harus membuka pintu kamar satu persatu di lantai dua itu,” sahut Chu Er.
Keduanya melangkah pelan-pelan ke lantai dua. Mereka membuka satu persatu pintu kamar, namun belum menemui Zhang Xue. Hingga akhirnya tersisa dua kamar lagi. Yang satu kamar tidur milik Chu Mogui dan satu lagi bertuliskan kamar VVIP.
Kemudian Chu Yi membuka kamar Chu Mogui, sedangkan Chu Er membuka kamar VVIP.
“Ah, kosong!” seru Chu Yi lesu, kini harapan satu-satunya ada di tangan Chu Er. Dengan pelan-pelan ia membuka pintu itu.
“Ibuuuuuuuu!” teriak Chu Er berlari menghampiri Zhang Xue yang sedang terlelap tidur.
Chu Er tak mendengarkan ucapan Chu Yi, ia langsung membangunkan Zhang Xue.
“Ke-kenapa kalian di sini? Bahaya, Nak!” Zhang Xue langsung ketakutan, jika sampai Chu Mogui tahu anak-anaknya menyelinap ke dalam bar. Pasti mereka akan disiksa nantinya.
“Ibu tak usah khawatir, Paman Chu Mogui dan Kelompok Kelelawar telah tewas oleh bibi Yu. Mendingan kita kabur saat ini, karena bibi Yu masih sibuk mengubur mereka,” kata Chu Er dengan antusias.
“Ia Bu, cepat kenakan pakaianmu. Kita harus kabur dari sini, ada banyak kuda di luar, kita bisa pergi ke tempat Kakek di desa Qinghe,” kata Chu Yi juga.
Zhang Xue kebingungan mendengar ucapan anak-anaknya itu. Karena awalnya ia mengira yang menghabisi Kelompok Kelelawar adalah Xiuhuan, namun menurut anak-anaknya yang membunuh mereka adalah Lei Yu.
“Apa nyonya Yu, mengelabui tuan Xiuhuan dan menikamnya dari belakang?” gumam Zhang Xue langsung mengenakan kembali hanfu merah yang ia kenakan tadi.
Zhang Xue berjalan di depan, diikuti oleh kedua anak kembarnya. Perlahan-lahan mereka turun ke lantai bawah.
“Kukira tadi aku sedang berhalusinasi, karena mendengar suara teriakan Chu Er dari lantai dua. Ternyata kalian memang datang kemari. Ah, maafkan Paman tak langsung memanggil kalian setelah membereskan semua sampah masyarakat itu. Paman malah ke dapur, karena tadi makannya kurang puas. Masakan Lei Yu itu enak juga,” kata Xiuhuan yang membuat ketiga orang itu terkejut bukan main.
Zhang Xue yang memiliki traumatik, akibat sering menerima kekerasan baik fisik atau lainnya, membuat ia melompat kembali kebelakang sambil menarik kedua tangan anaknya.
__ADS_1
“Maaf-maaf nona Xiu, aku mengagetkan kalian hahaha ....” Xiuhuan malah tertawa cekikikan melihat reaksi mereka itu.
Zhang Xue berkacak pinggang dengan pipinya ia kembungkan. “Kau ingin membunuh orang tua tunggal ini, agar anak-anakku menjadi yatim-piatu!” seru Zhang Xue kesal.
“Maaf-maaf!” sahut Xiuhuan masih dengan senyum lebar. “Sini, ayo kita makan bersama ke dapur. Masih banyak makanan enak disitu,” ajak Xiuhuan lagi.
Mendengar kata makanan, Chu Yi dan Chu Er lansung bergegas menghampiri Xiuhuan.
“Kapan Paman sampai kesini?” tanya Chu Yi.
“Kan, dugaanku benar. Paman mengikuti kita!” sela Chu Er.
“Kau benar Chu Er, aku mengikuti kalian dan melihat perlakuan buruk mereka pada kalian. Makanya Paman memutuskan menolong kalian,” sahut Xiuhuan.
Zhang Xue sangat senang, ia menghampiri mereka juga. Ia tak menyangka, ternyata Xiuhuan datang kemari gara-gara bertemu anak-anaknya.
“Berarti Paman yang membunuh kelompok Kelelawar itu?” tanya Chu Er dengan antusias mendengar jawaban dari Xiuhuan.
“Tentu saja!” sahut Xiuhuan dengan bangga. “Lihat jubah Paman ini. Ini adalah jubah Sekte pembela Keadilan, suatu hari nanti kalian harus mengikuti jejak paman bergabung dengan salah satu Sekte besar,” kata Xiuhuan dengan sedikit menyombongkan diri.
Chu Yi dan Chu Er lansung terpesona dengan ucapan Xiuhuan itu. Sehingga menumbuhkan keinginan mereka untuk menjadi Pendekar Pedang juga.
“Karena Paman sudah membunuh Paman Chu Mogui dan Kelompok Kelelawar. Seharusnya Paman minta sama Ibu untuk tidur bersama, karena orang-orang dewasa itu sangat senang tidur dengan ibu. Mungkin Paman akan suka juga,” kata Chu Er yang membuat Zhang Xue sangat malu mendengar ucapan anaknya itu.
Xiuhuan tersenyum lebar sambil melihat Zhang Xue. “Kalau masalah itu, tak usah Chu Er katakan saja. Paman sudah menidu—”
Zhang Xue lansung mencubit pinggang Xiuhuan, sehingga ia berteriak kesakitan.
“Jangan kau racuni anak-anakku dengan ajaran sesatmu itu!” gerutu Zhang Xue.
Chu Yi dan Chu Er tertawa terkekeh-kekeh, mereka tak menyangka ibu mereka dapat membuat Pendekar Pedang hebat kesakitan.
Xiuhuan yang berpura-pura kesakitan itu tersenyum, ia sangat senang melihat Zhang Xue dan anak-anaknya kini bisa tersenyum bahagia.
Sambil berjalan ke dapur, Xiuhuan menghela nafas dalam-dalam. Ia berpikir ternyata masih banyak ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya, namun tak ada yang menyadari, karena korban seperti Zhang Xue ini sangat sulit untuk menyuarakan ketidakadilan yang menimpa mereka. Suara mereka lebih dulu dibungkam. Sementara para penguasa dan Pendekar Pedang yang katanya penegak keadilan yang ada di Sekte-sekte malah sibuk mengejar harta dan gelar Pendekar Pedang terhebat, bukan mengejar seberapa banyak mereka menyelamatkan Zhang Xue-Zang Xue lainnya.
...⚔️Bersambung⚔️...
__ADS_1