Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Shuyan Unjuk Gigi


__ADS_3

“Hahaha ... imut sekali Shuyan!” Xiuhuan tertawa melihatnya yang melakukan tehnik Penggabungan dengan Roh Pedangnya.


Setengah badan Shuyan kini berbentuk Salamander, ekornya meliuk-liuk saat berjalan di arena kompetisi itu.


Satu persatu murid tetua lain menjaga jarak dengan Shuyan. Mereka takut Shuyan nanti menyemburkan api besar pada mereka.


Kehebatan Shuyan telah menjadi buah bibir di Sekte Teratai Biru belakangan ini. Karena ia sering pamer saat latihan. Bahkan kadang-kadang ia mengajak senior dari murid tetua lain latih tanding dengannya. Beberapa dapat ia kalahkan, makanya ia cukup populer.


“Sepertinya si cabai rawit itu akan menjuarai kompetisi ini,” kata Xiuhuan dengan bangga, merujuk pada Shuyan yang ia juluki cabai rawit.


“Kamu terlalu percaya diri tetua keenam!” sahut tetua pertama. “Walaupun muridmu dapat melakukan tehnik Penggabungan, namun ia terlalu ceroboh dan sombong. Sudah kupastikan, tetap muridku yang mendominasi kompetisi ini,” kata tetua pertama lagi.


Perkataannya memang ada benarnya. Tiap tahun selalu muridnya yang memenangkan kompetisi dan hanya tetua kedua saja sesekali menyisipkan muridnya yang juara di beberapa kategori.


Kelebihan murid tetua pertama adalah mereka memiliki sikap tenang, walaupun keadaan tak berpihak pada mereka. Itu semua diwarisi dari sikap Xiao Lang juga yang begitu.


Tampak jelas di arena kompetisi, murid-murid tetua lain panik saat Shuyan mendekati mereka. Namun, murid-murid tetua pertama justru berkumpul, memutuskan bekerjasama untuk menangani Shuyan.


“Ah, gawat! Licik juga nih, murid-muridmu kakak ipar!” seru Xiuhuan yang gelisah dengan kesombongan muridnya.


“Jangan panggil aku kakak ipar! Aku tak Sudi,” sahut Xiao Lang yang merupakan kakak kandung Xiao Liu itu.


Xiuhuan melirik padanya sambil tersenyum, “mau tak mau, kau itu kakak iparku hehehe ....” Xiuhuan menertawai Xiao Lang.


“Hei kalian para semut-semut! Kenapa menjauh begitu? Apa kalian takut kujadikan daging bakar hahahaha!” Shuyan menertawai murid-murid tetua lain, yang menjauhinya sambil berkacak pinggang.


Kesombongan yang cukup membuat panas kuping para lawannya.


Para murid yang semula ingin menghindari melawan Shuyan, kini memutuskan bekerjasama melawannya.


“Aduh, anak ini malah membuat permusuhan yang tak perlu!” gerutu Xiuhuan yang panik melihat muridnya dikelilingi puluhan murid-murid tetua lain.


“Makanya ... jangan hanya kekuatan saja yang diajarkan pada muridmu itu! Tapi tata krama juga!” sahut Xiao Liu yang duduk disebelahnya itu.


Xiuhuan hanya senyum-senyum saja menanggapinya. Tak bisa berkata apa-apa lagi. Karena memang Xiuhuan tak mengajarkan itu pada mereka.


Di arena kompetisi, Shuyan tersenyum tipis melihat semua murid kini menjadi lawannya.

__ADS_1


“Ouhhh, Aku suka dengan cara kalian!” seru Shuyan sambil mengeluarkan Pedang rohnya.


Kalau dilihat sekilas, kompetisi itu terlihat lucu. Karena puluhan murid yang bahkan jauh lebih tua darinya, mengeroyok Shuyan yang baru berusia 10 tahun, yang memiliki postur tubuh kecil lagi.


“Tebasan Api Salamander!” seru Shuyan lansung menerjang ke kerumunan murid-murid penantangnya itu.


Lansung saja setengah dari mereka terhempas keluar Arena, sehingga lansung dinyatakan gugur.


“Ayo sini kubantai kalian hahaha!” Shuyan menyerang mereka dengan membabi-buta.


Xiuhuan lansung berpura-pura melihat kearah lain, ketika para tetua melihat kearahnya.


Mereka tak mengira Xiuhuan akan membentuk karakter murid, yang lebih mirip dengan penjahat saja.


Tindakan Shuyan itu lansung mengeliminasi banyak murid. Sekarang tinggal 15 murid tetua pertama saja lagi yang tersisa. Itu artinya Shuyan haru melempar enam murid lagi untuk mengakhiri pertandingan ini.


“Bentuk formasi!” seru Xiao Chen murid jenius dari tetua pertama.


“Siap!” sahut rekan-rekannya.


Mereka mengelilingi Shuyan, seperti lingkaran.


“Semuanya gunakan jurus terkuat kalian, kita serang bersama! Hajar dia!” seru Xiao Chen menerjang ke arah Shuyan bersama rekan-rekannya itu.


“Hohoho ... tak semudah itu!” sahut Shuyan masih tetap dengan senyum kesombongannya itu. Shuyan menancapkan pedangnya, seraya merapalkan jurus, “Putaran Badai Api Magma!”


Seiring rapalan jurusnya itu, keluarlah gumpalan Magma dari Pedangnya dan melingkari tubuh Shuyan.


“Ini ... terlalu kuat, bisa membunuh para murid!” seru wasit pertandingan menyadari kekuatan yang cukup besar yang dikeluarkan oleh Shuyan. Kemudian ia lansung melompat ketengah pertarungan mereka.


“Putaran Gelombang Air!”


Para murid-murid tetua pertama lansung terhisap dalam pusaran air itu, sehingga tubuh mereka terhindar dari api Magma Shuyan.


Arena kompetisi lansung retak dan hancur berkeping-keping, sedangkan Shuyan sudah tak kelihatan. Tubuhnya dikelilingi oleh api Magma yang berputar-putar mengitarinya.


Setelah menyelamatkan murid-murid tetua pertama, Sang wasit kemudian berjalan dan memegang tangan Shuyan yang memegang Pedangnya. Sekita api Magma itu lansung padam.

__ADS_1


“Eh, ...” Shuyan kebingungan, ternyata telah muncul wasit didepannya.


Wasit itu kemudian mengangkat tang Shuyan ke arah langit.


“Pemenang kompetisi Sekte Teratai Biru di level Pendekar Pedang tahap 8 adalah Shuuuuu ... yannnnnn!”


“A-aku menang!” sahutnya seakan tak percaya, padahal babak sistem gugur belum dimulai.


“Ya, kau menang karena kekuatanmu terlampau besar bagi mereka,” jawab wasit meyakinkan Shuyan lagi.


“Huhuhuhu ... aku akhirnya menang.”


Shuyan yang sombong dan arogan itu akhirnya menangis haru atas kemenangannya itu.


“Wah ... wah, selamat Ketua Yin, akhirnya kota Hua memiliki murid hebat yang kekuatannya setara murid jenius Sekte besar.”


“Betul Ketua Yin, kami tak menyangka, kota Hua ternyata menyimpan generasi hebat begini.”


Para ketua Clan yang ikut menonton kompetisi itu memuji Ketua Sekte, Tang Yin atas pencapaiannya itu. Karena kebanyakan murid-murid jenius akan melamar ke Sekte Pedang Surgawi di ibukota kerajaan.


“Tidak-tidak,” sahut Tang Yin merendah, “itu semua berkat tetua keenam yang menemukan bakat luar biasa Shuyan dari kalangan bawah,” katanya lagi.


“Apaaaa!” Mereka kaget mendengarnya. Karena selama ini, para Clan di kota Hua tak memperhatikan kalangan bawah Clan mereka, karena mengira mereka tak akan sanggup mengontrak Roh Pedang kuat.


Dengan melihat bakat hebat Shuyan, kini pemikiran mereka terbuka. Tak melulu kalangan atas saja yang sanggup membuat kontrak dengan Roh Pedang kuat.


“Itu muridku ... woi dia muridku!” seru Xiuhuan kegirangan. Padahal targetnya cuma masuk 10 besar saja. Namun kini malah menjadi juara.


Xiuhuan sengaja menyombongkan pencapaian muridnya itu, supaya orang-orang memandang pencapaiannya itu. Xiuhuan berharap tahun depan, akan banyak calon murid yang memilihnya sebagai guru.


Para penonton kemudian bertepuk tangan, karena tontonan yang dibuat oleh Shuyan cukup menarik. Belum lagi mereka tak mengira tetua mesum akan menghasilkan murid hebat.


“Kau hebat muridku!” seru Xiuhuan sambil memberikan jempol pada Shuyan.


Namun si cabai rawit tak mau melihat kearahnya. Ia malah melambaikan tangan pada para penonton yang bertepuk tangan padanya.


“Sudahlah tetua keenam, kau itu tak berbuat apa-apa. Muridmu itu menetas sendiri, cuma kebetulan sarangnya di tempatmu saja. Kalau ia bersarang padaku, malah aku yakin ia akan lebih ganas lagi hahaha ....” Tetua ketiga mengejek Xiuhuan yang diabaikan oleh muridnya sendiri.

__ADS_1


Xiuhuan duduk kembali dengan wajah masam. Xiao Liu menepuk pundaknya, “sabar ... namanya juga anak-anak!” katanya.


Bersambung ...


__ADS_2