
Raja Zhu Liang mengumpulkan para Jenderal dan menteri untuk membahas, apa yang akan ia lakukan pada Paviliun Bulan yang telah secara terang-terangan mengundang kekuatan asing, yang menurutnya itu adalah sikap pembangkangan—apalagi Zhi Yu juga menolak pinangannya untuk menjadikan dia sebagai Selir barunya.
“Sebaiknya kita tidak menyinggung mereka Yang Mulia, karena kabar yang kudapat dari intelijen kita, bahwa mereka berasal dari Dunia Atas!” Jenderal Zhu Han langsung mengungkapkan keresahan hatinya atas keputusan yang diambil oleh Raja Zhu Liang yang memantik permusuhan dengan Paviliun Bulan, mengingat Paviliun Bukan selama ini menjadi pemasok utama sumberdaya untuk Kerajaan Zhu.
“Apakah Anda mulai takut karena sudah tua, Jenderal Zhu Han?” Jenderal Zhu Xuan menyela ucapan Jenderal Zhu Han. “Dunia Atas itu hanya mitos yang diturunkan nenek moyang kita dan sebenarnya Dunia Atas itu tidak ada, mereka pasti berasal dari suatu Sekte besar yang menyamar menjadi utusan Dunia Atas. Aku menyarankan Yang Mulia memaksa Zhi Duan menyerahkan Putrinya setelah utusan Sekte besar itu pergi dan membocorkan barang apa saja yang akan mereka lelang nanti, supaya kita bisa menyiapkan dana untuk memborong semua sumberdaya bagus.”
Raja Zhu Liang sangat senang mendengar usulan Jenderal Zhu Xuan tersebut, sedangkan terhadap Jenderal Zhu Han—ia langsung mencibirnya dan setuju dengan perkataan Jenderal Zhu Xuan bahwa Jenderal Zhu Han telah terlalu tua, sehingga menjadi penakut. Apa kata Dunia nanti, bila sebuah Kerajaan takut pada Assosiasi Dagang.
“Yang Mulia! Tolong jangan gegabah mengambil keputusan, karena Paviliun Bulan telah mengontak semua Raja di Dunia bawah, begitu juga dengan Sekte-Sekte besar dan Klan besar. Jangan sampai kita menjadi setitik gula yang dikerumuni kawanan semut!” Penasehat Raja juga khawatir dengan keputusan Raja Zhu Liang yang tergesa-gesa ingin menikahi Zhi Yu yang merupakan kecantikan nomor satu di Kerajaan Zhu ini.
Raja Zhu Liang mengerutkan keningnya menatap Penasihatnya tersebut, karena tak menyangka ia lebih mendukung usulan Jenderal Zhu Han daripada keinginannya.
Beberapa menteri mulai mengungkapkan pendapat mereka yang secara garis besar adalah mendukung Jenderal Zhu Han dan Jenderal Zhu Xuan, serta kedua kubu berargumen mempertahankan pendapat masing-masing, sehingga Raja Zhu Liang makin pusing dibuatnya. Kemudian ia mengeluarkan Aura Pembunuh yang membuat mereka semua berhenti berargumen, karena tahu Raja Zhu Liang sedang marah.
“Kerahkan semua Prajurit dan seret wanita lacurr itu kemari!” Raja Zhu Liang berkata pelan, tetapi kata-katanya itu adalah perintah mutlak—sehingga tak ada yang berani membantah. Kemudian ia menatap Jenderal Zhu Xuan, “Berapa lama waktu dibutuhkan untuk mengerahkan semua Prajurit?” Dia berencana memaksa Paviliun Bulan untuk tunduk dibawah kekuasaannya, sehingga bisa memonopoli sumberdaya milik mereka.
“Sekitar Tiga batang dupa Yang Mulia!” sahut Jenderal Zhu Xuan.
“Bagus,” sahut Raja Zhu Liang. “Kamu yang akan memimpin penyerangan ini!”
Jenderal Zhu Liang menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat pada Raja Zhu Liang dan berkata, “Baik Yang Mulia!”
__ADS_1
Beberapa menteri tampak kecewa dengan keputusan yang ia ambil, sedangkan sebagian justru sangat senang—karena Paviliun Bulan adalah Assosiasi dagang terkaya di Kerajaan Zhu dan bila Paviliun Bulan berada dibawah kontrol Kerajaan Zhu, mereka berharap—agar merekalah yang ditunjuk untuk mengelola Paviliun Bulan tersebut.
...***...
Di tempat lain Xiuhuan muncul beberapa langkah di luar Paviliun Bulan. Dia tidak bisa muncul di istana Kerajaan Zhu, karena belum pernah ke tempat tersebut, sehingga ia memutuskan berjalan kaki saja dan menyamar menjadi pelancong.
“Hei, tuan Anda butuh penunjuk jalan tidak?” Anak laki-laki berusia Dua Belas tahun muncul dihadapan Xiuhuan, sehingga ia teringat anak ini seusia dengan Putrinya—Lou Jingmi yang kini sibuk berkultivasi di dalam Pagoda Tujuh Musim.
Xiuhuan tersenyum dan berkata, “Bawa aku ke Istana!”
Anak kecil tersebut terkejut mendengarnya dan langsung berbalik badan, karena tidak ada yang berani mendekati istana tersebut.
Xiuhuan terkejut melihat ekspresi wajah anak kecil tersebut dan menduga ia takut pada Raja, Kerajaan Zhu ini—sehingga menduga-duga, apakah Raja mereka sangat arogan, sehingga rakyatnya pun takut padanya.
“Ibu dan adikku sedang sakit, sedangkan ayah sedang di penjara. Kalau aku tidak bisa membawa makanan, maka penyakit mereka akan bertambah parah!” gumam anak kecil itu sembari menggigit bibirnya, karena sejak kemarin ia dan keluarganya belum makan—karena tidak ada yang memberikan uang padanya saat ia mengemis di jalanan.
Xiuhuan menghela nafas dalam-dalam dan berpura-pura pergi. “Ya, sudahlah! Aku akan mencari pemandu jalan lainnya saja!”
Anak kecil tersebut langsung panik dan segera menarik tangan Xiuhuan. “Aku setuju dan tolong berikan kepingan emas itu, tuan!” Dia tak ingin Xiuhuan mencari pemandu lain.
“Oh, tidak bisa! Aku akan memberikan kepingan emas ini setelah kamu mengantarkan diriku!” sahut Xiuhuan.
__ADS_1
Anak kecil tersebut tampak sangat sedih, karena ia takut ibu dan adiknya mati kelaparan.
Xiuhuan bisa merasa iba melihat ekspresi wajahnya dan merasa mungkin keluarga anak ini dalam kesulitan, sehingga ia terpaksa mengemis di jalanan.
“Baiklah, aku akan memberikan kepingan emas ini, tetapi tunjukkan padaku—apa yang membuatmu aku harus menyerahkan kepingan emas ini lebih dulu?” Xiuhuan berkata pelan sembari menghela nafas panjang.
“Baiklah, namaku Duan Jiang, tuan!” sahutnya dengan senyum lebar dan menarik tangan Xiuhuan yang hanya bisa pasrah saja dibawa anak kecil dengan pakaian compang-camping tersebut.
Mereka berjalan cukup jauh, sehingga Xiuhuan khawatir ada orang-orang suruhan Raja Zhu Liang lagi yang ingin mencelakai Lou Er, walaupun sebenarnya Nie Rou dan yang lainnya dapat mengalahkan mereka, karena mereka memiliki basis kultivasi yang sangat tinggi untuk ukuran Dunia Bawah.
Duan Jiang malah membawa Xiuhuan menjauh dari Kota, sehingga Xiuhuan keheranan—apakah ia tinggal di desa atau kota kecil yang jauh dari ibukota.
Setelah perjalanan satu batang dupa, mereka akhirnya memasuki pemukim yang jalan masuknya di jaga oleh beberapa Pria bertubuh besar dan dengan tampang tidak bersahabat.
“Hei, kenapa kamu cepat pulang? Apakah kamu mendapatkan hasil yang bagus hari ini? Jangan sampai ibumu harus menyetor tubuh pada Bos, karena kamu tidak memberikan setoran harian!” Pria bertubuh besar itu menyeringai menatap Duan Jiang, sehingga Xiuhuan mengerutkan keningnya. Karena hal seperti ini sering menimpa orang-orang lemah seperti Duan Jiang.
“A-aku akan memberikan setoran hari ini dan tolong katakan pada Bos He—untuk tidak membawa ibuku lagi, karena tubuhnya saat ini sangat lemah dan kami belum makan sejak kemarin,” sahut Duan Jiang dengan ekspresi wajah sedih.
Pria besar itu tersenyum lebar dan berkata, “Kamu sudah terlambat, ibumu tadi mendatanginya dan memohon untuk diberikan beberapa makanan agar kamu dan adikmu yang sakit-sakitan itu bisa makan. Aku takut ibumu akan melayani tamu dari bandit tengkorak hehehe ....”
Duan Jiang langsung bergegas menuju rumahnya, karena ia takut ibunya mati ditangan mereka, mengingat ibunya sedang sakit-sakitan. Namun, dipaksa melayani para penjahat tersebut.
__ADS_1
Xiuhuan mengikuti Duan Jiang dan langsung mengerutkan keningnya, karena tempat ini bukanlah pemukiman, tetapi sarang gangster—karena semua yang ada di sini hanya ada pria saja, yang tengah asyik main judi dan mabuk-mabukan.
“Kenapa Duan Jiang dan ibunya tinggal di sini?” gumam Xiuhuan sembari mengedarkan energi spiritualnya mencari keberadaan wanita di pemukim kecil ini.