
“Xiuhuan!”
“Xiuhuan! Cepat bangun! Mau sampai kapan kau berkurung di situ, tetua Lou Zui mencarimu!” teriak Lou Mei menggedor-gedor pintu kamar Xiuhuan.
Setelah pulang dari desa Changan, Xiuhuan berkultivasi memulihkan luka-lukanya dan baru tidur saat menjelang pagi. Namun, sekarang gadis tsundere itu malah membangunkannya.
“Iya tunggu sebentar,” sahut Xiuhuan dengan langkah tergopoh-gopoh menuju kamar mandi.
Lou Mei seperti menunggu gadis yang sedang berdandan saja, Xiuhuan masih asyik bernyanyi dengan suara melengking dari kamar mandinya, sementara ia berdiri di depan pintu seperti orang bodoh.
E few moments later ....
Xiuhuan membuka pintu kamarnya, dia tersenyum pada Lou Mei, yang menatapnya seperti Pangeran tampan dari khayangan; tak lupa Xiuhuan juga melakukan gerakan slow motion membenarkan bentuk rambutnya dengan tangan.
Lou Mei lansung tersadar dengan kekagumannya pada ketampanan Xiuhuan. “Kenapa kau lama sekali, seharusnya jangan buat seorang wanita berdiri seperti orang bodoh di sini,” keluh Lou Mei.
“Aku adalah Pria perkasa, tak elok membawamu masuk ke dalam. Kecuali Mei‘er bersedia menjadi yang ke-21,” sahut Xiuhuan lansung berjalan menuju keluar asrama laki-laki murid tetua Lou Zui itu.
Lou Mei menghentakkan kakinya, ia kesal sekali dengan candaan Xiuhuan itu. Padahal ia sudah senang Xiuhuan kembali dari desa Changan, karena ia sangat kesepian tak memiliki teman di Clan ini. Namun, sikap Xiuhuan makin mengesalkan saja, setelah makin dekat dengannya.
“Ada perlu apa tetua Zui mencariku?” tanya Xiuhuan penasaran.
“Jangan berpura-pura lupa, dia menagih komisi dari menjelajah Makam kemarin,” teriak Lou Mei yang membuat Xiuhuan menutup telinganya.
“Iya-iya! Ambil ini!” Xiuhuan melempar kalung berlian peninggalan Xue Hu pada Lou Mei. “Aku menemukannya di makam. Anggap saja lamaran, supaya ada yang menemaniku tidur malam,” canda Xiuhuan.
“Mimpi!” sahut Lou Mei, tetapi ia lansung mengenakan kalung berlian itu.
__ADS_1
Xiuhuan hanya tersenyum masam, entah kenapa gadis-gadis di Benua Kun Lun ini sulit sekali untuk ditaklukkan. Mereka terlalu mencari laki-laki yang sempurna, tampan, setia dan cuma memiliki satu pasangan. Padahal laki-laki sejati itu harus memiliki tahta, harta dan wanita bejibun.(Jangan ditiru, ya, para reader)
Xiuhuan memasuki kediaman tetua Lou Zui, di sana telah menunggu tetua Lou Zui dan para guru. Sepertinya mereka sudah tak sabar menunggu komisi dari Xiuhuan.
Xiuhuan pura-pura sedih menatap tetua Lou Zui, tetapi tetua itu tak percaya dengan tipuannya itu. Karena ia sudah mendengar Xiuhuan berhasil menuju lantai terakhir dan tak mungkin di sana tak ada harta.
“Kau jangan pasang wajah mengesalkan begitu. Kamu kira dirimu Lou Xue, cantik dan enak dipandang.” Lou Zui menatap sinis Xiuhuan. “Cepat berikan bagian kami dan latihan yang benar, supaya kau pergi ke Sekte Qingyun segera," katanya lagi acuh tak acuh.
“Apa tetua Zui tak mendengar kalau di sana tak ada harta. Kami malah ketemu Naga, untungnya cuma kesadarannya saja—Kalau sempat seperti Naga Lou Feng, bisa ketar-ketir kami menjadi mayat hidup,” sahut Xiuhuan berkilah, ia tak berniat membagi harta peninggalan Xue Hu, karena Lou Xue juga tak membuka mulut, apa yang terjadi di sana waktu itu.
Xiuhuan merasa Lou Xue takut dengan ancamannya, padahal sudah sifatnya begitu—tak mau mencampuri urusan orang lain.
Xiuhuan juga tak menceritakan informasi dari Naga Shuilong tentang Naga Lou Feng yang ternyata menjadi ancaman besar bagi umat manusia, kalau ia telah menuju alam keabadian nantinya.
Xiuhuan berencana akan mendatangi Lou Feng saat ia mencapai Ranah Absolute God dan menantangnya bertarung, apalagi ia sudah memiliki inti kehidupan Naga Shuilong untuk melawannya.
“Murid laknat! Kau jangan bercanda, sini biar kuperiksa cincin dimensi milikmu. Aku sudah berumur panjang dan sudah tahu trik murahan begitu,” ancam Lou Zui.
“Jangan bergumam aku itu rakus murid laknat, cepat berikan bagian kami. Guru-guru ini mau mengajar murid-murid lain juga,” keluh Lou Zui melihat Xiuhuan tampak berpikir terlalu dalam.
“Baik-baik ... Aku akan memberikan uang pribadiku sajalah. Kalian tega sekali merampok harta murid sendiri,” sahut Xiuhuan memasang mimik wajah sedih.
“Kau!” Lou Zui tak bisa berkata-kata lagi menghadapi murid yang banyak akal bulus ini dan tiba-tiba sebuah Lukisan yang hampir membuat jantungnya copot muncul di tangannya. “Ini ....”
“Sungguh mahakarya ....”
“Kakek!” teriak guru wanita, yang merupakan cucunya itu; kesal melihat wajah Lou Zui yang mimisan melihat lukisan Xue Hu dengan balutan hanfu putih setipis kertas, lekukan tubuhnya terlihat jelas seperti salju di puncak gunung Lou Feng.
__ADS_1
“Wah siapakah wanita cantik ini. Apakah dia penghuni makam itu?”
Guru-guru laki-laki juga menerima lukisan itu, sedangkan guru perempuan mendapatkan kalung berlian dari Xiuhuan.
“Sekarang kalian sudah yakin, kan? Tak ada apapun di sana, cuma ini yang kudapatkan. Padahal lukisan-lukisan ini mau kupajang di kamar untuk bahan berhalusinasi, tetapi sayang sekali. Para guru-guru malah merampoknya, kalau begini aku harus mencari beberapa istri di Clan ini,” canda Xiuhuan dengan wajah serius agar tak ditagih lagi.
Namun, Xiuhuan kurang perhitungan. Guru-guru wanita yang awalnya senang mendapatkan perhiasan dari Xiuhuan, tiba-tiba mengirim tatapan tajam padanya, sehingga bulu kuduknya berdiri.
“Ah, gawat. Aku harus pergi ke Aula Kegelapan untuk menantang peringkat lima besar. Aku mau jadi murid terkuat Clan,” kilah Xiuhuan kabur dari kediaman tetua Lou Zui. “Ah, wanita selalu menyeramkan kalau tersinggung,” gerutu Xiuhuan saat berada di luar kediaman tetua Lou Zui.
Xiuhuan kemudian memutuskan menuju restoran sturbak sarapan pagi, karena Lou Mei telah pergi lebih dulu ke sana. Namun, saat ia akan memasuki restoran itu, ia melihat Lou Xue yang juga akan masuk ke dalam.
“Saudari Xue!” sapa Xiuhuan yang membuat murid-murid lain tercengang. Tak ada yang berani melakukan itu padanya, karena ia adalah murid peringkat satu dan tak boleh disinggung. “Makin cantik saja saudari Xue. Ah, aku lupa tadi malam kedua puluh istriku menghubungiku melalui artefak bip-bip, bahwa mereka hamil serentak; Aku jadi heran kok bisa samaan begitu, ya. Tabib di Benua Kun Lun ini memang hebat ....”
Lou Xue menatap Xiuhuan sekilas, ia tak berkata apapun. Dingin seperti salju puncak gunung Lou Feng, sorotan matanya mengandung makna tersirat, yang sulit untuk ditebak.
“Apakah Xiuhuan sudah gila!”
“Dia berani menyinggung Bidadari Salju, entah dari mana datang keberaniannya itu.”
“Mungkinkah ia sedang mabuk, karena terlalu banyak minum arak semalam.”
Murid-murid membicarakan Xiuhuan, sedangkan Lou Xue lansung menuju lantai tiga restoran sturbak. Ini adalah terakhir kalinya ia berada di kota Nancheng, karena besok ia akan menuju Sekte Qingyun.
“Saudari Xue!—Sampai jumpa di Sekte Qingyun!” seru Xiuhuan saat ia akan melangkahkan kaki menaiki tangga. “Bulan depan aku akan mencapai tingkat Immortal Menengah,” katanya lagi.
Semua orang terkejut, mereka sudah mengetahui Xiuhuan adalah murid baru dan belum sampai dua tahun berada di kota Nancheng ini, tiba-tiba dia akan melangkah ke Sekte Qingyun, membuat mereka iri dan kagum. Karena kultivasinya sangat cepat.
__ADS_1
Namun, Lou Mei tampak sedih mendengarnya, karena ia belum juga melangkah ke tingkat selanjutnya. Kultivasinya masih mandek di Immortal Awal. Dan berarti, ia akan berpisah dengan Xiuhuan lagi.
...Bersambung...