
“Tuan Xiuhuan, ini pesanan Anda!” seru SPG yang melayani Xiuhuan. 500 Pil Neraka telah dimasukkan ke dalam kantung olehnya dan juga menyerahkan Plakat khusus Paviliun Shilin dan Plakat Sekte Pedang Taiyang yang kini tak ada isinya, karena telah dipindahkan ke Plakat Paviliun Shilin.
Dengan senyum lebar, Xiuhuan menerima kantung itu. “Terimakasih nona cantik,” goda Xiuhuan sembari mengedipkan sebelah matanya.
SPG itu hanya tersenyum melihat tingkah genit Xiuhuan itu. Ia tak bisa memarahinya, selama Xiuhuan tak melakukan pelecehan terhadapnya.
“Senior mesum ayo pergi. Saudari SPG-nya masih akan melayani pengunjung lain. Liu Ruyan menarik tangan Xiuhuan, menjauhi SPG cantik itu.
“Sekarang kita mau kemana, Yan‘er?” tanya Xiuhuan.
Liu Ruyan juga bingung mau kemana lagi. Karena tak ada yang spesial lagi di kota Guangxi ini, selain Restoran Kaefci dan Paviliun Shilin.
“Aku juga tak tahu lagi senior,” jawab Liu Ruyan.
“Kalau begitu kita kembali ke Sekte saja. Aku mau istirahat sebentar dulu. Apakah kau ikut lagi nanti malam, menjumpai Pelayan restoran tadi?” tanya Xiuhuan lagi.
“Hmm, aku tak ikut senior. Kalau malam aku lebih suka tinggal di Sekte,” sahut Liu Ruyan.
“Baiklah, kalau kau tak mau,” balas Xiuhuan.
Keduanya kemudian berjalan kembali ke Sekte Pedang Taiyang. Saat di gerbang masuk Sekte, Xiuhuan melihat seorang murid berjalan dengan luka disekujur tubuhnya.
Xiuhuan bingung, kenapa ada yang berani melukai murid Sekte di luar sana. “Apa ia bertengkar dengan sesama murid Sekte?" gumam Xiuhuan mempercepat langkahnya.
***
“Hei, bro! Ada apa denganmu?” Xiuhuan menepuk pundak murid yang terluka itu.
Murid tersebut menengok ke arah Xiuhuan dengan tatapan tajam. Ia ingin menggertak orang yang memegang pundaknya itu
“Eh, senior ... ini bukan apa-apa," jawabnya. Dia kini tersenyum masam. Hampir saja ia salah menggertak orang. Ia lansung ingat dengan wajah Xiuhuan yang telah mengalahkan Su Rong tadi.
“Tak mungkinlah kau terluka, tanpa ada yang menghajarmu?” tanya Xiuhuan lagi dengan senyum tipis, agar murid tersebut tak ketakutan melihatnya.
“Aku habis dari Rumah bordil Xiangshou senior,” jawabnya lagi.
“Eh, seharusnya kau itu cerah keluar dari sana. Bukan menyedihkan begini," kata Xiuhuan lagi.
Mendengar percakapan yang tak berfaedah dari keduanya. Liu Ruyan lebih memilih masuk duluan ke Sekte Pedang Taiyang.
__ADS_1
“Yan‘er tak usah kalian cari aku nanti, ya.” Xiuhuan berteriak saat melihat Liu Ruyan telah memasuki Sekte.
Liu Ruyan tak menggubrisnya, ia yakin Xiuhuan tertarik dengan Rumah bordil Xiangshou, mengingat ia adalah laki-laki yang sudah pernah menikah. Pastilah ia akan mencari tempat untuk menyalurkan hasratnya. Itulah yang ada dibenak Liu Ruyan.
“Begini senior. Di sana itu selain tempat pelacuran, juga tempat perjudian dan yang paling diminati adalah tarung bebas. Tapi resikonya kematian, karena tak dilarang untuk membunuh lawannya. Tadi aku cukup beruntung, lawanku tak membunuhku, karena ia dulu adalah mantan murid Sekte Pedang Taiyang juga,” kata murid tersebut.
“Aku tak tertarik dengan pertarungan itu, tapi aku tertarik apakah gadis-gadis di sana cantik-cantik?” tanya Xiuhuan dengan senyum menyeringai.
Murid tersebut geleng-geleng kepala melihat ekspresi Xiuhuan itu. Ia tak menyangka ternyata orang terkuat di sektenya itu adalah Pendekar Pedang mesum.
“Itu sih, tergantung. Kalau yang mahal cantik dan yang murah tentulah tak enak dipandang," jawab Murid tersebut lagi.
“Terimakasih bro. Kau rawatlah lukamu, sampai jumpa,” kata Xiuhuan sambil melesat ke arah rumah bordil Xiangshou.
***
Tak butuh lama, dengan jurus Langkah Kilat, Xiuhuan telah sampai di depan gerbang rumah bordil Xiangshou.
Dengan semangat menggebu-gebu, Xiuhuan lansung melangkah kaki ke dalam.
Beberapa pengunjung lansung memandangi Xiuhuan. Karena tak biasanya murid Sekte Pedang Taiyang memasuki rumah bordil. Biasanya mereka mensiasatinya dengan mengganti jubah mereka. Namun Xiuhuan tak tahu aturan-aturan di Sekte Pedang Taiyang, karena ia adalah murid naturalisasi lansung main labrak saja.
Di dalam ruangan lantai satu ini banyak juga pengunjung wanita yang ternyata adalah pelacur itu sendiri.
Mereka merayu setiap pria yang menurut mereka akan membutuhkan servis mereka.
***
“Hai ganteng!” goda seorang wanita berumur 60-an.
“Hei, kalau mau goda orang. Lihat-lihat dululah, masa aku akan meniduri nenek-nenek sepertimu,” cibir Xiuhuan sambil menepis tangan wanita itu dari pundaknya.
“Ara-ara, galak betul kau tampan,” goda wanita yang tak ingat umur itu. “Aku dulunya adalah primadona di sini, tapi sekarang tak ada yang mau lagi padaku. Jadi aku berubah menjadi mucikari saja. Kau butuh wanita yang bagaimana?” kata wanita itu lagi.
Xiuhuan tersenyum lebar, ia ternyata salah menilai orang. “Yang cantik, belum tidur dengan siapapun hari ini. Ada?” tanya Xiuhuan.
“Hmm, itu sih ada. tapi muaaahal,“ balas wanita bau tanah itu dengan suara manja sambil mencubit pipi Xiuhuan, ia gemas sekali ingin menciumnya. Namun tak berani, karena Xiuhuan adalah murid Sekte Pedang Taiyang, takutnya nanti Xiuhuan malah marah padanya.
“Memangnya berapa?” tanya Xiuhuan kembali menepis tangan wanita tua itu dari wajahnya.
__ADS_1
“Mari ikuti aku. Kau bisa bernegosiasi dengan mereka. Sepertinya kau adalah tuan muda yang banyak duit,” balas wanita itu merangkul tangan Xiuhuan menuju lantai tiga. Tempat wanita dengan layanan ekstra berada.
Beberapa wanita di lantai dua ingin menggoda Xiuhuan, namun mucikari tua itu melarang mereka. Karena Xiuhuan akan dibawanya menuju lantai tiga.
“Selamat datang di surga kota Guangxi ....” Wanita tua itu membuka pintu ruangan khusus di lantai tiga.
Ada sekitar lima puluh wanita cantik sedang duduk berjejer di kursi empuk.
“Wah-wah ... memang luar biasa. Aku jadi bingung memilih yang mana?” Xiuhuan tersenyum lebar. “Ini belum fresh, kan?” tanya Xiuhuan meyakinkan kembali.
“Tentu saja. Mereka ini bekerja sekali sebulan saja setelah mendapatkan pelanggan. Mereka juga tak sembarang memilih orang. Harus dengan sesuai dengan selera mereka saja dan tak bisa diganggu gugat.” Wanita tua itu kembali menjelaskan aturan mainnya.
“Hehehe ... terus bagaimana nih, aturannya. Aku mau bongkar mesin dulu. Sudah lama tak servis, nih,” kata Xiuhuan.
“Ayo ladies! Tunjukkan pesona kalian. Siapa yang mau menservis tampan kita ini,” kata mucikari tua.
Melihat wajah Xiuhuan yang tampan, semuanya berdiri.
“Kau beruntung tampan. Sekarang kau berikan penawaran lebih dulu. Bisa dari harga paling murah lah, untuk menyeleksi mereka,” kata mucikari tua.
“Murah?” gumam Xiuhuan. “Bagaiman kalau 1000 Poin!” tawar Xiuhuan.
Sontak saja satu persatu, para wanita penghibur itu duduk kembali.
“Murah sekali tampan. Setidaknya disini itu adalah 10.000 Poin,” bisik Mucikari tua.
“Eh, begitu, ya.” Xiuhuan menggaruk kepalanya, karena tak tahu aturan mainnya. Namun Xiuhuan melihat di deretan ujung masih ada yang berdiri. “Hahaha ... tapi aku bernasib mujur,” kata Xiuhuan tertawa senang sambil menunjuk wanita yang di deretan ujung itu.
Mucikari tua memperhatikan wanita itu. “Sepertinya dia orang baru,” kata mucikari tua. “Ladies kau ke sini,” panggil mucikari tua.
Wanita cantik yang dibalut dengan Hanfu berwarna putih dan mengenakan penutup wajah itu mendekati mereka.
Sesampainya di hadapan Xiuhuan, ia membuka penutup wajahnya dan tersenyum tipis melihat Xiuhuan.
“Eh, kauuuuuuuu!” Xiuhuan kaget melihat wanita itu.
***
Siapakah dia, kok, Xiuhuan kaget? Bersambung 😁😁😁
__ADS_1