
Gu He berkeringat dingin, ia tak menyangka melawan tetua kedua sangat merepotkan. Apalagi tetua kedua bisa masuk ke dalam tanah dan tak diketahui ke mana keluarnya.
Gu He memejamkan matanya dan memfokuskan diri pada indra penciumannya. Ia mengendus bau tetua kedua yang telah ia tandai.
“Di belakang!” seru Gu He menebas Pedangnya.
“Booommmm!”
Kedua Pedang mereka beradu, yang menimbulkan efek energi besar. Tanah dan kerikil disekitar mereka bertebaran ke udara.
Gu He terdorong mundur beberapa langkah, kekuatan tetua kedua lebih besar darinya. Ia menyeka darah yang keluar dari bibirnya.
Tetua kedua tak membiarkan Gu He berleha-leha, ia langsung menggunakan mode full Ular Anaconda hitam dan melilit tubuh setengah serigala Gu He.
Setelah melilitnya, mulut tetua kedua terbuka lebar bersiap memakan kepala Gu He.
“Gawat!” gumam Gu He lansung berubah ke wujud full serigala.
Saat mulut besar wujud Ular Anaconda hitam tetua kedua akan memakannya. Gu He menggigit mulut bagian bawah wujud Ular Anaconda hitam tetua kedua itu.
Tetua kedua menjerit kesakitan, dan ia mengencangkan lilitannya. Sehingga terdengar suara tulang-tulang Gu He retak akibat lilitan itu.
Gu He ingin menjerit, namun tidak ia lakukan. Karena sama saja itu membiarkan tetua kedua memakan kepalanya. Justru Gu He malah mengencangkan gigitan, sehingga taringnya makin dalam menembus mulut bagian bawah wujud Ular Anaconda hitam tetua kedua.
“Aaaa ... b-blengsek cau!” teriak tetua kedua mengumpati Gu He.
Gu He tak menanggapinya, ia malah mengencangkan gigitannya. Sehingga darah tetua kedua mengalir deras keluar.
Tetua kedua mengalirkan lebih banyak qi pada bagian tubuhnya. Sehingga lilitannya makin kencang, Gu He yang merasakan tulang-tulangnya retak, segera mengalirkan tenaga dalam ke sana. Agar ia bisa bertahan lebih lama dan berharap pendarahan yang dialami oleh tetua kedua akan melemahkan kekuatannya.
__ADS_1
“Ah, gawat sepertinya aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Tuan muda Yao, maafkan aku masih tak berguna hingga sekarang. Aku berharap kamu bisa memenangkan pertarungan ini dan nikahilah Yan‘er. Walaupun ia sudah ternodai demi membantu perjuangan kita.” Air mata Gu He mulai mengalir membasahi pipinya. Pandangannya makin buram, ia kemudian mengalirkan seluruh qi miliknya dan memfokuskan tenaga dalam pada rahangnya. Sehingga gigitannya menghancurkan mulut tetua kedua.
Disaat bersamaan, suara tulang-tulang patah kembali berbunyi. Tak ada lagi regenerasi, karena Gu He tak mengalirkan tenaga dalam ke bagian tulang-tulangnya itu.
Suara jeritan kesakitan tetua kedua terdengar jelas dan Gu He samar-samar melihat mulut bagian bawah wujud Ular Anaconda hitam tetua kedua tak ada lagi. Darah memuncrat deras keluar dari mulutnya itu.
Tetua kedua menghempaskan tubuh Gu He yang telah kembali ke wujud manusia. Tubuhnya berguling-guling di tanah.
“Hahaha ... kepalaku makin pusing!” seru Gu He tertawa pelan dan tak lama kemudian, tubuhnya menabrak pohon. “Yan‘er ... aku mencintaimu. Semoga tuan Xiuhuan menyelamatkanmu dan tuan muda Yao,” ucapnya lagi dan kesadarannya pun hilang.
Gu He tergeletak tak berdaya, tak ada yang memastikan apa ia masih hidup atau sudah mati. Anggota Clan Gu yang mendukung Gu Yao telah berguguran oleh bala bantuan anggota Clan Gu pendukung Gu Lin.
Kembang api berwarna hitam meluncur di atas kediaman tetua kedua. Pertanda Gu He dan rekan-rekannya telah gagal menaklukkan tetua kedua.
Gu Xu dan Pendekar Pedang yang berhasil mengalahkan tetua keempat di bagian barat kota Yannan, dibuat kaget saat melihat kembang api itu.
“Saudara He!” seru Gu Xu dengan suara bergetar. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Setelah kehilangan ayahnya, Gu Qian. Kini giliran sahabatnya yang ikut gugur dalam pertarungan ini.
Pendekar Pedang yang menjadi ketua tim penyerbuan ke kediaman tetua kelima menghampiri Gu Xu.
Ia berhasil mengalahkannya tetua kelima, namun setengah tim yang ia bawa juga harus menjadi tumbal dalam penyerbuan itu.
Gu Xu menyeka air matanya, dalam situasi ini sangat diperlukan ketenangan dalam berpikir. Agar tim yang tersisa tak mati sia-sia oleh keteledorannya sebagai ketua tim penyerbuan.
“Kumpulkan semua tim tersisa, nyalakan kembang api kuning!” sahut Gu Xu.
“Kembang api kuning?” Pendekar Pedang itu kebingungan dengan instruksi-nya itu. Karena kembang api kuning, berarti mereka akan menuju Kediaman Ketua Clan Gu. “Mengapa kita ke sana?” tanyanya lagi.
“Kita sudah kalah. Yang harus kita lakukan adalah menyelamatkan tuan muda Yao,” jawab Gu Xu segera melesat ke arah Kediaman Ketua Clan Gu.
__ADS_1
Pendekar Pedang yang tersisa mengikutinya ke sana. Sedangkan ketua tim tadi, segera memerintahkan anakbuahnya untuk menembakkan kembang api kuning ke langit kota Yannan itu.
Pendekar Pedang pendukung Gu Yao yang telah berpencar, karena mengalami kekalahan diberbagai tempat di kota Yannan. Segera menuju Kediaman Ketua Clan Gu.
Banyak diantara mereka yang tak sampai ke Kediaman Ketua Clan Gu, karena dihadang pihak lawan. Dan hasilnya sudah bisa ditebak, mereka tewas ditangan musuh karena kalah jumlah.
***
“Ka-kami kalah!”
Gu Ruyan terkulai lemas melihat banyaknya kembang api berwarna hitam di langit. Air matanya berderaian membasahi pipinya. Perjuangan yang telah mereka persiapkan selama sepuluh tahun ini ternyata sia-sia saja. Belum lagi ia menyerahkan tubuhnya pada Xiuhuan, namun nyatanya mereka tetap kalah.
Gu Yue menepuk pundak Gu Ruyan, ia juga merasa sedih dengan kekalahan ini. Karena ia dan keluarganya pasti akan mendapat hukuman berat dari Ketua Clan Gu.
Gu Yue telah berkhianat dengan membiarkan anak Ketua Clan dan anak tetua pertama dibunuh oleh Xiuhuan. Ia malah bergabung dengan kelompok Gu Yao yang ingin menumbangkan kepemimpinan Gu Lin.
“Saudari Ruyan ... bukannya tuan Xiuhuan itu adalah Pendekar Pedang tahap Melawan Kehendak Langit, kenapa tak memintanya membunuh Ketua Clan. Dengan begitu perjuangan kita tak akan sia-sia,” kata Gu Yue teringat akan keberadaan Xiuhuan setelah melihat Kloning Manusia Air dengan mudah membunuh Pendekar Pedang anggota Clan Gu pendukung Gu Lin.
“Dalam perjanjian kerjasama kami dengannya, dia hanya akan bertindak apabila tetua dari Sekte Bambu Kuning datang membantu Gu Lin,” sahut Gu Ruyan dengan suara pelan.
Ia kemudian melihat kembang api kuning menyala di langit kota Yannan. Berarti semua Pendekar Pedang Pendukung Gu Yao diminta menuju Kediaman Ketua Clan Gu.
“Segeralah kabur dari sini dan bawa keluargamu sejauh mungkin. Karena kami telah kalah,” kata Gu Ruyan lagi sembari bergegas menuju Kediaman Ketua Clan Gu. “Yao gege, semoga saja kamu baik-baik saja,” gumam Gu Ruyan khawatir dengan nasibnya. Karena dalam rapat mereka kemarin, Gu Yao akan memimpin seribu Pendekar Pedang ke kediaman Ketua Clan Gu.
“Tunggu!” seru Gu Yue menarik tangan Gu Ruyan. “Kita harus meminta tuan Xiuhuan membantu kita. Kan, dia mengatakan akan melakukan apa saja asalkan dibayar. Bagaimana kalau kita bernegosiasi lagi dengannya,” katanya lagi merasa masih ada harapan dalam memenangkan pertarungan ini.
“Ta-tapi Aku telah menjadi budaknya. Dengan apa kita bernegosiasi. Lagi pula kalau kita melibatkannya, maka tetua Sekte Bambu Kuning pasti akan muncul menghadangnya,” sahut Gu Ruyan merasa mereka sudah tak memiliki harapan lagi.
Gu Yue menghela nafas panjang dan berpikir sejenak, mungkin ia bisa mencari solusi tepat. Kemudian ia tersenyum, membuat Gu Ruyan merasa aneh melihatnya.
__ADS_1
...⚔️Bersambung⚔️...