
Xiuhuan dan Liu Ruyan memasuki restoran Kaefci, yang merupakan restoran terbesar di kota Guangxi itu. Restoran itu sendiri terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama itu untuk umum, kedua premium dengan membayar biaya tambahan 100 Poin dan terakhir adalah kelas VVIP yang cukup mahal, karena biaya tambahannya adalah 500 Poin.
Lantai tiga atau VVIP ini hanya terdapat lima meja saja. Dimana pemesanannya adalah per-meja, bukan perorangan.
Seorang Pelayan restoran lansung menghampiri Xiuhuan. Dengan senyum pepsodentnya ia berkata, “Selamat datang tuan dan nona di Restoran Kaefci. Adakah yang bisa kami bantu?”
Xiuhuan lansung tersenyum. “Satu meja VVIP dan bolehkah saya lihat daftar menunya?” balas Xiuhuan.
“Tentu saja, kepuasan pelanggan adalah prioritas kami,” sahut wanita cantik dengan berlesung pipi itu. Dia langsung memberikan daftar menu pada Xiuhuan dan mengabaikan tamu lainnya.
Tamu VVIP biasanya akan memberikan beberapa tips pada pelanggannya. Makanya jika ada tamu VVIP para pelayan akan rebutan melayani mereka.
“Akun siomay dan sate kambing 30 tusuk. Minumnya es teh manis saja,” kata Xiuhuan sambil melirik Liu Ruyan. “Kau pesan apa sayang?” goda Xiuhuan sambil memberikan daftar menu itu padanya.
Pelayan itu senyum-senyum melihatnya. Ia menyangka kedua murid Sekte Pedang Taiyang itu adalah sepasang kekasih. Sedangkan Liu Ruyan tersipu malu mendengar gombalan Xiuhuan. Ia langsung melihat daftar menu itu.
Walaupun tinggal di Sekte Pedang Taiyang, namun ini pertama kalinya ia memasuki restoran Kaefci ini. Mengingat harga di sini cukup mahal, tentu saja Liu Ruyan lebih memilih makan di kantin Sekte atau di warteg murah meriah namun tetap rasanya enak dan lezat.
Liu Ruyan merekomendasikan tempat ini karena takut Xiuhuan tak selera makan di tempat sederhana saja. Padahal ia tak tahu sebenarnya Xiuhuan adalah sejenis mamalia pemakan apa saja. Bahkan dulu, semasa ia masih menjadi pemalas akut, ia rela tidur dengan emak-emak kegatelan untuk mengganjal perutnya saja.
“Hei, Qianran!” Pelayan wanita lain memanggil Pelayan wanita yang tengah melayani Xiuhuan itu. “Enak sekali dirimu, berleha-leha disitu?” bentaknya, membuat Xiuhuan kaget.
“Kakak Xi, aku sedang melayani tamu VVIP ini,” jawabnya dengan sorotan mata ketakutan.
“Ah, ngeles saja dirimu. Mana mungkin mereka sanggup memesan meja VVIP. Lihat tuh, jubah mereka itu berlambang T77 yang berarti murid tetua ke-77, berarti tempatnya murid-murid ampas dan miskin bersarang,” kata Pelayan wanita bernama Xie Xi itu. “Kalau murid tetua pertama baru aku yakin, apalagi tuan muda Su Rong,” katanya yang membuat kuping Xiuhuan panas.
“Maaf apa jabatan anda di sini?” sela Xiuhuan.
“Aku Pelayan sama seperti Qianran. Tapi bekerja di sini tak boleh berleha-leha seperti yang ia lakukan ini. Semua di gaji sama, kalau aku adukan pada bos. Ia pasti akan memecatmu. Nanti mau pakai apa kau berikan makan anakmu yang kecil-kecil itu?” katanya lagi mengungkapkan privasi Qianran.
__ADS_1
Liu Ruyan sangat kesal pada Pelayan itu, apalagi Pelayan yang lainnya juga tak ada yang melerai perkataannya.
“Aku pesan ini ... ini juga ... ini lagi!” seru Liu Ruyan menunjuk tiga makanan termahal di restoran Kaefci itu.
“Silahkan tuan dan nona aku antar. Tolong maafkan ucapan temanku tadi,” kata Qianran tetap sabar mendapat cemoohan dari rekan kerjanya.
Qianran mengantar Xiuhuan dan Liu Ruyan ke lantai tiga. Tampak di sana empat meja telah diisi oleh pengunjung lain.
“Silahkan ditunggu sebentar tuan dan nona, saya akan bawakan segera pesanan kalian,” kata Qianran.
“Ya, kami tunggu,” sahut Xiuhuan. Kemudian ia melihat di atas meja ada beberapa buah yang merupakan sumberdaya tingkat tinggi. “Apakah ini boleh dimakan?” tanya Xiuhuan.
Qianran tampak bingung, sebab itu hanyalah pajangan saja, supaya kelihatan menarik. Tentunya tak ada larangan memakannya, namun setahu Qianran tak ada yang berani memakan sumberdaya tingkat tinggi secara langsung. Baru kali ini ia melihat pelanggan mengatakan hal tersebut.
“Itu bahaya senior!” sahut Liu Ruyan. “Ini adalah sumbernya tingkat tinggi. Harus diolah dulu menjadi Pil Neraka, baru boleh.” Liu Ruyan geleng-geleng kepala mendengarnya.
“Kalau tuan sanggup memakannya, itu boleh-boleh saja. Tak ada larangan untuk itu,” kata Qianran kemudian ia pamit undur diri untuk mengambil pesanan Xiuhuan dan Liu Ruyan.
Dengan santai Xiuhuan mengunyah sumberdaya itu secara langsung, sehingga terjadi badai kecil dalam Rongqinya, ibarat kata Xiuhuan itu sedang nge-cheat. Karena metode curangnya itu dengan cepat mengisi ulang kembali qi dalam Rongqinya.
Liu Ruyan bingung melihat Xiuhuan, karena tak terjadi apa-apa padanya. Karena beberapa kejadian, ada Pendekar yang mencoba melakukan itu, malah berakhir dengan rusaknya atau Rongqinya menjadi cacat.
“Yan‘er ... metode berkultivasi itu tak harus menyerap Pil Neraka yang memang sangat bagus menurutku, karena berkultivasinya lebih cepat. Asal kau tahu, sebelum Paviliun Shilin ada, para Pendekar Pedang itu berkultivasi dengan menyerap sumberdaya secara langsung. Pertama-tama kau serap yang tingkat rendah dulu. Setelah itu saat levelmu sudah tinggi maka kau bisa melakukan seperti yang kulakukan ini.” Xiuhuan memberikan penjelasan.
“Yah, aku seharusnya tak kaget. Kan, senior adalah Pendekar Pedang tahap Melawan Kehendak Langit,” balas Liu Ruyan.
“Pendekar Pedang tahap Melawan Kehendak Langit?” Para pengunjung restoran di ruang VVIP itu kaget mendengarnya.
“Kau terlalu meninggikan kemampuanku Yan‘er. Mana mungkin aku sekuat itu,” jawab Xiuhuan berkilah.
__ADS_1
“Ternyata bercanda toh, lagipula mereka murid tetua ke-77. Mana mungkin sekuat itu.” Bisik-bisik pengunjung restoran VVIP itu.
Xiuhuan tersenyum mendengar bisikan-bisikan mereka. Kemudian Qianran datang membawa makanan pesanan Xiuhuan dan Liu Ruyan.
“Wah-wah enaknya,” kata Xiuhuan lansung memakan siomay pesanannya dan melirik pesanan Liu Ruyan. “Wah, punyamu enak-enak sekali tampaknya,” kata Xiuhuan.
“Tentu dong! Tak boleh minta-minta, ya!” sahut Liu Ruyan tertawa.
“Hah, pelit!” seru Xiuhuan. Kemudian ia melirik Qianran yang masih berdiri. “Berapa semuanya?” tanya Xiuhuan.
“Totalnya menjadi 1000 Poin tuan,” jawab Qianran.
“Aku transfer sebesar 2000 Poin, ya. Nanti gunakan untuk keperluan anak-anakmu. Aku sebenarnya sudah sering menikah, tapi tak mendapatkan keturunan hehehe ... tapi bukan kawin cerai, ya. Mendengar perkataan temanmu tadi, aku rasa kau butuh biaya untuk merawat mereka. Apa ini masih kurang? Biar aku tambahin,” kata Xiuhuan.
Liu Ruyan tak menyangka Xiuhuan akan baik begitu. Ia menjadi kagum padanya.
“Ba-bagaimana kalau senior antarkan Poin bonusnya ke rumahku saja atau janjian di mana gitu. Karena bos akan memeriksa semua Plakat kami saat pulang nanti, apakah ada yang korupsi. Kalau diberikan diluar restoran, aku bisa menabungnya ke Plakat Paviliun Shilin,” bisik Qianran senang dengan pemberian Xiuhuan itu.
“Begitu, ya. Kapan kau pulang kerja, karena aku harus berkultivasi sesegera mungkin. Kompetisi antar Sekte sebentar lagi akan diadakan. Aku butuh mengisi ulang kembali qi dalam Rongqiku yang kuhambur-hamburkan tadi saat mencoba jurus baru hehehe ....” Xiuhuan tertawa.
“Agak larut malam tuan," jawab Qianran senang, karena Xiuhuan mau memberikan bonus itu diluar restoran.
“Hmm, aku tunggu di depan restoran ini saja kalau begitu,” kata Xiuhuan. Kemudian ia mentransfer biaya makannya sebesar 1000 Poin.
Saat Qianran akan pergi, tiba-tiba saja Xie Xi datang membawa pengunjung berjumlah Lima orang dengan tampang seperti tuan muda dari keluarga kaya.
Xie Xi bingung, ternyata tak ada meja kosong lagi. Ia kemudian menoleh ke arah Xiuhuan dan Liu Ruyan. Xie Xi tersenyum lebar, ia ingin mengusir mereka. Karena cuma mereka tamu yang tak terpandang atau berkedudukan sosial tinggi dalam ruangan itu.
...⚔️Bersambung⚔️...
__ADS_1