
Xiao Liu melompat tinggi ke udara dan mendarat di atap rumah penduduk yang lansung jebol, akibat kerasnya pendaratannya.
"Aaaaaaaaa!" Sepasang suami istri yang lagi asyik-asyiknya berolahraga malam, dibuat kaget oleh kehadiran Xiao Liu tepat di sebelah ranjang mereka. Karena atap rumah mereka sudah jebol, akibat lompatan yang sangat jauh dari tempat penginapan yang hampir mencapai seratus langkah jauhnya.
Xiao Liu lansung menutup mata Dou Yi, "kau belum cukup umur!" serunya lansung kabur dari sana, padahal iapun baru kali ini melihat yang begituan.
"Cepat ikuti mereka!" seru Ho pada Gui yang melayang di udara.
"Baik senior Ho!" Dia kemudian melesat cepat ke tempat mendaratnya Xiao Liu saat melompat jauh. "Mereka tak ada?" Ia memandangi kembali melayang ke udara memperhatikan sekitar rumah itu.
"Lompatan Rubah!"
Xiao Liu melompat tinggi ke udara mengarah tepat pada posisi Gui yang memantau keberadaan Xiao Liu.
"Tebasan Es!"
Xiao Liu tiba-tiba sudah berada tepat di hadapan Gui, ia menangkis tebasan pedang Xiao Liu. "Tebasan Cakar Singa!" seru Gui, namun ia tetap terpental kebawah, karena perbedaan level mereka.
Xiao Liu sendiri berada pada Pendekar Pedang tahap 63, sedangkan Gui cuma pada Pendekar Pedang tahap 60. Tentu saja perbedaan kekuatan keduanya sangat terasa, walaupun cuma tiga level saja, namun itu sudah cukup untuk duel satu lawan satu.
"Putaran Badai Es!"
Xiao Liu tak berhenti disitu, sambil jatuh kebawah ia melakukan tebasan sekali lagi pada Gui yang terhempas ke bawah. Puluhan bongkahan es mengiringi tebasan pedang Xiao Liu.
"Ah, gawat!" Gui tak sempat menahan serangan Xiao Liu.
"Auman Harimau" Sebuah dinding tanah muncul tepat dihadapan Gui.
Ternyata, Ho datang menolong Gui, namun dinding tanah yang dibuatnya tetap hancur oleh tebasan pedang Xiao Liu.
"Lompatan Serigala!" Dewei menangkap tubuh Gui, sehingga ia terhindar dari serangan mematikan Xiao Liu.
***
Xiuhuan yang sedang melaju dengan kereta kuda merasa ada yang tak beres terjadi pada Xiao Liu. Ia kemudian memacu kereta kuda itu lebih cepat, supaya cepat sampai ke penginapan.
***
Xiao Liu yang hampir sampai ke bawah, memanfaatkan pijakan kakinya pada benteng tanah yang dibuat oleh Ho, ia kembali melompat ke arah Ho yang lengah, karena terlalu fokus untuk menyelamatkan Gui.
"Tebasan Es!"
Xiao Liu berteriak keras, kali ini bongkahan es yang muncul dari pedangnya lebih besar.
__ADS_1
Ho yang tak sempat menghindar, menancapkan pedangnya ke tanah. "Auman Harimau!" teriak Ho membuat benteng tanah kembali.
Belum sempat benteng tanah itu sempurna, Xiao Liu sudah sampai lebih dulu. Ia menebas tepat ke arah kepala Ho.
"Aaaaaaa!" Ho berteriak kesakitan, tebasan pedang Xiao Liu meleset mengenai tangan kiri Ho, karena saat terakhir ia berhasil mengelak. Akan tetapi ia tetap kehilangan lengan kirinya itu.
"Senior Ho!"
Gui dan Dewei berteriak, mereka kemudian maju menyerang Xiao Liu.
"Tebasan Kegelapan!" seru Dewei menerjang ke hadapan Xiao Liu.
Gui tak mau ketinggalan dia terbang ke atas dengan Langkah Angin dan menyerang Xiao Liu dari udara. "Tebasan Badai Angin!" seru Gui menebas Xiao Liu, sebuah badai dengan bayangan Roh Giffrin muncul mengiringi tebasan Gui, seakan ia akan melahap tubuh Xiao Liu.
"Jangannnnnn! Mundurrrrr!" teriak Ho, namun sudah terlambat untuk kembali, karena keduanya sudah berhadapan dengan Xiao Liu.
Ho berpikir peluang mereka untuk menang sangatlah tipis, sehingga ia berencana mengulur waktu dan membiarkan kedua rekannya itu kabur, memberi tahu pada Paviliun Shadow bahwa Dou Yi dilindungi Pendekar Pedang lainnya. Namun, kedua rekannya itu tak mendengarkan perkataannya.
Sebuah bayangan Roh Cerbeus atau serigala berkepala tiga dengan awan gelap menyertai tebasan pedang Dewei yang melompat ke arah Xiao Liu.
"Putaran Badai Es!" seru Xiao Liu menancapkan pedangnya ke tanah dan menggunakan 10% qi dari Rongqinya, sehingga muncul bayangan Roh Rubah putih raksasa diiringi bongkahan es muncul dari tanah yang menghancurkan sekitarnya.
"Boommmmm duarrrrrrrrrrr!"
Tubuh Gui tertancap bongkahan es yang memiliki ujung yang runcing, sedangkan Dewei terpental berguling-guling hingga puluhan meter menembus beberapa rumah penduduk hingga jebol.
"Ahhhhhh!" Dewei menancapkan pedangnya ke tanah untuk di jadikan tumpuan buat berdiri, karena sekujur tubuhnya kini dipenuhi oleh luka-luka.
"Siallllll!" seru Ho melihat rekan-rekannya tumbang, tangannya sendiri kini telah buntung sebelah.
***
Xiuhuan sudah mendekati desa dan dari kejauhan melihat banyak bangunan yang hancur berantakan dan juga melihat bongkahan es tertancap pada seorang pria diatasnya.
"Terjadi pertarungan di sana ... sepertinya itu Pendekar Pedang berunsur Es, apakah Xiao Liu diserang?" Xiuhuan berpikir kemungkinan itu yang terjadi.
Xiuhuan berencana menggunakan Langkah Kilat ke sana, namun ia urungkan, karena takut emas-emanya dicuri orang. Ia tak ingin menjadi miskin lagi seperti hidupnya selama ini.
***
"Dewei cepat kau kabur! Aku akan menahannya ... maafkan aku, misi pertamamu malah berakhir mengecewakan begini. Kau harus kembali ke Tianwu menikahi Zhang Yan ... hiduplah bahagia!" seru Ho sambil memandang Dewei dengan tatapan sedih.
"Zhang Yan? Bukannya itu wanita yang menjaga penginapan di pinggiran ibukota?" guman Xiao Liu. Ia tak menyangka calon suaminya Zhang Yan ternyata anggota Paviliun Shadow, padahal Zhang Yan menyebut tunangannya bekerja sebagai Pasukan Kerajaan yang bertugas di wilayah Utara.
__ADS_1
"Tidakkkkkkkk! Senior Ho! Aku akan membantumu!" seru Dewei berusaha bangkit dan membantu Ho melawan Xiao Liu.
"Selamat tinggal saudara Dewei ... tetaplah hiduppppp!" teriak Ho bersamaan dengan menancapkan pedangnya ke tanah, ia menguras semua qi dalam Rongqi miliknya, sehingga ledakan energi yang begitu besar mengalir pada Pedangnya.
"Grurrrrrrrrrrrr!" Tanah bergemuruh.
Ho memaksimalkan potensi miliknya dengan menggunakan dua jurus sekaligus, yaitu jurus bertahan dan menyerang.
"Dia mau bunuh diri!" seru Xiao Liu berancang-ancang untuk menghindar.
"Senior Ho ... maafkan aku!" seru Dewei dengan melakukan penggabungan dengan Roh Cerbeus dan kabur dari pertarungan itu dengan tubuh penuh luka.
"Auman Harimau!" seru Ho, tanah yang bergemuruh tadi tiba-tiba memunculkan tombak tanah raksasa. Bongkahan es yang tertancap tadi lansung hancur lebur.
"Lompatan Rubah!" seru Xiao Liu melompat tinggi menghindari tombak-tombak tanah itu.
"Lompatan Harimau!" seru Ho menerjang ke arah Xiao Liu.
Mereka kini sama-sama berada di udara.
"Tebasan Cakar Harimau!" seru Ho menebas Xiao Liu. Sebuah bayangan harimau raksasa mengiringi tebasan pedang Ho itu, begitu juga dari bawah tombak-tombak tanah terus memanjang dengan cepat.
Sambil memutar tubuhnya Xiao Liu menebaskan pedangnya dengan menggunakan 50% kapasitas qi dari Rongqinya.
"Putaran Badai Es!" teriak Xiao Liu menebas balik Ho dengan memutar badannya.
Puluhan bongkahan es muncul di udara dan melesat seperti meteor ke bawah mengiringi tebasan pedang Xiao Liu.
"Boommmmm duarrrrrrrrrrr!"
Dua serangan beradu, desa kecil itu kini hancur berkeping-keping dihantam dua benturan serangan besar.
Tak sampai disitu, Xiao Liu yang jatuh kebawah dari udara, tetap menyerang Ho yang berada di posisi bawah.
"Trang-trang-trang!"
Pedang mereka saling beradu hingga akhirnya Ho tewas dibelah menjadi dua bagian oleh tebasan pedang Xiao Liu, karena Ho sudah tak memiliki qi didalam Rongqinya.
"Ah ... berakhir sudah!" seru Xiao Liu mengusap muncratan darah yang membasahi wajahnya.
Xiao Liu sangat sedih melihat pemandangan di sekitarnya, ia tak menyangka akan berakhir begini. Tak lama berselang Dou Yi datang menghampiri Xiao Liu. Ia tadi disembunyikan oleh Xiao Liu di pinggiran desa. Untung saja ia ikut penduduk kabur, saat pertarungan Xiao Liu dengan anggota Paviliun Shadow itu mulai menghancurkan beberapa puing bangunan.
Bersambung 🗡️⚔️🗡️
__ADS_1