
Liu Ya dan anggotanya berangkat ke ladang Ginseng kuning, beserta hampir semua penduduk desa Chen Lu ikut untuk memanen Ginseng kuning di lahan masing-masing.
Hamparan Ginseng kuning tampak di lahan yang cukup luas, hampir sepuluh kali luas desa Chen Lu.
"Bagaimana kalau kita bagi dua kelompok berpatroli." Liu Ya mulai mengatur strategi, "Huanran bersama guru dan Shuyan serta Dou Yi ikut aku!" seru Liu Ya.
"Boleh juga, sekalian nanti guru melatih Huanran mengeluarkan Roh Pedangnya!" sahut Xiuhuan sambil mengunyah lansung Ginseng kuning kualitas menengah yang diberikan oleh Gui Yan.
"Heeeee! Guru kau ...." Mereka kaget Xiuhuan mengunyah Ginseng kuning bak permen saja.
"Kenapa kalian kaget?" Xiuhuan tak mengerti apa yang dikagetkan oleh murid-muridnya itu.
"Tentu saja kami kaget, kau menelan lansung sumberdaya tingkah menengah!" seru Liu Ya.
"Ohhh, itu ya ... guru ini sudah di puncak Pendekar Pedang, jadi tak masalah melakukan hal ekstrim begini. Tak akan rusak Rongqi milik guru. Kecuali, pemula kayak kalian! Rongqi kalian tak akan sanggup menerima energi yang begitu besar secara langsung!" Xiuhuan menjelaskan alasannya, kenapa ia dengan santai mengunyah Ginseng kuning kualitas menengah itu.
"Hmm, jadi begitu ... Pantas saja tetua kedua sudah kembali beraktivitas, padahal katanya ia kehilangan 60% qi dalam Rongqinya sewaktu menghadapi anggota Paviliun Shadow di dekat kota Yan Luo kemarin," sahut Dou Yi.
Akhirnya mereka mengerti kenapa Pendekar Pedang berlevel tinggi, jarang kelihatan berkultivasi, jika bukan sedang naik ke level lebih tinggi. Karena mengisi kembali Rongqi yang kosong itu tak terlalu sulit, yang penting sumberdayanya ada.
"Baiklah kami akan ke sisi sana guru! Kalian ke arah sebaliknya!" seru Liu Ya memberi perintah sebagai ketua kelompok.
"Asiappp!" sahut Xiuhuan. "Ayo Huanran kita berpatroli!" serunya lagi.
"Siap senior!" sahut Huanran berjalan bersama.
Hingga tengah hari tak ada pertanda kemunculan para bandit yang sering merusak dan menjarah lahan petani Ginseng kuning.
Xiuhuan merasa, betul yang diucapkan oleh Gui Yan, para bandit tak akan berani jika melihat jubah yang Xiuhuan dan murid-muridnya kenakan. Berarti mereka bukan Pendekar Pedang berlevel tinggi, mungkin hanya setara dengan murid pemula atau biasa.
Xiuhuan berhenti berkeliling, "Sepertinya mereka tak akan muncul ... lebih baik kau berlatih saja Huanran!"
"Baik guru!" sahut Huanran. "Roh Pedang muncullah!" teriak Huanran. Sebuah cahaya putih redup kembali muncul.
"Roh Pedang apalah ini," guman Xiuhuan memandangi cahaya putih redup itu. Xiuhuan curiga, itu adalah Roh Pedang langka, seperti yang ia miliki.
Dulu Xiuhuan begitu juga, saat menemukan Roh Pedang Sidat Listrik itu. Cahaya juga agak redup, namun tak seredup milik Huanran.
"Sekarang kau bayangkan sebuah pedang di tanganmu dengan menutup matamu!" Perintah Xiuhuan.
Tanpa menunggu lama Huanran lansung memejamkan matanya dan membayangkan sebuah pedang.
"Hmm, tak muncul?" guman Xiuhuan. "Sekarang buka kembali!"
__ADS_1
"Tak ada yang muncul guru?" Huanran bingung.
"Tenang saja, itu karena kau masih Pendekar Pedang tahap 5 saja." Xiuhuan memotivasi Huanran, "kau lakukan seperti tadi secara berulang-ulang ... lama-lama muncul sendiri nanti itu!" seru Xiuhuan, sebuah motivasi tak berfaedah dari seorang guru.
"Roh Pedang!" teriak Huanran.
Roh Pedang!" teriaknya lagi.
Roh Pedang!" teriakan yang ke-55 kalinya dari Huanran, bahkan suaranya sudah mulai serak, berteriak terus-terusan.
"Anak ini ... semangat sekali. Tak ada keluh kesah sama sekali!" guman Xiuhuan yang berlindung dari sengatan matahari dengan menancapkan pedangnya ke tanah, lalu menggunakan jurus Putaran Gelombang Air, sebuah pusaran air mengelilingi tubuhnya.
"Aduh capeknya! Hah ... hah ...." suara nafas Huanran ngos-ngosan. Ia kemudian melihat ke sebelah. "Ah, guru curang! Masa kau membiarkan aku panas-panasan!" seru Huanran.
"Latihan itu butuh perjuangan keras, sengatan matahari harus kau jadikan pembakar semangatmu!" seru Xiuhuan kembali memotivasi Huanran.
Namun, kali ini Huanran tak termakan motivasi tak berfaedah dari gurunya itu, ia kemudian masuk kedalam pusaran air untuk mengademkan diri.
"Hah ... Nikmatnya!" Huanran mendesah kesenangan, karena tadi kulitnya terbakar matahari.
"Hei bocah tengil! Kau jangan mendesah begitu. Nanti guru dikira pedofil!" Xiuhuan lansung menghilangkan jurusnya, karena tak ingin penduduk Chen Lu berpikiran aneh-aneh padanya.
"Haaaa guruuuu! Aku masih kepanasan!" Huanran merengek, namun Xiuhuan tak peduli. Ia kembali berpatroli diikuti oleh Huanran yang merajuk.
Sebuah ledakan terlihat dari kejauhan.
"Ada serangan! ayo ke sana Huanran!" seru Xiuhuan.
Xiuhuan memperhatikan, ternyata Liu Ya dan anggotanya telah berduel melawan bandit. Ia tak lansung melesat ke sana, karena melihat Liu Ya masih sanggup mengimbangi kekuatan mereka. Hitung-hitung sebagai latih tandinglah buat mereka.
***
Beberapa saat sebelumnya, Liu Ya memantau bagian terluar dari lahan Ginseng kuning milik penduduk Chen Lu. Namun saat berpatroli di sana, ia memperhatikan lima orang sedang memanen Ginseng kuning, dengan seorang wanita yang tampak sebagai bosnya hanya berdiri saja.
Liu Ya berniat menyapanya, namun saat mendekati wanita itu, tiba-tiba ia mengeluarkan Pedang dan menyerang Liu Ya. Untung saja Dou Yi lansung menggunakan jurus Pembelah dimensi, membuat wanita yang berada di Pendekar Pedang tahap 16 itu berpindah sejauh 100 meter.
Empat orang anakbuahnya yang berada di Pendekar Pedang tahap 10 ikut maju menyerang.
"Serahkan satu untukku!" seru Shuyan dengan semangat menerjang ke depan.
Tubuh mungilnya tak membuat nyalinya takut berhadapan dengan orang dewasa. Shuyan lansung menggunakan teknik penggabungan, sehingga setelah badannya ke bawah mirip kadal, karena Roh Pedangnya adalah Salamander.
"Tebasan Api Salamander!"
__ADS_1
Shuyan menebas Pedangnya ke depan. Saat itulah Xiuhuan melihat ledakan api besar yang ditimbulkan oleh pedang Shuyan.
Pendekar Pedang tahap 10 yang menjadi lawan Shuyan lansung gosong terbakar. Itu karena mereka cuma Pendekar Pedang amatiran dengan Roh Pedang tingkat rendah. Walaupun Shuyan masih di Pendekar Pedang tahap 8, namun Roh Pedangnya adalah unsur api terkuat.
"Hahaha ... aku menghanguskannya!" Shuyan tertawa bangga, ini pertama kalinya ia mengalahkan musuh.
Liu Ya tak mau kalah, ia juga melakukan penggabungan dengan Roh Pedang Elang Putih miliknya. Sepasang sayap putih muncul di punggungnya, bak malaikat saja.
Liu Ya kemudian melayang di udara. "Tebasan Badai Angin!" seru Liu Ya.
Tebasan badai anginnya lansung menghempaskan ke empat Pendekar sisanya. Mengingat Liu Ya adalah Pendekar Pedang tahap 15, mereka terlalu lemah menjadi lawan Liu Ya.
"Kau rakus sekali Liu Ya! Padahal Dou Yi juga ingin melawan mereka!" seru Shuyan yang paling semangat diantara mereka.
"Ah ... Aku sih, kalau bisa tak usah ikut bertarung kok!" sahut Dou Yi.
"Kurang ajar kalian anak kecil!" Suara wanita memarahi mereka.
"Hah! Mau apa kau betina jelekkkkk!" sahut Shuyan malah memprovokasi wanita yang sedang melayang di udara itu. Ia melakukan teknik penggabungan dengan Roh Pedang Bangau Putih.
"Jelek kau bilang!" keningnya lansung mengkerut mendengarnya, padahal wanita itu cukup cantik. Apalagi usianya tampak baru dua puluhan tahun.
"Iya Mak Lampir hahahaha!" Shuyan kembali memprovokasi wanita itu.
Dou Yi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tubuh mungil rekannya, yang memiliki mulut kayak cabai rawit itu. Kecil, namun pedasnya sampai ke ubun-ubun.
"Dasar tuyul kurang ajar!" seru wanita itu melesat cepat ke arah Shuyan.
"Tebasan Api Salamander!" seru Shuyan juga menyerang wanita itu.
"Shuyan bodoh, dia itu bukan tandinganmu!" teriak Dou Yi sambil berlari mendekati Shuyan.
"Tebasan Badai Angin!"
Wanita itu menebas ke arah Shuyan, api besar dari tebasan Shuyan lansung padam. Karena perbedaan level mereka sangat jauh.
"Pembelah Dimensi!" teriak Dou Yi menebas ke arah Shuyan hingga ia berpindah kebelakang Liu Ya.
Tebasan badai angin milik wanita itu tak mengenai Shuyan, berkat pertolongan Dou Yi yang sigap mencerna situasi.
"Shuyan! Kau jangan gegabah! Dia itu Pendekar Pedang tahap 16, levelnya satu tingkat di atasku. Kita harus bekerjasama mengalahkannya!" seru Liu Ya.
Kali ini Shuyan tak sembrono lagi, ia melihat jelas tadi. Wanita itu menghilangkan api besar dari tebasan pedangnya.
__ADS_1
Bersambung 🗡️🗡️🗡️