
Giliran Wu Xiong yang bertanding di panggung dekat Xiuhuan, sehingga dengan antusias ia memperhatikan cara bertarung murid yang kabarnya terkuat diantara Ranah Chaos Ancient God.
Gaya bertarung Wu Xiong adalah menggunakan Pedang kembar seperti jurus Pedang Yin Yang milik Wu Tianji—Jenius Clan Wu yang dibunuh oleh Xiuhuan saat di Paviliun makam desa Changan.
Xiuhuan menduga apakah mereka memiliki hubungan atau kebetulan saja memiliki elemen yang sama. Kalau Wu Xiong memiliki hubungan dengan Wu Tianji, maka ia pasti akan mengincar Pedang Penghancur Semesta juga dan tentunya mengincar nyawa Xiuhuan.
Seperti reputasinya yang sangat disanjung-sanjung para murid Sekte Qingyun, Wu Xiong dengan mudah mengalahkan peserta yang ada diatas panggung. Xiuhuan bahkan merasa Wu Xiong baru menunjukkan 20% kekuatannya.
Wu Xiao berjalan dengan penuh percaya diri, para murid yang menonton pertandingannya segera memberikan jalan saat ia turun dari panggung kecuali Xiuhuan yang cuek saja sembari menonton Cao Chang‘e yang bertanding selanjutnya.
“Ayo Dewi Bulan! Hajar mereka!” teriak Xiuhuan, sedangkan Wu Xiong menatap aneh padanya dan akhirnya memilih berdiri agak jauh dari Xiuhuan. “Cih, sombong sekali,” gumam Xiuhuan menatap punggung Wu Xiong.
Namun, Xiuhuan merasakan sensasi familiar didekatnya dan para penonton menatapnya dengan tatapan berbinar-binar.
“Apa aku sungguh populer dikalangan murid Ranah Chaos Ancient God,” gumam Xiuhuan dengan seringai tipis diwajahnya dan menoleh kesebelahnya, “Eh, Xue‘er! sejak kapan kau berada di situ?” Xiuhuan tersenyum masam karena telah mendukung Cao Chang‘e didepan mata istrinya yang sedingin es itu.
“Setelah turun dari panggung!” sahut Lou Xue, tetapi matanya lurus menatap pertandingan Cao Chang‘e, mungkin ia juga ingin mempelajari cara bertarung murid-murid yang berpotensi menjuarai Tujuh Superstar.
Seperti Wu Xiong, Cao Chang‘e juga dengan mudah mengalahkan peserta yang satu panggung dengannya.
Bola kecil ditangan Xiuhuan bersinar dan menuntunnya ke atas panggung. Dengan percaya diri, ia melangkahkan kaki dan menatap kearah Lou Xue.
“Eh, kok hilang kampret!” umpat Xiuhuan—mengira Lou Xue akan menonton pertandingannya. “Ke mana perginya balok es itu?” gumam Xiuhuan mencari keberadaan Lou Xue dan ternyata ia menonton Cao Jin, peserta yang berpotensi memenangkan Tujuh Superstar lainnya.
Xiuhuan cukup kecewa, karena Lou Xue tidak menganggapnya sebelum rival terkuat yang akan memenangkan Tujuh Superstar.
Diaken yang memimpin pertandingan melayang di udara dan berkata, “Peraturan pertandingan ini adalah tidak boleh menyerang lawan yang menyerah dan boleh menggunakan kekuatan penuh serta tidak boleh terbang supaya waktu pertandingan berjalan singkat. Baiklah pertandingan di mulai!”
__ADS_1
Perisai transparan yang dibuat oleh Sesepuh dengan elemen Kegelapan langsung aktif. Perisai itu akan memindahkan serangan yang mencapai Perisai ke Dimensi lain.
“Ada banyak fans fanatik Lou Xue," gumam Xiuhuan tersenyum menatap peserta yang mengenakan ikat kepala bertuliskan Lou Xue nomor satu.
Pedang Penghancur Semesta muncul di tangan Xiuhuan dan melakukan kombinasi dengan Langkah Kilat, sehingga para peserta hanya melihat kilatan-kilatan Petir yang menyerang mereka dan setelah itu hanya teriakan kesakitan lagi yang terdengar.
“Siapa murid itu?”
“Apakah dia Wu Lin?”
“Tidak! Wu Lin bertarung di panggung lain saat ini. Mungkinkah dia kuda hitam yang baru menetas dari cangkangnya.”
“Wah, aku tak menyangka ada murid menyembunyikan kekuatannya seperti kepompong saja!”
Para murid-murid yang menonton pertandingan di sebelah panggung Xiuhuan berlaga mulai heboh. Namun, para fans Lou Xue tampak khawatir, karena murid misterius itu hanya mengincar murid dengan ikat kepala bertuliskan Lou Xue nomor satu.
Kini diatas panggung pertandingan itu hanya ada Xiuhuan dan seorang murid dari Clan Wu yang mengatakan akan menghajar Xiuhuan, karena ia telah menghina Wu Xiong tadi.
Murid dari Clan Wu itu menyeringai menatap Xiuhuan. Dia cukup yakin dengan kombinasi elemen Angin dan Kegelapan untuk mengalahkan Xiuhuan, walaupun Xiuhuan memiliki kecepatan yang seperti kilat. Namun, ia bisa merobek dimensi untuk berpindah tempat.
“Aku tak menyangka Immortal Akhir mampu mengalahkan Ranah Chaos Ancient God dengan mudah. Reputasimu sebagai Kultivator yang penuh keberuntungan memang layak untuk disematkan. Namun, keberuntungan surga itu akan berakhir sekarang,” kata murid tersebut menyeringai menatap Xiuhuan.
“Ouh, ternyata penjilat Wu Xiong. Bolehlah kita bermain-main sebentar, sebelum aku menendang bokong Wu Xiong nanti,” ejek Xiuhuan.
Para penonton langsung mengumpati Xiuhuan, karena dengan terang-terangan melakukan proxy war terhadap calon terkuat yang menjuarai Tujuh Superstar.
Wu Xiong yang mendengar ucapan Xiuhuan hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa, dia merasa aneh saja; kenapa Immortal Akhir itu sangat membencinya, padahal mereka tidak pernah bertemu.
__ADS_1
“Kurang ajar!” umpat murid dari Clan Wu itu menghilang dan muncul di punggung Xiuhuan. “Rasakan ini!” Dia melakukan tebasan. Namun, Xiuhuan langsung menghilang juga.
“Pemilik elemen Kegelapan selalu menggunakan pola yang sama saat menyerang, sungguh keputusan yang bodoh—kalian terlalu membanggakan kemampuan merobek dimensi itu," ejek Xiuhuan menebasnya, tetapi murid tersebut langsung menghilang dan muncul beberapa langkah dari Xiuhuan.
Dia tak menyangka Xiuhuan ternyata cukup hebat juga. Apalagi menyadari pola serangannya, sehingga dia mengerutkan kening bagaimana cara mengalahkan Xiuhuan.
“Jangan melamun saja!” Xiuhuan muncul lagi didepannya dan murid dari Clan Wu itu memutuskan menyerang Xiuhuan secara langsung. “Tebasan Pembelah Ombak!”
Murid Clan Wu itu merasa seperti dihantam ombak besar saja dan dia membalas tebasan Pedang Penghancur Semesta. Namun, Pedangnya malah retak—kemudian hancur berkeping-keping dan Pedang Xiuhuan melesat ke arah lehernya. “Aku menyerah!" teriak murid tersebut hingga Diaken yang memimpin pertandingan muncul memisahkan mereka.
“Cukup! Pemenang pertandingan ini adalah Xiuhuan!” seru Diaken itu sambil menatap Xiuhuan dengan tatapan tak percaya, karena tangannya tak berhenti bergetar saat menangkis Pedang Penghancur Semesta itu, padahal ia adalah Kultivator Ranah Absolute God. “Murid yang satu ini memiliki kekuatan yang misterius!" gumamnya.
Xiuhuan tersenyum lebar dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Namun, tidak ada yang bertepuk tangan karena mereka tidak suka dengan sikap Xiuhuan yang sombong itu.
“Woi, kalian pujilah babang tampan ini!” seru Xiuhuan pada kerumunan murid-murid yang menonton pertandingan.
“Huuuuuuuuu!” cibir para penonton.
“Dasar tak tahu malu, baru menang babak penyisihan saja sudah bangga!”
“Hahaha ... lihatlah. Aku akan menendang bokongmu Wu Xiong!” Xiuhuan menunjuk Wu Xiong yang ikut menontonnya.
Wu Xiong tersenyum. “Aku menantikannya!” sahut Wu Xiong segera menaiki panggung seleksi babak kedua.
Xiuhuan tak menyangka Wu Xiong tidak tersinggung dengan ejekannya. Sungguh sifat yang berjiwa besar dan memang patut menjadi teladan bagi murid yang lain.
“Mungkin aku harus meniru sifatnya, walaupun tidak tampan sepertiku, tetapi sikapnya itu membuat orang-orang menghormatinya," gumam Xiuhuan turun dari panggung.
__ADS_1