
“Akhirnya kembali juga ke rumah,” guman Xiuhuan saat memasuki pintu gerbang Sekte Teratai Biru.
Murid-murid yang berjaga di gerbang Sekte itu lansung membungkuk saat Xiuhuan memasuki Sekte. “Sore tetua keenam!” sapa mereka.
Xiuhuan tersenyum tipis dan melambaikan tangan, ia berlalu begitu saja dari pandangan mereka.
“Ih ... tetua keenam ganteng bingitttt!” seru murid perempuan yang ikut berjaga. Ia memiliki postur tubuh gemuk, namun wajahnya cukup manis. “Hatiku bergetar hebat saat melihat senyumnya. Oh, Dewa kapankah Aku mendapat giliran menidurinya,” kata lagi sambil membayangkan sesuatu yang mesum.
“Woi sadar! Sadar!” seru murid pria disebelahnya.
Keduanya adalah murid tetua ketiga, murid pria sebenarnya menyukai murid perempuan itu. Namun, ia sulit mengungkapkan isi hatinya, karena murid perempuan itu terlanjur menjadi fans fanatik Xiuhuan. Bahkan ia diam-diam telah melukis wajah Xiuhuan dan dipampangnya di sudut-sudut kamarnya.
***
Xiuhuan lansung berjalan ke arah aula timur untuk menemui murid-muridnya. Xiuhuan penasaran dengan perkembangan kultivasi mereka saat ini.
“Tetua keenam!” suara yang begitu familiar di telinga Xiuhuan terdengar dari arah belakang.
Xiuhuan lansung menoleh, “Ada apa Liu‘er Syantikkkk!” sahut Xiuhuan yang membuat muka Xiao Liu memerah.
Sesaat Xiao Liu terhanyut dalam pujian Xiuhuan, namun ia kembali sadar dengan tujuannya mencari Xiuhuan. Karena sudah dua hari ia mencarinya, namun murid-murid Xiuhuan mengatakan ia telah pergi entah kemana melalui jurus Pembelah dimensi milik Dou Yi.
__ADS_1
“Ada yang ingin kukatakan, namun jangan di sini. Ayo ikuti Aku!” ajak Xiao Liu melangkah pergi menuju telaga Sekte yang tak jauh dari situ.
Xiuhuan mengikut saja, ia penasaran tumben sekali Xiao Liu meminta bantuan padanya. Padahal biasanya dia selalu menganggap Xiuhuan adalah musuh. Karena tak membawa kontribusi pada sekte.
Keduanya pun sampai di pinggiran telaga itu. Mereka duduk di sebuah bangku panjang yang terbuat dari batang kayu yang dibelah dua.
Xiao Liu memain-mainkan kedua jempol ibu jarinya. Terlihat jelas, ia ragu-ragu untuk menyampaikan isi hatinya.
Xiuhuan menunggu beberapa saat, namun belum juga keluar sepatah katapun dari mulut Xiao Liu.
“Jadi, apa yang ingin kau sampaikan?” tanya Xiuhuan memecahkan keheningan itu.
“Kan, Aku punya hutang padamu. Bagaimana kalau tak usah bayar pakai koin emas, tapi kembali kekesepakatan awal kita!” sahut Xiao Liu, ia tak melihat Xiuhuan, namun menatap ke arah lain. Karena ia sangat malu mengungkapkannya.
“Bu-bukan!” jawabnya gugup. Kemudian berkata lagi, “Utusan dari Clan Yin telah datang dan mengatakan mereka akan datang melakukan proses lamaran beberapa hari lagi.”
“Terus apa hubungannya kalau kita melakukan hubungan intim dengan itu?” Xiuhuan makin penasaran dibuatnya.
“Nanti kau akan menjadi suami palsuku dan kita hanya perlu melakukan itu sekali saja,” jawab Xiao Liu malu-malu, bahkan mukanya telah memerah seperti tomat dan detak jantungnya berdegup kencang.
“Kau tahu, kan Liu‘er ... Aku ini sudah tak terhitung banyaknya meniduri berbagai wanita. Namun, Aku tak pernah memaksa mereka dan mereka saja yang mau saat kutawari atau mereka yang datang sendiri padaku—”
__ADS_1
“Tak apa,” Xiao Liu lansung menyela perkataan Xiuhuan. “Karena utusan Clan Yin tak percaya saat kukatakan bahwa, Aku telah menikah. Mereka juga mengatakan akan membawa tabib perempuan dari kota Yan Luo untuk memeriksa apakah kesucianku masih tersegel atau tidak!” katanya lagi.
“Rumit juga, ya masalahnya. Berarti kau akan menjadi istri ke-1000 dong hehehe—”
“Apaaaa!” Xiao Liu terkejut mendengarnya.
“Bercanda kok,” sahut Xiuhuan dan berkata lagi, “Tapi sayangnya, Aku mandul Liu‘er. Jadi, kita tak akan bisa memiliki anak nantinya hehehe ....” Xiuhuan tertawa menjelaskannya. Ia tak menyangka Xiao Liu, orang tercantik di kota Hua akan berlabuh padanya.
“Itu tak masalah,” jawabnya malu-malu. Kemudian Xiao Liu menancapkan pedangnya di tanah, sehingga muncul bongkahan es raksasa membetuk benteng lingkaran, mereka berada di tengahnya.
“Tahu aja, kau Liu‘er membuat tempat yang mantap untuk melakukan ritual ini.” Xiuhuan lansung tersenyum lalu mendekati Xiao Liu.
Xiao Liu malah mundur, ia gugup sekali. “Sa-sabar tetua keenam! Biarkan aku sendiri saja yang menanggalkan pakaianku,” katanya dengan terbata-bata.
“Hehehe kenapa bisa aku terjebak dalam situasi ini,” guman Xiuhuan melihat kepolosan Xiao Liu. Sebenarnya ia tak tega melakukan ini, namun karena sudah permintaannya, mau bagaimana lagi.
Xiuhuan juga melepaskan pakaiannya, sontak saja Xiao Liu menutup matanya melihat sesuatu yang luar biasa melekat pada Xiuhuan.
“Kau rileks saja Liu‘er! Aku akan melakukannya dengan lembut,” bujuk Xiuhuan dan akhirnya Xiao Liu jinak juga.
Kemudian waktu pun berlalu, apa yang terjadi dalam lingkaran bongkahan es itu? entahlah, cuma burung-burung dilangit saja yang bisa menjadi saksi. Yang jelas hingga pagi hari, bongkahan es itu tetap ada di sana. Membuat bingung para murid-murid Sekte Teratai Biru.
__ADS_1
Untung saja Xiao Liu telah mengatakan lebih dulu pada kakaknya tetua pertama, bahwa dia akan melakukan sebuah ritual di dekat telaga Sekte. Sehingga tetua pertama bisa menjelaskan apa yang terjadi di telaga itu pada tetua lainnya dan Ketua Sekte.
Bersambung ...