Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Perang Melawan Naga Lou Feng VI


__ADS_3

Ling Wentian tak menyangka Xiuhuan akan memerintahkan Boneka Humanoid untuk mengikuti dirinya. Padahal Boneka Kayu itu salah satu andalan utama dalam mengalahkan musuh, karena ia justru menyerap energi qi dari musuh yang melawannya, sehingga ia makin kuat dan tangguh.


Berkat kolaborasi dengan boneka humanoid, Ling Wentian telah membunuh banyak Monster—tidak seperti kemarin yang harus bertahan sekuat tenaga dan akhirnya harus kehilangan ayahnya.


Ling Wentian melihat Xiuhuan telah melesat ke tengah-tengah musuh, sehingga ia tersenyum dan tak menyangka kekuatan yang dimiliki oleh Xiuhuan ternyata jauh di luar imajinasinya.


“Terimakasih adik ipar, telah menjagaku. Aku tahu kamu melakukan ini demi adikku, agar dia tidak sedih,” gumam Ling Wentian sembari menghajar para Monster yang ada disekitarnya.


Kabut tipis dengan butiran-butiran salju kembali muncul dan ini sama dengan kejadian kemarin saat Monster Rubah Ekor Sembilan tiba-tiba melakukan serangan kejutan.


Ling Wentian langsung waspada dan menggenggam erat Pedangnya. “Serangan seperti ini tidak akan berpengaruh padaku lagi!” teriak Ling Wentian mengayunkan Pedangnya, sehingga badai angin langsung menghempaskan badai salju.


Sesuai dugaannya, Bongkahan Es raksasa telah meluncur ke arahnya dan ia kembali melihat Monster Rubah Ekor Sembilan tersenyum lebar menatapnya.


Ling Wentian tidak meninggalkan tempatnya, karena ada Sepuluh Jiwa Monster yang berada di dekatnya yang langsung menghadang bongkahan-bongkahan es yang meluncur dengan kecepatan tinggi tersebut.


Ling Wentian sengaja langsung berlari ke arah Monster Rubah Ekor Sembilan, karena ia yakin sebenarnya Monster Bunglon sedang mengintainya.


“Dasar Manusia bodoh hahahahaha ....” Rubah Ekor Sembilan tertawa terkekeh-kekeh menatap Ling Wentian dan berpikir karena dendam atas kematian ayahnya Ling Wentian menjadi tidak berpikir logis lagi, sehingga ia tidak peduli bahaya kematian sedang mengancam dirinya dan terus menerjang ke depan.


Monster Bunglon tiba-tiba muncul dibelakang Ling Wentian dan langsung menusukkan Pedangnya, tetapi ia terkejut karena justru sebuah Pedang telah menusuk menembus dadanya.


“Kenapa bisa?” Monster Bunglon menoleh kebelakang dan melihat sebuah boneka kayu yang telah menusuk punggungnya hingga tembus ke dada.


“Cih, bodoh!” cibir Ling Wentian terus merangsek mendekati Rubah Ekor Sembilan yang ikut terkejut melihat Monster Bunglon telah mati ditusuk oleh Boneka Kayu. “Boneka Kayu itu adalah milik adik iparku yang bisa mengalahkan segalanya, bahkan Dewa pun akan ditentang olehnya bila mengusiknya!” katanya lagi.


“Huh, kamu jangan cepat bangga Manusia busuk!” sahut Monster Rubah Ekor Sembilan berusaha menenangkan dirinya agar tidak panik. “Kalau dia mati ditangan boneka kayu itu, berarti dia memang lemah, sedangkan diriku—jangan harap bisa dikalahkan dengan mudah!”

__ADS_1


Bongkahan-bongkahan es yang ujungnya runcing segera melesat ke arah Ling Wentian.


Boneka Humanoid tiba-tiba muncul di hadapan Ling Wentian dengan menggunakan Hukum Ruang, sehingga Rubah Ekor Sembilan mengerutkan keningnya dan akhirnya mengerti, yang kuat itu bukanlah Ling Wentian, tetapi Boneka Kayu ini.


“Sial! Aku terperangkap dalam jebakan mereka!” gerutu Monster Rubah Ekor Sembilan terpaksa akan duel hidup mati dengan mereka, karena sudah terlambat untuk melarikan diri.


Boneka Humanoid menebas bongkahan-bongkahan es tersebut dengan Pedang Yin Yang pemberian Xiuhuan.


Pedang Yin mampu mengeluarkan elemen es dan Pedang Yang mengeluarkan Api, sedangkan satu Pedang kayu di punggungnya mampu mengeluarkan elemen yang dimiliki oleh musuh atau menyalin elemen yang digunakan musuhnya.


Monster Rubah Ekor Sembilan kembali menggunakan badai Salju, tetapi bukan bongkahan-bongkahan es dari langit yang muncul. Namun, Monster Rubah Ekor Sembilan menduplikasi dirinya menjadi puluhan.


Ling Wentian menebas Rubah Ekor Sembilan, tetapi yang ia tebas ternyata adalah bayangan saja.


“Hmm, ini adalah jurus bayangan?” gumam Ling Wentian memperhatikan di mana Monster Rubah Ekor Sembilan yang asli.


“Hehehe ... lagi-lagi artefak milik adik iparku ini memberikan kontribusi besar!” Ling Wentian tersenyum sembari mengayunkan Pedangnya dan angin tipis seperti bulan sabit meluncur ke arah Monster Rubah Ekor Sembilan.


“Tembok Es!”


Monster Rubah Ekor Sembilan tak menyangka Boneka Kayu ini lagi-lagi menjadi gannguan besar padanya.


“Aku harus menghancurkan Boneka Kayu ini lebih dulu, kalau tidak aku akan mati dikeroyok oleh mereka,” gumam Monster Rubah Ekor Sembilan—karena Ling Wentian berada dua puluh langkah darinya, sedangkan Boneka Humanoid ada dibalik dinding es yang dibuatnya menangkis serangan Ling Wentian.


Dinding Es mencair oleh kobaran Api dari tebasan Pedang Yang milik Boneka Humanoid dan segera menghilang dari pandangan Monster Rubah Ekor Sembilan.


“Di mana dia?” Monster Rubah Ekor Sembilan panik. “Tarian Pedang!” Dia merapalkan mantra sihirnya dan Sepuluh Pedang Es berputar-putar mengelilingi tubuhnya.

__ADS_1


Ling Wentian kembali mengayunkan pedangnya dan angin tipis berbentuk bulat sabit meluncur ke arah Monster Rubah Ekor Sembilan yang langsung membuat dinding es, sehingga ia tak mengerti kenapa Kultivator Manusia ini terus-menerus melakukan serangan yang sama. Namun, ia langsung mengabaikan Ling Wentian, karena yang ia khawatirkan adalah Boneka Kayu yang tiba-tiba menghilang entah ke mana.


Dari dalam tanah muncul lingkaran hitam dan Dua Pedang milik Boneka Humanoid langsung menusuk Perut dan jantung Monster Rubah Ekor Sembilan.


Ledakan energi langsung menghancurkan tubuh Monster Rubah Ekor Sembilan yang membelalakkan mata, karena tidak menyangka Boneka kayu itu malah muncul dari bawahnya.


“Hai, Monster jelek!” Ling Wentian memegang kepala Monster Rubah Ekor Sembilan dengan seringai tipis disudut bibirnya. “Hasta La Lavista, baby!” ejeknya yang dalam bahasa Spanyol artinya selamat tinggal, sayang.


Monster Rubah Ekor Sembilan menitikkan air mata dan berkata, “Ja-jangan bunuh aku tuan! Aku bersedia menjadi budakmu!” Dia memohon ampunan Ling Wentian yang telah mengayunkan pedangnya dan Kepala Rubah Ekor Sembilan menggelinding di tanah—bersamaan dengan ledakan pada tubuhnya.


Ling Wentian menyeka darah Monster Rubah Ekor Sembilan yang tersembur ke wajahnya. Dan ia kemudian menengadah menatap langit dan berkata, “Ayah! Aku telah membalaskan dendam pada Monster yang menyebabkan kematianmu!” Ling Wentian kemudian menghela nafas panjang.


Ling Wentian hendak melawan Monster lain, tetapi tiba-tiba para Monster telah mundur ke atas Gunung Lou Feng atau menjauh dari lereng gunung.


“Tuan Ling Wentian, Anda hebat sekali!” Salah satu Kultivator Clan Ling tak menyangka tuan mudanya berhasil membunuh banyak Monster, sementara ia harus berkolaborasi dengan Kultivator lain untuk mengalahkan satu Monster.


“Kalau aku lemah, maka Clan Ling sebaiknya dibubarkan saja!” sahut Ling Wentian tersenyum menatapnya—karena ia yang akan menjadi Ketua Clan selajutnya dan masih banyak anggota Clan Ling yang belum mengetahui kematian ayahnya.


Ling Wentian tidak menceritakan tentang kematian ayahnya pada mereka—agar semangat juang mereka tidak menurun.


“Hahaha ... bersama tuan muda kita akan melenyapkan ribuan Monster!”


“Betul!”


“Sudah-sudah jangan terlalu memujiku begitu, nanti aku malah terlalu percaya diri dan mengambil peran adik iparku melawan Naga Lou Feng. Kan, kasihan dia, padahal sudah dielu-elukan sebagai Pahlawan Dunia Atas hehehe ....” Ling Wentian tertawa bangga.


“Hmm, mulai lagi!” gumam mereka yang awalnya mengira penyakit lamanya sudah sembuh, ternyata kambuh lagi—di mana ia terlalu melebih-lebihkan kehebatannya.

__ADS_1


150 000 Kultivator Manusia yang tersisa segera merangsek mendaki gunung Lou Feng dan pertempuran memperebutkan lereng Gunung Lou Feng ini telah menewaskan 50.000 Kultivator Ranah Absolute God. Perang ini sangat brutal, untung saja tidak ada pertikaian di pihak manusia seperti dulu yang terbagi menjadi dua golongan.


__ADS_2