
Xiuhuan berjalan tak tentu arah di Kota Yu Lan, baru kali ini ia benar-benar sakit hati dibuat oleh Wanita dan berpikir mungkin Lou Xue dari awal memang sudah tak suka padanya.
“Dari pada bikin sakit hati, mendingan kuajak Xia Mei kawin lari saja nanti. Dia lumayan cantik hehehe ....” Xiuhuan tertawa cekikikan. “Pertama, bilang saja dulu belajar Kultivasi—setelah itu goda dia perlahan-lahan dan jadilah wani—”
“Tuan Xiuhuan!” Tiba-tiba suara yang cukup familiar terdengar ditelinga Xiuhuan dan iapun menoleh kebelakang. “Anda mau ke mana?” tanya lagi.
“Pangeran Hou!” sahut Xiuhuan. Pangeran dengan wajah biasa-biasa saja, tetapi sangat berotot itu menghampirinya. “Aku jalan-jalan karena lagi suntuk, tadi ribut sama istri,” sahut Xiuhuan dengan santainya.
“Oh, bagaimana kalau kita minum arak di danau Yu Xiao di selatan kota Yu Lan ini.” Pangeran Qin Hao ingin menghiburnya.
Qin Hao tahu Xiuhuan sedih gara-gara Lou Xue tampak seperti menyukai kakaknya. Hal itu pernah ia alami, saat tunangannya lebih memilih dengan Qin Tianlong saat mengetahui kakaknya itu jauh lebih tampan. Namun, ia tak mau mempermasalahkannya dan mencari wanita lain yang merupakan putri tertua Clan Yu.
“Sebenarnya aku tak suka minum arak. Namun, saat ini bolehlah seteguk dan aku ingin menanyakan beberapa hal padamu juga. Sepertinya kita bisa menjadi sahabat kedepannya,” sahut Xiuhuan tersenyum hangat, membuat wajah istri Qin Hao yang berdiri disebelahnya memerah.
Menyadari istrinya terhipnotis oleh ketampanan Xiuhuan. Dia kemudian memintanya untuk kembali lebih dulu ke kediaman mereka.
“Tuan Xiuhuan, aku pamit dulu!” seru istri Qin Hao malu-malu sembari menggendong putrinya berusia lima tahun.
“Yah, hati-hati di jalan!” sahut Xiuhuan.
“Kalian kawal istriku saja, aku dan tuan Xiuhuan akan jalan-jalan sebentar," kata Pangeran Qin Hao pada kesatria yang mengawalnya.
“Baik Pangeran Hao!” sahut mereka menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat dan mengikuti Yu Rou.
Pangeran Qin Huo membeli beberapa botol arak dari rumah judi yang mereka lewati. Para kesatria yang kebetulan berada di dalam rumah judi itu langsung berhamburan saat mengetahui yang datang adalah Pangeran Qin Hao.
__ADS_1
Xiuhuan tersenyum melihat pemandangan itu dan mereka melanjutkan perjalanan ke danau Yu Xiao—duduk berdua menengadah menatap bintang-bintang di langit.
“Aku penasaran siapa Pangeran Kedua kalian? Apakah ia mendukung Raja Qin Song?” tanya Xiuhuan.
“Ah, dia sudah meninggal,” sahut Qin Hao menunjukkan wajah sedih. “Pemberontakan ini terjadi setelah kakak kedua dibunuh oleh Kakak pertama. Kakak kedua itu terlalu baik, ia selalu protes kenapa Kerajaan menarik upeti yang mencekik rakyat. Namun, kakak pertama tersinggung dan memenggal kepalanya.”
Xiuhuan mengangguk dan memperhatikan dengan seksama cahaya bulan yang memantul ke dalam danau Yu Xiao.
“Apakah ada legenda atau mitos tentang danau ini?” Xiuhuan penasaran, entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang hebat tersimpan dalam danau itu.
“Aku rasa tidak tuan Xiuhuan. Namun, sebelum kota Yu Lan berdiri danau ini telah ada dan airnya tak surut atau pasang, walaupun hujan lebat maupun kemarau panjang,” sahut Yu Lan keheranan melihat Xiuhuan berjalan ke arah danau dan tersenyum.
“Kenapa Anda senang tuan Xiuhuan?” Qin Hao tahu, Xiuhuan pasti menemukan sesuatu yang hebat.
Pangeran Qin Hao kebingungan, apa sebenarnya yang dicari oleh Xiuhuan dan kenapa ia sangat bersemangat sekali. Namun, ia akan tutup mulut, karena tak ingin membuat kegemparan. Takut nanti Clan Yu atau Pangeran Qin Tianlong menduga ada harta Karun di bawah sana.
Qin Hao merasa Xiuhuan tidak memusuhinya, berbeda dengan kakaknya yang tampak tidak disukai oleh Xiuhuan. Dia memperhatikan sekelilingnya dengan mengedarkan energi spiritual ke sekeliling danau Yu Xiao dan tak ada orang yang melihat Xiuhuan masuk ke dalam danau. Dia pun dengan tergesa-gesa kembali ke kediamannya.
Yu Rou yang belum tidur heran melihat tingkah suaminya. Dia tahu pasti ada yang tidak beres, karena Qin Hao langsung menarik selimut dan memejamkan mata.
“Apakah terjadi sesuatu pada kalian di danau Yu Xiao?” selidik Yu Xiao.
“Tidak terjadi apa-apa?” sahut Qin Hao. “Namun, tuan Xiuhuan pergi entah ke mana dan ia mengatakan jangan memberitahu siapapun. Aku mau bertanya, ia sudah hilang saja.” Pangeran Qin Hao berbohong.
“Hmm, aneh sekali! Apa ia kembali ke Sekte Kuil Surgawi, ya?” Yu Rou menduga-duga.
__ADS_1
“Sudah jangan di bahas lagi. Ingat jangan beritahu siapapun,” kata Qin Hao.
Lou Xue yang menengadah menatap bintang di langit, tiba-tiba tidak merasakan keberadaan Xiuhuan lagi. Dia menghilang di danau yang terlihat dari kamar Kediaman Clan Yu yang merupakan bangunan tingkat sepuluh itu. Lantas ia menghela nafas panjang dan menutup jendela. Xia Mei telah tidur lebih dulu di ranjang, karena tak bisa berkultivasi lagi, ia pun ikutan tidur.
***
Xiuhuan melihat sinar terang dalam danau Yu Xiao, semakin di selam—tetapi cahaya itu tetap terasa jauh.
“Sedalam apa danau ini?” gumam Xiuhuan yang telah melakukan teknik penggabungan dengan Roh Pedang Sidat Listrik, sehingga ia seperti manusia setengah belut saat ini.
Xiuhuan menoleh kearah atas dan cahaya matahari samar-samar menembus danau. Dia sangat terkejut, itu menandakan tengah hari, karena posisi matahari tegak diatas danau Yu Xiao.
“Danau yang sangat dalam, padahal aku sudah menyelam dengan kecepatan tinggi.” Xiuhuan terus menyelam dan terkejut melihat istana dalam air itu. “Ternyata dari sini sumber cahaya itu?” gumam Xiuhuan memasuki istana.
Saat ia akan masuk ke dalam, tiba-tiba semacam Perisai menghalangi jalannya.
“Hehehe ... hal semacam ini mana mungkin bisa menghalangi belut tampan ini.” Xiuhuan menyeringai dan mengeluarkan Pedang Roh Sidat Listrik. “Tebasan Putaran Gelombang Air!” Xiuhuan menusuk Perisai tak kasat mata itu.
Xiuhuan seperti terhisap dan muncul di sebuah Altar dengan pola ikan mas merah dan hitam saling menggigit ekor masing-masing.
“Altar lagi?” Xiuhuan tersenyum. “Dunia Bawah ini memang penuh misteri. Altar di Sekte Kuil Surgawi terhubung ke Sekte Qingyun. Dan ini terhubung ke manakah? Apakah langsung ke surga?” Xiuhuan memperhatikan bangunan putih dengan pondasi yang sangat tinggi.
Tak ada makhluk hidup di sana, maupun harta Karun atau senjata pusaka. Hanya ada lorong lurus sejauh mata memandang di hadapannya.
Xiuhuan kembali ke bentuk manusia dan menggunakan jurus Langkah Kilat melesat ke depan. Untuk berjaga-jaga, ia memegang Pedang Roh Sidat Listrik, mana tahu ada serangan tak terduga.
__ADS_1