
Dua hari kemudian, Xiuhuan mendekati wilayah perbatasan Kerajaan Yuan dengan Kekaisaran Wei. Namun, ada hal aneh yang ia lihat sepanjang perjalanan. Banyak murid-murid berbagai Sekte yang searah perjalanan dengannya.
Xiuhuan bertanya pada mereka mau pergi ke mana, karena kompetisi antar Sekte masih lama. Tidak mungkin mereka berangkat lebih dahulu, sama saja itu membuang-buang biaya saja. Apalagi lokasi kompetisi berada di Kota Shenlong, ibukota Kekaisaran Wei, sudah pasti biaya hidup di sana lebih mahal.
Xiuhuan juga kepikiran, kalau acara kompetisi antar Sekte itu di majukan dari jadwal yang lama. Namun, Xiuhuan harus kecewa, karena tidak ada yang mau memberikan informasi padanya. Mereka malah melesat lebih cepat, seperti seperti terburu-buru.
“Anak jaman sekarang, songong-songong sekali. Entar dijentik telinganya nangis dan ngadu ke tetuanya. Kemudian tetuanya datang marah-marah, tanpa menjunjung asas praduga tidak bersalah,” gerutu Xiuhuan.
Xiuhuan terus mengikuti rombongan murid-murid Sekte dengan jubah berbeda-beda itu. Namun matahari sudah lelah menerangi daratan utama dan digantikan dengan kegelapan malam.
Xiuhuan memutuskan beristirahat di desa kecil yang juga ramai dikunjungi Pendekar Pedang. Xiuhuan mendengar para Pendekar Pedang itu kecewa, karena hanya murid-murid Sekte yang boleh memasuki makam atas perintah Paviliun Shilin. Dengan kecewa, para Pendekar Pedang tanpa Sekte itu harus menuruti perintah dari Paviliun Shilin.
“Sepertinya ada hal menarik, nih?” gumam Xiuhuan memutuskan memasuki rumah bordil yang ramai dikunjungi oleh Pendekar Pedang yang tidak bisa ikut ke makam itu. “Aku penasaran, mengapa mereka ingin sekali memasuki makam itu.”
“Halo tuan yang sangat tampan!” rayu seorang waria dengan wajahnya putih susu. Mungkin ia menggunakan bedak setebal tiga inchi.
“Kau itu laki! Jangan ngomong mendayu-dayu begitu. Jijik tahu,” keluh Xiuhuan sembari melihat sekelilingnya. Ternyata sudah tidak ada kursi kosong lagi.
“Ah, tuan tampan. Kata-katamu itu menyakitkan tahu,” balas waria itu yang juga berprofesi sebagai mucikari. “Apakah tuan mencari hiburan ekstrim atau hanya minum arak saja,” katanya lagi.
“Bawakan aku yang paling cantik!” sahut Xiuhuan sembari menuju bartender untuk memesan teh saja. “Apakah kalian menjual makanan juga?” tanya Xiuhuan pada bartender itu.
__ADS_1
“Ya, tapi kami hanya menerima pesanan yang memesan kamar saja. Tuan pasti melihat, di sini sangat ramai, tidak ada tempat untuk menyajikan makanan,” sahut bartender itu.
“Aku pesan makanan paling enak. Karena aku memesan kamar, saat ini lagi menunggu waria itu membawakan wanita tercantik di sini,” kata Xiuhuan sembari meneguk tehnya.
Bartender itu tersenyum menatap Xiuhuan. Kemudian berkata, “Mana ada di sini wanita penghibur cantik. Yang ada cuma janda-janda berusia empat puluhan yang menyambi menjadi wanita penghibur. Karena tiba-tiba ditemukan makam Immortal di dekat desa ini. Makanya rumah bordil kecil ini tiba-tiba ramai pengunjung, dan satu lagi tarif mereka sangat mahal. Sejak rumah bordil ini buka tadi sore, baru sepuluh wanita penghibur yang dipesan pelanggan. Karena para pengunjung merasa harganya kelewat mahal.”
“Pantaslah, tadi di jalan aku melihat banyak murid-murid Sekte yang menuju kemari. Ternyata ada makam Immortal yang ditemukan,” sahut Xiuhuan, akhirnya mengerti. “Tapi kenapa mereka ingin memasuki makam itu?” tanya Xiuhuan penasaran.
“Kabarnya makam itu menyimpan banyak harta sang Immortal yang berasal dari alam lain. Ia terlempar ke daratan utama ini jutaan tahun yang lalu. Itu sih, menurut arkeolog yang membaca tulisan kuno di pintu masuk makam yang disegel dengan perisai kuat,” jelas bartender itu.
Xiuhuan lansung semangat mendengar kata-kata harta. “Aku akan ikut memasuki makam itu. Kira-kira kapan boleh memasuki makam itu?” tanya Xiuhuan.
Bartender itu memperhatikan pakaian Xiuhuan, ternyata ia adalah murid sebuah Sekte. Padahal tadi bartender mengira Xiuhuan adalah Pendekar Pedang tanpa Sekte.
Xiuhuan tersenyum, “sebenarnya aku datang bersama rekan-rekanku. Tapi mereka terlambat datang, mungkin besok pagi baru sampai.” Xiuhuan berkilah.
“Kalau begitu kalian masih ada kesempatan. Karena besok pagi baru murid Sekte Tianshi mencoba menghancurkan perisai yang melindunginya makam itu.”
“Kenapa harus mereka? Kenapa tidak dari Sekte ibukota Kerajaan Yuan saja. Toh, kota Hosan tidak terlalu jauh dari sini.”
Xiuhuan penasaran, kenapa Pendekar Pedang di daratan utama ini begitu menghormati Sekte Tianshi yang dihuni oleh Pendekar Pedang wanita saja. Xiuhuan merasa sebagai Pendekar Pedang laki-laki, telah direndahkan. Ini bukan keseteraan gender lagi, tapi kemunduran laki-laki. Sekte terkuat, diisi Pendekar Pedang wanita. Juara kompetisi antar Sekte selalu dimenangkan oleh Pendekar Pedang wanita, bahkan sepuluh besar saja semuanya Pendekar Pedang wanita. Paviliun Shilin yang menjadi momok menakutkan bagi semua Pendekar Pedang maupun Kerajaan di daratan utama juga diisi Pendekar Pedang wanita.
“Kan, Ketua Sekte Tianshi itu reinkarnasi Immortal. Dia pasti tahu cara menghancurkan perisai itu,” sahut bartender tersenyum tipis melihat Xiuhuan terlalu banyak bertanya, ia yakin Xiuhuan kebetulan saja datang kemari dan tertarik dengan kabar tentang makam yang menyimpan banyak harta itu.
__ADS_1
Tak lama berselang, waria itu datang bersama seorang wanita dengan pakaian lusuh dan dandanannya saja cukup berantakan.
“Pantasan banyak Pendekar Pedang yang tidak tertarik dengan layanan wanita penghibur di rumah bordil ini,” gumam Xiuhuan memperhatikan wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Kakinya agak hitam, mungkin karena siang harinya bekerja sebagai petani. Kemudian tangannya juga belang-belang dan wajahnya biasa-biasa saja. Di bilang cantik tidak, dibilang jelek hampir.
“Bagaimana tuan tampan. Dia ini baru pertama kali ikutan beginian lho,” bisik waria itu. “Bukannya buaya darat mencari yang polos-polos begini.” Waria itu mencoba meyakinkan Xiuhuan, walaupun sebenarnya ia ragu Xiuhuan akan mau.
Waria itu bahkan berkeliling desa untuk mencarikan wanita cantik. Namun, gadis-gadis desa itu tidak ada yang mau menjadi wanita penghibur. Kecuali janda-janda miskin yang membutuhkan biaya hidup. Karena upah mereka sebagai buruh tani sangat sedikit, belum lagi tidak setiap hari ada tuan tanah yang mempekerjakan mereka.
Wanita itu hanya menunduk tanpa berani menatap Xiuhuan. Karena ia takut Xiuhuan marah, sebab tetangganya yang janda beberapa hari yang lalu malah dihajar habis-habisan oleh Pendekar Pedang yang tidak puas dengan layanannya.
Untung saja si waria datang menolongnya dan membunuh Pendekar Pedang itu. Akan tetapi tetangganya itu sudah terlanjur babak belur dan membutuhkan waktu cukup lama untuk memulihkan diri lagi.
“Baiklah, aku pesan dia saja. Toh, semua wanita itu sama saja. Hanya wajah mereka yang berbeda.” Xiuhuan berdiri dan menatap bartender. “Bawakan dua porsi makanan terenak ke kamar kami,” kata Xiuhuan sembari menarik tangan wanita itu.
“Tidak negosiasi harga dulu?” sela waria, karena Xiuhuan main tarik saja. Padahal belum disepakati berapa tarifnya.
“Katakan saja, aku akan bayar. Sekalian biaya kamar dan makanan,” sahut Xiuhuan berhenti melangkah dan mengeluarkan Plakat khusus Paviliun Shilin miliknya.
“1000 Poin, tambah makanan dan kamar sebesar 100 Poin. Jadi, semuanya 1100 Poin.”
Xiuhuan kaget mendengar tarifnya, kalau di rumah bordil kota besar itu sudah mendapatkan wanita cantik. Namun, di sini malah sebaliknya. Untung Xiuhuan tidak terlalu pilih-pilih, asalkan mau ya, lanjut.
__ADS_1