
“Aaaaaaaaaaaaaaaa!” Pekik Xiuhuan yang jatuh puluhan ribu kaki dari langit.
“Booommmmmm!”
Xiuhuan jatuh di sebuah telaga kecil. Suara dentuman jatuhnya begitu nyaring terdengar. Untung saja ia seorang kultivator, kalau manusia biasa mungkin tubuhnya akan hancur berkeping-keping.
“Alamak berbahaya seka—” Belum selesai Xiuhuan berbicara, ia kemudian melihat pemandangan yang begitu familiar. Sosok wanita cantik tanpa busana sedang mandi tepat dihadapannya.
“Pengintippppppppp!” Teriak gadis itu sambil menutup boing-boing miliknya.
“Maaf nona itu kecelakaan!” seru Xiuhuan, namun tangannya malah memberikan tanda jempol.
Gadis cantik itu lansung beranggapan Xiuhuan telah meledeknya. Dengan geram gadis itu lansung melayang di udara. Sepasang sayap berwarna putih muncul di punggungnya.
“Ah, gawat ia ternyata Pendekar Pedang tahap 100,” gumam Xiuhuan masuk kedalam air dan muncul kembali di tepian telaga itu. Xiuhuan melihat pakaian gadis itu terletak di sana. Xiuhuan mengambilnya. “Tangkap ini nona cantik!” ia melempar pakaian itu padanya.
Gadis itu menangkap pakaiannya, karena takut nanti tercebur ke telaga. Sehingga pakaian itu basah. “Hei berani sekali kau melecehkan Putri Walikota Kunming!” teriak gadis itu sembari mengenakan pakaiannya.
“Apaaaaa?” Xiuhuan kaget mendengarnya. “Bukannya itu ibukota lama Kerajaan Han?” Gumam Xiuhuan lansung melakukan tehnik Penggabungan dengan Roh Pedang Sidat Listrik.
Dengan langkah Kilat, Xiuhuan langsung menghilang dari pandangan gadis itu.
“Hei, tunggu!” seru gadis itu terbang dengan kecepatan tinggi mengejar Xiuhuan. Namun, itu semua sia-sia, Xiuhuan terlalu cepat untuknya.
“Nona Chen Liu!”
Sepuluh Pendekar Pedang tahap 100 mendekatinya. Mereka adalah pengawal pribadinya yang merupakan anak walikota Kunming.
Mereka menunggu satu mil jauhnya dari telaga itu. Chen Liu sedang melakukan latihan tertutup dan saat Xiuhuan muncul didepannya itu, ia sedang membersihkan dirinya. Karena hari ini mereka akan kembali ke kota Kunming.
“Kenapa Anda berteriak nona Liu?” Chen Yan pemuda tampan dari Clan Chen itu bertanya padanya. Dia sebenarnya menaruh hati pada Chen Liu, namun gadis cantik itu terlalu fokus pada Kultivasi, sehingga mengabaikan tentang percintaan.
“Ada seorang pria tiba-tiba jatuh dari langit, tepat saat aku sedang mandi,” jawabnya masih kesal pada Xiuhuan.
__ADS_1
“Apaaaaaaa! Kurang ajar sekali dia!” kata Chen Xia, gadis cantik yang merupakan sahabatnya itu ikut geram.
“Tapi Aku bingung? kenapa dia bisa jatuh dari langit. Padahal ia berunsur air!” seru Chen Liu kebingungan.
“Mungkin saja ia bertarung atau temannya jahil, membawanya terbang dan menjatuhkannya,” kata Baojia, gurunya sambil mengelus-elus janggutnya.
“Tidak guru! Dia jatuh dari langit,” kata Chen Liu lagi. Namun kini Baojia juga tak dapat memahaminya. Karena walaupun bisa melakukan tehnik Penggabungan dengan Roh Pedang berunsur Angin, namun itu tetap tak bisa terbang tinggi.
“Kalau bertemu lagi dengannya, kita harus menjebloskannya ke penjara!” gerutu Chen Liu.
***
Setelah merasa cukup jauh. Xiuhuan kemudian memasuki salah satu perkampungan. Lagi-lagi Xiuhuan dibuat keheranan. Anak-anak disini sudah memiliki level tinggi, padahal masih belia.
Untuk orang dewasa rata-rata telah mencapai Pendekar Pedang tahap 100. Xiuhuan menjadi merasa Pendekar Pedang tahap 100 itu tak ada artinya lagi, setelah melihat pemandangan itu.
Bahkan pemandangan dilangit, tiap sebentar terlihat Petir Malapetaka, yang berarti tiap sebentar ada Pendekar Pedang yang telah menuju istana langit.
“Hai saudara! Aku Xiuhuan,” sapanya sambil tersenyum lebar.
“Ya, saya Anming,” jawabnya santai.
“Aku ada pertanyaan. Kan, aku lagi hilang ingatan. Pertama, kita ini di Kerajaan apa? kedua kenapa anak-anak cepat sekali naik kultivasinya,” kata Xiuhuan.
Anming memandangi Xiuhuan yang tersenyum lebar itu. Ia sedikit curiga, namun akhirnya menjawab juga.
“Kita di Kekaisaran Wei. Kedua karena sumberdaya yang melimpah dan harganya murah, sehingga gampang naik Kultivasinya,” jawab Anming.
“Bukannya dulu Kerajaan Han kalah dari gempuran Kerajaan Yuan dan Kerajaan Chu? Kalau tak salah di dokumen yang aku baca, Kekaisaran Wei terletak di bagian tengah. Berarti Kekaisaran Wei mengusir kedua kerajaan itu setelah mereka mengalahkan Kerajaan Han,” gumam Xiuhuan kebingungan, ternyata banyak yang telah berubah setelah kejadian 10.000 tahun yang lalu.
“Kau tampak linglung? apa kau tak apa?” tanya Anming membuyarkan lamunan Xiuhuan.
__ADS_1
“Hahaha tak apa kok, satu lagi. Rata-rata orang dewasa kan, Pendekar Pedang tahap 100, usia berapa mereka mencapai itu?” tanya Xiuhuan lagi.
Anming tampak kesal namun dijawabnya lagi. “Umur 25-30 tahun rata-rata akan menjadi Pendekar Pedang tahap 100. Saat umur mencapai 100 tahun akan mengalami Petir Malapetaka, jadi umurnya normal lah,” jawab Anming.
“Jadi begitu? ternyata karena sumberdaya disini dapat mempercepat Kultivasi mereka. Tapi aku yakin mereka tak akan kuat kalau tak berlatih disebuah Sekte," guman Xiuhuan memperhatikan para Pendekar Pedang tahap 100 yang berpakaian biasa yang dilihatnya.
Tampang mereka tak meyakinkan sama sekali. Namun, dengan begitu mereka dapat bertani dengan mudah, memanfaatkan kekuatan yang mereka miliki.
Anming merasa pemuda didepannya ini terlalu banyak bertanya. Sehingga pergi meninggalkan Xiuhuan yang sedang melamun.
“Tunggu dulu!” seru Xiuhuan yang masih penasaran.
“Apalagi? kau banyak sekali bertanya!” sahut Anming mulai kesal pada Xiuhuan.
“Hehehe sabar-sabar! ini yang terakhir,” kata Xiuhuan. “Apa sumberdaya yang dapat mempercepat Kultivasi itu?” tanya Xiuhuan penasaran.
Xiuhuan kini, berpikir kalau ia tak mampu membawa bala bantuan ke Pulau Niao, setidaknya ia dapat membantu teman-temannya untuk mempercepat Kultivasi mereka.
“Pergi saja ke Paviliun Shilin, mereka menyediakan berbagai macam Pil dari Alchemist. Tinggal pilih mau Pil Surga level satu atau paling mahal level 10,” jawab Anming, kemudian berlalu meninggalkan Xiuhuan masih bingung dengan penjelasan Anming itu.
“Aku jadi bingung? ternyata sebuah Pil dapat menaikkan Kultivasi, bukan seperti di Pulau Niao yang harus menyerap sumberdaya,” gumam Xiuhuan.
Xiuhuan kemudian menoleh lagi, ingin bertanya. Namun Anming keburu kabur meninggalkan Xiuhuan.
“Yah, dia kabur!” gumam Xiuhuan. “Aku ke ibukota lama Kerajaan Han sajalah. Mencari informasi mengenai Pil Surga ini dan berpetualang ke Kerajaan Sin mencoba meminta dukungan mereka,” gumam Xiuhuan melesat menuju kota Kunming.
Xiuhuan yakin jika satu lawan satu dengan Pendekar Pedang tahap 100 di daratan utama ini akan mudah baginya. Namun masalahnya jumlah mereka terlalu banyak.
Xiuhuan juga curiga, jangan-jangan Pendekar Pedang seperti Houlang yang dapat menekan level Pendekar Pedangnya agar tak mengalami Petir Malapetaka juga ada di daratan utama ini. Sebab Houlang dulu berasal dari Kerajaan Chu.
“Aku harus berhati-hati dalam bertindak, jangan sampai nanti menemukan musuh yang membuatku dalam masalah besar.” Xiuhuan berpikir demikian. Padahal ia tak menyadari telah membuat musuh saat pertama kali menginjakkan kaki di daratan utama ini.
Bersambung ...
__ADS_1