
Xiuhuan bernafas lega mendengar penjelasan dari Gu Yao. Berarti ia tidak perlu lagi membuang-buang banyak qi saat berhadapan dengan tetua dari bambu kuning itu. Karena ia tidak bisa lagi mencampuri urusan internal Clan Gu, sebab anteknya sudah dicampakkan ke alam lain oleh Xiuhuan.
“Tuan Xiuhuan terimakasih telah membantu anakku,” sela Chen Xia dengan senyum hangat. “Ah, aku lupa ... perkenalkan aku Chen Xia ibu Gu Yao,” katanya lagi.
“Nyonya Xia ... senang berjumpa dengan anda. Gu Yao dan Gu Ruyan sering menceritakan tentang Nyonya Xia,” sahut Xiuhuan memberi hormat padanya, ia tak berbicara banyak takut nanti malah salah bicara. Mengingat Chen Xia bernasib sama dengan Zhang Xue dulu. Sama-sama diperbudak oleh adik suami mereka, namun Chen Xia nasibnya sedikit lebih baik. Karena tidak dijadikan sebagai wanita penghibur.
“Oh, ya. Senangnya, ternyata anak-anakku masih memikirkan aku selama terkekang di sini,” sahut Chen Xia sembari mencium kening Gu Yao. “Mari kita masuk ke dalam,” ajaknya ke Kediaman Ketua Clan yang masih utuh, tidak terdampak dalam pertarungan antar Pendekar Pedang tadi.
“Hmm ... lebih baik aku membantu mengumpulkan mayat para Pendekar, supaya para penduduk yang mengungsi bisa kembali ke kota Yannan ini.” Regar menolak ajakannya.
Chen Xia tidak memaksa, ia kemudian membawa Gu Yao ke dalam Kediaman Ketua Clan Gu untuk membiarkannya memulihkan kesehatannya.
Gu Ruyan juga memilih ikut mengumpulkan mayat-mayat para Pendekar untuk segera di makamkan dan pihak Pendekar Pedang pendukung Gu Lin lansung di bakar di tempat oleh Pendekar Pedang berunsur Api.
***
Gu Xu memeriksa satu persatu mayat yang tergeletak di kediaman tetua pertama. Ia tidak melihat tubuh Gu Qian, namun melihat kondisi halaman Kediaman tetua pertama yang terbakar, ia menyimpulkan ayahnya telah melakukan bunuh diri.
Dadanya terasa sesak, butiran air mata membasahi pipinya. Ia tetap mencoba mencari tubuh Gu Qian diantara ratusan mayat yang tergeletak di halaman Kediaman tetua pertama itu.
Setelah pencarian cukup lama, ia akhirnya melihat tubuh yang terbakar. Di jari tangan mayat itu ada cincin pernikahan yang sama dengan milik ibunya yang ia simpan di kantung miliknya.
“A-ayah ... a-ayah ... tidakkkk!” teriak Gu Xu sekencang-kencangnya memegang tubuh Gu Qian yang terbakar, ia bahkan tak peduli tangannya ikut terbakar. Untung saja ada Pendekar Pedang berunsur air di dekatnya yang lansung memadamkan api ditangannya itu.
Beberapa Pendekar Pedang yang lebih sepuh segera menghampirinya dan memberikan nasehat serta motivasi untuknya.
__ADS_1
Setelah meratapi kematian ayahnya dalam waktu yang cukup lama, bahkan mayat-mayat yang tergeletak di halaman tetua pertama telah dipindahkan dan pihak musuh telah dibakar.
“Maafkan Aku ayah. Semoga dikehidupan selanjutnya Ayah dan ibu tetap bersama,” gumam Gu Xu membakar sisa tubuh Gu Qian.
Di tempat kediaman tetua kedua, mata Gu Ruyan tertuju pada seorang Pendekar Pedang yang menggotong tubuh Gu He.
Gu Ruyan sangat terkejut melihatnya dan lansung melesat ke arah Pendekar Pedang itu untuk melihat dengan jelas, apakah ia salah lihat atau tidak.
“He gege!” seru Gu Ruyan memeluk tubuh Gu He yang telah terbujur kaku. Gu Ruyan menekan urat nadi Gu He untuk memastikan apakah ia masih hidup atau tidak. Namun, hasilnya tidak sesuai dengan harapannya. Ternyata Gu He sudah tidak bernafas lagi.
Butiran air mata mengalir deras membasahi pipinya, membuat Pendekar Pedang yang membawa Gu He tadi mengira lelaki itu adalah kekasih wanita cantik didepannya itu. Ia kemudian memilih meninggalkan Gu Ruyan yang memeluk Gu He. Pendekar Pedang itu melanjutkan mengumpulkan mayat rekan-rekannya yang lain.
Xiuhuan yang berada tidak jauh dari sana, hanya bisa memandanginya saja. Ia tak berani mendekat, karena merasa ikut bersalah juga. Kalau saja ia bertindak lebih cepat dari awal, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Xiuhuan hanya bisa menghela nafas dalam-dalam, nasi sudah menjadi bubur. Disesalkan pun tiada berguna, lebih baik dijadikan pelajaran untuk kedepannya, agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Gu Yue mengejutkannya Xiuhuan yang tengah melamun sembari mengumpulkan mayat para Pendekar yang telah tewas.
Xiuhuan mendongak menatap wajah cantik wanita yang ahli menggoda pria tanpa harus berbuat mesum itu.
“Ada apa Yue‘r?” sahut Xiuhuan lansung mengangkat mayat yang ia temukan untuk dibawa ke pemakaman, yang telah Pendekar Pedang pendukung Gu Yao gali di dekat Kediaman Ketua Clan Gu.
“Apakah tuan Xiuhuan yang telah menggunakan jurus hebat tadi?” Gu Yue penasaran, ia juga mengangkat satu mayat Pendekar Pedang pendukung Gu Yao. Itu ia lakukan, agar Xiuhuan tidak memarahinya.
“Menurutmu siapa?” Xiuhuan menatapnya sekilas. “Kalau sudah tahu tidak usah ditanyakan lagi. Lebih baik cepat kumpulkan mayat-mayat itu, agar Penduduk yang mengungsi bisa kembali sebelum matahari terbenam,” keluh Xiuhuan yang merasa Gu Yue memperlambat pekerjaannya saja.
__ADS_1
Gu Yue tersenyum masam ia ingin bicara, tetapi Xiuhuan telah menghilang dari pandangannya.
“Cih dia menggunakan jurus aneh itu lagi. Padahal aku ingin diajarin caranya bagaimana melesat dengan cepat begitu,” gerutu Gu Yue.
Kesempatannya bertemu Xiuhuan akan sulit, bila Xiuhuan pergi ke Kediaman Ketua Clan Gu. Karena ia hanya anggota Clan cabang saja, mustahil baginya untuk memasuki Kediaman Ketua Clan Gu itu, kecuali jika diundang saja.
***
Tak ada perayaan atas kemenangan Gu Yao merebut posisi Ketua Clan Gu. Karena terlalu banyak pihaknya yang gugur dalam pertarungan itu, belum lagi orang terdekatnya juga salah satu dari korban itu.
Gu Yue mondar-mandir di halaman Kediaman Ketua Clan Gu menunggu Xiuhuan keluar. Namun orang yang ditunggu malah betah didalam, ia ingin masuk tetapi para penjaga melarangnya. Karena tidak dapat memberikan alasan kenapa ia harus bertemu Xiuhuan yang merupakan tamu kehormatan Ketua Clan Gu yang baru.
Godaan maut yang menaklukkan Gu Xin, anak Ketua Clan Gu yang lama tidak mempan pada penjaga itu. Walaupun hati mereka sebenarnya tergoda, namun mereka tetap mematuhi perintah Gu Yao yang melarang siapapun memasuki Kediaman Ketua Clan Gu, sampai ia secara resmi diakui sebagai Ketua Clan oleh bagian administrasi Kerajaan Yuan.
Xiuhuan tersenyum menatap Gu Yue dari jendela kamarnya. Ia tahu gadis cantik itu ingin berjumpa dengannya. Namun Xiuhuan tidak ingin terlalu dekat-dekat dengan gadis yang masih suci. Karena prinsipnya sejak dulu, tidak boleh menghilangkan kesucian wanita, kecuali mereka dengan sukarela mau menyerahkannya atau wanita jahat. Barulah boleh dilakukan pemaksaan seperti yang dialami istri pemilik restoran Kaefci di kota Guangxi dulu.
Sementara itu, Gu Ruyan telah mengurung diri di kamarnya, karena sedih dengan kematian Gu He. Walaupun ia selalu menolak pernyataan cintanya, namun Gu He selalu baik padanya. Bahkan hampir bertarung dengan Xiuhuan, gara-gara melihat Xiuhuan menggandengnya.
Dua hari kemudian, Kerajaan Yuan mengirim pesan, mengakui Gu Yao sebagai Ketua Clan Gu sekarang. Namun pihak Kerajaan tetap mengirim Hakim untuk menyelidiki, apakah Gu Yao adalah pewaris yang sah atau pihak luar yang mengaku-ngaku sebagai keturunan Clan Gu.
Tetua Sekte Bambu Kuning sangat geram mendengar kabar Gu Lin telah tewas. Ia langsung menuju kota Yannan dan mendapati kabar Gu Lin memang sudah tewas, bahkan Pendekar Pedang pendukung Gu Lin ikut di hukum mati. Salah satu tetua pendukung Gu Lin yang berada di luar kota saja, ikut tewas di tangan Assassin yang disewa oleh Gu Yao untuk menghilangkan semua Pendekar Pedang pendukung Gu Lin dari Clan Gu.
Tetua Sekte Bambu Kuning itu terpaksa kembali ke Sektenya, karena ia tidak bisa menuntut balas. Gu Yao telah diakui oleh Kerajaan Yuan sebagai pemimpin baru Clan Gu. Di saat ia baru melangkah keluar Kota Yannan, Xiuhuan menghampirinya.
“Halo tetua! Senang berjumpa denganmu!” sapa Xiuhuan dengan senyum lebar.
__ADS_1
...⚔️Bersambung⚔️...